Menjadi Dia

Menjadi Dia
Mengenal Alya


__ADS_3

“Kak Calvin?” Rachel masih begitu terkejut saat melihat kedatangan Calvin di mulut pintu.


“Hay!” Calvin tetap dengan senyumnya yang cerah. Laki-laki ini selalu terlihat ramah seperti biasanya.


“Ada apa kakak datang ke sini?” Rachel menoleh ke dalam toko, takut Eva atau Ruby datang.


Bukan tanpa alasan Rachel khawatir melihat kedatangan Calvin ke toko bunga, ia masih ingat kalau Calvin melihat perlakuan Martha terhadapnya beberapa waktu lalu. Rachel takut kalau Calvin cerita apa yang ia lihat pada Ruby atau Eva.


“Em gak ada apa-apa. Cuma say hay, kebetulan tadi aku lewat.” Calvin jadi kikuk melihat tatapan waspada Rachel.


“Kamu masih khawatir?” Calvin sedikit mendekat pada Rachel, membuat mata Rachel membulat saat mendengar pertanyaan itu.


“Tenang aja, aku pegang janjiku untuk gak bilang apa-apa sama keluarga kamu.” Sambungnya dengan cepat. Ia tidak mau membuat Rachel khawatir.


“Te-terima kasih kak…” Rachel sampai tergagap sekaligus menghembusakan nafas lega. Sejauh ini Rachel melihat calvi adalah orang yang komit terhadap perkataannya.


Calvin hanya tersenyum kecil. Ia juga tidak tega melihat wajah Rachel yang tegang begitu.


"Ngomong-ngomong, selamat atas trendingnya project pertama kamu. Aku dengar banyak pihak yang mulai tertarik untuk bekerjasama dengan kamu."


"Sebentar lagi aku yakin akan ada banyak tawaran yang mampir. Good job Rachel." Puji Calvin seraya mengacungkan jempolnya pada Rachel.


"Terima kasih kak. Ini juga berkat bantuan kak Calvin." Timpal Rachel dengan sungguh.


"Nggak lah, aku cuma bantu kamu ngenalin siapa diri kamu dan apa kemampuan kamu. Selebihnya, ini pencapaian kamu." Calvin tersenyum bangga pada wanita dihadapannya, membuat Rachel jadi kikuk.


“Vin! Ya ampun, baru mampir lagiii….” Seru Ruby yang datang.


Syukurlah Ruby datang dan Rachel bisa lebih tenang. Ia ikut menoleh saat Ruby menghampiri.


“Iyaa, aku habis ngejemput mamah. Dia baru pulang ngehadirin konferensi dari luar kota. Jadi sekalian mampir sini, katanya salam buat kamu dan mamah kamu.” Terang Calvin sambil melirik Rachel. Ia ingin Rachel tahu kalau alasannya bukan untuk membuka masalah Rachel pada keluarganya.


“ya ampun salam juga buat tante Alya. Kenapa gak ngajak tante Alya mampir dulu? Udah lama aku gak ketemu beliau.”


Ruby melingkarkan tangannya di leher Rachel, merasakan jelas bahu adiknya yang tegang lalu ia usap-usap dengan lembut. Entah ada apa dengan adiknya sampai bahunya setegang ini.

__ADS_1


“Mamah kecapean katanya. Nanti lah lain kali aku ajak mampir ke sini.”


“Okey, duduklah. Aku bikinin minum dulu.” Lagi Ruby menepuk bahu Rachel agar tidak terlalu tegang.


“Sip, makasih. Sorry ngerepotin.”


“Akh kayak sama siapa aja kamu.” Timpal Ruby santai. Gadis itupun berlalu pergi meninggalkan Rachel dan Calvin.


Calvin duduk lebih dulu dan Rachel masih terlihat tegang. Ia mengusap tengkuknya yang terbuka karena rambutnya yang terikat.


“Duduklah, kita bicara sebentar. Ada yang mau aku kasih tau.” Ajak Calvin.


Tanpa protes Rachel menarik kursi dan duduk dihadapan Calvin.


“Ada apa?” Rachel mulai penasaran.


