
Seminggu kemudian...
"Shell, kau sangat cantik!" Puji Viola menatap sahabatnya yang sudah menggenakan gaun pengantin nya.
"Ah Lo berlebihan Vi!"
"Tidak, Lo benar-benar cantik!" Viola kembali mengulangi ucapan nya dengan sangat yakin.
"Vi, gue gemetaran." Bukan nya menjawab ucapan Viola. Shelly justru terus menggenggam tangan nya sendiri yang sudah dingin.
Dengan sangat cepat Viola mengambil air minum yang ada di atas meja dan memberikan nya pada Shelly.
"Tenang lah Shell! Semuanya akan berjalan dengan lancar." Viola mengusap punggung Shelly dengan lembut.
"Vi, bagaimana jika orang tua Bobby tidak suka sama gue?" Tatap intens Shelly pada Viola.
"Tidak mungkin! Kalau mereka tidak setuju, kenapa mereka harus datang kesini?" Viola menautkan alis nya itu.
"Bisa saja karna terpaksa! Atau ancaman dari suami Lo." Shelly terus saja berpikir yang negatif. Bagi Shelly ini semua seperti mimpi yang terjadi begitu saja.
"Shell Lo gak boleh berpikiran seperti itu! Suami gue mana mungkin melakukan nya. Terlebih lagi, coba Lo inget deh! Orang tua Lo pernah bilang bukan kalau bayi kalian sudah lahir, kalian akan menikah lagi?"
"Iya! Terus hubungan nya apa sama orang tua Bobby Vi!" Shelly terus saja *******-***** jari jemari nya itu.
"Lo lupa kalau itu permintaan dari orang tua Bobby! Itu berarti mereka menyukai Lo." Viola menghela nafas nya dengan sangat kasar
"Shell gue rasa Lo semakin lama semakin lemot ya!" Timpal Viola.
"Enak aja Lo! Gue seperti ini karna bayi yang gue kandung. Entah kenapa gue selalu merasa khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak." Shelly pun membela dirinya. tentu saja ia tidak terima saat dikatain lemot oleh sahabat nya itu.
"Baiklah! Sekarang Lo harus tenangin diri Lo. Sebentar lagi kalian akan ijab kabul! Setelah ijab kabul selesai Lo baru boleh keluar dan menyambut semua tamu." Viola tersenyum kecil. Lalu kembali merapikan pakaian Shelly dan juga make-up Shelly.
Entah sudah berapa lama mereka berada di ruang make-up. Hingga akhirnya Darren masuk kedalam untuk menjemput mereka.
"Keluar lah! Semua orang sudah menunggu." perintah Darren dengan suara datar nya.
"Ijab kabul nya sudah selesai?" Viola menatap suami nya yang sudah terlihat sangat tampan dengan kemeja sekaligus style jas yang sudah ia pilih.
"Emh,"
"Baguslah!" Viola tersenyum menatap kearah sahabat nya.
"Shell selamat ya! Lo sekarang sudah jadi istri orang." Dengan perasaan yang sangat bahagia, Viola memeluk sahabatnya itu.
"Makasih Vi! Lo selalu ada untuk gue hingga saat ini." Air mata Shelly sudah mengalir begitu saja.
"Lo tidak perlu berterimakasih Shell! Seharusnya gue lah yang berterimakasih atas semua nya. Lo adalah sahabat gue satu-satunya!" Viola pun ikut menangis bersama Shelly.
Darren yang melihat sesi tangis menangis itu hanya bisa mengusap wajah nya saja lalu berdehem hingga membuat Viola menatap dirinya.
"Sudah selesai? Semua orang menunggu! Jika ingin peluk-pelukan sebaiknya di tunda dulu." Tekan Darren dengan senyum getir nya.
"Iya kau benar Darren! Shell ayo kita keluar. Ini adalah hari spesial mu! Seharusnya kau tidak boleh menangis." Viola mengusap air mata Shelly, lalu sedikit membenarkan makeup Shelly yang agak sedikit berantakan karna ia menangis.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu menuju keruangan dimana resepsi mereka diadakan. Sementara Darren mengambil arah yang berbeda. Ia tidak ingin terlalu menonjol diacara sahabat nya sendiri.
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya Shelly dan juga Viola tiba di tempat acara resepsi. Semua orang menatap pangling kearah Shelly yang sangat cantik. Sementara darren, mata nya hanya tertuju kearah Viola. Viola saat ini benar-benar cantik, gaun sederhana yang Viola gunakan sangat cocok dan elegan di tubuh nya.
__ADS_1
"Kalau saja disini tidak ada orang, sudah aku terkam kau istriku!" Gumam Darren dengan tersenyum mengerikan.
