
Rachel masih begitu menikmati pelukan Eva yang sedari tadi enggan untuk ia lepaskan. Wanita itu begitu erat memeluknya dan beberapa kali mengecupi kepala putrinya dengan penuh kebanggan.
“Anak mamah, kebanggan mamah.” Ucap Eva dengan penuh haru.
“Mamah sayang, cintanya aku.” Timpal Rachel yang balas mengecup pipi Eva.
"Hahahaha..." Mereka tertawa bersamaan, senyuman keduanya pun mirip dan sama-sama cantik.
Hari ini, setelah beberapa lama meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan Ruby, akhirnya Rachel memutuskan untuk bekerja lagi di tempat kerja utamanya, toko bunga.
Ruby Florist, sekarang begitu banyak digandrungi. Terlebih saat mereka tahu kalau pemiliknya adalah seorang bintang iklan yang sedang naik daun. Sesekali para pelanggan meminta berfoto dengan Rachel. Dengan senang hati Rachel meladeni setiap keinginan penggemarnya.
“Gimana perasaan adek sekarang, ngerasa terganggu gak sama orang-orang yang tiba-tiba mengenal adek?” Eva melerai pelukannya beberapa saat sambil memandangi Rachel yang ada dihadapannya.
Ia merapikan rambut putrinya yang sedikit berantakan.
“Em… gimana ya? Sebenarnya biasa aja karena mereka yang perlahan mulai kenal adek juga gak ngelakuin hal yang aneh-aneh. Mereka cuma sebatas say, hay Rachel, aku liat iklan kamu. Boleh minta foto?”
“Itu doang paling mah, gak ada yang aneh-aneh.” Aku Rachel dengan sejujurnya.
“Syukurlah. Mamah sempet takut kalau kehidupan pribadi adek akan terganggu. Karena mereka pasti penasaran dengan putri mamah yang cantik ini.” Eva mengusap kepala Rachel dengan sayang.
“Dia gak terganggu mah, tapi aku yang terganggu. Tiap hari di tanya konsumen, kapan Rachel ke sini? Boleh bonus foto bareng sama Rachel gak?” goda Ruby yang baru selesai menerima pesanan bunga yang baru datang.
Hari ini sudah dua mobil bunga yang datang.
“Hahahaha… mamah juga kalau ke pasar, langganan mamah pasti nanyain adek. Ya mamah bilang aja kalau adek gak ikut ke pasar. Katanya nanti kalau adek pulang, mereka mau main ke rumah.”
“Em… aku jadi maluu….” Ucap Rachel dengan wajah memerah. Sebenarnya antara senang dan tidak, mendapati dirinya makin di kenal banyak orang.
“Tenang, aku sama mamah udah biasa. Dulu aja waktu kamu jadi iconnya kampus kan banyak yang nanyain. Minta kenalanlah sama mamah. Minta dijodohin, tiba-tiba dateng ke rumah bawa makanan lah. Jadi kita udah terbiasa ya mah?”
Ruby jadi mengenang masa silam. Masa dimana Rachel yang muda dan energik serta cerdas, begitu digandrungi oleh para mahasiswa di kampusnya serta para ibu yang menginginkan Rachel jadi menantunya.
“Iyaaa, mamah sama kakak udah biasa. Cuma sekarang yang nanyain adeknya lebih banyak. Itu aja sih. Makanya mamah khawatir kehidupan pribadi adek juga di usik sama orang-orang iseng.” Eva menambahkan.
“Hehehehe… tenang aja mah. Adek punya manager yang sangat baik dan melindungi adek. Dia bilang, dia akan jadi barisan pertahanan awal buat adek. Kak Fany bahkan sengaja bikinin adek media sosial yang khusus buat kerjaan katanya buat misahin kehidupan pribadi yang privacy dengan pekerjaan adek. Jadi mamah dan kakak gak usah khawatir. Sejauh ini gak ada hal yang bikin adek terganggu.”
__ADS_1
Rachel menggenggam tangan Ruby dan Eva bersamaan. Sungguh ia sangat bahagia karena memiliki support system yang baik dalam hidupnya.
“Baguslah, mamah seneng dengernya.” Tandas Eva.
Tidak lama berselang sebuah deringan telepon menjeda obrolan keluarga kecil ini. “Panjang umur kak Fany, baru juga diobrolin.” Ucap Rachel saat melihat peneleponnya adalah Fany.
“Ya udah jawab dulu. mamah tinggal bentar ya.” Pamit Eva bersama Ruby.
“Iya mah.” Rachel beranjak dari tempatnya, berpindah ke salah satu sudut yang lebih privacy agar tidak menarik perhatian pengunjung toko.
“Iya kak Fany?” sapa Rachel.
