
Anand menatap Ringgo yang masih berdiri mematung di tempatnya,"Ringgo, kamu boleh kembali ke ruangan kamu,"ucap Anand kemudian melanjutkan memeriksa berkas dan dokumen yang dibawa oleh Lola tadi.
"Eh.. apakah kakak tidak memerlukan aku?"tanya Ringgo tersadar dari lamunannya.
"Nanti jika aku memerlukan mu, aku akan memanggil, kamu,"ucap Anand tanpa mengalihkan perhatian nya pada berkas yang sedang dibacanya.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan kembali ke ruangan aku,"ucap Ringgo.
"Hum,"sahut Anand masih tetap fokus pada berkas yang dibacanya.
"𝘼𝙬𝙖𝙨 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙜𝙞𝙡 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙤𝙠𝙪𝙢𝙚𝙣 𝙞𝙩𝙪," gerutu Ringgo dalam hati seraya melangkah keluar dari ruangan itu.
"Tuan Ringgo!"seru Lola saat melihat Ringgo keluar dari ruangan Anand, langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Ringgo.
"Ada apa?"tanya Ringgo datar karena masih merasa kecewa. Usahanya untuk membuat Anand gagal menempati posisi CEO tidak berhasil. Bahkan rencananya yang kedua, menyuruh Lola untuk menggoda Anand pun tidak berhasil.
"Saya ingin bicara dengan anda sebentar,"ucap Lola kemudian berjalan ke sebuah tempat yang sepi di ikuti oleh Ringgo.
Setelah merasa menemukan tempat yang pas untuk berbicara dengan Ringgo, Lola pun memulai pembicaraan.
"Kata Tuan, Tuan Anand akan tergoda dengan saya? Tapi nyatanya, Tuan Anand malah menghina saya habis-habisan. Apa Tuan Ringgo sengaja mempermalukan saya?"protes Lola yang merasa dipermalukan oleh Anand, dan itu semua karena perintah Ringgo.
"Dulu dia memang suka dengan wanita seperti mu. Kalau tidak, aku tidak akan menyuruh kamu untuk menggodanya. Aku tidak tahu jika setelah kecelakaan kemarin seleranya jadi berubah,"jawab Ringgo apa adanya.
"Itu tidak masuk akal! Tuan jangan macam-macam dengan saya! Jika tuan macam-macam dengan saya, saya akan melaporkan pada Tuan Pramana jika anda telah memalsukan pembukuan dan mengambil keuntungan dari perusahaan ini,"ancam Lola yang mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh Ringgo.
Ringgo menatap tajam pada Lola kemudian mencengkram kedua pipi Lola dengan tangan kanannya,"Kamu berani mengancam aku? Jika aku sampai keluar dari perusahaan ini, apa kamu pikir, kamu akan tetap bisa bekerja di perusahaan ini?"tanya Ringgo dengan kilatan mata yang berbahaya.
"Bu.. bukan begitu,"ucap Lola yang merasakan sakit di pipinya karena cengkraman tangan Ringgo di pipinya.
"Sebaiknya kamu cari cara lain untuk merayu dan menggoda si Anand itu. Dan jangan coba-coba untuk mengkhianati aku! Atau aku akan membuatmu menderita!"ancam Ringgo kemudian melepaskan cengkeramannya pada pipi Lola seraya mendorong wajah Lola ke belakang, hingga Lola terhuyung dan hampir saja jatuh.
"Dasar wanita murahan!"umpat Ringgo pergi meninggalkan Lola menuju ruangannya dengan perasaan yang semakin kesal. Sedangkan Lola menatap Ringgo yang meninggalkannya dengan tatapan tajam seraya mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Dasar bajingan! Brengseek!"umpat Lola menatap punggung Ringgo yang semakin menjauh darinya.
"Sial! Kenapa sulit sekali menghadapi Anand. Aku tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya. Dulu aku bisa mengendalikannya dengan mudah. Tapi sekarang... jangankan mengendalikan dia, aku sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya yang berubah-ubah. Dia seperti memiliki kepribadian ganda,"gerutu Ringgo dalam ruangannya.
Dalam ruangan Anand, pria itu nampak serius memeriksa berkas dan dokumen yang diberikan Lola tadi. Sedangkan Darlen membantu Anand memasukkan semua data ke dalam laptop Anand. Mereka berdua nampak serius bekerja dan hanya istirahat untuk mengisi perut saja.
Waktu pun terus berputar, hari pun beranjak malam. Rindy nampak berdiri di balkon kamarnya, sesekali menatap ke arah gerbang masuk rumah itu.
"Sudah malam, tapi kenapa Anand belum pulang, ya?! Eh, kenapa aku jadi menunggu dia pulang? Seolah-olah hubungan kami sebagai suami-istri normal seperti pada umumnya. Tapi... bukankah hubungan kami akhir-akhir ini memang normal layaknya hubungan suami istri pada umumnya?"gumam Rindy bingung sendiri dengan dirinya.
Tanpa disadari oleh Rindy, kebencian dalam hati Rindy berangsur memudar karena sikap manis dan juga perhatian yang diberikan Anand padanya.
Karena waktu makan malam sudah tiba, Rindy pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Nampak Pramana, Silvy dan Ringgo baru saja duduk di kursi yang mengelilingi meja makan itu. Pramana mengernyitkan keningnya saat melihat Rindy masuk ke ruangan itu sendirian.
"Mana Anand, Rin?"tanya Pramana.
"Anand belum pulang, pa,"sahut Rindy apa adanya.
"Belum pulang? Memangnya dia pergi kemana?"tanya Pramana masih menatap menantunya.
"Dari tadi pagi belum pulang dari kantor?"gumam Pramana kemudian mengalihkan pandangannya pada Ringgo,"Ringgo, apakah saat kamu pulang tadi, Anand masih ada di kantor?"tanya Pramana pada Ringgo.
"Pas aku pulang tadi, mobil kakak, sih, masih ada di parkiran, pa,"sahut Ringgo.
"Anand sama sekali belum pernah ke perusahaan. Apa iya, dia betah seharian sampai malam begini berada di perusahaan? Apa mungkin setelah kamu pulang, Anand pergi ke suatu tempat?"tanya Silvy pada Ringgo.
"Aku nggak tahu, ma,"sahut Ringgo.
"Jangan-jangan kebiasaan nya keluyuran nggak jelas itu kumat lagi,"ucap Pramana seraya menghela napas panjang kemudian kembali menatap Ringgo,"Bagaimana pekerjaan Anand di kantor hari ini? Apa saja yang dia tanyakan padamu, Ring?"tanya Pramana.
"Tadi pagi, kakak langsung menyuruh aku kembali ke ruangan aku, pa. Kakak tidak bertanya soal apapun padaku. Bahkan kakak tidak memanggil ku, sampai aku pulang tadi. Aku menghampiri nya saat akan pulang tadi, tapi kakak menyuruh aku pulang lebih dulu,"jawab Ringgo jujur.
"Apa anak itu benar-benar bekerja dan mengerti dengan semua yang harus dikerjakan nya?"gumam Pramana kemudian menoleh pada Rindy,"Rin, apa seharian ini Anand mengabari kamu? Atau mungkin kamu menghubungi Anand, kenapa dia belum pulang sampai malam begini?"tanya Pramana.
__ADS_1
"Tidak, pa. Kami belum saling menghubungi,"sahut Rindy,"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙞 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙? 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙣𝙤𝙢𝙚𝙧 𝙝𝙖𝙣𝙙𝙥𝙝𝙤𝙣𝙚 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙,"gumam Rindy dalam hati.
Rindy baru menyadari, selama dia dan Anand menikah, mereka sama sekali tidak pernah berkomunikasi lewat telepon. Hubungan mereka yang tidak baik selama ini membuat mereka jarang berkomunikasi secara langsung. Bahkan Rindy tidak mengetahui nomor handphone pria yang sudah menikah selama sekitar empat bulan dengan nya itu.
Setelah makan malam, Rindy kembali ke dalam kamarnya. Sudah beberapa jam usai makan malam, tapi Anand belum pulang juga.
"Kenapa sampai malam seperti ini Anand belum pulang juga, ya?"gumam Rindy yang sedang berada di balkon kamar, sesekali menatap pintu gerbang rumah.
Karena malam semakin larut dan udara di balkon kamar itu juga semakin dingin, akhirnya Rindy masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rindy yang sebenarnya dari tadi sudah mengantuk pun, akhirnya tertidur.
Sementara di gedung Barata grup, Anand begitu serius dengan pekerjaan nya, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Anand merenggangkan otot-otot nya yang terasa kaku setelah dari pagi sampai malam bergelut dengan berkas, dokumen dan laptop.
Anand menatap Darlen yang ketiduran karena kelelahan membantunya dari pagi. Anand mendekati Darlen yang tertidur di sofa kemudian membangunkan Darlen.
"Darlen, bangun! Ayo kita pulang!"ajak Anand seraya menggoyangkan lengan Darlen.
"Eh, maaf, Tuan! Saya ketiduran,"ucap Darlen yang merasa tidak enak hati karena ketiduran.
"Tidak apa-apa. Seharusnya kita memang sudah pulang dari sore tadi. Maaf, karena membuatmu menemani aku lembur sampai malam begini,"ucap Anand tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya lebih suka menemani Tuan bekerja sampai malam, dari pada menemani Tuan ke klub malam. Disini ilmu saya terasa lebih bermanfaat,"sahut Darlen jujur membuat Anand tersenyum tipis.
"Ya sudah, kita pulang sekarang!"ajak Anand melangkah keluar dari ruangan itu diikuti Darlen.
"𝙇𝙚𝙡𝙖𝙝𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙥𝙖-𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖 𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝙈𝙪𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠,"gumam Darlen dalam hati dengan wajah yang terlihat bahagia.
"𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮, 𝙖𝙠𝙪 𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖,"gumam Anand dalam hati, terus melangkah keluar dari gedung itu menuju tempat parkiran.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued