
Malam sudah semakin larut, Rindy nampak belum tidur. Sesekali menatap jam yang menggantung di dinding seraya mengelus perutnya yang besar.
"Kenapa sudah larut malam seperti ini Anand belum pulang juga?"gumam Rindy. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Anand belum juga pulang. Rindy duduk bersandar di headboard ranjang menunggu Anand hingga akhirnya tertidur dengan posisi duduk bersandar di headboard ranjang.
Tak lama kemudian, Anand pun pulang. Anand membuka pintu kamarnya perlahan dan terkejut saat mendapati Rindy tertidur dengan posisi duduk bersandar di headboard ranjang.
"Apa dia menunggu aku pulang?"gumam Anand melepaskan jasnya seraya menghampiri Rindy
Dengan perlahan Anand membaringkan tubuh Rindy dengan posisi miring ke kiri agar Rindy dan janin dalam kandungan nya menjadi lebih nyaman dan aman ketika tidur. Anand juga meletakkan bantal di antara kedua kaki Rindy. Menurut dokter kandungan Rindy, posisi tidur seperti ini sangat baik untuk wanita yang sedang mengandung sembilan bulan.Dalam posisi ini, aliran darah menuju janin menjadi lebih optimal dan memungkinkan panggul terbuka lebar. Sehingga bisa mempermudahkan proses persalinan nanti.
Anand mengecup kening Rindy lembur, kemudian mengusap dan mencium perut Rindy dengan lembut. Anand berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan setelah selesai langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Memeluk wanita yang sedang mengandung darah dagingnya itu dari belakang dengan hangat.
Saat pagi menjelang, Rindy terbangun dari tidurnya dan mendapati Anand yang tidur memeluknya.
"Huh, aku semalam tertidur,"gumam Rindy lirih, menatap jam di dinding yang menunjukan pukul lima pagi.
"Em, tidurlah, sayang! Ini masih pagi,"gumam Anand dengan suara serak, merasakan pergerakan Rindy yang ada dalam pelukannya.
"Semalam, jam berapa kamu pulang?"tanya Rindy yang sekarang berbaring miring menghadap Anand.
"Jam dua belas, sayang,"sahut Anand yang mulai membuka matanya.
"Kenapa malam sekali?"tanya Rindy menatap wajah suaminya yang tetap saja terlihat tampan walaupun baru bangun dari tidur.
"Aku semalam lembur bersama Putra dan Darlen,"sahut Anand jujur adanya.
"Em, se..selamat ulang tahun, ya!"ucap Rindy merasa gugup saat mengucapkan kata-kata itu.
"Ah, iya. Aku sampai lupa kalau hari ini aku berulang tahun,"ujar Anand tersenyum lembut.
Sebenarnya hari ulangtahun Anand dan Rio adalah sama. Entah kebetulan atau takdir, Rio dan Anand lahir pada hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama. Cuma jam dan tempat mereka lahir saja yang berbeda.
"Apa kamu semalam tertidur dengan posisi duduk hanya karena ingin menunggu aku pulang dan mengucapkan selamat ulang tahun buat aku?"tanya Anand seraya merapikan anak rambut Rindy.
__ADS_1
"Hum, aku punya sesuatu untuk mu,"sahut Rindy, kemudian beranjak dari tempatnya berbaring. Anand pun membantu Rindy untuk duduk.
Rindy turun dari ranjang, kemudian mengambil sebuah kotak yang dibungkus kertas kado dari dalam lemari.
"Ini hadiah untuk mu"ucap Rindy menyodorkan kotak itu pada Anand.
"Terimakasih, sayang! Kamu tidak perlu repot-repot seperti ini,"ucap Anand nampak terharu karena perhatian Rindy padanya.
"Aku tidak tahu apakah kamu akan menyukai ini,"ucap Rindy saat Anand mengambil kotak yang diberikan nya, dan duduk di tepi ranjang.
"Apapun yang diberikan oleh istri ku, aku pasti menyukainya. Karena ini adalah hadiah pertama yang diberikan oleh istri ku,"ucap Anand masih dengan seulas senyum di bibirnya.
Anand membuka hadiah yang diberikan Rindy dan senyum nya pun mengembang saat melihat hadiah yang diberikan oleh Rindy adalah sepatu sneaker. Anand menyukai model dan juga warna sepatu yang diberikan oleh Rindy itu.
