
Anand? Kenapa kamu melaporkan adikmu sendiri ke polisi, sayang?"tanya Silvy nampak panik. Silvy sangat tahu apa saja yang telah dilakukan oleh Ringgo, tapi tidak mau Ringgo mendekam di balik jeruji besi. Aneh bukan?
"Karena dia memang bersalah,"jawab Anand datar.
"Tuan Ringgo, sebaiknya anda bekerjasama! Jika anda mencoba kabur, kami akan bertindak tegas!"ucap salah seorang polisi membuat Ringgo yang sudah berbalik ingin kabur tidak jadi melanjutkan langkahnya.
"Saya hanya ingin ke kamar mandi, Pak,"sahut Ringgo beralasan.
"Kalau begitu, akan kami temani,"ucap polisi itu.
"Tidak jadi, Pak,"sahut Ringgo dengan wajah masam.
"Sayang, tolong cabut tuntutan kamu! Ringgo adalah adikmu, bagaimana kamu bisa tega padanya?"bujuk Silvy agar Anand mencabut laporannya.
"Adikku? Dia hanya adik tiri ku,"sahut Anand dengan suara datar, sedangkan Pramana masih diam dan menjadi pendengar setia.
"Sayang, tapi dia tetap adikmu. Jika Ringgo sampai dipenjara, nama baik keluarga Pramana akan tercemar,"Silvy masih terus membujuk berharap Anand berubah pikiran.
"Aku sebagai CEO sekaligus pemegang saham terbesar Barata grup akan semakin malu jika ada seorang karyawan yang melakukan korupsi dan penganiayaan, tapi tidak di hukum. Aku tidak akan melindungi kejahatan siapapun, apalagi melindungi orang yang ingin menghancurkan perusahaan ku,"ucap Anand tegas, menatap tajam ke arah Ringgo.
Silvy beralih menatap Pramana dan memegang lengan Pramana,"Pa, tolong bujuk Anand, pa! Nama baik keluarga kita akan tercemar jika Ringgo sampai dipenjara,"
"Aku juga tidak mau membela orang yang salah,"ucap Pramana terdengar datar.
"Tapi Ringgo tidak bersalah.pa!"bela Silvy.
__ADS_1
"Jika kamu yakin Ringgo tidak bersalah, kamu tidak perlu takut dan gelisah seperti itu,"ujar Pramana nampak acuh.
Selama Barata grup di pegang oleh Anand, Barata grup menjadi semakin maju. Anand terkenal disiplin dan juga berhati-hati dalam mengambil keputusan di Barata grup. Jadi, Pramana yakin, jika Ringgo memang bersalah. Tidak mungkin Anand melaporkan Ringgo ke polisi jika Anand tidak punya alasan yang kuat.
"Sayang, setidaknya kamu pandang mamamu ini. Mama telah merawat dan membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang. Anggap saja ini sebagai rasa hormat kamu pada ibu yang telah merawat dan membesarkan kamu,"ujar Silvy mencoba mempengaruhi Anand.
"Tidak usah memanggil ku 'sayang'! Karena kamu tidak pernah benar-benar menyayangi ku. Selama ini kamu hanya berpura-pura menyayangi aku! Kamu hanya wanita munafik yang penuh dengan tipu muslihat,"sergah Anand.
"Yang sopan jika bicara pada mama! Dasar anak tidak tahu diri, tidak tahu balas budi!"teriak Ringgo penuh emosi.
"Kamu yang tidak tahu diri dan tidak tahu balas budi! Kamu dirawat dan dibesarkan di keluarga ini, dicukupi semua kebutuhan kamu seperti anak kandung. Tapi kamu malah menggigit tangan orang yang memberimu makan. Apa yang tidak diberikan papa untuk kamu? Segalanya telah diberikan papa, tapi kamu malah korupsi di perusahaan kami! Kamu menekan dan mengancam bawahan mu agar mau mengambil uang perusahaan untuk mu! Kamu berusaha mencuri data perusahaan untuk kamu jual pada saingan bisnis Barata grup. Kamu bahkan menjerumuskan aku dalam hal negatif. Kamu membuatku jadi pemabuk dan menjadi pria brengseek yang suka pergi ketempat hiburan malam dan bermalam dengan wanita penghibur! Kamu bahkan sengaja mendorong aku agar mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Sebelum aku kecelakaan waktu itu, aku mendengar pembicaraan kamu dan ibumu yang munafik itu. Kalian berdua ingin menguasai harta kami. Kalian berpura-pura menyayangi aku, tapi sebenarnya berniat menjerumuskan aku,"ujar Anand menggebu-gebu, menatap tajam pada Ringgo.
