
R.s, Andhika Kasella hospital.
Dengan wajah yang sangat cemas Bobby langsung turun dari mobil nya dan hendak menggendong tubuh Shelly.
"Aku bisa sendiri," Shelly mendorong Bobby dengan tubuh lemah nya.
"Bisa tidak sehari saja kau jangan terus menolak ku?" Raung Bobby pada Shelly membuat Shelly terdiam.
"Kau tau aku benar-benar khawatir," Bobby menghela nafas nya lalu mengusap rambut Shelly.
Tanpa mendengar kan ucapan Shelly Bobby langsung menggendong Shelly masuk kedalam rumah sakit Andhika. Ia tidak perlu persetujuan siapa pun untuk masuk ke kamar VVIP anggota keluarga Darren.
"Tunggu lah disini aku akan memanggil dokter Andhika dulu," ujar Bobby saat sudah meletakkan tubuh Shelly diatas tempat tidur.
"Aku tidak mau," Shelly langsung menahan tangan Bobby yang hendak meninggalkan nya bersama perawat yang sejak tadi sedang memasang infus pada tangan Shelly.
"Sebentar saja. Aku tidak akan lama," Bobby melepaskan tangan Shelly perlahan lalu mencium kening Shelly.
Bobby langsung berlari keluar ruangan menuju keruanga Andhika.
"Hey bro, ada apa? Kenapa kau berlari seperti di kejar setan?" Tanya Andhika dengan wajah yang terkejut.
"Jangan banyak tanya!" Bobby langsung menarik tangan sahabat nya itu.
"Kau itu kenapa?" Andhika yang ikut berlari merasa kebingungan.
"Kenapa kita kesini?" Andhika yang sangat trauma pada ruangan VVIP milik Darren langsung menatap kearah Bobby.
Ruangan itu terasa sangat angker bagi nya. Setiap dia melihat ruangan tersebut pasti hal sial akan terjadi padanya.
"Sudah lah jangan banyak bertanya," Bobby meninggi kan suaranya itu.
"Nona Shelly?" Begitu masuk keruangan tersebut Andhika terkejut melihat Shelly sudah terbaring diatas tempat tidur. Karna memang ruangan ini di buat seindah mungkin oleh Darren agar saat keluarga nya di rawat akan merasa seperti dirumah sendiri.
"Tubuh nya panas secara tiba-tiba! Aku takut dia kenapa-kenapa." Jelas Bobby pada Andhika.
Andhika menatap kearah sahabat nya. Sosok yang pernah ia lihat sebelumnya. Sekarang kembali lagi.
"Tenang lah aku akan memeriksa nya." Jawab Andhika dan mulai memeriksa tubuh Shelly.
"Apa yang anda rasa kan saat ini?" Tanya Andhika pada Shelly.
"Kepala ku akhir-akhir ini terasa sangat pusing. Semakin aku meminum obat pereda pusing tapi malah semakin memburuk." Jelas Shelly pada Andhika.
"Sudah berapa banyak obat yang kau konsumsi?" Tanya Andhika dengan raut wajah yang sedikit panik.
"Ada apa?" Bobby langsung menatap kearah Andhika. Karna biasanya jika Andhika memasang wajah seperti itu pasti ada hal yang tidak baik.
"Aku tidak ingat sudah berapa banyak." Jawab Shelly.
"Kemungkinan besar dia keracunan obat." Andhika menatap kearah Bobby. Bobby semakin merasa khawatir.
"Bobby," Shelly langsung memanggil nama Bobby.
"Tenang kau pasti akan baik-baik saja! Dia sangat hebat dalam mengobati seseorang. Kau tidak perlu takut." Bobby menunjuk kearah Andhika sambil membelai rambut Shelly.
"Benar-benar ya mereka!" Andhika yang melihat mereka hanya menghela nafas nya saja.
"Bawa dia ke ruang pemeriksaan toksikologi." Perintah Andhika pada perawat nya.
"Biar aku saja yang membawa nya." Saat hendak menyuruh Shelly untuk duduk di kursi roda, Bobby justru mengangkat tubuh Shelly. Sedangkan infus nya di pegang oleh perawat.
"Terserah mu saja!" Andhika sangat malas berdebat pada Bobby. Dan memilih untuk membiarkan apa yang ingin di lakukan pria dingin itu.
