Menjadi Dia

Menjadi Dia
Cek ponsel


__ADS_3

Di depan toko bunga, seorang laki-laki berkacamata hitam tengah berdiri bersandar pada sebuah mobil mewah berwarna merah. Ia tersenyum kecil saat melihat kedatangan sang empunya toko yang baru tiba.


“Waahh ada Mr Hale berkunjung sepagi ini. Apa matahari terbit dari barat?” tanya Ruby setelah mengenali siapa yang menunggunya.


Tidak biasanya Calvin datang sepagi ini, apalagi di saat tokonya belum buka. Terlebih ini adalah hari libur.


“Ya, aku tidak mau melewatkan wangi segar bunga di pagi hari.” Sahut Calvin seraya membuka kacamatanya.


Ia menghampiri Ruby yang tampak kesulitan membuka kunci tokonya yang kadang kala macet.


“Terima kasih.” Ucap Ruby saat pintu toko terbuka.


Calvin hanya tersenyum dan mengangguk rendah, layaknya pemain opera selesai tampil.


Mereka masuk ke dalam toko dan aroma segar bunga langsung merebak.


“Kamu sengaja main ke sini atau ada urusan lain?” Ruby membuka beberapa tirai agar cahaya matahari masuk sempurna dari salah satu sisi kaca toko.


“Sengaja main karena ada urusan.” Sahutnya tenang. Ia berkeliling memperhatikan bunga-bunga yang tertata rapi di dalam vas.


“Stok bungamu sedikit. Apa toko ini akan tutup?” Calvin mengambil bunga mawar putih yang terlihat cantik.


“Enak aja! Ini karena bunganya laris manis. Sebentar lagi bunga pesananku datang. Kali ini aku memesannya langsung dari petani bunga. Nggak lewat distributor.”


“Waw, keren. Rupanya toko bunga ini semakin berkembang.” Puji Calvin dengan sejujurnya.


“Berkat bantuanmu juga. Terima kasih udah bantu aku iklanin toko mungil ini.”


Ruby memandangi setiap sudut yang ada di tokonya. Toko yang sudah belasan tahun ia dirikan ini ternyata berkembang di waktu yang tidak pernah ia duga.


“Aku pikir bunga-bungaku hanya akan berakhir menjadi kelopak-kelopak kering yang berguguran. Tapi ternyata mereka menemukan rumah baru yang bisa mereka hiasai.” Ungkap Ruby dengan penuh rasa syukur.


Calvin hanya tersenyum seraya bersandar pada dinding dan melipat tangannya di depan dada.


“Wajah haru seperti itu tidak cocok untukmu.” Ledek calvin.


“Buk!” Ruby hendak meninju perut Calvin.


“Awh!” Calvin segera menahannya walau tetap mengaduh.


“Duduklah, nanti aku buatkan minum.” Ruby beranjak pergi untuk membuatkan Calvin minum.


Laki-laki itu tidak lantas duduk dan malah melihat-lihat kolase foto Ruby dan Rachel saat mereka kecil hingga dewasa. Wajah Ruby yang tidak banyak berubah seorang berbanding terbalik dengan wajah Rachel yang memiliki banyak perubahan.


Dulu pipi Rachel sangat chuby tapi sekarang tirus. Tubuhnya juga langsing dengan kulit putih terawat.


“Apa Rachel akan ke sini?” tanya Calvin tiba-tiba.


Melihat fotonya saja rasanya tidak membuat Calvin cukup puas.


Ruby tersenyum kecil di tempatnya, rasanya ia tahu alasan Calvin datang ke tokonya.


“Sekalinya nanyain perempuan, malah wanita yang udah bersuami.” Ledek Ruby.


Calvin membalasnya dengan senyuman kecil.


Sejauh Ruby mengenal Calvin, laki-laki ini memang tidak pernah menceritakan tentang wanita yang dekat dengannya. Ia juga tidak pernah memuji seorang wanita sekalipun banyak wanita cantik dari kalangan artis dan model terkenal yang mengejarnya. Ruby sempat berpikir kalau Calvin mungkin memiliki kelainan.


“Aku mengiriminya pesan, tapi sikapnya sangat dingin. Dia bahkan tidak menyimpan kontakku padahal aku sudah memberinya kartu nama.” Keluh Calvin. Entah itu sebuah kekecewaan atau hanya sekedar ingin bercerita.


Ruby tidak lantas menimpalinya. Ia menghampiri Calvin dengan membawa dua cangkir yang berisi teh.


“Dia sedang menghabiskan waktunya dengan suaminya, seharusnya kamu tidak mengganggunya.”