Silvy, Ringgo dan Pramana nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan Anand. Silvy dan Ringgo tidak menyangka jika Anand mendengar pembicaraan mereka waktu itu. Sedangkan Pramana tidak menyangka jika istri keduanya dan anak tirinya telah berbuat seperti itu tanpa di ketahui nya.
"Ringgo! Jangan bicara kasar pada kakakmu!"bentak Silvy masih berusaha menutupi kemunafikan nya.
"Sudahlah, ma! untuk apa lagi berpura-pura di depan mereka? Toh dia juga sudah tahu. Sudah puluhan tahun kita selalu menunduk pada mereka. Aku sudah muak, aku tidak ingin lagi menjadi pembantu mereka. Selama ini aku sudah bekerja keras di perusahaan, papa menjanjikan bahwa aku yang akan menjadi CEO, tapi apa nyatanya? Dia membohongi aku! Bahkan posisi ku di perusahaan saat ini hanya sebagai karyawan biasa,"ucap Ringgo mengungkapkan kekecewaannya.
"Jadi kamu dan anakmu sengaja menjerumuskan putraku? Selama ini kalian hanya berpura-pura baik di depan kami? Dan ingin mendapatkan posisi yang tinggi di perusahaan kami? Menguasai harta kami?"tanya Pramana dengan tatapan dingin pada Silvy. Pramana mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengetat. Ternyata selama ini dirinya telah salah menilai Silvy dan Ringgo.
"Pa, itu tidak benar! Ringgo hanya sedang ketakutan, jadi dia bicara sembarangan. Dia..."Silvy tidak melanjutkan kata-katanya karena langsung di potong Ringgo.
"Tidak perlu bersandiwara lagi, ma!Memangnya kenapa kalau kita memang berpura-pura baik di depan mereka? Aku sudah bertahun-tahun membantu papa, tapi tetap saja, aku tidak mendapatkan posisi penting di Bramantyo Group,"sambar Ringgo.
"Pak, tolong bawa dia!"pinta Anand yang sudah muak berdebat dengan Ringgo dan Silvy.
__ADS_1
"Pa, tolong Ringgo, pa! Jangan biarkan Ringgo di bawa polisi!"pinta Silvy saat Ringgo digiring ke mobil polisi tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Aku tidak menyangka kalian ibu dan anak tidak tahu balas budi. Kalian ingin mendapatkan uang dengan menghancurkan Barata grup. Sudah terlampau banyak kalian membuat masalah. Sudah terlalu banyak aku membayar semua hutang kamu untuk kebutuhan yang tidak penting. Mulai hari ini, aku ceraikan kamu! Aku akan segera mengurus surat perceraian kita! Kemasi semua barang-barang kamu! Keluar dari rumahku!"ucap Pramana tegas.
"Pa, jangan lakukan ini, pa! Mama mohon! Jangan ceraikan aku, pa!"pinta Silvy memegang lengan Pramana tapi langsung ditepis oleh Pramana.
"Bik, keluarkan semua barang wanita ini dan juga barang-barang anaknya!"titah Pramana tegas tidak mau lagi menghiraukan Silvy.
"Pa.."
"Pergi!"bentak Pramana memotong kata-kata Silvy. Tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, akhirnya Silvy mengemasi semua barang-barang nya.
"Maaf! Selama ini papa tidak memperhatikan kamu dan selalu mengabaikan kamu. Ternyata keputusan papa untuk menikah lagi malah membuat kamu menderita. Papa sungguh-sungguh minta maaf!"ujar Pramana memeluk Anand,"Pulang lah, tinggal bersama papa lagi! Papa ingin menghabiskan sisa umur papa bersama anak dan cucu papa,"ujar Pramana penuh sesal tapi juga berharap Anand kembali tinggal bersamanya.
"Aku tidak bisa memutuskan sekarang, sebelum aku membicarakan nya dengan Rindy,pa,"ucap Anand menghela napas panjang.
"Baiklah. Bicarakan dulu dengan istri kamu. Papa berharap kalian mau tinggal bersama papa lagi,"ujar Pramana penuh harap.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1