Menjadi Dia

Menjadi Dia
48. Bercerai?


__ADS_3

Pagi mulai menyapa, mentari nampak mulai bersinar menampakkan diri. Rindy terbangun dari tidurnya dan menatap sisi tempat tidur yang biasa ditempati oleh Anand.


"Apakah dia tidak kembali ke kamar? Lalu dia tidur dimana?"gumam Rindy yang melihat tempat biasa Anand berbaring nampak masih rapi. Rindy duduk termenung, bersandar di dashboard ranjang.


Mengingat kata-kata Anand semalam, hati Rindy menjadi bimbang. Masih ada cinta untuk Rio dihatinya, namun juga tidak dapat dipungkiri jika dirinya juga mulai menyukai Anand. Perhatian, cinta, dan kasih sayang yang diberikan Anand selama ini perlahan membuatnya luluh. Namun saat mengingat begitu banyak wanita yang pernah menghangatkan ranjang suaminya, hati Rindy menolak untuk menerima Anand.


Seharusnya sebagai manusia, Rindy menyadari, bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna, kecuali judul lagu. Begitu pula dengan Anand yang punya masa lalu kelam. Bukankah setiap manusia pernah melakukan kesalahan? Namun, Tuhan selalu memaafkan.


Kata Bang Haji, manusia itu memang tempatnya salah dan lupa. Ada yang menyadari kesalahannya dan memperbaiki nya, ada pula yang menyadari kesalahannya, tapi tetap lanjut berbuat dosa. Semua tergantung pada diri masing-masing manusianya.


Namun jika Tuhan yang maha sempurna saja mau memaafkan, kenapa kita yang hanya seorang hamba yang tidak sempurna ini tidak mau memaafkan? Jika Tuhan saja memberi kesempatan untuk hambanya berubah menjadi lebih baik, lalu kenapa kita yang hanya manusia biasa tidak memberikan kesempatan itu pada orang lain?


Rindy beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Rindy pergi ke ruang makan. Namun diruang makan itu, Rindy juga tidak melihat Anand.


"Bik, bibi lihat suami saya?"tanya Rindy pada wanita paruh baya yang sedang melayani nya.


"Pagi-pagi sekali, Tuan sudah berangkat bekerja, Nyonya,"sahut wanita paruh baya itu.


Mendengar jawaban dari ART dirumahnya itu, Rindy jadi terdiam. Entah mengapa Rindy merasa Anand menghindari nya. Semalam Anand tidak tidur di kamar mereka, dan hari ini pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor.


***


Hari berganti hari dan tidak terasa sudah seminggu sejak Anand mengatakan akan menceraikan Rindy. Sejak seminggu lalu, Rindy tidak pernah bertemu dengan Anand. Anand selalu pulang malam dan pergi pagi-pagi sekali. Anand pun tidak lagi tidur satu kamar dengan Rindy, tapi tidur di kamar lain.


Terus terang, ada yang kosong di hati Rindy karena sikap Anand, yang berubah selama seminggu ini. Tidak ada lagi panggilan sayang yang menyapa pendengarnya. Tidak ada lagi Anand yang selalu memeluknya dari belakang dengan hangat saat dirinya tidur. Juga tidak ada perhatian yang biasanya Anand berikan untuknya.


Pagi itu Rindy memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Supir yang disiapkan Anand untuk Rindy pun selalu mengantarkan Rindy kemana pun yang diinginkan Rindy. Beberapa menit kemudian, Rindy pun sudah sampai di rumah kedua orang tuanya. Rindy nampak diam mematung di samping mobilnya.


"Rin! Kamu pulang? Ayo masuk!"ujar ibu Rindy dengan seulas senyum hangat. Saat mendengar suara pintu mobil yang ditutup, ibu Rindy langsung keluar dari rumah dan merasa senang saat melihat putrinya pulang.

__ADS_1


Rindy yang sempat terdiam di samping mobilnya pun mengulas senyum saat melihat ibunya. Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


"Bu, kenapa tetangga depan rumah itu ribut sekali?"tanya Rindy saat sudah masuk ke dalam rumah.


Saat baru keluar dari dalam mobil tadi, Rindy mendengar suara gaduh dari rumah yang ada di depan rumah mereka. Suara pertengkaran laki-laki dan perempuan, dan juga suara anak yang sedang menangis terdengar begitu gaduh. Ada suara tangis anak laki-laki dan juga suara tangis bayi dari dalam rumah itu.


"Oh, itu. Mereka rebutan harta gono-gini,"ucap ibu Rindy menghela napas panjang menatap rumah yang ada di depan rumah nya.


"Mereka bercerai?"tanya Rindy seraya mengernyitkan keningnya.