“Beruntung sekali laki-laki itu.” Calvin duduk di kursi dan memandangi cangkir yang ada di hadapannya. Ia mencium baunya, sangat enak tapi tidak senyaman wangi minuman buatan Rachel yang pertama kali dicicipinya.

__ADS_1


“Carilah perempuan yang juga bisa membuat kamu merasa beruntung. Tapi jangan mengharapkan istri orang lain.” Ruby memandangi sahabatnya yang sedang memainkan bibir gelas dengan telunjuknya.


“Apa Rachel bisa di cloning?” tanya Calvin iseng.


“Vin… jangan aneh-aneh.” Ruby segera mengulti. Ia tidak mau sahabatnya malah mengejar Rachel yang sudah jelas bersuami.


“Aku hanya bertanya. Karena aku penasaran, apa ada lagi wanita yang sesempurna Rachel?” Calvin memandangi Ruby dengan segaris senyum.


“Tidak, aku rasa Rachel tidak sempurna. Dia baik, manis dan sangat menghormati orang disekitarnya. Tapi dia juga keras kepala dan egois terhadap dirinya sendiri.


"Tapi, dia wanita yang kuat dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang dia sayang. Memberikan porsi kasih sayang dengan cukup ya terkadang memang berlebihan. Apalagi kalau dia udah jatuh cinta. Tapi aku rasa orang yang mencintai seseorang pasti akan sedikit berlebihan. Iya gak sih?” Ruby balik bertanya pada Calvin.


“Entahlah, aku tidak pernah jatuh cinta. Entahlah kalau sekarang.” Calvin tersenyum kecil seraya meneguk minumannya.


“Udah aku bilang, jangan mikirin Rachel selain sebagai adikku. Aku bisa menghabisi kamu kalau kamu mengganggunya.” Ancam Ruby.


Ia tahu benar kalau Calvin selalu terlalu bersungguh-sungguh ketika menginginkan sesuatu.


“Nggak lah. Mana mungkin aku merusak kebahagiaan orang lain. Itu bukan aku banget.” Timpal Calvin dengan penuh keyakinan.


Ruby hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya. Andai Calvin pulang lebih awal, mungkin ia akan dengan senang hati mendekatkan Rachel pada Calvin. Ia tahu persis bagaimana baik dan lembutnya Calvin. Pasti akan sangat cocok dengan si manja, Rachel.


"Ruby, Rachel udah gak manja loh… Bebannya sekarang sangat berat dan dia tidak pernah kesempatan untuk mengeluh."


Di kamar hotel, Rachel masih terduduk di tempat tidurnya. Ia duduk menghadap jendela, melihat cahaya matahari yang semakin meninggi dan membias di wajahnya.


Langit Jakarta begitu cerah pagi ini hingga membuat Rachel serasa berteman dengan awan-awan yang bertebaran di langit. Ini menyenangkan, karena menenangkan.


Sementara Nata masih tertidur telungkup tanpa pakaian bagian atas. Tangannya melingkar di pinggang Rachel, seolah tidak mengizinkan istrinya untuk beranjak.


Ya sudah satu jam Nata seperti ini, tidak mengizinkan Rachel pergi kemanapun. Akhirnya, Rachel hanya bisa memandangi jendela di hadapannya. Ia tersenyum kecil saat mengingat apa yang terjadi semalam. Entah berapa kali ia dan Nata melenguh bersamaan. Rachel merasa kalau tadi malam adalah pengganti malam pertamanya yang menyedihkan.


Kesannya begitu mendalam.


“Emmhh…” terdengar suara Nata yang sadar kalau Rachel dengan menciuminya.


Cepat-cepat Rachel menegakkan lagi tubuhnya dan mengusap kepala Nata.


“Tidur lagi aja mas, masih pagi.” Bisik Rachel.


Nata tidak menimpali, ia membalik tubuhnya dan tidur miring membelakangi Rachel. Rachel menghela nafas lega karena akhirnya ia bisa beranjak untuk mengambil minum.


Rachel segera bangkit dari tempatnya. Ia mengambil minum dan memilih duduk di sofa dekat jendela. Ia juga melihat-lihat ponselnya yang semalam terus berbunyi. Entahlah, ia jadi penasaran untuk mengecek pesan terakhir yang mengganggu pikirannya. Ya, pesan dari Brams.


Rachel memilih nama Brams yang ada di kotak masuknya. Pesan-pesan mengerikan itu langsung membuat Rachel mual. Selain dua pesan awal yang sudah terbaca, masih ada pesan lainnya yang belum ia buka karena Nata keburu menariknya.


