Menjadi Dia

Menjadi Dia
Pilihan yang menentukan


__ADS_3

“Aku gak sakit kak, cuma sedikit mual aja karena salah makan.” Balasan pesan itu membuat Ruby dan Eva menghembuskan nafasnya lega.


Rachel baru selesai mandi sehingga ia baru membalas pesan Ruby. Banyaknya panggilan tidak terjawab membuat Rachel sadar kalau kakaknya sangat mencemaskannya.


“Kakak dan mamah adalah kekuatan aku.” Batin Rachel seraya menatap layar ponselnya dengan tersenyum.


“Syukurlah kalau gak sakit. Minum aja obat lambung yang bisa di beli di apotek. Mereka udah paham kok, asal adek ngasih tau keluhan adek dengan jelas dan lengkap.”


“Oh iya, kata mamah, nanti mamah bikinin makanan kalau adek ke toko. Makanan buat nyembuhin asam lambung dan begah di perut.” Balas Ruby.


“Iya kak, makasih yak. Nanti siangan adek ke toko.” Balas Rachel pada akhirnya.


Selesai berbalas pesan, Rachel segera berpakaian. Ia merapikan dirinya sebelum kemudian akan bertemu dengan Brandon.


Keluar dari kamar, Rachel melihat kalau pintu kamar Ivana masih terbuka. Suara seorang baby sitter terdengar jelas sedang mengajak Brandon untuk turun dan sarapan.


“Ayok den Brandon, kita sarapan dulu. Nanti mami sedih kalau den Brandon gak mau makan.” Suara bujukan itu membuat Rachel tersenyum kecil.


Ia tahu persis sulitnya mengajak Brandon makan.


Rachel segera mengampiri Brandon di kamar Ivana.


“Selamat pagi Brandon….” Sapa Rachel di mulut pintu.


Brandon yang sedang diam di atas kasur dengan mainan lego di tangannyapun hanya menoleh. Wajahnya terlihat sedih.


“Waah, sepertinya matahari mami sedang tertutup awan. Apa ada yang perlu mami bantu supaya mataharinya cerah lagi?” Rachel berusaha mendekat. Ia melihat sekeliling kamar dan Ivana sudah tidak ada di kamarnya.


Brandon diam saja dan masih memainkan legonya.


“Sus, kak Ivana kemana?” Rachel penasaran.


“Oh, nyonya sudah berangkat. Tapi ada telepon dari pak Riki dan meminta nyonya ke sana pagi-pagi. Nyonya tadi sempet mampir ke kamar non, tapi sepertinya non sedang mandi.” Terang baby sitter Brandon.


“Oh iya. Makasih sus.” Sahut Rachel yang diangguki wanita itu. Ia memang mandi cukup lama sampai tidak sadar kalau orang-orang mencarinya.


“Hey, Brandon.” Rachel mengusap pipi Brandon dengan lembut.


“Kok sedih begini. Kenapa?” Rachel penasaran dengan anak kecil yang biasanya antusias saat Rachel mendekat.


“Mami denger, Brandon belum sarapan. Nanti perutnya keroncongan minta di isi. Usus di perut Brandon nanti bersedih karena tidak ada makanan yang masuk. Kita makan yuk.” Bujuk Rachel sambil mengusap perut Brandon.


Brandon tidak menimpali, ia hanya memandangi perut Rachel dengan tatapan yang entah.

__ADS_1


“Mami juga mau makan kok, udah laper ini. Yuk kita makan sama-sama.” Rachel mengulurkan tangannya pada Brandon.


Brandon menatap tangan Rachel dan kemudian ia turun dari tempat tidur. Bujukan Rachel rupanya berhasil.


“Okeeyy, anak pinter. Kita makan dulu yaa… ayok sus.”


“Baik Nona.”


Mereka berjalan keluar kamar Ivana. Tapi baru beberapa langkah, ponsel Rachel berdering. Yang menghubungi adalah Ivana.


“Sus, tolong bawa Brandon duluan. Nanti aku nyusul.” Pinta Rachel.


“Baik nona.” Brandon pun di bawa turun oleh susternya sementara Rachel masih harus menjawab panggilan Ivana terlebih dahulu.


“Iya kak,” sapa Rachel.


“Chel sorry, kamu masih di rumah gak?” suara Ivana terdengar tergesa-gesa.


“Masih kak, aku baru mau turun sama Brandon. Ada apa kak?”


“Ah syukurlah. Tolong dong liatin di laci kamar yang sebelah tempat tidur aku, ada flashdisk gak warna merah gak di sana?”


