Menjadi Dia

Menjadi Dia
Tidak bisa menjadi dia


__ADS_3

Hembusan angin terasa dingin menusuk kulit Rachel saat ia membuka jendela kamarnya. Hari baru sudah dimulai lagi dan siap atau tidak, ia harus bersiap menghadapi hari ini.


Ia terdiam beberapa saat di depan balkon membiarkan hawa dingin memeluknya dengan erat. Ia masih melihat titik-titik embun yang berkumpul di ujung dedaunan dan lantas menetes tanpa bisa bertahan lebih lama di permukaan daun.


Ini menenangkan karena suara alam di pagi hari seperti mengantarkan semangat baru untuk dirinya.


Sejak semalam, Rachel memang tidak bisa tidur, hanya beberapa jam saja ia memejamkan mata dan pikirannya tetap saja tidak karuan. Selama tidur ia terus bermimpi terjatuh pada lubang yang hitam dan berputar di pusarannya tanpa bisa ia hentikan. Ia merasa terjebak oleh pikirannya sendiri yang buntu.


Beberapa kali Rachel menghela nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengusap-usap perutnya yang masih saja tegang sejak semalam.


Sejak semalam, ada noda merah di underwearnya yang ia sangkakan akan bertemu dengan tamu bulanannya. Tapi kali ini sepertinya periode menstruasinya datang terlambat. Mungkin itu yang membuat perut bawahnya selalu tegang dan sakit.


Ia berpikir untuk meminum minuman pelancar menstruasi walau di mulutnya sudah membayangkan rasa sepet yang mungkin akan ia rasakan seharian ini.


“Apa jangan dulu ya? Nanti kalau mulutku gak enak, malah gak nyaman waktu syuting.” Rachel bergumam sendiri di tempatnya.


“Dimana bajuku?” suara khas milik Nata membuyarkan pikiran Rachel.


Laki-laki itu seolah tidak memberi Rachel ruang untuk memikirkan dirinya sendiri.


“Mas mau ke kantor hari ini?” tanya Rachel yang beranjak mendekat pada suaminya. Hari ini hari sabtu, entah apa yang akan dilakukan suaminya.


“Nggak, aku kerja dari rumah.” Sahut Nata yang menatap Rachel beberapa saat.


Wanita itu mengangguk dan tersenyum, lantas mengambilkan pakaian untuk suaminya dari lemari. Rachel memberikan satu stel baju pada Nata.


“Mas, hari ini aku ada syuting iklan kedua di studio. Mungkin aku akan seharian di luar rumah. Aku juga mau pergi ke beberapa tempat sama managerku karena ada hal yang harus kami lakukan. Aku minta izin ya mas?” izin Rachel pada suaminya.


“Hem.” Hanya itu sahutan pendek dari Nata yang entah peduli atau tidak.


Rachel terduduk di sofa memandangi suaminya yang sedang mengenakan pakaian. Lantas ia mendekat pada Nata, membantu suaminya mengancingkan baju dan merapikan penampilannya. Ia memandangi dada bidang yang semalam mengungkungnya dan lengan kokoh yang tidak berhenti menjamah tubuhnya.


Dada bidang dan lengan kokoh itu membuat Rachel merasa sangat diinginkan oleh hasrat suaminya tapi tidak dicintai oleh hatinya. Terlebih saat ia mendengar nama seseorang yang disebut Nata dalam tidurnya. Akh, dadanya mulai sesak lagi kalau menngingat hal itu.


“Gimana lembur kemarin, apa pekerjaannya udah selesai?” Rachel berusaha mengalihkan fokusnya.


“Lumayan.” Sahut Nata, tidak terlalu antusias.


“Aku boleh denger gak cerita mas beberapa hari ini? Siapa tau kan dengan mas cerita, walaupun aku belum bisa ngaish solusi, siapa tau kan perasaan mas bisa lebih lega.”


Sejujurnya, saat ini ia sedang memancing obrolan dengan Nata.


“Tidak ada yang aneh. Hanya kerjaan.” Sahutan pendek itu yang diberikan Nata padanya.


Rachel mengangguk paham, sepertinya Nata memang tidak akan pernah terbuka.


“Semalam, aku denger mas ngigo. Apa ada klien yang menyebalkan sampai namanya mas bawa ke mimpi?” pancing Rachel.

__ADS_1


Ia memberanikan dirinya mengangkat wajahnya dan menatap Nata.


“Maksud kamu?” Nata mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Perasaan semalam ia memang tidur dengan gelisah. Tapi ia tidak menyebutkan apapun kecuali,


“Aruni, nama yang mas sebut saat mas tidur. Apa dia klien yang menyebalkan?” susah payah Rachel menahan suaranya agar tidak gemetar. Ia sempatkan untuk tersenyum kecil sambil menatap mata suaminya. Ia menunggu kejujuran Nata.