“Rachel, kamu sedang apa?”


“Apa kamu menikmati waktumu dengan Nata?”


“Apa kamu memakai lingeri dariku?”


“Apa dia sangat hebat?”


“Berapa kali kalian melakukannya?”


“Aku punya referensi video, tontonlah.”


“Rachel, tolong balaslah kalau Nata sedang di kamar mandi atau saat dia sibuk dengan pekerjaannya.”


“Rachel, kamu mengabaikanku. Aku bisa mengirimkan video saat kamu datang ke kamarku dan menyentuh tubuhku. Kamu mau Nata melihat itu?”


Dan masih banyak pesan tidak senonoh lainnya yang membuat Rachel mual dan panik di waktu bersamaan hingga wajahnya pucat pasi.


“Balas pesan siapa?”

__ADS_1


“UHUK!” Rachel sampai terbatuk karena kaget mendengar suara Nata. Laki-laki itu masih terbaring di atas tempat tidur tapi matanya menatap tajam pada Rachel.


“Hah, nggak. Aku gak balas pesan siapapun.” Cepat-cepat Rachel menyembunyikan ponselnya.


“Kemari.” Nata mengulurkan tangannya.


“I-iya.” Rachel segera menaruh gelas dan ponselnya. Ia menghampiri Nata dan duduk di sisi tempat tidur.


“Mana?” tanya Nata.


“Apa mas?” Rachel celingukan bingung.


“Hp kamu.”


“Oh. Aku pikir akunya aja yang di suruh nyamperin.” Cicit Rachel. Ia kembali beranjak mengambil ponsel yang ia tinggalkan di sofa lalu memberikannya pada Nata.


Jujur, Rachel sudah sangat takut saat ponselnya sudah ada di tangan Nata. Bagaimana reaksi suaminya kalau melihat pesan yang dikirim Brams padanya?


“Kenapa gak bisa?” tanya Nata tiba-tiba.


“Hah, apanya mas?” Rachel langsung mengintip ponselnya.


“Face id pake mukaku.” Sahutnya kesal.


“Oh, hpku kan gak kayak hp mas. Gak bisa dua face id.” Sahut Rachel sedikit lega.


“Buka!” Nata meminta Rachel membuka passcode ponselnya.


Rachel menurut saja. Dan layar ponselpun terbuka. Rachel menggunakan wallpaper foto pernikahan mereka. Sudut hati Nata tersenyum kecil


“Nanti ganti hpmu. Ini sudah ketinggalan jaman.” Protes Nata.


“Hehehehe… itu masih bagus kok.”


“Gak bisa pake mukaku buat buka kunci.” Gerutu laki-laki itu.


“Tapi aku passwordnya pake tanggl ulang tahun mas. Jadi pasti mudah diingat.” Timpal Rachel.


Kali ini Nata tidak menimpali. Tetap saja ia tidak suka karena wajahnya tidak dikenali oleh ponsel Rachel. Ia mulai membuka-buka ponsel Rachel, melihat-lihat galeri foto yang banyak memuat foto Brandon dan dirinya juga kotak masuk.


Jantung Rachel langsung berdebar kencang saat melihat Nata membuka kotak masuk. Ia tidak bisa membayangkan kalau Nata melihat pesan dari Brams. Apa hari ini akan ada perang dunia ketiga?


Rachel bergidik membayangkannya.


“Nih!” tiba-tiba saja Nata mengembalikan ponsel Rachel.


“Udah mas?” Rachel menatap tidak percaya pada suaminya.”


“Isi ponselmu tidak menarik.” Tegas Nata.


Ia tidak menemukan apapun di ponsel Rachel baik itu di galeri ataupun perpesanan. Tapi sudut hatinya tersenyum saat ia melihat ada foto dirinya di ponsel Rachel.


Takut-takut Rachel mengambil alih ponselnya. Lantas ia membuka pesan masuk. Mana mungkin Nata melewatkan ini kan?


Tapi saat dilihat, kotak masuknya sudah kosong. Padahal beberapa menit lalu ada banyak pesan yang di kirim Brams padanya dan baru ia baca. Tapi sekarang kotak masuknya kosong. Rupanya kebiasaan Brams masih sama, menghapus jejak digital.


“Mandilah duluan, kita sarapan sebentar lagi dan pulang.” Ujar Nata mengakhiri kekagetan Rachel.


“I-iya mas.” Sahut Rachel seraya beranjak meninggalkan Nata.


Apa Nata benar-benar tidak melihat pesan dari Brams?


****


__ADS_1


__ADS_2