Menjadi Dia

Menjadi Dia
Perbincangan sia-sia


__ADS_3

Susah payah mengumpulkan tenaganya untuk beranjak, Rachel kembali ke kamarnya. Perutnya trasa benar-benar kosong setelah ia muntah hebat dan mengeluarkan seluruh isi perutnya hingga mulutnya terasa pahit.


Dengan sempoyongan ia menggapai satu per satu benda di dekatnya untuk berpegangan agar bisa sampai ke atas tempat tidur.


Di tepi tempat tidur ia terduduk sambil meneguk kembali air minum yang ada di gelasnya. Perasaannya sudah lebih baik setelah semua isi perutnya termuntahkan.


Sambil bersandar ke headboard, Rachel mencoba menghubungi Nata. Ia menelpon suaminya untuk bertanya kabarnya.


Satu kali panggilan diabaikan Nata, membuat perasaan Rachel tidak tenang. Ia melakukan panggilan kedua dan hasilnya tetap sama, diabaikan Nata.


“Kamu kemana mas? Apa sibuk banget?” gumam Rachel, bertanya pada wajah Nata yang ada di layar ponselnya.


Rachel tidak menyerah, ia mencoba melakukan panggilan ketiga. Jika setelah ini Nata tetap tidak menjawabnya, maka ia memutuskan untuk mengirim pesan saja pada suaminya.


“Halo,” suara berat Nata terdengar di sebrang sana.


“Halo mas. Mas lagi sibuk?” tanya Rachel sambil menghela nafasnya lega. Ada ketenangan tersendiri setelah ia mendengar suara Nata.


“Ada apa?” Nata tidak menjawab, ia malah balik bertanya, sama seperti biasanya.

__ADS_1


“Mas udah makan?” Rachel bertanya dengan suara rendah. Tenggorokannya mendadak menciut saat mendapat banyaknya dorongan pertanyaan di rongga kepalanya yang entah pertanyaan mana dulu yang harus ia sampaikan.


“Nanti aku makan.” Hanya itu jawabannya.


“Iya, mas jangan terlambat makan ya, jangan sampe sakit. Aku juga udah makan. Makasih banyak atas kiriman sushinya?"


"Tapi ngomong-ngomong, sushinya di beli dari tempat favorit aku yang mana?” dengan segala keberanian Rachel bertanya.


Nata tidak lantas menjawab. Ia tertunduk lesu di tempatnya dan menutup berkas yang sedang ia baca. Ia baru sadar, kalau Rachel tidak pernah memiliki tempat makan sushi favorit. Ia bahkan tidak pernah mengajak Rachel ke restoran sushi.


Saat Ivana pulang, kakaknya memang bertanya, bawa apa kira-kira untuk Rachel. Dan Nata spontan menjawab Sushi, lengkap dengan nama restorannya. Sayangnya, restoran itu adalah restoran yang sering ia kunjungi dulu dengan Aruni, bukan dengan Rachel.


“Kalau gak suka, gak usah di makan.” Ucapnya kemudian. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kesal dengan isi pikirannya sendiri.


Mendapati jawaban Nata, Rachel hanya tersenyum. Tersenyum namun air matanya lolos menetes begitu saja. Ia mencengkram baju di dadanya, rasanya ia perlu menguatkan dirinya dan menghilangkan rasa sesak yang mengisi rongga dadanya.


“Iya mas.” Suara Rachel terdengar bergetar.


“Mas tetep usahakan istirahat ya. Jangan begadang. Nanti mas sakit. Besok mau aku bawain makanan gak ke kantor?” Rachel masih berusaha memberikan perhatiannya pada Nata.

__ADS_1


“Nggak perlu, Riki akan membelinya.”


“Hem, baiklah. Kalau gitu, selamat malam ya mas. Maaf aku tidur lebih dulu. Mas yang semangat, tetap jaga kesehatan. Minum juga yang banyak supaya pinggangnya gak sakit. Kalau sudah dua atau tiga jam duduk, sesekali berjalan-jalan kecil lah supaya kaki mas gak kram atau kesemutan. Besok kalau mas pulang, aku pijitin badan mas.”


Setelah kalimat itu, Rachel tidak bisa meneruskan ujarannya. Ia membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar oleh Nata. Ya, Rachel menangis sesegukan dengan mulut terbekap tangannya sendiri. Bahunya bergerak naik turun saat rasa perih dihatinya kembali terasa.


“Iya.” Tiga huruf itu saja yang menjadi timpalan Nata sebelum kemudian ia menutup teleponnya dan perbincanganpun berakhir begitu saja.


“BRENGSEK!!” seru Nata yang tiba-tiba berdiri dan melempar berkas di tangannya.


“Akh! Sial!” ia juga mendengus kesal saat mengingat kebodohannya membelikan Rachel sushi. Entah apa yang ada dibenak istrinya saat ini. Entahlah! Kepalanya terlalu pusing untuk memikirkan hal itu. Ia lebih memilih memikirkan angka-angka di banding memikirkan perasaan.


Ya, ini terasa lebih baik bagi Nata.


Di tempatnya, Rachel menangis sesegukan. Dadanya terasa begitu sesak. Dugaannya kalau setelah mendengar suara Nata semuanya akan membaik, ternyata tidak pernah terjadi. Ia malah semakin gundah.


Rachel memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia sengaja berbaring di tempat Nata meringkuk semalam. Rupanya rasanya seperti ini, sepi dan menyakitkan. Apa Nata juga merasakan hal yang sama?


Rachel tidak bisa menjawabnya. Ia lebih memilih memejamkan matanya dan membiarkan air matanya yang terus menetes, kering dengan sendirinya.

__ADS_1


****


__ADS_2