“Oh bentar kak, aku liat dulu.”


“Nggak ada kak.” Rachel mencari dengan hati-hati agar tidak terlewatkan.


“Hah gak ada, dimana ya? Perasaan aku taroh di situ deh.” Ivana kebingungan sendiri, berusaha mengingat dimana terakhir kali ia menaruh flasdisknya.


“Eh coba di ruang kerja Nata. Mungkin dia yang minjem.” Ucapnya lagi.


“Aku boleh masuk ke sana?” Rachel balik bertanya.


Selama ini Nata bilang kalau ruang kerjanya adalah ruang pribadinya, tidak boleh ada sembarangan orang yang masuk.


“Iya, ke sana aja. Kamu coba cari juga di laci mejanya.”


Rachel segera menuruti permintaan Ivana. Ia berjalan dengan cepat menuju ruang kerja Nata. Saat membuka pintunya, suasana dingin langsung menyergap Rachel. Tengkuknya seperti di tiup oleh hawa dingin dari AC.


Rupanya seperti ini bentuk ruang kerja Nata. Besar dan rapi serta banyak buku yang tersusun di rak. Ada foto keluarga juga yang terpasang di dinding. Ada,


Akh sudahlah, sekarang bukan saatnya untuk terpesona sama ruangan yang didominasi oleh warna hitam ini. Ia perlu menari flashdisk Ivana.


“Di laci meja kerja ya kak?” tanya Rachel untuk meyakinkan.

__ADS_1


“Iya, di laci meja kerja. Kamu coba cari di situ.”


Rachel pun segera menuju meja kerja Nata. Laci pertama ia buka, tidak ada flashdisk merah. Hanya ada buku catatan dan ballpoint di atasnya. Posisinya sangat mencerminkan Nata yang apik.


“Ada?” tanya Ivana tidak sabar.


“Belum ketemu kak. Di laci pertama cuma ada buku catatan.” Terang Rachel.


"Coba di laci kedua." Ivana kembali menunggu dan melihat jam di tangannya yang terus berdetak konstan hendak menghambiskan waktunya.


Rachel membuka laci kedua. Ada banyak benda di sana. Alat tulis dan flashdisk juga ada di sana. Tapi, tidak hanya flashdisk itu yang ditemukan Rachel, ada benda lain juga di sana.


“Ketemu kak.” Ujarnya lemah.


Rachel mendadak menahan nafasnya saat melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak beberapa saat.


“Syukurlah. Tolong minta driver anterin ke kantor yaa. Aku nunggu banget soalnya, ada data penting di sana.” Suara Ivana seperti angin lewat yang berhembus pelan di telinga Ivana.


“Iya kak.” Timpalnya dengan sedikit terbata.


“Bruk!” Rachel menutup terlebih dahulu laci kedua bersamaan dengan hembusan nafasnya yang kasar dan rasa kaget berikut penasaran yang tertahan di dadanya.


Dengan langkah cepat Rachel keluar dari ruang kerja Nata dan menutup pintunya dengan kasar. Ia memejamkan matanya, mengatur ritme nafasnya yang mendadak tidak beraturan. Tapi ia ingat, ia harus menyerahkan flashdisk ini pada Ivana.


Rachel berlari kecil menuruni anak tangga. Perasaannya sudah tidak karuan dan perut bawahnya kembali tegang.


“Tenang Rachel, tenang. Yang kamu liat tidak berarti apa-apa.” Ucapnya berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Ia memegangi perutnya dan mengusapnya perlahan. Beruntung driver menghampiri lebih dulu sehingga ia tidak perlu berlari keluar rumah.


“Pak, di suruh kak Ivana nganterin flashdisk ya?” tanya Rachel.


“Iya non, katanya ketinggalan.”


Rachel segera memberikan flashdisk itu pada driver bahkan tanpa membungkusnya. Tangannya masih gemetaran setelah melihat sesuatu di laci Nata.


“Ini pak. Makasih ya.” Ucapnya.


“Baik non.” Driver itu segera pergi.


Tinggallah Rachel sendirian mematung di tempatnya. Ia melihat Brandon yang memandanginya dari ruang makan tapi ia juga merasa terpanggil oleh sesuatu di dalam ruangan Nata. Sesuatu yang membuatnya sangat penasaran.


Mana yang harus ia pilih, menjawab rasa penasarannya atau menemani Brandon makan?

__ADS_1


****


__ADS_2