“Halo Chel, kamu dimana?” suara Fany terdengar bersemangat di sebrang sana.
“Oh, aku di toko kakakku, Ruby Florist. Ada apa kak?”
“Chel, ini loh aku punya kabar baik. Salah satu brand sabun mandi terkenal mau ngontrak kamu jadi brand ambasadornya. Hwaaaa aku seneng banget tau.” Seru Fany dari sebrang sana.
“Hah, brand ambassador? Sabun mandi?” Rachel mengutip ucapan Fany beberapa saat lalu.
“Iya! Sebenarnya pagi ini aku nerima dua tawaran buat kamu. Satu iklan sabun mandi dan kamu jadi BA nya dan satu lagi iklan peralatan rumah tangga. Walau yang peralatan rumah tangga itu gak jadi BA tapi dia dari brand terkenal. Makanya aku seneng banget.” Seru Fany di sebrang sana.
“Kamu kaget ya? Hahahaha… tenang aja Chel, kamu sebenarnya bisa ngambil keduanya tapi yang sabun mandi ini, dia pengen segera launching jadi kemungkinan kita harus segera prepare buat syuting."
"Kalau yang peralatan rumah tangga, kita masih ada waktu sampai bulan depan. Katanya nunggu stock ready banyak dulu, takut pesanan membludak. Menurut kamu gimana?” desak Fany yang sangat exciting.
“Boleh aku pikirin dulu gak kak?” pinta Rachel yang ragu.
“Boleh, dua menit ya.”
“Hah, kok dua menit doang?”
“Hahahahaha… karena kail kamu nyangkut di ikan yang besar. Ikan terbang juga kalah ini. Jadi, semakin cepat di putuskan, semakin baik.” Fany tetap dengan usahanya memprovokasi.
“Iya kak.” Rachel tersenyum kecil, tidak ia pungkiri kalau ini tawaran yang sangat besar. Tapi masih ada sedikit keraguan di pikirannya.
“Kalau aku ambil yang peralatan rumah tangga aja gimana kak?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Hah, kenapa? Yang sabun mandi itu kamu jadi BA-nya loh Chel. Kenapa kamu gak ambil yang itu aja?” Fany mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Em… soalnya aku belum srek kalau sama iklan sabun mandi. Maksudnya kan nanti aku pasti pake baju yang minim dengan adegan yang….” Rachel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sebenarnya ini bukan masalah iklannya tapi ia masih mengingat bagaimana Brams yang berimajinasi tentang dirinya.
“Okey, aku paham. Apa itu salah satu prinsip kamu?” Fany mencoba memahami artisnya.
“Iya kak. Maaf ya kak.” Sesal Rachel.
“Loh, kenapa kamu minta maaf, santai aja kali. Aku memang manager kamu yang jadi jembatan buat kamu dengan para klien. Tapi aku gak mau maksa kamu kalau kamu ngerasa gak nyaman dengan sesuatu. Ya walaupun kalau secara keuntungan, keuntungan kita jauh lebih besar kalau kamu ngambil BA.”
“Tapi, kenyamanan artis yang aku managerin itu buat aku lebih penting. Aku gak menganggap enteng privacy seseorang. Jadi, kalau kamu gak mau ngambil iklan yang terbuka, ya gak masalah. Aku yakin, masih akan banyak tawaran lainnya yang datang ke kamu.” Urai Fany panjang lebar.
Rachel tersenyum haru sampai menitikkan air mata. Ia memang baru sebentar mengenal Fany, itupun secara pekerjaan bukan secara pribadi tapi wanita baik ini begitu menghormatinya. Fany melindungi Rachel dengan caranya sendiri.
“Makasih kak, makasih banyak atas pengertiannya.” Ucap Rachel pada akhirnya.
“Iya, sama-sama. Kita ketemu besok ya buat bahas detail iklan peralatan rumah tangga. Buat yang BA, aku kirim surat konfirmasi siang ini. Nanti aku cc ke email kamu.”
“Iya kak, makasih banyak."
“Sip sip Chel. Tetep semangat yaa. Aku udah gak sabar pengen bahas ini.”
“Iya kak, see you….” Tutup Rachel.
Rachel menghembuskan nafasnya lega setelah berbicara dengan Fany. Bibirnya masih tersenyum sambil memandangi ponselnya yang baru mengakhiri panggilan.
“Tring!” suara pintu terbuka menyadarkan Rachel dari lamunannya. Ia segera berdiri menyambut pelanggannya.
“Selamat datang di Ruby Florist.” Ucapnya sambil mengangguk sopan.
“Hay.” Sahut seseorang yang di sambut Rachel dan membuatnya kaget sendiri.
“Kak Calvin?” gumam Rachel.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Calvin saat datang ke toko ini?
__ADS_1
****