
Sore ini, Nata dan Ivana pulang lebih awal. Ivana langsung bermain Brandon sementara Nata memilih terdiam di kamarnya. Sejak pulang kerja, Nata membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi meringkuk. Ia juga masih menggunakan pakaian kerjanya. Tenaganya seolah habis sebelum sampai rumah.
Rachel keluar dari kamar mandi. Ia baru selesai menyiapkan air mandi untuk suaminya. Mendapati suaminya yang tiduran menjelang malam begini, membuat ia membayangkan seberat apa pekerjaan Nata hari ini.
Di tepian tempat tidur Rachel terduduk. Dengan sebuah handuk dan baju ganti yang ada di pangkuannya. Ia sedikit mendekat pada Nata dan mengusap pelan punggung suaminya.
“Mas, air mandinya udah siap.” Bisik Rachel dengan suaranya yang lembut.
“Hem.” Sahut Nata pendek.
Sedari tadi ia memang memejamkan matanya tapi tidak benar-benar tidur. Ia bisa mendengar pergerakan Rachel saat masuk ke kamar mandi, membuka pintu lemari dengan hati-hati, termasuk saat duduk di atas tempat tidur dan mendekat padanya.
Pikirannya terus berlarian memikirkan kegundahan yang sudah seharusnya hilang.
“Mas mau mandi sekarang?” tanya Rachel lagi. Suara Rachel benar-benar mengusik perasaannya dan membuatnya semakin gundah.
Nata tidak menjawab, melainkan langsung bangun dan terduduk di sisi tempat tidur, membelakangi Rachel.
“Perlu aku bantu?” tawar Rachel saat melihat Nata kesulitan menarik dasinya.
Nata tetap tidak menjawab. Ia menarik paksa dasinya hingga terlepas dan menyimpannya di sampingnya.
“Handuk.” Ujarnya saat berbalik.
“Silakan.” Dengan senang hati Rachel memberikannya. Ia tersenyum pada wajah suaminya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Tidak lama Rachel menatap wajah Nata karena laki-laki itu sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan kasar.
“Mas kenapa?” gumam Rachel yang memandangi pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia mencengkram erat dasi Nata yang ada dalam genggamannya.
__ADS_1
Ia merasakan benar perubahan sikap Nata. Walau Nata selalu terlihat dingin tapi kali ini disertai dengan ketidakpedulian yang berlebih. Sama halnya dengan Nata yang baru pertama dikenalnya.
“Apa aku bikin salah ya?” gumam Rachel lagi.
Ia memandangi dirinya di cermin, tidak ada yang salah. Ia memakai riasan sederhana yang selalu Nata minta setiap kali suaminya pulang. Penampilannyapun rapi dengan rambut yang tersisir cantik.
Rachel juga mengecek ponselnya, khawatir Nata melihat pesan yang tidak pantas atau mencurigakan ke nomornya. Tapi tidak ada pesan apapun yang aneh dan janggal selain ajakan main poker dari nomor tidak di kenal. Sisanya adalah pesan dari Fany, Ruby dan Ivana.
Lalu ada apa dengan Nata?
Nata mandi cukup lama, membiarkan Rachel bergelut dengan pikirannya yang tidak menentu. Lebih dari setengah jam laki-laki itu baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang berantakan, padahal biasanya Nata selalu menyisir rambutnya saat berada di kamar mandi.
“Mau aku bantu keringin rambutnya, mas?” tawar Rachel.
“Gak perlu.” Sahut Nata pendek. Ia melepas handuknya begitu saja hingga tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
Rachel segera berbalik, memunggungi suaminya hingga selesai berpakaian. Jangan tanyakan perasaannya, sudah pasti bergemuruh tidak karuan. Wajahnya bahkan memerah seperti tomat matang.
Rachel duduk di samping Nata yang sedang memandangi ponselnya. Tidak ada yang ia lakukan dengan benda pipih itu selain hanya menatapnya saja.
“Mas ada apa? Capek ya? Mau aku pijat?” tanya Rachel pelan-pelan.
Rachel mencoba memahami suaminya. Ia menatap wajah suaminya yang selalu dingin itu. Sebenarnya ia sudah sangat ingin membicarakan kejadian siang ini pada Nata. Ia ingin bertukar pikiran tentang keputusannya mengambil iklan sebuah produk dan melepas kesempatan untuk menjadi Brand ambassador produk terkenal. Tapi sepertinya suaminya tidak siap untuk mendengar celotehannya.
“Aku mau makan.” Sahut Nata tidak peduli.
“Oh okey. Aku udah buat capcay buat mas. Brokolinya sengaja aku banyakin, soalnya kan mas suka banget.”
Rachel ikut beranjak mengikuti Nata yang berjalan di depannya. Kali ini laki-laki itu tidak memegang tangannya seperti beberapa waktu terakhir. Rachel mengepalkan tangannya yang beberapa saat ia pandangi, lantas tersenyum kecil.
__ADS_1
“Gak apa-apa. Mas Nata pasti lagi banyak pikiran. Jadi jangan berpikir yang macam-macam Chel.” Rachel mengingatkan dirinya sendiri dan menyusul langkah Nata yang sudah jauh di depannya.
Baru sampai anak tangga terakhir, Rachel dan Nata sama-sama mendengar kegaduhan di ruang tamu. Mereka kompak mempercepat langkah mereka saat yang di dengar adalah suara Ivana yang meninggi.
“Ngapain kamu yang dateng ke sini buat minta maaf? Harusnya orang tuanya yang datang dan minta maaf sama aku dan keluargaku!” seru Ivana pada seorang wanita yang tidak lain adalah Marsya.
Wanita itu bersimpuh di kaki Ivana meminta ampunan.
Nata dan Rachel cukup terkejut melihat kejadian itu. Mereka tidak menyangka kalau usaha Marsya akan sebesar itu untuk memohon ampun pada Ivana. Rachel tidak habis pikir, sedekat apa sebenarnya hubungan sepupu ini hingga Marsya begitu bersungguh-sungguh?
“Mas Nata, tolong mas. Tolong aku.” Kali ini Marsya menghampiri Nata dan memegang tangan laki-laki itu.
Ia menatap Nata dengan sungguh dan penuh harap. Penampilannya benar-benar berbeda, tidak seperti Marsya yang selama ini Rachel tahu. Bajunya sederhana, riasannya tipis dan terlihat sangat sedih. Rambut pirangnya sekarang berwarna hitam. Entah mungkin karena ia suka menggunakan wig dan sekarang tidak atau memang Marsya mengecat rambutnya sebelum datang ke sini.
“Aku mohon, maafkan mas Brams. Jangan berikan kesaksian yang bisa memberatkannya. Mamahnya sudah jatuh sakit dan papahnya kebingungan karena takut mas Brams di hukum berat. Aku mohon mas.” Kali ini Nata yang di bujuk Marsya.
Rachel yang berada di samping Nata, menoleh suaminya yang mematung. Tidak biasanya Nata seperti ini. Biasanya saat ada orang asing terlebih itu Marsya yang mendekatinya, Nata akan segera pergi. Ia tidak suka seseorang yang merajuk seperti ini.
Nata tidak menimpali, ia melepas pelan genggaman tangan Marsya namun Rachel melihat rasa iba yang ditunjukkan suaminya. Tatapan Nata pada Marsya adalah tatapan yang tidak pernah Rachel lihat sebelumnya. Penuh kecemasan dan kekhawatiran.
“Mas,” panggil Rachel yang berusaha menyadarkan Nata dari lamunannya.
Cepat-cepat Nata melepaskan tangannya yang menggeganggam tangan Marsya lalu menarik tubuhnya menjauh.
“Memohonlah pada kak Ivana dan para korban. Aku tidak peduli dengan laki-laki itu.” Ucap Nata pada akhirnya.
Ia memilih pergi dari hadapan semua orang. Menaiki tangga namun yang ditujunya bukan kamar melainkan ruang kerja.
Rachel hanya bisa mematung, bagaimana mungkin Nata pergi begitu saja? Apa ia sudah tidak peduli?
__ADS_1
****