Menjadi Dia

Menjadi Dia
Lamaran


__ADS_3

Bis, menjadi moda transportasi yang akhirnya digunakan Rachel. Ia duduk di kursi penumpang dengan posisi sama setiap waktunya. Entah mengapa kursi ini selalu kosong seperti memang disediakan untuknya.


Rachel yang berpenampilan tomboy seolah kembali menjadi dirinya yang dulu. Rachel yang jauh dari kesan feminine dan lebih suka mengenakan kaos, jaket bomber dan celana kulot serta sepatu sneaker.


Layaknya seorang gadis remaja, penampilan calon ibu muda satu ini memang selalu berhasil membuat perhatian kaum adam melirik padanya. Tepat pilihannya untuk mengenakan topi dan masker agar menyamarkan penampilannya.


Rachel begitu menikmati perjalanannya. Ia sudah semakin hafal dengan jurusan bis yang dinaikinya dan tidak lagi tersesat. Hampir satu bulan ini ia kembali menjadi seorang wanita mandiri seperti dulu, tanpa perlu di antar kemanapun dan melakukan semuanya seorang diri. Bereksplorasi layaknya burung kecil yang terbang bebas.


Tanpa Rachel tahu, di luar sana, Nata masih mengekori Rachel dengan menggunakan sepeda motornya. Beruntung bis yang dinaiki Rachel satu arah dengan ruas pengguna sepeda motor sehingga Nata bisa tetap mengikutinya. Ia juga jadi tahu, buku apa saja yang sering dibaca Rachel untuk menemaninya dalam perjalanan.


Kemarin Rachel membaca novel klasik yang bercerita kisah tentang kasih sayang seorang anak yang ditinggal meninggal oleh ibunya saat melahirkan. Sepanjang perjalanan dada Rachel dipenuhi rasa mengharu biru. Hari ini Rachel ditemani buku tentang berbicara dengan janin sejak dini. Entah apa yang sedang dipelajarinya.


Setelah ini, Nata pasti pergi ke toko buku untuk mencari buku yang sama yang dibaca oleh Rachel. Ia akan membacanya semalaman, sambil membayangkan Rachel menemaninya di sampingnya. Buku-buku ini bukan hanya sebagai hiburan, Nata juga ingin mencoba memahami sudut pandang Rachel melalui buku-buku yang ia baca. Sedikit banyak ia mulai memahami pola pikir sang istri.


Di pemberhentian kedua, Rachel turun dari bis. Nata memperhatikan istrinya yang turun dari bis lalu berjalan di trotoar dan hendak menyebrang di trotoar. Banyak sekali kendaraan yang melintas membuat Nata khawatir Rachel kesulitan saat menyebrangi jalanan yang ramai.


Beruntung seorang petugas keamanan ada disekitaran tempat itu. Nata segera memanggil laki-laki tersebut dan memintanya untuk membantu Rachel menyebrang. Sementara ia memperhatikan dari kejauhan sampai Rachel menyebrang dengan aman. Hal ini ia lakukan hampir setiap hari selama satu bulan ini, selama menjadi penguntit setia Rachel.


Tidak lama, Rachel masuk ke kantor manajemen dan pendampingan Nata berakhir sampai di sii. Sebelum pergi ia mengirimkan pesan pada Rachel.


“Apa anakku hari ini akan pulang malam?” tulisnya. Nata mencemaskan Rachel yang pulang sendirian malam-malam.


“Nggak. Sebelum magrib kami akan pulang. Tidak usah khawatir, aku tidak akan membuat dia kelelahan.” Balas Rachel.


Nata tersenyum tenang. Setelah ini, ia menghubungi sebuah resto yang biasanya akan didatangi Rachel untuk makan siang. Tempat makan siang Rachel selalu sama setiap kali ia pergi keluar. Hal ini memudahkan Nata untuk mengatur tempat makan siang itu.


Melalui sambungan telepon, Ia memastikan menu kesukaan Rachel tersedia, alat makan tersedia dan bersih, serta Rachel akan duduk di tempat favoritnya. Satu sudut yang mengisolir ia dari keramaian agar Rachel merasa tennang dan nyaman. Setelah memastikan semuanya aman, Nata kembali ke kantor dengan motor sportnya.


*****


Di dalam kantor manajemen. Keributan terdengar jelas berasal dari ruangan Adri. Rachel samar-samar mendengar suara seseorang yang ia kenal. Suara itu milik Marsya.


“Gimana bisa kalian tinggal diam kayak gini? Gue mau dipolisikan dan kalian tetep gak ngambil langkah apapun? Kalian lupa, berapa lama gue kerja di manajemen artist ini? Berapa keuntungan yang kalian dapetin dari gue. Berapa,”


“Kerugian yang lo kasih ke perusahaan ini!” suara Adri terdengar balas menyalak.


Rachel sampai terhenyak kaget saat melewati ruangan itu.

__ADS_1


“Rachel, sini!” panggil seseorang yang tidak lain adalah Fany. Wanita itu segera menarik tangan Rachel untuk masuk ke ruangannya setelah melewati ruangan Adri.


“Ada apa kak?” Rachel kebingungan dengan keributan yang didengarnya.


“Duduklah, aku mau cerita.” Fany langsung mendudukan Rachel lalu menutup pintu ruangan rapat-rapat.


“Minum dulu, karena yang mau aku ceritain adalah gossip hangat seperti tahu bulat lima rarusan yang di goreng dadakan.” Ia juga menaruh sebotol minuman air mineral untuk Rachel. Lalu duduk sambil menatap Rachel dengan tajam.


“Kakak mau ngomong apa?” Rachel menatap Fany dengan bingung. Sepertinya ia memang perlu minum dulu.


Tiba-tiba saja Fany tersenyum lebar seperti mendapat berjuta kebahagiaan. “Si Marsya mau dipolisikan sama beberapa orang dan sekarang lagi mohon-mohon sama mas Adri supaya gak di kick dari manajemen sama minta pendampingan buat proses hukum.” Urai Fany dengan cepat.


“Hah?” Rachel sampai bingung menyimaknya.


“Hahahaha … kaget kan? Iya kan? Iya dong? Masa gak kaget?” celoteh Fany dengan ceria.


“Kak, aku bukan kaget tapi gak ngerti.” Timpal Rachel kemudian.


“Hemh!” Fany menghembuskan nafasnya kasar. Kalau diajak menggosip, Rachel memang tidak asyik. Fany menenangkan dirinya sebentar sebelum memberi penjelasan lagi pada Rachel.


“Jadi gini, si Marsya itu kan di depak sama mas Adri dari manajemen ini. Awalnya dia belagu banget, kagak masalah katanya soalnya banyak manajemen artis yang mau ngehire dia.”


Rachel yang penasaranpun ikut layar memandangi ponsel Fany. Sebuah halaman berita online dari sebuah aku gosip terkenal..


“Dia kena kasus dugaan prostistusi online sama salah satu orang terkenal di kancah perpolitikan. Dia juga hamil anjirrrr!!!” Fany sampai membungkukkan tubuhnya yang condong pada Rachel. Bisikannya sangat jelas di telinga Rachel.


“Hah?” Respon Rachel masih sama, melongo.


“Kali ini kamu beneran kaget kan?” Fany tersenyum lebar dan Rachel hanya mengangguk pelan. Ia memang benar-benar kaget mendengar kabar ini.


Fany meraih tangan Rachel lalu menggenggamnya erat.


“Apa kamu bilang, apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai."


"Kamu bisa liat sendiri, orang yang menyakiti kamu, gak mesti kamu langsung yang bales. Tangan tuhan lebih adil. Kamu cukup duduk aja dengan manis, biar aku sama mas Adri bantu kamu mempersiapkan masa depan kamu dengan baik. Sementara orang yang jahat sama kamu, hanya perlu menunggu balasan atas perbuatannya sendiri.” Ucap Fany dengan penuh keyakinan.


Ia masih mengingat bagaimana kondisi Rachel selama dua minggu. Terbaring tidak berdaya karena tindaakan yang dilakukan Marsya terhadapnya.

__ADS_1


“Maksud kakak?” Rachel mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Jadi, sementara si Marsya jatuh, kamu malah dapet tawaran maen film, Chel. Maen film!" Fany menggaris bawahi dua kata terakhirnya. Ia pun bertepuk tangan riang di udara dengan senyumnya yang mengembang.


"Hah, main film? Emang aku  bisa?" Rachel menunjuk hidungnya sendiri.


"Bisalah! Gak mungkin artis aku gak bisa!" Seru Fany dengan semangat sambil mencolek dagu Rachel.


"Ada satu PH yang suka sama iklan-iklan kamu. Mereka langsung yang minta. Genre filmnya romcom. Tapi aku gak langsung iyain karena aku tau kondisi kamu sekarang seperti apa. Dan kamu tau apa jawaban mereka?”


Rachel menggeleng.


“Mereka bersedia nunggu kamu. Kamu bahkan akan diikutkan kelas acting. Ingat, posisi kamu adalah, pemeran utama Cheellll, pemeran utaaamaaaa!!!!” lagi Fany berseru sambil berhambur memeluk Rachel.


Rachel hanya terdiam dengan wajah bingung dan terkejut melihat Fany yang tertawa terbahak-bahak. Fany melepas pelukannya beberapa saat lalu menangkup kedua sisi wajah Rachel.


“Kamu dilamar langsung sama PH dan sutradaranya untuk jadi pemeran utama wanita di sebuah film! Itu keren Chel! Kamu yang terbaikkkk” cerocos Fany lagi dengan cepat seperti sedang ngerap.


Baru kali ini Rachel tersenyum dan paham.


“Aaaakkkk aku seneng banget Chel, seneng bangeeettt!!!” seru Fany sambil memeluk Rachel.


Rachel hanya terdiam dengan rasa bahagia yang menyeruak. Tapi ia masih meragukan, apa ia bisa?


“Tapi ada satu lagi.” Fany melepaskan pelukannya dan segera mengambil berkas satunya.


“Ada tawaran iklan juga buat kamu. Dan kamu tau siapa yang nawarin ini?” Fany menunjuk berkas di tangannya.


Rachel hanya menggeleng.


“Wijaksono corp. Perusahaan properti rintisan yang lagi naik daun. Kamu di kontrak dengan nilai fantastis untuk pengiklanannya. Ini mega project pertama mereka.” Fany melafalkan dengan tegas setiap kata yang ia ucapkan.


“Apa?”


Pendengaran Rachel mendadak sepi.


"Iya, Wijaksono corp! Emang kenapa?"

__ADS_1


****


Fany, kamu yakin Rachel harus menerima iklan itu?


__ADS_2