__ADS_1
Mereka yang sudah tiba di ruangan pemeriksaan tersebut langsung membaringkan tubuh Shelly di atas brankar.
"Aneh!" Ucap Andhika saat melakukan pemeriksaan.
"Ada apa?" Tanya Bobby
"Tidak ada tanda-tanda keracunan disini." Ucap Andhika kembali.
"Apa maksudmu?" Tanya Bobby lagi.
"Diamlah! Kau mengganggu konsentrasi ku." Andhika sangat kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
"Andhika kasella kau itu dokter. Jadi wajar aku bertanya!" Bobby mulai meninggikan suara nya.
"Nona, suruh lah pria mu ini untuk diam." Andhika memijat pelipisnya yang terasa denyut sejak tadi.
"Tuan Bobby diam lah," Shelly juga pusing sama tingkah pria yang ada disampingnya itu.
"Baiklah, aku akan diam." Boby memegang tangan Shelly.
"Cih, saat aku yang menyuruh kau diam. Kau malah memarahiku! Begitu gadis ini yang menyuruh, kau langsung nurut." Sinis Andhika pada Bobby.
Bobby tidak menjawab ucapan Andhika dan malah fokus pada Shelly.
"Nona Shelly selain anda merasa pusing, apalagi yang anda rasakan?" Tanya Andhika pada Shelly untuk memastikan nya lebih lanjut.
"Kadang aku tidak suka mencium aroma pada makanan yang bau dan juga minyak wangi pria seperti wangi anda dokter. Karna itu akan membuat ku semakin pusing." Jelas Shelly kembali.
"Andhika kau pakai parfum apa sampai dia semakin pusing?" Bobby menatap tajam kearah Andhika.
"Tidak hanya aku saja! Kau tidak dengar dia berkata apa tadi? dia akan merasa semakin pusing jika mencium aroma parfum yang pria gunakan. Itu berarti kau juga termasuk!" Kesal Andhika pada Bobby.
Bobby yang mendengar ucapan Andhika pun langsung menjauh dari Shelly. namun, Shelly menarik pucuk baju Bobby.
"Shelly kau akan semakin pusing jika aku berada di dekat mu!" Bobby berusaha melepaskan genggaman Shelly pada baju nya hingga membuat bahu Bobby terlihat.
"Bobby Charlton!!" Andhika langsung menatap tajam kearah Bobby saat ia merasakan ada hal yang tidak beres.
"Shitt!!" Bobby mengusap telinga nya yang terasa panas saat Andhika meneriakinya.
"Are you crazy??" Bobby membalas tatapan Andhika padanya
"You crazy bro! what have you done to this girl?" Andhika menaikan alis nya itu menatap kearah Bobby.
"Aku tidak melakukan apapun padanya." Jawab Bobby dengan wajah yang masih tidak mengerti.
"Panggil dokter kandungan kesini!" Karna malas berdebat Andhika malah menyuruh perawat nya untuk memanggil dokter kandungan.
"Dokter saya hanya pusing biasa, kenapa dokter malah memanggil dokter kandungan?" Shelly merasa semakin bingung.
"Kenapa sekarang keadaan tambah rumit?" Gumam Shelly.
"Kasella jelas kan pada ku!" Sorot mata Bobby berubah seketika kearah Andhika.
"Siall!!!! Mengapa dia harus menunjukkan sisi seperti Darren." Ingin rasa nya Andhika mencabik-cabik wajah Bobby saat namanya di panggil seperti itu.
"Aku sendiri juga belum terlalu yakin sebelum dia melakukan pemeriksaan." Jawab Andhika dengan menghela nafas nya. Andhika bukan dokter kandungan. dia tidak terlalu mengetahui tentang kehamilan pada seorang wanita
"Dokter, saat ini Dokter Ririn sedang tidak ada di tempat." Ucap perawat tersebut.
"Oh iya aku lupa." Andhika langsung teringat kenapa dokter Ririn tidak ada di tempat nya
Tiba-tiba saja seseorang masuk keruangan tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kak kasella! Bukan kah kau sudah berjanji akan mengantarkan ku ke bandara?" Ucap gadis tersebut membuat semua orang menatap kearahnya.
