Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 66 Kemarahan Evan.


__ADS_3

Tara kembali duduk di atas tempat tidur nya dan menatap kakak nya itu dengan sangat intens.


"Kak sebenernya ada apa?" Rasa penasaran yang sudah Tara pendam itu akhirnya Tara luapkan juga.


"Tara kakak tidak bisa mengantar mu sampai ke bandara!" Viola merasa sangat bersalah pada adik nya itu.


"Aku sudah tau kak!" Tara menghembuskan nafas nya dengan sangat panjang.


"Kau sudah tau? Mengapa tidak memberitahu Kakak?'' Viola sangat terkejut mendengar ucapan adik nya itu.


"Aku tidak ingin membuat mu sedih kak! Eh tau nya aku sendiri yang larut dalam kesedihan." Lirih Tara pada Viola.


"Tara kakak juga tidak ingin memberitahu mu karna takut kau semakin sedih mendengar nya. Ternyata kau merasa sangat sedih karna sudah tau semuanya." Viola semakin kasihan melihat adik nya. Dia benar-benar sangat khawatir. Bagaimana bisa adik nya yang terkenal sangat manja dan tidak bisa jauh dari nya. Akan hidup mandiri di negara lain.


"Kak! Aku sudah tau lebih dulu dari kakak. Karna kakak ipar sudah memberitahu ku semuanya. Dia bilang kakak dan juga kakak ipar tidak bisa mengantar ku ke Bandara karna takut aku dalam bahaya. Jadi aku sudah paham kak dan tidak akan marah padamu. Aku tau semua ini demi kebaikan ku." Tara tersenyum menatap kearah kakak nya itu.


"Tara maafkan kakak." Lirih Viola pada Tara dia tidak tau harus berkata apa lagi pada Tara.


"Kakak, aku paham kok maksud kakak itu baik. Lagian aku juga sudah besar! Jadi kakak tidak perlu khawatir lagi ya. Dan satu hal yang perlu kakak tau! Aku akan mencari suami ku sendiri nanti nya disana!" Tara mengedipkan sebelah matanya di hadapan Viola dengan tersenyum.


"Kau itu!" Viola pun menghapus air matanya dan kembali tersenyum.


"Kak! Tara sayang banget sama kakak. Maafin Tara ya kalau selama ini Tara membuat kakak selalu dalam masalah." Lirih Tara pada kakak nya.


"Tara, bagi kakak Tara itu tidak pernah membuat kakak dalam masalah. Bahkan kakak merasa Tara itu seperti malaikat kecil kakak. Tara ingat tidak dulu mama sama papa pernah bilang sesuatu pada kita berdua?" Viola menghapus air matanya itu.


"Tara ingat kak! Mama dan papa bilang tidak ada kata merepotkan di dalam hubungan persaudaraan dan juga harus saling melindungi satu sama lain nya." Tara menatap wajah kakak nya itu.


"Nah itu Tara tau! Jadi Tara jangan sedih lagi ya. Oh iya kakak ada kabar baik ni! Tara mau dengar tidak?" Viola menatap adik nya dengan tersenyum tipis.


"Kabar baik apa kak?" Tanya Tara dengan sangat penasaran nya.


"Kabar baik nya kak Shelly yang akan menemani Tara nanti di bandara." Ujar Viola pada Tara dengan senyum yang sangat lebar.


"Benarkah itu kak?" Tara tidak percaya sama sekali mendengar ucapan kakak nya itu.


"Tentu saja benar! Kakak sudah bilang tadi sama kak Shelly dan kak Shelly tentu saja sangat bersedia untuk mengantar kan adik kecil nya ini!" Viola mencubit hidung Tara dengan gemas.


"Terimakasih kakak! Aku sangat menyayangimu dan juga kak Shelly. Kalian berdua adalah kakak terbaik ku." Tara mengacungkan jempol nya itu dihadapan kakak nya.


"Sudah jangan terlalu memuji! Sekarang cepat kemas semua yang ingin kau bawa. Karna kakak ipar mu itu sudah menunggu di lantai bawah." Perintah Viola pada Tara yang masih tersenyum itu.


"Siap bos!" Tara mengangkat tangan nya dan memberi hormat pada Viola. Viola yang melihat kelakuan adik nya hanya menggeleng kan kepalanya dan tersenyum.


Mereka pun akhirnya membereskan semua kebutuhan yang akan Tara gunakan untuk beberapa saat disana. Karna, Tara juga tidak bisa menggunakan kartu kredit pemberian kakak ipar nya itu sembarangan. Dia harus melihat keadaan dan situasi dulu agar tidak ada yang curiga. Oleh karna itu Tara lebih memilih membawa banyak perlengkapan kebutuhan nya dari Indonesia ke paris nanti nya.

__ADS_1


...🌾🌾...


Apartemen Evan..


Tidak hanya di kediaman Darren saja yang terlihat sedang sibuk. Namun di apartemen Evan juga terlihat seorang laki-laki yang sangat sibuk.


"Lama banget sih Roy!" Kesal Evan pada bawahannya itu.


"Bos, segala sesuatu itu membutuhkan waktu dan juga harus teliti. Jika saya melakukan nya dengan terburu-buru nanti akan berakibat fatal." Roy hanya bisa menghela nafas nya itu.


"Kau itu selalu saja membantah!" Evan menatap tajam kearah Roy.


"Sorry bos," Evan tidak ingin masalah jadi panjang. Jadi dia memilih untuk mengalah saja.


"Oh iya bagaimana perkembangan keponakan ku itu?" Tanya Evan pada Roy.


"Nona kecil baik-baik saja tuan," jawab Roy pada Evan.


"Siapa nama keponakan itu Roy? Aku tidak mengingat nya karna kehadiran si manusia tidak punya hati itu." Evan kembali teringat akan kejadian yang telah dia alami 3 hari yang lalu.


"Namanya Elvira Anggara bos." jawab Roy pada Evan.


"Elvira? Nama yang bagus! Ternyata adik ku itu pintar memberikan nama pada putri nya." Evan tersenyum mengingat kembali kenangan manis nya pada Erik.


"Bos benar! Nona kecil juga sangat cantik." Timpal Roy kembali ketika melihat wajah bos nya itu sudah tersenyum.


"Tentu saja benar bos! Ni bos lihat wajah nona kecil." Roy pun menyerahkan ponselnya pada Evan.


"Kau benar Roy! Anak nya Erik sangat cantik. Dia mirip sekali dengan Viola." Evan menghela nafas nya. Ia teringat gadis cantik yang sudah berani membentak dirinya itu. Seketika rasa kehilangan menyelimuti hati Evan. Wajah Evan kembali berubah dingin.


"Lebih tepatnya seperti nona Vivian bos! Karna ini anak nona Vivian dan juga tuan Erik bos." Roy mengambil ponselnya kembali dan meletakkan nya di dalam saku celana nya.


"Roy bagaimana urusan perusahaan di new York?" Evan mengalihkan pembicaraan mereka. Evan tidak ingin mengingat sesuatu yang sudah berlalu.


"Perusahaan berjalan lancar seperti biasanya bos. Namun ..." Roy tidak melanjutkan perkataannya dia takut bos nya itu akan marah besar padanya.


"Namun apa?" Mata Evan menatap kearah Roy dengan sangat intens.


"Namun bos, perusahaan sebentar lagi akan mendapatkan masalah." Roy segera menundukkan kepalanya dia tidak ingin melihat mata bos nya itu.


"Apa maksudmu Roy?" Tanya Evan dengan suara berat nya.


"Bos, karna kita sudah berani menculik istri dari tuan Darren. Maka kita juga harus siap menghadapi konsekuensi nya bos." Roy menelan saliva nya dengan sangat susah.


"Roy berbicara lah dengan jelas!" Evan menatap Roy dengan sangat tajam dan sudah mulai meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Bos, tuan Darren sepertinya ingin merebut beberapa kolega kita dan juga ingin merebut beberapa kerjasama sama kita dengan perusahaan besar lainnya. Seperti nya tuan Darren ingin menghancurkan perusahaan kita seperti debu bos."


"ROY EARTH! Jaga bicara mu!" Evan langsung memukul meja kerja nya begitu kuat membuat Roy langsung gemetar.


"Bos maafkan saya! Saya salah." Roy pun langsung terduduk di hadapan Evan membuat Evan semakin ingin meluapkan emosi nya.


"Tidak ada yang bisa menghancurkan perusahaan yang sudah aku bangun dari nol! Jika mereka berani menghancurkan nya maka aku akan menghadapi mereka semua. Sekalipun dia adalah seorang miliarder dunia yang tidak punya perasaan itu!" Tegas Evan dengan suara lantang nya.


"Bos kau juga tidak memiliki perasaan!" Gumam Roy yang masih duduk di lantai.


"Bangunlah Roy! Aku jijik melihat mu seperti orang yang tidak berdaya." Evan mendengus dengan sangat kesal.


"Terimakasih bos sudah memaafkan ku." Roy merasa sangat lega.


"Jangan senang dulu Roy!" Evan tersenyum sangat tipis. Membuat Roy merasa ngeri.


"Mampus aku! Seperti nya akan ada hal buruk yang terjadi pada ku." Roy menelan saliva nya dengan sangat susah.


"Aku memang memaafkan mu Roy! Tapi bukan berarti aku tidak akan memberikan hukuman pada mu." Evan menaikan kedua alis nya menatap kearah Roy dengan tersenyum licik.


"Bos tolong maafkan saya." Roy kembali memohon pada Evan.


"Roy kau arsip kan semua berkas dari 10 tahun yang lalu! Kau harus mengarsipkan nya dengan benar dan juga rapi. Setelah kita tiba di new York segera jalani lah hukuman mu itu." Evan bangkit dari kursi kerja nya itu.


"Bos tolong beri saya hukuman lain saja." Roy merasa hukuman itu lebih berat daripada dia di pukuli oleh bos nya. Karna menurut Roy melihat setumpuk kertas lebih menderita daripada di pukuli.


"Tidak ada penolakan! Jika kau menolak maka aku akan menambah kan hukuman mu itu." Evan menatap Roy dengan sangat tajam.


"Tidak! Tidak bos! Saya akan menerima hukuman ini. Melihat berkas 10 tahun yang lalu saja sudah membuat saya menderita apalagi jika di tambah bisa mati berdiri saya bos." Roy mengelus dada nya itu.


"Jika kau tau hukuman itu membuat mu menderita, seharusnya kau lebih memperhatikan kata-kata mu lagi." ujar Evan dengan suara datar nya.


"Baik bos saya mengerti." Roy hanya menunduk kan kepalanya.


"Bagus jika kau mengerti. Sekarang kita harus ke bandara." Evan pun berjalan keluar dari apartemen nya.


"Tapi bos penerbangan kita masih ada 2 jam lagi. Bos akan lelah jika menunggu di sana." Roy mengikuti langkah kaki Evan yang begitu cepat.


"Roy jangan banyak bertanya!" Evan meninggikan suaranya itu pada bawahan nya.


"Baik bos." Balas Roy. Yang hanya bisa Roy lakukan hanyalah mengikuti semua perintah bos nya itu.


Mereka pun sudah berada di area parkir mobil nya. Roy langsung membukakan pintu mobil belakang untuk bos nya itu masuk. Setelah memastikan bos nya sudah masuk. Roy segera masuk ke bagian kedepan untuk mengemudi mobil bos nya. Mereka pun pergi dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Evan hanya diam saja. Sementara Roy sesekali melihat kearah bos nya melalui kaca spion.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2