Viola menatap kearah Bobby dengan sangat tajam sebelum menyerahkan Shelly pada Bobby. "Jaga lah sahabat ku seperti kau menjaga nyawa mu itu! Jika saja ia menangis karna ulah mu. Maka, akan ku habisi kau!"
"Anda tenang saja nyonya muda! Saya akan menjaga sahabat anda dengan sepenuh hati saya." Balas Bobby dengan wajah yang tersenyum walaupun sebenarnya ia sempat menelan Saliva nya itu.
"Baiklah kau boleh mengambil nya." Viola pun tersenyum lalu menyerahkan Shelly.
Shelly yang sudah berada di altar pernikahan bersama Bobby. Saling tersenyum satu sama saling dan bergandengan tangan. Sementara Viola saat ini sudah berada di samping Darren.
"Darren, mereka menikah terlihat sangat bahagia ya! Tidak seperti kita." Ucap Viola dengan wajah yang masih tersenyum.
"Kau menyesal menikah dengan ku?" Mata Darren langsung tertuju sangat lekat kearah wajah Viola.
"Ti-tidak, bukan seperti itu maksud ku Darren!" Viola sangat terkejut mendengar ucapan dari Darren.
"Sayang, aku tidak menyesal sama sekali! Bahkan aku sangat berterimakasih pada Tuhan karna, sudah membuat diri ku terikat kontrak oleh mu. Akhirnya aku bisa menemukan pria yang benar-benar mencintai ku! Tidak seperti sebelumnya." Viola menghela nafas nya sembari merangkul lengan kekar suaminya itu.
"Istriku, satu hal yang harus kau tau! Aku sangat berbeda dengan mantan mu sebelum nya." Tegas Darren kembali menatap kearah Shelly dan Bobby.
Saat sesi pemotretan Shelly saat ini tengah mengalungkan tangan nya di leher Bobby. Namun, suasana langsung menegang saat kedua orang tua Bobby dan Shelly mendekati kearah mereka.
"Selamat sayang," ucap nyonya Charlton dengan tersenyum pada putra nya.
"Thanks mom," Bobby memeluk mommy nya dengan sangat erat.
"Sudah usia berapa?" Tanya tuan Charlton pada Shelly.
"Emh," Shelly benar-benar sangat gugup ia terus *******-***** jari jemari nya itu.
"4 Minggu Dad," sela seseorang dari arah belakang membuat mata mereka semua tertuju kearah suara tersebut.
Viola yang melihat kehadiran Vaya, hanya bisa membeku di tempatnya. Entah kenapa rasa sakit nya masih terlintas dengan sangat jelas. Walaupun semua nya hanya kesalahpahaman saja. Namun, itu berakibat dia kehilangan bayi nya.
"Kau baik-baik saja?" Darren menatap Viola yang sejak tadi diam.
"Emh," Viola menganggukan kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu?" Vaya yang berprofesi sebagai bidan tentu saja akan tetap menanyakan kondisi seorang wanita hamil.
"Aku baik-baik saja." Jawab Shelly dengan melirik kearah Viola yang sudah pucat.
"Kakak, kau harus menjaga nya! Jangan sampai bayi yang ia kandung kenapa-kenapa." Tatap tajam Vaya mengarah ke Bobby.
"HM,"
"Kak kau--" mendengar jawaban kakak nya membuat Vaya sedikit kesal.
"Sudah-sudah jangan bertengkar di hari spesial ini!" Sela nyonya Charlton menatap tajam mereka berdua.
Namun, saat hendak melanjutkan ucapannya tiba-tiba saja ada seseorang memotong dari arah Viola.
"Kakak!" Panggil Tara dengan ekspresi bahagia langsung memeluk Viola.
"Dek! Kapan kau sampai?" Viola sangat terkejut dengan kedatangan Tara yang sama sekali ia tidak tau.
"Aku baru tiba pagi ini kak! Dan langsung bergegas kemari. Soalnya saat akan pulang ke Indonesia ada banyak hal yang harus ku urus terlebih dahulu." Jelas Tara pada Viola.
__ADS_1
"Darren, kau yang merencanakan ini?" Mata Viola terlihat sangat bahagia.
"Emh, aku tau dia berperan penting untuk kalian berdua." Ucap Darren menatap Shelly lalu kearah Viola.
"Terimakasih sayang," Viola memeluk suaminya dengan penuh kasih. Namun, berbeda sekali dengan kedua sorot mata yang sejak tadi melihat mereka. Terlihat sangat jelas masih terasa sakit di hati Vaya saat melihat kemesraan mereka.
"Kak Shelly," Tara menghampiri Shelly sembari tersenyum lebar
"Heii adik kecil!" Tanpa sadar air mata Shelly langsung menetes lalu memeluk Tara dengan sangat erat. ia benar-benar merindukan Tara.