"Aku sangat menyukainya. Terimakasih!"ucap Anand tersenyum manis pada Rindy seraya mengelus kepala Rindy kemudian mengecup pipi Rindy.
"Syukurlah kalau kamu suka,"ucap Rindy ikut tersenyum. Tidak sia-sia Rindy mengajak kakaknya untuk mencari kado ulang tahun untuk Anand.
"Tapi, hadiah ini seharusnya ada pelengkap nya, sayang,"ujar Anand menampilkan ekspresi wajah tidak berdaya menatap sepatu yang diberikan oleh Rindy.
"Bukan kaos kaki, tapi.. "Anand menjeda kata-katanya kemudian menatap Rindy dengan seringai di wajahnya, mendekatkan bibirnya di telinga Rindy,"Kurangnya adalah kamu!"ucap Anand dengan suara seksi kemudian memeluk Rindy dan mencium ceruk leher. Memberi kecupan dan sesapan di sana hingga meninggalkan tanda di sana.
"Ah.. Anand!"lenguh Rindy karena selain mencumbu leher Rindy, jemari tangan Anand juga ikut bergerilya di daerah-daerah sensitif Rindy. Akhirnya pagi itu pun mereka awali dengan berolahraga di atas ranjang.
***
Di kediaman Pramana.
"Mama! Kenapa mama menggadaikan mobil yang papa berikan?"tanya Pramana dengan tatapan tajam, karena tadi rumah nya di datangi oleh seseorang yang meminta pembayaran cicilan pinjaman dengan jaminan mobil milik Silvy.
"Ah, itu pa. Uang belanja mama kurang, jadi terpaksa menggadaikan mobil mama,"sahut Silvy gugup. Sesungguhnya Silvy membeli barang-barang branded agar tetap eksis bersama teman-teman sosialita nya. Sehingga menggadaikan mobil dan juga meminjam uang ke beberapa orang kenalan nya.
"Mama selalu membeli barang-barang yang tidak diperlukan. Berhentilah bergaul dengan para sosialita itu! Mereka itu membawa pengaruh buruk buat mama!"sergah Pramana yang merasa geram dengan Silvy. Pasalnya akhir-akhir ini banyak sekali orang yang menagih hutang Silvy ke rumah dan di pergoki oleh Pramana. Dan mau tidak mau Pramana harus membayarnya.
__ADS_1
Semenjak Anand menjadi CEO di Barata grup, Ringgo tidak pernah lagi memberikan uang pada Silvy karena tidak bisa melakukan korupsi. Jadi Silvy berhutang dan menggadaikan beberapa barang miliknya untuk tetap eksis mengikuti gaya teman-teman sosialita nya.
"Tuan, Nyonya, ada polisi yang mencari Tuan Ringgo,"ujar seorang ART dengan wajah tegang menghampiri sepasang suami-isteri yang sedang bersitegang itu.
"Apa? Polisi?"tanya Pramana dan Silvy kompak dengan ekspresi terkejut.
"I.. iya,"sahut ART itu nampak semakin tegang.
"Ada apa, ma, pa?"tanya Ringgo yang tiba-tiba muncul.
"Apa yang kamu lakukan hingga ada polisi yang mencari mu?"tanya Pramana dengan tatapan tajam pada Ringgo.
"Polisi?"Ringgo malah balik bertanya dengan ekspresi terkejut. Ringgo sendiri bertanya tanya, kenapa ada polisi yang mencarinya.
Pramana bergegas menemui polisi yang mendatangi rumah nya diikuti Silvy dan Ringgo di belakangnya.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu, Pak?"tanya Pramana sopan.
'Kami datang kemari dengan membawa surat perintah penangkapan pada saudara Ringgo karena kasus korupsi di Barata grup dan juga karena telah mengancam bahkan menganiaya beberapa orang yang terkait dalam kasus ini,"ucap polisi itu seraya menunjukkan surat perintah penangkapan Ringgo pada Pramana.
"Apa? Siapa yang melaporkan?"tanya Pramana nampak terkejut.
"Aku yang melaporkan nya,"ucap Anand yang tiba-tiba datang.
Ringgo yang melihat situasi tidak menguntungkan pun diam-diam beringsut dari tempatnya berdiri, mencari celah untuk melarikan diri.
"Anand? Kenapa kamu melaporkan adikmu sendiri ke polisi, sayang?"tanya Silvy nampak panik. Silvy sangat tahu apa saja yang telah dilakukan oleh Ringgo.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued