
Suasana dalam perjalanan menuju sekolah Brandon terasa begitu kaku. Sudah setengah perjalanan Rachel habiskan dengan terdiam sambil melihat pemandangan ibu kota yang dilewatinya. Terkadang terdiam itu menyenangkan tapi tidak dengan kondisi canggung seperti ini.
Sebuah deringan telepon, menyadarkan Rachel dari lamunannya. Sebuah nama muncul di layarnya dan membuat Rachel tersenyum. Cepat-cepat ia menjawab panggilan itu.
“Ya kak.” Panggilan itu dari Ruby.
“Adekkkk, kamu kok gak bilang kalau hari ini kamu syuting. Untung aja Calvin ngasih tau aku.” Protesan itu yang langsung terdengar dari sebrang sana dengan nada suara kesal.
“Hehehehe… maaf… tapi aku kan udah bilang kalau aku ada urusan dulu dan minta do’a sama mamah dan kakak supaya semuanya lancar.” Kilah Rachel yang melirik Calvin yang ikut tersenyum mendengar pembicaraannya dengan Ruby.
“Iyaa, tapi harusnya kamu bilang kalau mau syuting. Kan kakak sama mamah bisa ke situ liat penampilan kamu.” Ruby masih tidak terima.
“Karena itu aku sengaja gak ngasih tau kakak. Kalau kakak ke sini, nanti aku gak fokus. Malu aku, kalau ternyata aku gak bisa ngerjain dengan baik pekerjaan yang udah aku pilih.”
“Adek tapi tadi penampilan adek bagus banget. Mamah bangga banget.” Kali ini suara Eva yang terdengar.
“Hah, mamah tau dari mana?” Rachel jadi penasaran.
“Tadi kan nak Calvin video call sama kak Ruby dan mamah ikut liat. Duh mamah jadi gak sabar buat liat hasil iklannya. Pasti bagus banget.” Ucap Eva dengan penuh haru.
“Iya mah.” Rachel menoleh Calvin yang duduk di tempatnya, laki-laki itu hanya menunjukkan symbol peace sebagai permintaan maaf karena melakukan video call tanpa meminta izin darinya.
Ada-ada aja pikir Rachel yang menggeleng tidak mengerti pada laki-laki yang terlalu berinisiatif ini.
“Iklannya akan publish awal bulan depan Mah, sekitar satu minggu lagi. Nanti mamah bisa liat di tv atau di billboard juga nanti di tayangin.” Terang Rachel. Malu sebenarnya mengatakan ini di depan Calvin yang hanya tersenyum kecil.
“Mamah gak sabar dek. Kalau adek ada videonya, kirimi mamah ya. Mamah mau jadi orang pertama yang liat iklannya.”
“Iya mah, nanti adek kirimin. Tapi adek harus minta izin dulu takut melanggar aturan.”
“Iyaa dek. Mamah tunggu.” Pembicaraan haru itu hanya singkat saja. Rachel mengakhiri panggilannya setelah pesan agar menjaga diri diucapkan berulang oleh ibu dan kakaknya. Dan sekarang ia menoleh Calvin.
__ADS_1
“Makasih kak.” Ujarnya lagi, pada laki-laki yang tengah fokus ke jalanan sambil menahan senyum.
“Dua kali ngopi bareng ya sama aku.” Timpal Calvin yang menoleh Rachel beberapa saat.
“Tunggu honorku turun ya.”
“Tidak masalah, aku akan menunggunya.” Santai saja Calvin menanggapi.
Rachel menghembuskan nafasnya lega, sungguh ia bersyukur bisa berada di posisi ini. Posisi yang ia tapaki sedikit demi sedikit dan berharap tidak hanya keluarganya yang bangga melainkan juga Martha, ibu mertuanya.
“Setelah project ini, kamu gak kapok kan?” tanya Calvin tiba-tiba.
“Kapok kenapa? Aku bahkan baru tau kalau pekerjaan seperti ini sangat menyenangkan. Ya walaupun harus siap mental saat beririsan dengan idealis orang lain.” Aku Rachel dengan sejujurnya.
“Bagus. Kalau gitu, kira-kira ke depannya kamu mau masuk ke project apa? Di perusahaanku banyak jenis periklanan yang menggandeng brand-brand besar. Kalau kamu mau gabung, aku dengan senang hati mempersilakan.”
“Eemm….” Rachel tercenung beberapa saat. Ekspresi berpikirnya sangat lucu menurut Calvin.
“Di perusahaan kakak, suka bikin campaign gak?”
“Ya campaign apapun. Kayak sekarang kan bikinnya project iklan layanan masyarakat, ya siapa tau ada campaign untuk hal lain juga.”
“Misalnya?” Calvin menghentikan laju mobilnya karena lampu merah menyala. Ini waktu yang baik untuk berbincang.
“Misalnya tentang campaign penolakan tindakan pelecehan terhadap wanita dan anak-anak.” Cetus Rachel.
Calvin berpikir beberapa saat. Menurutnya ini hal yang relate dengan kondisi yang sering terjadi belakangan ini.
"Iya, lalu?"
“Aku sering menemukan banyaknya kasus pelecehan terhadap wanita tapi sedikit yang berani mengadu. Di media cetak dan elektronik pun banyak kasus pelecehan yang korbannya tidak berani melapor hingga akhirnya sesuatu hal buruk terjadi pada korban.”
__ADS_1
“Bisa korbannya di hamili tapi pelaku tidak bertanggung jawab, padahal masa depannya masih panjang. Lebih dari itu, tidak sedikit korban yang memilih mengakhiri hidupnya karena depresi. Pertolongan orang-orang disekitarnya selalu terlambat. Bukan hanya karena mereka tidak peduli atau mulai di anggap sebagai hal yang wajar tapi banyak korban yang merasa takut untuk berbicara.”
“Aku, ingin mengkampanyekan itu secara luas. Agar tidak ada perempuan yang merasa terintimidasi oleh perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh lawan jenisnya atau dari orang-orang yang seharusnya menjadi tempat mereka berlindung.”
Dengan penuh keberanian Rachel mengungkapkan pemikirannya. Walau sebenarnya, ia bukan sedang mewakili para korban tapi sedang berusaha meningkatkan keberaniannya untuk membicarakan hal tersebut dengan orang lain. Orang yang Rachel anggap netral secara pemikiran.
“Ide yang bagus.” Sahut Calvin tiba-tiba.
Ia jadi menoleh Rachel yang tampak menggebu-gebu menyampaikan pemikirannya namun di satu sisi ia melihat Rachel seperti ragu dan ketakutan. Apa sedalam itu Rachel memahami kondisi yang kerap di alami banyak wanita namun tidak sadar?
“Benarkah?” lihat, mata Rachel langsung berbinar saat melihat respon positif dari calvin.
“Ya.” Calvin mengagguk dengan penuh kesungguhan.
“Ibuku kebetulan sering membuat campaign tidak hanya tentang kesehatan untuk mendukung karir beliau sebagai dokter tapi juga tentang hal lainnya. Sejauh ini, komunitasnya mendukung baik langkah yang ibuku lakukan. Nanti aku coba bicarakan ide kamu ini, siapa tau kalian bisa ngobrol langsung.” Terang Calvin.
“Iya, boleh kak. Kalau diizinkan, aku dengan senang hati akan bergabung ke komunitas itu.” Tegas Rachel dengan penuh semangat.
Calvin terangguk setuju. Satu sisi lain dari Rachel kembali membuatnya kagum. Wawasan wanita ini sangat luas dan tingkat kepeduliannya tinggi. Ia sangat yakin kalau Rachel akan sangat cocok berbicara dengan ibunya.
Untuk beberapa saat, Calvin sesekali mencuri pandang ingin melihat wajah wanita cantik di sampingnya. Senyumnya masih terkembang setelah tadi Calvin menyatakan mendukung idenya. Dia wanita yang menarik bukan?
“Aku berhenti di depan aja kak, mobil jemputan Brandon juga udah datang.” Ucap Rachel tiba-tiba.
Benar saja, karena melamun, Calvin sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di sekolah Brandon. Cepat sekali rasanya perjalanan mereka padahal ia masih sangat menikmati perbincangannya dengan Rachel.
“Makasih banyak ya kak, maaf udah ngerepotin. Salam buat tante.” Dengan tergesa-gesa Rachel melepas sabuk pengamannya dan segera turun. Sepertinya ia sangat takut kalau terlambat menjemput anak istimewa itu.
“Iya, nanti aku sampaikan.” Sahut Calvin yang membalas lambaian tangan Rachel.
Wanita itu berlari masuk ke gerbang sekolah. Calvin sudah akan melanjutkan perjalananya tapi kemudian, ia kembali berhenti saat tiba-tiba melihat seorang wanita menghadang langkah Rachel dengan mata menyalak pada Rachel.
__ADS_1
“Siapa Wanita itu?”
****