Menjadi Dia

Menjadi Dia
Dua wanita


__ADS_3

Nata duduk termenung di kursi tunggu ruang perawatan. Di tangannya, ia masih memegang selembar kertas hasil USG yang ia tatap lekat-lekat. Rasa bergemuruh itu kembali ia rasakan di rongga dadanya saat mengingat kalau ia akan segera menjadi seorang ayah. Bibirnya tersenyum kecil saat ia mengingat celoteh Rachel beberapa waktu lalu


“Mas, sekarang lagi trend panggilan bapak dan ibu. Nanti kalau aku punya anak maunya di panggil ibu. Mas di panggilnya bapak. Boleh ya?” Rachel sedikit mencondongkan dirinya pada Nata dengan tatapan penuh harap.


"Bapak? Aku di panggil bapak?" ia menatap heran pada istrinya.


Dulu Nata tidak mengerti dengan pemikiran Rachel, mengapa bisa sebahagia dan sesemangat itu menyiapkan nama panggilan untuk Rachel dan dirinya. Tapi kali ini, rasanya ia paham bagaimana rasa menggebu itu hadir mengisi rongga dadanya.


Terlebih saat dokter mengucapkan selamat dan menggenggam tangannya dengan erat. Seolah ikut merasakan kebahagiaan yang semestinya dirasakan oleh semua pasangan suami istri yang telah menunggu kehadiran buah cinta mereka.


“Boleh.” Bibir Nata bergumam lirih.


“Kamu ibu dan aku bapak.” Imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.


“Ayo kita panggil diri kita dengan panggilan itu, Chel.” Ujar Nata seraya terisak. Ia menundukkan kepalanya lebih rendah lagi dan membiarkan buliran air mata menetes membasahi lantai keramik yang ia pijak.

__ADS_1


Rasanya menyesakkan, saat membayangkan kalau ia kelak bisa hidup bahagia bersama Rachel, tapi hancur di waktu bersamaan saat mengingat ketegasan Rachel yang ingin berpisah darinya. Itupun karena kebodohannya. Nata menangis sesegukan seorang diri tanpa ada orang yang tahu. Rasanya ia ingin berteriak sekeras mungkin untuk menghilangkan rasa sesal yang memenuhi rongga dadanya.


Dadanya sampai terasa sesak dan membuatnya sulit untuk bernafas.


Cukup lama ia terdiam seperti ini. Ia membiarkan air matanya terhenti dengan sendirinya tanpa usaha untuk ia jeda. Ia memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk mengeluarkan emosi yang merutuki kebodohannya selama ini sebelum akhirnya ia memikirkan cara untuk kembali mengejar Rachel.


Satu hal yang ada dibenaknya saat ini, ia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Ia akan mengejar Rachel hingga Rachel menyerah dan memberinya kesempatan kedua.


Setelah merasa lega, Nata beranjak dari tempatnya. Ia menyimpan baik-baik hasil USG itu di dalam dompetnya, bersamaan dengan foto pernikahannya bersama Rachel yang ia perkecil. Kelak, jika ia merindukannya, ia bisa membuka dompetnya dan memandangi dua orang paling berarti dalam hidupnya ini.


“Hemh,” jawab Nata.


“Kamu dimana?” tanya Ivana dengan tergesa-gesa.


“Masih di rumah sakit. Baru keluar dari ruang rawat Rachel.” Ia sempatkan untuk menoleh kembali pintu ruang perawatan Rachel yang tertutup.

__ADS_1


“Susul aku ke rumah sakit A. Mamah sakit.” Ucap Ivana kemudian.


“Hah? Sakit?” pendengaran Nata tidak terlalu jelas karena Ivana berbicara dengan gemetar.


Bukannya jawaban yang diberikan Ivana, melainkan wanita itu mengakhiri teleponnya begitu saja.


Tidak lama berselang, sebuah foto di kirim Ivana. Foto Martha yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan alat bantu nafas yang menyumpal mulutnya.


“Astagaaaa!” dengus Nata seraya mencengkram ponselnya dengan erat.


Tanpa menunggu lama, ia segera berlari meninggalkan ruangan perawatan Rachel dan pergi menyusul Ivana ke rumah sakit lain.


Ada apa dengan hari ini, mengapa dua wanita dalam hidupnya harus sama-sama di rawat di rumah sakit? Siapa yang seharusnya ia dampingi sampai akhir?


****

__ADS_1


__ADS_2