"Iya. Ibu sangat menyayangkan nya. Ibu merasa jika suami-istri itu sangat egois. Mereka bercerai tanpa memikirkan anak-anak mereka. Dengar lah! Bahkan sekarang anak-anak mereka sedang menangis tapi mereka tetap bertengkar. Ibu dan para tetangga sudah berusaha mengetuk pintu rumah mereka karena kasihan mendengar anak-anak mereka menangis, tapi kami malah diusir oleh mereka,"ujar ibu Rindy menampilkan ekspresi tidak berdaya.


"Kasihan sekali,"gumam Rindy menatap rumah yang ada di depan rumahnya.


"Dari yang ibu baca, perceraian mengakibatkan kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak. Perceraian orang tua akan menimbulkan perasaan cemas, bingung, resah, malu dan sedih bagi anak-anak. Terlebih bagi anak usia remaja, anak akan mengalami gangguan emosional dan akan lari pada kenakalan remaja dan narkoba. Perceraian juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada anak-anak dan remaja. Tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan budaya, anak-anak dari orang tua yang bercerai mengalami peningkatan masalah psikologis,"


"Kamu jangan seperti mereka, ya, Rin! Apapun masalahmu dengan Anand, bicarakan secara baik-baik. Jangan sampai anak kalian menjadi korban perceraian. Ibu tidak mau cucu ibu punya ibu tiri,"ujar ibu Rindy, membuat dada Rindy terasa sesak. Tangan kirinya mengusap perutnya yang sudah membesar. Sedangkan tangan kanannya meremas bantal sofa.


Jika Anand menikah lagi, anaknya akan mempunyai ibu tiri. Belum lagi jika Anand mempunyai anak dari istri barunya, mungkin anaknya tidak akan mendapatkan kasih sayang yang cukup dari Anand. Memikirkan semua itu membuat dada Rindy menjadi sesak.


"Prang"


"Prang"


Suara benda yang dilempar terdengar dari rumah yang ada di depan rumah Rindy.


"Kenapa berisik sekali, sih! Menganggu orang tidur saja. Punya tetangga kok, begitu amet,"gerutu Jefri yang keluar dari kamar nya. Jefri terbangun karena suara gaduh dari rumah tetangganya. Rambutnya nampak acak-acakan dan matanya nampak masih mengantuk.


"Namanya juga tinggal di perkampungan, Jef. Sudah biasa kalau denger tetangga ribut. Lagian, ini sudah siang Jef, seharusnya kamu sudah bangun dari tadi,"ujar ibu Rindy.

__ADS_1


"Aku capek sekali, Bu. Kemarin dari luar kota mencari supplier daging dan sayuran untuk restoran kita. Restoran kita semakin maju, jadi bahan masakan nya juga butuh semakin banyak. Lagian, itu tetangga nggak capek apa, setiap hari bertengkar. Suami istri pada nggak bener semua,"gerutu Jefri yang tidurnya terganggu.


"Memangnya apa masalah mereka, hingga memutuskan untuk bercerai, Bu?"tanya Rindy yang penasaran.


"Suaminya mengeluh karena istrinya sering menolak saat di ajak berhubungan suami-istri. Saat suaminya selingkuh, istrinya ngamuk dan minta cerai. Itu yang yang ibu tahu karena mendengar pertengkaran mereka,"jawab ibu Rindy.


"Lagian, kenapa juga istrinya menolak saat suaminya minta dilayani. Nggak tau apa dia? Berdosa bagi seseorang istri yang menolak melayani suaminya,"sambar Jefri membuat Rindy merasa tertampar.


"Mungkin istrinya kecapean. Istrinya mengurus rumah tanpa ada yang membantu, belum lagi harus mengurus dua anak mereka. Mengurus dua balita itu tidak mudah. Tapi juga tidak boleh terus-terusan menolak melayani suami dengan alasan capek,"


"Seharusnya mereka membicarakan masalah mereka baik-baik. Perceraian itu bukan hanya menyangkut dua orang, tapi dua keluarga. Apalagi kalau sudah punya anak seperti mereka, kasihan anak mereka,"ujar ibu Rindy nampak menyayangkan keputusan tetangga mereka.


Rindy terdiam mendengar kata-kata ibu dan kakaknya. Kata-kata ibu dan kakaknya begitu menohok di hati nya.


Dirinya sering menolak jika Anand meminta hak-nya. Sedangkan Anand selalu mencukupi semua kebutuhannya. Rindy membuat Anand menyerahkan untuk bertahan dengan nya karena sikap dingin nya. Rasa bersalah tiba-tiba mendera hatinya. Rindy merasa selama ini telah menjadi wanita yang egois.


...🌟"Mungkin tidak pernah kau sadari, bahwa orang yang kau sakiti adalah orang yang paling tulus mencintai....


...Ia berjuang hanya untuk membuatmu bahagia dan tertawa, tapi kau tidak pernah peka....


...Maka jangan pernah sesali, jika suatu saat dia memilih untuk pergi."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2