
Pagi ini, Rachel sudah berangkat ke kantor Wijaksono corp. Ia ditemani oleh Fany dan Calvin yang menjemputnya pagi-pagi.
Setelah sarapan bubur ayam di sekitaran area perkantoran, mereka pun langsung menuju kantor Nata. Calvin melihat jelas Rachel yang berusaha tenang saat duduk di sampingnya. Ia menggunakan ponsel untuk menonton iklan-iklannya sendiri. Ia harus tahu dimana letak kekurangannya agar bisa ia perbaiki di iklan berikutnya.
“Chel," Calvin berusaha mencairkan suasana.
"Ya." Rachel segera mematikan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya pada Calvin.
"Em, mamahku udah bikin konsep kampanye seperti yang pernah kita bicarakan. Kira-kira kapan kalian bisa ketemu?” tanya Calvin di sela perjalanan panjang yang sering kali di hadang kemacetan.
“Minggu depan paling kak. Minggu ini aku mau nyelesain kerjaan yang lain dulu.” Sahut Rachel. Ia menoleh Fany yang duduk di belakang tapi managernya itu tidur lagi. Sepertinya ia masih mengantuk karena semalaman mendengarkan curhatan Rachel.
“Boleh. Nanti aku jadwalin. Kebetulan mamah juga ada seminar beberapa hari diluar kota. Aku harap akan ketemu waktu yang pas di minggu depan.” Calvin menyanggupi.
Rachel mengangguk setuju.
Suasana kembali hening, tidak ada yang terdengar selain deru mesin yang halus dan kalah oleh dengkuran pelan dari mulut Fany. Lampu merah kembali menyala di depan mereka dan menghentikan laju kendaraan beberapa saat. Melalui sudut matanya, Calvin memperhatikan Rachel yang sedang memoles bibirnya dengan lipbalm berwarna merah muda. Keseringan berada di ruangan ber AC membuat kulit bibirnya kering dan sedikit pucat.
“Chel,” panggil Calvin lagi.
“Ya.” Rachel menyahuti dengan santai. Ia menoleh Calvin yang kemudian tersenyum saat melihat sisa lipstick di sudut bibir Rachel.
Tangan Calvin refleks terangkat, menyentuh sudut bibir Rachel dengan lembut. “Ada noda lipstick.” Ujarnya pelan.
Tubuh Calvin yang sedikit condong pada Rachel, membuat Rachel merasa seperti dibisiki dengan hangat oleh Calvin.
“Oh iya.” Rachel segera menarik tubuhnya dan mengusap sendiri sisa lipsticknya. Sikap Rachel berubah waspada pada Calvin. Merasakan laki-laki lain selain Nata mendekat padanya, selalu membuat Rachel waspada. Mungkin ia masih trauma dengan cara Brams yang memaksa mendekatinya.
Rachel sadar betul kalau Calvin bukan laki-laki seperti Brams, tapi tubuhnya lebih sadar lagi kalau hanya Nata yang tidak pernah membuatnya takut pada laki-laki.
Terlepas seperti apa hubungan mereka saat ini, harus Rachel akui kalau Nata satu-satunya laki-laki yang tidak pernah membuatnya takut saat berdekatan dengan lawan jenis. Tubuhnya seperti percaya kalau Nata sellau menjaganya dengan baik.
“Em, weekend ini, kamu ada waktu gak?” Calvin berusaha mengendalikan kondisi yang canggung. .
“Weekend ini?” Rachel kembali menatap Calvin, mencoba memahami maksud pembicaraan laki-laki di sampingnya.
Calvin mengangguk seraya tersenyum.
“Aku di rumah sama mamah dan kak Ruby. Memangnya kenapa?” Rachel balik bertanya.
Calvin terlihat ragu, ia mencengkram stirnya dengan kuat sebelum berbicara. Tapi menurutnya, tidak ada waktu lain kalau tidak disampaikan sekarang.
“Bisa temenin aku ke acara pernikahan temen gak?” pintanya dengan sungguh. Sorot matanya jelas menunjukkan pengharapan dan ketertarikan pada Rachel.
Rachel langsung memalingkan wajahnya, rasanya ia tahu arah pikiran Calvin.
“Aku, masih berstatus sebagai istri orang kak. Aku masih punya kewajiban untuk menjaga martabat suamiku dan keluargaku, di banding martabatku sendiri.” Sahut Rachel dengan tegas.
Calvin tersenyum kelu. Lantas mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku. Rachel jelas menolaknya dengan alasan sederhana yang jelas menyindir kekurangajarannya. Ia sadar kalau ia baru saja melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
“Aku minta maaf, aku gak bermaksud buruk sama kamu. Apalagi merendahkan martabat kamu.” Ucap Calvin dengan sungguh.