Tapi tidak semudah itu untuk Nata. Nata terhenyak kaget mendengar nama itu diucapkan dengaan jelas oleh bibir tipis Rachel. Ia menurunkan tangan Rachel yang sedang mengusap dadanya dan mundur satu langkah menjauh dari Rachel.


“Darimana kamu mendengar nama itu?” Nata mulai terlihat gelisah.


“Dari mas sendiri. Semalam mas menyebut namanya dengan penuh ketakutan. Jangan, jangan pergi Aruni.” Suara Rachel terdengar rendah dan sedikit bergetar, persis suara Nata semalam.


“Aku pikir mas mungkin mimpi buruk karena seorang klien menolak mas. Apa itu benar?”


Percayalah, untuk berpura-pura bodoh seperti ini perlu kekuatan dan keberanian yang besar. Dada Rachel sampai bergemuruh saat ia mengingat kembali ucapan Nata yang terus terngiang di telinganya saat menyebut nama itu.


“Berhenti. Dia bukan siapa-siapa.” Ucap Nata seraya memalingkan wajahnya dari Rachel. Dadanya berdebar kencang melihat sosok Rachel bersamaan dengan bayangan Aruni yang muncul di benaknya.


“Oh ya? Benar dia bukan siapa-siapa? Itu nama wanita loh mas. Aku bisa salah paham kalau mas nggak ngejelasin siapa dia.” Pancing Rachel semakin mendesak.


“Pilihan kamu kalau kamu mau salah paham, yang jelas dia bukan siapa-siapa!” seru Nata yang mulai terpojok. Tidak sedikitpun ia berani menatap wajah Rachel yang saat ini tengah hancur dengan pengingkaran Nata.


Rachel tersenyum kecil dengan air mata yang sudah berkumpul di sudut matanya. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci dan menaruhnya di atas tempat tidur. Mata Nata langsung membulat saat melihat album foto Aruni ada di antar ia dan Rachel.


“Dari mana kamu ngambil ini?” seru Nata dengan kesal.


“Satu tahu menikah, dan selama ini aku selalu penasaran apa yang ada dipikiran suamiku. Saat wajah tampannyaa terlihat bingung, dia lebih suka berdiam diri di ruang kerjanya, alih-alih berbicara denganku atau hanya sekedar bercerita walau mungkin aku tidak bisa memberikan masukan yang berarti.”


“Aku pikir, itu karena mas menganggapku tidak mengerti apa-apa. Tapi aku rasa, itu karena mas gak mau aku tau apa-apa.”


Rachel beranjak dari tempatnya, tubuhnya yang semula gemetar saat ini sudah cukup kuat untuk berdiri menghadapi Nata. Ia menatap netra pekat milik suaminya dengan mata yang ikut tersenyum penuh kepedihan.


“Aku sadar, seseorang bisa memiliki masa lalu yang pernah dia alami dan pasti sangat berkesan. Aku juga sadar kalau setiap orang memiliki pilihan untuk terus memegang masa lalu itu atau berdamai dan menerima hal itu sebagai bagian dari hidupnya.”


“Aku tuh, kasian sebenarnya sama diri aku. Pikiranku yang bodoh ini selalu beranggapan kalau suamiku adalah laki-laki hebat karena walaupun dia tidak menyukai pernikahan kami, tidak mencintai istrinya dan sulit menerima kehadiranku, tapi dia tidak pernah selingkuh. Dia tidak pernah mencari wanita lain untuk dia tiduri. Aku berpikir keras bagaimana caranya mengimbangi usaha dan perjuangan Mas.” Kali ini air mata Rachel lolos menetes. Pertahannya mulai rapuh.


“Tapi, sejak kemarin aku seperti di tampar oleh kenyataan bahwa nyatanya hanya aku yang sedang berjuang sendirian.


"Selingkuh tidak hanya tentang bersentuhan dengan wanita lain. Tidak hanya tentang berkirim pesan dan saling memberi perhatian lebih pada wanita lain. Tidak pula tentang tidur bersama wanita lain.”


“Pikiran seorang pasangan yang memikirkan wanita lain saat tubuhnya mengungkung tubuhku ternyata adalah pukulan yang jauh lebih besar yang pernah aku terima.”


“Lisptick ini,” Rachel menunjuk bibirnya yang mengenakan warna merah bold sesuai keinginan Nata, ia tunjuk.


“Adalah lispstick yang biasa Aruni pakai.” Rachel menghapusnya dengan kasar menggunakan punggung tangan, hingga sisa lipsticknya berantakan di pipi.


“Potongan rambut ini, adalah potongan rambut yang sangat cocok untuk Aruni.”

__ADS_1


“Baju ini,” Rachel menunjuk baju yang dikenakannya.


“Model baju kesukaan Aruni.”


“Bahkan baju tidur ini,” Rachel melempar gaun tidur merah maroon ke atas Kasur. Kali ini nafasnya terengah. Air matanya kembali menetes namun ia tetap berusaha tersenyum.


“Adalah baju tidur yang biasa Aruni kenakan.”


“Lalu, saat semalam mas dengan ganas menjamah dan menikmati tubuhku, siapa yang ada dipikiran mas? Aku atau Aruni?” kalimat Rachel terdengar pelan namun penuh penekanan. Suaranya yang gemetar seolah bersambut dengan air matanya yang kembali menetes begitu saja.


Ia menatap Nata dengan lekat, laki-laki yang membuatnya bukan merasa dicintai tapi dilecehkan secara fisik dan mental.


“Siapa mas?” Rachel melangkahkan kakinya mendekat pada Nata.


“Boleh aku tau jawaban mas?” suaranya nyaris tidak terdengar. Ia mencondongkan tubuhnya pada Nata, demi bisa mendengar jawaban suaminya.


Waktu terus berjalan tapi tidak ada suara yang terdengar. Tidak ada penyebutan sebuah nama oleh Nata yang mematung di depannya dengan dada yang mencelos. Ia bahkan masih belum bisa mengakhiri pikirannya tentang Rachel dan Aruni yang bercampur di kepalanya seperti patahan puzzle yang berserakan dan tidak bisa ia rangkai apalagi satukan.


Hanya ada suara detikan jam yang terdengar nyaring serta suara helaan nafas Rachel yang terdengar berat.


“Mas tidak bisa menjawabnya?” tanya Rachel yang kembali memundurkan langkahnya. Ia menatap Nata dengan kecewa.


Tangannya yang gemetar terangkat hendak menyentuh wajah Nata tapi kemudian urung ia lakukan.


“Aku pernah berpikir, kalau sebuah pernikahan yang terpaksapun bisa berakhir bahagia. Sekali mungkin akan berdebat karena persepsi yang tidak sama. Akan ada sedikit rasa kecewa karena apa yang kita jalani tidak sesuai keinginan kita.”


“Jika itu tentang sikap kasar mamah Martha terhadapku, aku bisa berdamai walau lukanya cukup perih. Jika itu tentang pelecehan Brams terhadapku, aku bisa melawannya dan membela diriku sendiri. Tapi jika tentang masa lalu mas yang harus aku lawan, tentang mas yang memilih tidak melepaskan masa lalu itu dan malah menjadikan aku sebagai dia karena mas tidak pernah membutuhkanku melainkan hanya membutuhkan masa lalu mas. Maka, aku menyerah.”


“Aku rasa aku benar-benar setuju kalau pernikahan terpaksa kita berakhir dengan bahagia. Berakhir bahagia dengan pilihan masing-masing.”


“Jadi, mari kita akhiri semuanya. Kita berpisah saja.” Tegas Rachel yang berusaha berdiri tegak dihadapan Nata.


Ia tersenyum kecil pada suaminya tapi kemudian tangisnya pecah. Ia terisak dengan bahu gemetar bergerak naik turun di hadapan Nata tanpa pernah memalingkan wajahnya. Ia masih ingin melihat wajah suaminya untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi.”


Nata tidak menimpali, ia terdiam di tempatnya dengan mata yang berkaca-kaca dan pikiran yang entah. Sekali waktu ia memalingkan wajahnya dari Rachel. Dari wajah yang dipenuhi banyak kekecewaan dan luka yang menyakitkan.


“Terima kasih untuk semua waktu mas. Aku minta maaf karena aku tidak bisa lagi memenuhi keinginan mas untuk menjadi dia.” Ucapnya dengan helaan dan hembusan nafas yang berat dan kasar.


Rachel merasa, apa yang harus ia sampaikan, sudah seluruhnya ia sampaikan. Maka, ia memilih mengambil tas ransel yang sudah ia siapkan sejak semalam. Sejak ia mendengar nama Aruni di sebut Nata.


Pagi ini ia sempat ragu karena berpikir hari ini Nata akan memilihnya. Tapi dari diamnya Nata, ia sudah tahu persis apa yang menjadi pilihan suaminya.


Tanpa berkata-kata, akhirnya Rachel meninggalkan kamar itu. Kamar yang selama satu tahun lebih di tempatinya.


Lebih dari itu, Ia memutuskan pergi dari hidup Nata. Ia tidak bisa lagi berjuang sendirian karena tidak ada yang harus ia perjuangkan.


*****

__ADS_1



__ADS_2