Menjadi Dia

Menjadi Dia
Perburukan


__ADS_3

“Tante, tadi itu tante keren banget. Tante berhasil membuat Rachel dan keluarganya malu. Hahahaha … kalau aku sih gak bakalan mau lagi nunjukkin muka aku di depan umum. Malu sama diri sendiri.” Ungkap Marsya yang sedang menikmati kemenangannya karena melihat kejatuhan Rachel.


Ia memang sengaja merancang apa saja yang harus dilakukan Martha terhadap Rachel untuk menuntaskan rasa dendamnya atas perlakuan Nata terhadapnya semalam.


Sekarang rasanya ia lega karena berhasil menjatuhkan dan mempermalukan Rachel dihadapan banyak orang.


“Harusnya tadi tuh tante jorokin aja sekalian si Rachel. Aku liat dia terus-terusan megangin perut. Kayaknya,”


“Udah, kamu berisik!” seru Martha tiba-tiba.


“Daripada ngoceh terus, mending kamu cari apotek terdekat. Saya mau beli obat.” Lanjut Martha dengan kesal.


Ia memijat-mijat tangan kirinya yang mendadak kebas dan terasa berat.


“Kenapa, tante sakit?” Marsya segera menoleh khawatir.


“Jangan sampai ini nenek tua meninggoy di mobil gue.” Batin Marsya yang memperhatikan Martha dari samping.


Martha tidak menimpali, ia lebih memilih memejamkan matanya karena kepalanya terasa berat dan pusing berputar.


Beberapa lama mobil melaju, mereka tiba di sebuah apotek 24 jam.


“Tan, tante ....” Marsya membangunkan Martha yang tertidur.


“Hemh.” Martha pun membuka matanya.

__ADS_1


“Tan, kita udah sampe di apotek. Tante mau beli obat apa?” tanya Marsya.


Wanita tua itu berusaha membuka matanya.


“Ogat gegas.” Ucap Martha tidak jelas.


“Hah, apa tan?” Marsya mencondongkan tubuhnya mendekat pada Martha.


“OGAT GEGAS!!!” seru Martha dengan kesal. Matanya menyalak pada Marsya tapi kemudian meredup saat sadar mulut sebelah kirinya seperti jatuh dari wajahnya. Penglihatannya pun miring sebelah tidak bisa ia arahkan pada Marsya.


“Tan, tante kenapa?” Marsya mulai panik. Ia melihat bibir Martha yang tidak simetris dan sudut mata kirinya yang terus-menerus berkedut.


Martha tidak menimpali, ia memilih melihat tangan kirinya yang hendak ia gerakkan tapi malah terasa berat dan semakin kebas.


“Ngangan haya. Ngangan haya ....” Ucap Martha yang semakin tidak bisa di mengerti.


“Apa tante kena stroke ya?” terka gadis itu.


Mendengar pertanyaan Marsya, mata Martha langsung menyalak. Ia mengangkat satu tangan kanannya dan “Plak!” ia memukul kepala Marsya dengan keras.


“ADUH!” Marsya terhuyung kesakitan sambil memegangi kepalanya.


“Tante kok mukul aku sih?!” Marsya kesal dan tidak terima. Rambutnya sampai berantakan dan kepalanya berdenyut nyeri.


Martha hendak berbicara lagi malah terasa semakin sulit. Lidahnya kelu tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


“Ngah kit. Ngah kit.” Hanya itu yang kemudian terdengar dan susah payah di ucapkan Martha.


“Terserah tante mau ngomong apa, kita ke rumah sakit aja!” dengus Marsya dengan kesal. Ia tidak mau kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Martha dan ia harus bertanggung jawab.


Dalam satu gerakan, ia mengalihkan tuas persenelengnya netral lalu menginjak pedal gas. Mobilnya mundur beberapa saat sebelum kemudian ia melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan.


Di tempatnya, Martha berusaha menggerakkan tangan kirinya tapi tidak bisa. Kaki kirinya pun sama. Saat ia cubit sampai merah, ia tetap tidak merasakan apapun. Martha semakin panik.


“Igi angan ga iga eyak.” Serunya pada Marsya. Air matanya sudah berurai membasahi pipi. Semakin ia merasa takut semakin sulut untuk berbicara dan menggerakkan tubuhnya.


Tapi Marsya tidak menimpali, ia malah terus fokus pada jalanan. Karena kesal, Martha kembali memukul Marsya dengan sekuat tenaga tapi Marsya berhasil menghindar, membuat tubuh Martha oleng miring ke kanan.


“Sabar dong tante, ini aku lagi nyetir. Udah tante diem aja, itu tante kena stroke!” dengus Marsya dengan kesal.


Mendengar ucapan Marsya hatinya terasa begitu sakit dan sedih. Ia menyentuh wajah kirinya dan benar saja, wajahnya sudah melorot. Susah payah ia menegakkan tubuhnya seorang diri karena Marsya hanya bisa berdecik kesal.


Sepertinya ia harus menyerah dan pasrah beberapa saat. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan menyandarkan tubuh ke sandaran jok. Ia menangis sesegukan tapi yang terdengar kemudian hanya gaungan tidak jelas.


“Aarrgghh!!! Tante bisa diem dulu gak sih?! Macet ini! Bikin gerah aja!” Marsya mulai ikut frustasi.


Beberapa kali ia menekan klakson mobilnya agar mobil di depannya menyingkir. Tapi apa boleh buat, semua orang terjebak kemacetan dan tidak ada yang bisa memberinya jalan.


"Woy sabar woy! lo pikir lo doang yang macet!" seru seorang pengendara mobil yang terganggu dengan suara klakson arogan dari Marsya.


"Akh brengsek!" dengusnya kesal sambil memukul stir. Ia melirik Martha dan wanita tua itu masih saya menangis dengan tidak jelas.

__ADS_1


****


Kira-kira tadi Martha bicara apa ya?


__ADS_2