"Kak, aku tidak nyangka kakak akan menikah dengan pria yang berstatus sebagai papa ku." Tara langsung tertawa kecil mengingat saat mereka menyamar menjadi sepasang kekasih ketika mengantar keberangkatan nya ke paris.
"Ha? Serius Tara?" Viola yang mendengar ucapan Tara langsung mendekat kearah Tara begitu juga dengan yang lain. Membuat wajah Shelly memerah karna malu. Sementara Bobby hanya bersikap tenang seperti tidak ada terjadi apa-apa.
Tara langsung bersemangat saat mereka mendekati diri nya hanya untuk mendengar bagaimana cerita mereka.
"Kaka ipar kau tidak mau dengar?" Mata Tara tertuju kearah Darren yang menjauh dari mereka dan duduk di sofa sembari memain kan ponsel nya.
"Tidak," jawab Darren singkat.
"Ah dek dia tidak akan mau tau cerita ini. Karna dia adalah orang pertama yang tau semuanya! Kau lupa dia itu siapa." Sinis Viola terhadap suami nya sendiri.
"Oh iya kak kau benar!" Tara menggaruk tekuk nya yang tidak gatal.
"Cepat lah katakan bagaimana cerita nya?" Andhika langsung bersuara karna jiwa kekepoan nya membuat mata mereka tertuju heran pada Andhika.
"Kenapa kalian menatap ku? Kalian tidak penasaran dengan cerita nya?"
"Ah iya kau benar!" Jawab mereka serentak.
"Adik kecil! Lupain saja cerita masa lalu. Bukan nya kau baru sampai ya? Kau pasti lelah. Bagaimana kalau kau istirahat saja!" Shelly menatap dengan tersenyum paksa kearah Tara. Ia memberi kode pada Tara untuk tidak menceritakan masa lalu nya yang sangat memalukan itu.
"Sayang tidak apa-apa! Kau tidak perlu malu." Tutur mama Shelly secara tiba-tiba. Sejak tadi kedua orang tua mereka hanya diam saja. Karna tidak biasa dengan orang di sekitar mereka. Namun, saat mendengar ucapan Tara jujur saja membuat mereka penasaran bagaimana kisah cinta putri mereka itu.
"Emh, baiklah ma." Shelly menundukkan kepalanya membuat Bobby sangat gemas.
"Yasudah Tara, lanjutkan cerita nya." Perintah Viola.
"Jadi gini loh kak! Sebelum aku berangkat ke Paris. Sekretaris kakak ipar mendapatkan misi untuk mengantarkan aku di bandara dengan menyamar sebagai papa ku. Nah, sementara kak Shelly dia juga ikut mengantar ku karna itu atas permintaan kakak sebagai sahabatnya. Kakak ingat bukan?" Mata Tara tertuju kearah Viola begitu juga dengan yang lain.
"Emh ia kau benar dek. Tapi apa hubungannya mereka menjadi kekasih?" Viola masih tidak mengerti. Hingga bergantian mata semua orang menatap kearah Tara.
"Tidak hanya kekasih kak! Tapi sebagai calon istri." Kekeh Tara saat ia teringat kembali cerita yang sangat lucu itu.
"What's!!" Mereka yang mendengar tetap saja terkejut.
"Tara sudah cukup!" Shelly benar-benar sangat malu. Bisa-bisa nya di hari pernikahan nya ia di permalukan secara masal seperti ini.
"Tenangin dirimu." Bobby mengusap tangan Shelly dan menggenggam nya.
"Dek lanjutin! Kau tidak perlu takut pada kak Shelly." Viola yang tau Tara sedikit ragu untuk melanjutkan ceritanya karna Shelly. Langsung menepuk bahu Tara.
"Vi Lo sahabat yang tidak berprikemanusiaan! Bagaimana bisa Lo tega liat sahabat Lo di ceritain di depan orang nya langsung." Kesal Shelly.
"Shell, lebih bagus bukan menceritakan seseorang di depan orang nya langsung! Lagian cerita ini juga fakta. Kau tidak perlu malu! Anggap saja ini sebagai perjalanan cinta kalian yang sangat manis." Viola hanya bisa tersenyum saja melihat wajah Shelly menahan amarah.
Tara pun kembali melanjutkan ceritanya, sedangkan Darren menatap kearah Viola sambil menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil. Vaya yang sejak tadi melihat kearah Darren hanya tersenyum getir saja. Dan Andhika! kini Andhika menatap lekat Vaya yang selalu saja masih enggan membuka hatinya untuk diri nya. Walaupun Vaya sudah lebih sedikit terbuka tapi, Andhika sadar saat ini di hati Vaya masih terisi oleh Darren.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...