“Em… aku udah ngobrol sama mamah tentang kampanye yang membahas masalah pelecehan terhadap wanita dan anak yang waktu itu kamu tanya. Mamahku bilang, mereka sangat welcome kalau ada volunteer yang mau bergabung dan mengkampanyekan hal itu.”


Calvin mengambil kartu nama dari dalam sakunya lantas menaruhnya di atas meja.


Rachel memandangi beberapa saat kartu nama yang ia ambil. “Dokter Alya” nama yang tercantum di sana.


“Boleh kak.” Sahutnya seraya tersenyum tipis. Sangat menyenangkan ketika maksud baiknya disambut baik pula oleh Alya.


“Baiklah. Nanti aku kasih ke mamah. Nanti mamah yang akan menghubungi kamu untuk ngobrol soal konsep iklannya.”


“Yang jelas, beliau sangat mendukung. Menurut beliau hal seperti pelecehan itu sering kali di anggap tabu dan aib sehingga tidak banyak yang berani bersuara. Padahal ini sesuatu yang fatal dan bisa menyisakan trauma bagi para korbannya.” Calvin mengutip sebagian isi perbincangannya dengan Alya saat dalam perjalanan pulang.


“Syukurlah, terima kasih banyak.” Ungkap Rachel dengan senang hati. Ia merasa langkahnya menemui jalan terang.


“Ngobrol apa nih, kok serius banget?” Ruby datang dengan segelas kopi untuk Calvin.


“Nggak, ini aku sama Rachel lagi ngobrol masalah kampanye.” Terang Calvin.


“Kampanye apa? Mamah kamu mau jadi caleg?” Ruby ikut duduk di samping Rachel. Menatap Rachel dan Calvin bergantian.

__ADS_1


“Kakak nih, emang kampanye itu caleg doang?” Rachel tersenyum kecil melihat wajah bingung Ruby.


“Hahahha… bukan ya?” Ruby menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Bukan lah. Ini kampanye tentang pelecehan terhadap perempuan dan anak. Bukan kampanye caleg.” Rachel masih tersenyum di akhir kalimatnya membuat Calvin tertarik untuk memandanginya.


Calvin segera memalingkan wajahnya saat Rachel menoleh. Lantas laki-laki itu menghembuskan nafasnya kasar, jantungnya gelisah melihat senyum manis Rachel.


“Hahahha… iya sorry. Aku kira mamahnya Calvin mau jadi caleg.” Ruby ikut terkekeh.


“Jadi kamu ikut kampanye mamah Calvin?” Ruby semakin penasaran.


“Bukan, dia pencetus idenya.” Calvin menjawab lebih dulu.


“Waw, serius?” Ruby menatap Rachel tidak percaya.


Rachel hanya tersenyum sementara Calvin mengangguk yakin.


“Waahh keren dek. Pasti akan banyak wanita yang merasa terwakili. Aku dukung itu.” Dengan semangat Ruby memeluk Rachel.


“Makasih kak. Do’ain lancar yaa… aku baru mau kenalan sama mamah kak Calvin, hehehe….” Ungkap Rachel.


“Iya, kenalan lah. Mamahnya Calvin cantik dan baik banget. Wawasannya luas. Pasti bakalan nyambung kalau ngobrol sama kamu.”


“Aku sepemikiran, aku juga yakin kalau mereka akan nyambung.” Calvin ikut menegaskan.


Rachel tersenyum kecil di tempatnya. Ia memandangi kartu nama yang ada di tangannya.


Beberapa hari lalu ia sudah mencari tahu profil Alya. Banyak komunitas yang dipimpinnya dan blog nya pun banyak dikunjungi. Ia menjadi kiblat untuk banyak wanita karena pemikirannya yang cerdas dan terbuka.


Ia berharap, ia bisa bekerja sama baik dengan Alya. Agar semua pesannya dapat tersampaikan.


Belum berjodoh jadi mertua, semoga berjodoh jadi rekan kerja ya Chel. Hahahahha....


Mertuaku, rekan kerjaku. Loh kok? Hahahaha

__ADS_1


****


__ADS_2