"Kak, kenapa kau ada disini?" Mata Vaya langsung melebar saat melihat sosok kakak nya yang sudah sebulan tidak pernah ia jumpai sejak saat itu.
Karna kesalahan nya yang fatal membuat kakak nya tidak ingin menemuinya dan menolak untuk bertemu dengan nya.
"Kenapa kau ada disini?" Andhika langsung mengancingkan gigi nya itu menatap kearah Vaya.
"Siapa yang sakit kak?" Bukan nya menjawab Vaya malah masuk dan melihat siapa gadis yang sudah membuat kakak nya itu terlihat cemas.
"Aku tidak ingin dia ada disini!" Shelly yang masih marah pada gadis yang sudah membuat sahabat nya menderita langsung memalingkan wajah nya.
"Kau itu sombong sekali! Bukan kah sudah ku katakan aku minta maaf! Aku memang salah namun, bukan berati sepenuhnya kesalahan ku." Ketus vaya membuat diri nya mendapatkan tatapan tajam dari Bobby.
"Vaya kau seorang bidan bukan?" Andhika yang teringat sesuatu menatap kearah Vaya.
"Kak apa maksud mu? Kau meragukan profesi ku?" Vaya yang tidak terima dengan pertanyaan Andhika langsung menginjak kaki Andhika dengan sangat kuat.
"Ahhhs shitt!" Umpat Andhika saat merasakan sakit pada kaki nya.
"Periksa lah calon kakak ipar mu itu." Perintah Andhika sambil menahan sakit di kaki nya.
"Kakak ipar? Jangan bercanda kak. Aku tidak mau punya kakak ipar seperti dirinya." Sinis Vaya.
Bukan karna gadis itu miskin namun, karna gadis tersebut lebih muda dari nya dan juga memiliki karakter yang sering membuat nya emosi. tentu saja membuat Vaya enggan untuk punya kakak ipar seperti Shelly.
"Jaga ucapan mu!" Bentak Bobby pada Vaya membuat Vaya terkejut.
"Kak, jangan bilang--" Vaya yang tidak yakin melanjutkan kata-katanya hanya bisa menatap kakak nya saja.
"Iya dia akan segera menjadi kakak ipar mu." Ujar Bobby dengan sangat jelas membuat mereka yang ada di ruangan tersebut terkejut.
"APA!! AKU TIDAK MAU." kini malah Bobby dan Andhika yang terkejut saat melihat kekompakan pada Shelly dan juga Vaya.
"Ah kepalaku sakit sekali," Shelly kembali merasakan sakit pada kepala nya itu.
"Hey kau baik-baik saja?" Jiwa kemanusiaan Vaya keluar begitu saja saat melihat Shelly memegang kepala nya.
"Kurasa dia hamil." Tutur Andhika yang tanpa sadar membuat jantung Bobby dan juga Shelly berhenti seketika.
"Bagaimana bisa? Kak apa yang sudah kau lakukan pada gadis ini? Bukan kah sudah ku katakan! Sejahat apapun wanita kau jangan pernah mengambil kehormatan nya." Bukan nya memarahi Shelly Vaya justru memukul perut kakak nya sehingga membuat Bobby meringis
"Bagaimana?" Tanya Andhika ketika berada di samping Bobby.
"Pukulan adik mu lumayan sakit bukan?" Andhika langsung menahan tawa nya itu saat melihat Bobby hanya melirik nya saja.
"Kapan terakhir kali kau menstruasi?" Tanya Vaya dan mulai memeriksa tubuh Shelly.
"Sebulan yang lalu," jawab Shelly.
"Kau itu!" Vaya menggeleng kepalanya.
"Bawa dia keruangan USG sekarang." Perintah Vaya pada perawat yang ada disana.
"Baik dokter," jawab mereka.
"Dan untuk kalian berdua! Siap-siap lah jika dia beneran hamil akan ku habisi kalian." Ancam Vaya pada mereka.
"Kenapa aku juga terlibat?" Andhika langsung protes pada Vaya.
"Karna kau sahabat nya dan juga sering membisikkan bisikan setan pada nya." Jawab Vaya dengan sangat enteng nya.
Ucapan Vaya membuat Bobby tersenyum sehingga Andhika semakin kesal dengan kelakuan kakak beradik ini.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^
...****************...