Rachel tersenyum kecil. “Berikan perhatian di waktu yang tepat dan pastikan memberikan perhatian secukupnya saja sesuai kebutuhan orang tersebut.” Pesan Rachel yang menatap Calvin dengan segaris senyum.
__ADS_1
“Okey, aku paham.” Timpalnya lagi.
Keduanya kembali terdiam, sampai kemudian mereka tiba di kantor Nata. Rachel turun lebih dulu di sambut oleh Ivana dan Nata. sementara Calvin masih berada di dalam mobilnya bersama Fany. Ia memandangi Rachel dari kejauhan.
“Kamu kecepetan bro.” Komentar fany dari belakang. Rupanya ia menyimak perbincanga singkat Rachel dan Calvin yang tidak lebih dari lima kalimat.
“Iya, aku tau.” Calvin menghembuskan nafasnya kasar. Ia baru saja melewatkan kesempatan baik. Andai saja ia lebih bisa menahan dirinya.
“Aku selalu mencari celah terbaik untuk masuk dalam hubungan mereka. Tapi aku rasa, walaupun hubungan mereka retak, celah itu tidak bisa aku masuki, karena Rachel gak pernah membukanya.” Calvin menatap Rachel dengan nanar. Ia juga bisa melihat tatapan Nata yang penuh cinta pada Rachel. Apa Rachel tidak merasakannya?
Fany tidak menimpali, ia hanya menepuk lengan Calvin sebagai bentuk prihatin. Lantas ia turun lebih dulu dan membiarkan Calvin menyusul setelah ia siap.
****
“Hah, ini konsepnya emang kayak gini kak?” tanya Rachel setelah membaca script iklan yang ada di tangannya.
“Iyaa, itu hasil konsultasi aku sama timnya Calvin. Iya kan Vin?” Ivana bertanya pada laki-laki yang sedari tadi lebih banyak terdiam, memperhatikan interaksi Nata dan Rachel.
“Iya. Konsepnya bagus, kalau kalian bisa mempelajarinya dalam waktu dekat dan jiwanya dapat, ini akan sangat bisa diterima oleh masyarakat.” Komentar Calvin.
Ivana mengangguk setuju. Ia tahu persis kalau Calvin menyukai adik iparnya, maka Ivana sengaja mengajak Calvin dalam project ini untuk menunjukkan kalau ia tidak punya kesempatan, sekaligus memberi pelajara pada Nata kalau ia harus waspada pada lingkungan sekitar Rachel.
“Terus siapa pemeran laki-lakinya kak?” Rachel kembali bertanya.
“Nih, bosnya Wijaksono. Biarin dia ngasih kontribusi dan dikenal dikit.” Ivana menyikut lengan Nata yang ada di sampingnya.
“Iya kah? Mas Nata mau?” Rachel beralih menatap Nata yang hanya bisa berdehem tegang sambil membenarkan posisi dasinya yang sebenarnya sudah rapi.
“Kakak yakin konsep iklan kita kayak gini? Masa nanti Rachel di pegang-pegang, di elus-elus sama laki-laki lain padahal yang kita iklanin adalah rumah.” Protesan Nata begitu kencang pada Ivana.
“Loh kenapa? Ini konsepnya adalah hunian untuk pasangan muda yang begitu bahagia karena mereka menemukan hunian pertama mereka yang begitu nyaman. Kita kan mau ngajak orang merasakan vibes sama sensasinya punya rumah hasil project kita, pemainnya juga harus ekspresif dong.”
“Masa cuma dengan kata-kata, rumah tipe 60, konsep hunian modern minimalis yang memiliki jarak tempuh ke kota hanya dengan waktu tempuh sepuluh menit saja. Memiliki nilai investasi yang tinggi dan suku bunga yang rendah.”
“Akh, yang kayak gitu sih udah basi. Dimana-mana orang juga tau kalau beli rumah itu investasi dan pasti menawarkan harga yang sesuai dengan harga pasaran.”
Ivana terlihat begitu percaya diri.
“Sementara yang pengen aku angkat adalah, perasaan orang yang kelak menempati rumah-rumah yang kita bangun. Pasangan muda yang bahagia, baru akan memiliki anak, yang berarti lingkungannya aman buat anak-anak kan. Baru lah mereka nanti akan mencari tahu sendiri, senyaman dan sesempuran apa sih konsep rumah ini sampe yang ngiklanin sebahagia itu?”
“Gitu konsepnya! Makanya nanti itu muka dingin ama tegang di simpen dulu, sebelum aku manggil actor lain buat beradu acting sama Rachel. Kamu rela, perutnya Rachel di elus cowok lain?” tantang Ivana panjang kali lebar.
Alasan ketidakrelaan itulah yang membuat Nata akhirnya setuju berkontribusi dalam iklan tersebut sebagai pemain utama laki-lakinya.
“Kalau kamu gak yakin, coba aja test Nata-nya.” Tantang Ivana yang membuat mata Nata langsung membulat.
Sepanjang malam ia menghafal dialogue tapi entah menempel atau tidak saat ia benar-benar memainkan perannya bersama Rachel.
Rachel kini menatap Nata dengan lekat, menunggu apa laki-laki ini benar-benar siap atau tidak.
“Okey, ayo kita coba.” Ujarnya dengan penuh percaya diri.
“Sip, kamu yang nilai ya Vin, aku bacain narasinya. Fany, bantu aku videoinn ya.” Ivana membagi tugas.
__ADS_1
Calvin dan Fany sama-sama mengacungkan ibu jarinya pada Ivana.
Ia membawa Rachel dan Nata ke salah satu sudut seolah sudut itu yang akan menjadi pintu masuk rumah.
“Okey, di mulai dari sini. Kalian jalan sambil pegangan tangan, terus nanti kamera akan zoom muka seneng kalian liat rumah baru project kita, mana senyumnya Ta.” Seru Ivana layaknya sang sutradara.
Nata langsung sigap, berusaha tersenyum setulus mungkin. Rachel jadi ingin tertawa melihat eskpresi Nata yang kaku.
“Bibirnya ditarik ke sisi kiri dan kanan bersamaan masing-masing tiga senti terus matanya sedikit memincing, dengan aegyosal yang sedikit terlihat. Ini akan menunjukkan kalau mas sangat menyukai apa yang mas lihat.” Rachel membantu mengarahkan seperti yang pernah diajarkan sutradara padanya di beberapa iklan yang kemarin ia bintangi.
Ivana tidak berkomentar, membiarkan Rachel membantu menyetting muka adiknya yang kaku dan datar itu.
“Nah, iya begitu.” Ucap Rachel saat Nata mengikuti arahannya.
“Okey.” Nata benar-benar tersenyum dan membuat Rachel ikut tersenyum.
“Segitu pas kan Vin?” Ivana sengaja bertanya pada Calvin.
“Cukup.” Lagi Calvin hanya mengacungkan ibu jarinya.
“Okey, kita lanjut. Nanti seolah ada pintu terbuka yang menunjukkan bagian-bagian rumah. Nah, Nata rangkul Rachel dari belakang, peluk terus cium kepalanya. Rachel liat ke arah Nata dengan tatapan penuh syukur ya Chel.”
Rachel balas mengacungkan ibu jari.
“Okey lanjut, Nanti akan ada scene kita menunjukkan kamar utama dan kamar anak berurutan. Di adegan ini Nata nanti usap perut Rachel, kamera akan mengarah ke sana.”
“Terus udah explore semua ruangan utama, ruangan terakhir adalah dapur. Kalian saling becanda masak-masakan, nanti kamera akan menangkap ekspresi bahagia kalian sama kondisi dapur yang nyaman. Terakhir adalah, taman belakang."
"Kalian bayangin duduk-duduk santai di ayunan dekat kolam sambil menikmati suasana sore hari. Rachel nyandar ke bahunya Nata dan Nata kecup kepalanya Rachel. Di tangan kamu harus ada majalah yang sedang kamu baca, tentunya majalah bisnis perusahaan kita.”
“Setelah itu, malam menjelang, kalian beristirahat, pelukan mesra dan kamera akan mengarah ke langit. Baru muncul selogan kita, Clasthome, living with you. Gimana?” Ivana mengakhiri Narasi singkatnya.
“Wow, keren kak. Itu konsep yang out off the box!” seru Fany sambil bertepuk tangan.
“Hehehehe… makasih. Aku nyiapin ini sampe gak tidur tujuh hari tujuh malam.” Ivana sedikit hiperbola sambil mengangguk takjim.
Ia melirik tangan Rachel dan Nata yang tanpa sadar masih berpegangan. Ia abaikan saja ketidaksengajaan yang indah itu.
“Gimana Chel, kamu suka konsepnya?” kali ini Rachel yang ditanya dan dengan cepat ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nata.
“Suka!” sahutnya.
Ivana tersenyum puas, begitupun Nata yang menahan senyum dalam dadanya.
“Okey, kita latihan dulu yaa, sebelum aku bener-bener manggil tim filming.. Yuk gas!” ajak Ivana penuh semangat.
Mereka pun mulai bersiap. Memerankan peran dari awal, berlatih sebelum mereka benar-benar melakukan perekaman secara professional. Fany mengabadikan semua yang dilakukan Nata dan Rachel. Ekspresi tegang dan malu-malu keduanyapun terrekam jelas di kamera Fany.
Mereka terlihar begitu menikmati romansa di balik pekerjaan professional. Bukankah selama ini mereka belum pernah melakukan hal seperti ini?
“Vin, sorry, aku malah jadiin kamu sad boy.” Author.
****
__ADS_1