Menjadi Dia

Menjadi Dia
Pancingan Rachel


__ADS_3

Menjijikan, satu kata itu yang terus bergaung di telinga Rachel saat mengingat semua ucapan Brams beberapa saat lalu. Laki-laki itu semakin berani pada Rachel bahkan tidak segan mengungkapkan perasaannya.


Entah apa yang ada di benak laki-laki itu, tidak sadarkah ia kalau ia sudah menyelingkuhi Ivana? Wanita yang begitu mencintainya dengan sangat tulus.


Tidak kah ia takut kalau Rachel mengadu pada Nata atau Ivana? Atau ia sadar kalau ia berhasil mengintimidasi Rachel hingga yakin kalau Rachel tidak akan punya keberanian untuk mengadu?


Rasanya Rachel ingin sekali memberitahu Ivana apa yang dikatakan Brams padanya.


"Aku gak boleh diam dan terintimidasi seperti ini." Gumam Rachel yang berbicara dengan dirinya sendiri.


Rekaman, ya Rachel merekam semua pembicaraan Brams dengan dirinya beberapa saat lalu. Tepatnya sebelum Brams mengatakan kalimat penuh kegilaan itu, Rachel menyalakan perekam saat ponselnya ada di dalam saku. Ia penasaran dengan hasilnya dan segera mengeceknya.


Ia menyalakan perekam itu dan mendekatkan ke telinganya. Cukup terdengar walau samar-samar. Rachel tersenyum lega karena akhirnya ia punya bukti untuk melawan Brams jika laki-laki itu berulah. Ia segera mencadangkan rekaman itu ke akun cloudnya, agar bukti itu tersimpan dengan rapi.


Rencananya untuk mandi akhirnya tidak ia lakukan. Setelah selesai mencadangkan rekaman itu, kali ini ia berusaha menghubungi Ima. Ia sangat yakin kalau gadis itu dilecehkan oleh Brams sebelum dia pergi. Wajah ketakutan yang ditunjukkan Ima sangat mirip dengan wajah penuh ketakutan yang ia lihat diwajahnya dulu.


Benar, Ima mungkin bisa membantunya mengumpulkan bukti. Cepat-cepat Rachel menghubungi Ima lewat pesan text terlebih dahulu. Mencari nomor handphonenya dan,


Tunggu, ada yang aneh dengan pesan text nya. Ia melihat beberapa kali urutan berkirim pesan di layar ponselnya dan ada pesan dari Calvin yang sudah terbaca padahal ia tidak merasa menerima pesan itu apalagi membacanya.


Rachel terhenyak, apa mungkin seseorang meng-hack ponselnya?


Ia penasaran, ia kembali mengecek pesan lainnya tapi tidak ada yang berbeda selain pesan dari Calvin itu.


“Rachel, apa kamu baik-baik aja?” itu pesan pertama yang di kirim Calvin padanya.


“Aku minta maaf soal kelancangan aku tadi. Aku memang tidak sepantasnya berbicara hal bodoh seperti itu. Aku minta maaf kalau perkataanku ada yang menyinggung kamu.”

__ADS_1


“Rachel, kenapa hanya membacanya? Kalau kamu marah, kamu boleh memakiku.”


“Aku memang tidak seharusnya mengomentari hubungan kamu dengan suamimu. Tapi, perlakuan ibu mertuamu tidak bisa membuat aku diam. Aku tidak bisa melihat kamu di tindas seperti tadi.”


“Rachel, jika perlu berbicara dengan suamimu, aku akan temani. Aku akan bersaksi kalau ibu mertuamu mempermalukanmu di hadapan orang-orang dan tidak segan untuk bertindak kasar.”


“Atau aku perlu menemui Nata dan menjelaskan semuanya sekarang?”


Begitu barisan pesan yang Rachel lewatkan untuk di baca. Bagaimana bisa ia tidak sadar kalau Calvin mengirim pesan sebanyak ini padanya?


Brams, apa mungkin Brams yang meng-hack ponselnya? Laki-laki itu memiliki keahlian dalam bidang IT. Apa pesan itu yang membuat Brams terlihat panik dan mengungkapkan semua perasaannya?


Akh Rachel mulai tidak tenang. Ia merasa kalau Brams mungkin sedang mengintainya.


Akhirnya ia putuskan, ia harus mendapatkan bukti sebanyak-banyaknya sebelum Brams melakukan yang tidak-tidak.


“Terima kasih atas semua bantuan dan dukungan kakak. Kalau aku memerlukan bantuan kakak, aku akan memintanya sendiri. Tapi untuk saat ini, aku masih bisa melindungi diriku sendiri.” Begitu balasan pesan yang Rachel kirim pada Calvin.


Tidak sampai berapa lama, Calvin langsung membacanya.


“Iya Chel, sama-sama. Aku menghormatimu dan aku sadar aku tidak sepantasnya ikut campur masalah kamu.” Itu balasan pesan yang Calvin kirim. Sungguh pesan ini membuat hatinya terrenyuh.


Jika Brams membacanya, Rachel yakin laki-laki itu akan melihat bahwa antara ia dan Calvin tidak ada hubungan apa-apa. Jadi ia tidak perlu mengiyakan tawaran Brams untuk bekerja sama dengan laki-laki itu dan berpikir kalau ia dan Calvin memiliki hubungan.


Rencana menghubungi Ima, di lanjutkan Rachel. Ia sengaja mengirim pesan dulu pada Ima, agar saat Brams membacanya, laki-laki itu sedikit ketar-ketir.


“Selamat malam Ima. Apa kabar?” begitu pesan pembuka yang di kirim Rachel.

__ADS_1


Pesannya langsung di baca Ima, mungkin gadis itu sedang online.


“Selamat malam nona muda. Kabar saya baik, nona. Nona apa kabar? Saya tidak menyangka kalau nona menghubungi saya.”


Rachel tersenyum kecil. Lagi, pesan yang di balas Ima sudah lebih dulu ada yang membaca sebelum dirinya. Mungkin Brams benar-benar menyadap ponselnya. Tapi coba saja kita mainkan.


“Kabarku baik Ima. Aku senang kamu mau membalas pesanku. Tolong jangan panggil aku nona muda lagi, panggil saja Rachel. Aku kan bukan nona muda kamu lagi.” Balas Rachel.


Pesan balasan dari Ima masuk dan belum Rachel apa-apakan, tanda kalau ia sudah membaca pesan Ima langsung terlihat. Angka yang menunjukkan jumlah baris pesan yang di kirim Ima tidak ada, berarti seseorang sudah membacanya. Rachel biarkan saja beberapa saat. Ia ingin tahu, apa Brams membalasnya atau tidak.


Tidak, Brams tidak membalasnya.


Rachel lanjutkan dengan benar-benar membaca pesan Ima.


“Lalu seperti apa saya harus memanggil nona?”


“Hehehehe saya sudah terbiasa memanggil non Rachel, itu lebih nyaman untuk saya.”


“Panggil Rachel saja. Oh iya Ima, boleh aku bertanya sesuatu yang cukup pribadi?” Rachel memulai pancingannya.


Sebelum pesannya di baca Ima, Rachel segera menelpon Ima. Dalam hitungan detik Ima menjawabnya.


****


Ada yang mau berteman sama aku di IG atau FB gak sih? hehehe...


Kuys mampir Ig: naya_handa , Fb: Naya handa

__ADS_1


__ADS_2