
Pulang kerja, Nata di sambut oleh Brandon yang berhambur memeluknya. Wajah anak itu sudah belepotan dengan noda es krim coklat yang memenuhi tangan, wajah dan bajunya. Baju Nata ikut kotor tapi sang paman tidak mempermasalahkan itu. Ia merindukan tingkah manja Brandon dalam beberapa hari ini.
Perubahan interaksi Brandon dengan lingkungan sekitarnya yang semakin baik, sudah menjadi hal yang membahagiakan untuk Nata dan Ivana. Tidak ada hal lain yang ia inginkan lagi selain melihat Brandon tumbuh menjadi anak yang sehat dan tangguh di masa depan.
“Mana es krimnya buat papi, disisain gak?” tanya Nata yang mengusap kepala Brandon dengan sayang.
Brandon memberikan salah satu es krimnya pada Nata. Es krim tiga rasa yang berwarna merah, hijau dan kuning.
“Waw, ini buat papi?” tanya Nata sambil berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Brandon.
“Mami Acen.” Itu jawaban dari anak kecil yang memiliki mata bulat itu.
Nata tersenyum kelu mendengar jawaban Brandon, sepertinya anak ini semakin merindukan Rachel. Setiap hari, ada saja celotehannya yang menyebut nama Rachel. Entah itu dari mainan, makanan atau kebiasaan lain yang membuat Nata semakin sadar kalau sosok seorang Rachel begitu membekas di benak Brandon.
“Waktu ke mini market, Brandon langsung ngambil es krim rasa buah itu. Kayaknya dia inget kalau es krim itu favorit Rachel.” Komentar Ivana yang baru turun setelah mengecek kondisi Martha.
Nata segera bangkit dan memandangi es krim itu. Entah mengapa ia jadi punya ide gila di pikirannya.
“Jangan bilang kamu mau nganterin es krim itu malem-malem ke rumah Rachel. Es krimnya bakal cair di jalan.” Ivana mencoba memperingatkan adiknya yang tersenyum sendiri sambil memandangi es krim di tangannya.
“Nggak lah, aku punya cara yang lebih cerdas.” Timpal Nata sambil merogoh ponsel dari sakunya.
Ia sempatkan untuk mengusap kepala Brandon sebelum benar-benar pergi.
Ivana hanya mengendikkan bahunya, sepertinya adiknya sudah belajar banyak.
Nata pergi ke teras belakang, duduk di kursi goyang sambil mengirimkan pesan untuk Rachel.
“Selamat malam kesayangan ayah. Apa udah tidur?” begitu bunyi pesan yang di kirim Nata.
Ia tersenyum kecil sambil memandangi layar ponsenya sendiri. Ia tidak lagi tergesa-gesa menunggu balasan dari Rachel, ia sangat menghargai waktu dan prioritas Rachel saat ini, sekalipun prioritasnya bukan membalas pesan Nata.
Mata Rachel yang sedang terpejam menikmati alunan musik klasikpun, lantas terbuka. Suara pesan masuk cukup menjeda alunan musik yang sedang ia dengarkan.
Ia melihat kotak masuknya dan ternyata pesan dari Nata. laki-laki yang siang ini membuat ia kesal. Tapi melihat usaha Nata untuk tidak melewatkan kabar darinya, membuat Rachel urung melanjutkan kemarahannya.
“Bayi mas sedang mendengarkan musik klasik dan pesan mas mengganggunya.” Balas Rachel sambil mengusap perutnya.
Entah mengapa ia sering merasa kesal pada Nata padahal Ruby dan Eva termasuk Fany sudah mengingatkannya kalau ia tidak boleh terlalu kesal pada seseorang karena bisa jadi nanti anaknya akan sangat mirip dengan orang itu.
Akh Rachel jadi tidak rela saat membayangkan kalau nanti anaknya akan lebih mirip Nata dibanding ia yang mengandungnya selama sembilan bulan.
Dan di sebrang sana, Nata tersenyum kecil membaca balasan Rachel. Ia sangat suka melihat Rachel yang mulai terbuka menunjukkan perasaannya selain rasa cinta yang begitu besar. Wanita ini juga bisa marah dengan cara yang menggemaskan. Ia selalu rindu setiap kali tidak mendengar suara Rachel yang mengomelinya.
Suaranya yang khas dengan sedikit serak, selalu terngiang jelas di telinganya dan membuat perasaannya tenang.
“Maaf karena ayah udah mengganggu kenyamanan kalian. Apa anak ayah hari ini bersikap baik sama ibu? Apa membuat ibu kerepotan?” balas Nata dengan pertanyaan.
“Anaknya bersikap baik tapi ayahnya menyebalkan.” Balasan Rachel membuat Nata tersenyum gemas. Ia memejamkan matanya beberapa saat membayangkan Rachel sedang berada di sampingnya sambil mendengarkan musik klasik. Pasti sangat menyenangkan.
“Sebagai permintaan maaf, boleh ayah ganti dengan es krim?” pancing Nata.
Mata Rachel langsung membulat membayangkan makanan manis dan dingin di sela udara panas yang mengisi kamarnya hingga pengap. Rachel sampai membuka jendelanya agar udara bisa masuk ke kamarnya. Pantas saja Nata sampai tidak mengenakan pakaian setiap kali laki-laki itu menginap di rumah Rachel.
Tapi membayangkan Nata datang selarut ini, akh rasanya tidak perlu.
“Gak perlu, ini udah malem.” Balas Rachel walau tidak rela.
“Aku kirim sekarang ya.” Malah balasan itu yang dikirim Nata.
“Ish, ini orang keras kepala banget. Udah di bilang gak usah.” Gerutu Rachel dengan kesal.
“Gak usah.” Ketik Rachel. Ia segera mengirimnya tapi Nata tidak membacanya.
__ADS_1
“Mas, udah berangkat ya? Aku bilang kan gak usah.” Tulis Rachel lagi. Masih tidak ada balasan. Ia berpikir Nata pasti sudah naik motor dan datang kesini sambil kebut-kebutan.
“Mas,”
“Gak usah.”
“Gak bales pesan aku sih?”
“Mas!”
"Aku gak bakalan izinin mas masuk."
"Aku gak mau es krim."
"Ish, balas psan akuuuu!!!"
Rachel mulai spam pesan. Ia tidak mau Nata benar-benar nekad untuk datang selarut ini.
Beberapa saat kemudian barulah pesan Rachel di baca Nata.
“Ini yang cemasin aku, baby-nya apa ibunya?” tulis Nata.
“Gak tau!” balas Rachel dengan kesal. Nata memang suka memancingnya. Sengaja membuatnya cemas.
“Heheheh … aku liat kamu tambah cantik kalau marah.” Goda Nata.
Rachel berdecik sebal membaca rayuan klasik Nata satu ini. Walau sebenarnya bibirnya tetap menahan senyum.
“Mas gak jadi ke sini kan?” Rachel membalas lagi.
“Apa mau aku ke sana?” Nata balik bertanya.
“Udah ku duga.” Rachel berbicara sendiri. Nata hanya ingin membuatnya ketar-ketir tidak jelas.
Entah apa perbinangan mereka sampai kemudian ada panggilan, “Adekkk, keluar sebentar.” Suara Ruby terdengar dari pintu.
Rachel segera bangun. “Ada apa kak?” ia penasaran.
“Kamu liat sendiri. Ada orang gila ngirim makanan gak kira-kira buat kamu.” Timpal Ruby.
Tanpa menunggu lama, Rachel pun segera keluar dan matanya langsung membulat saat melihat sebuah mobil terparkir di depan pagar mereka.
“Aduuhh pak, nanti tetangga saya gak bisa lewat.” Protes Eva pada sopir pengemudi mobil es krim.
“Iya bu, saya hanya sebentar. Ini saya mau nganterin es krim buat atas nama neng Rachel. Alamatnya di sini.” Terang laki-laki itu.
"Itu anak saya." Eva baru percaya pada ucapan Ruby beberapa saat lalu.
“Gilaaakk….” Rachel dan Ruby menatap tidak percaya pada mobil penangkut es krim itu.
“Segimana pak? Kok pake mobil segala?” Eva mewakili rasa penasaran Rachel dan Ruby.
“Satu freezer bu, katanya buat stock.”
Mata Rachel dan Ruby sama-sama membulat karena kaget. Mereka saling menoleh dengan wajah terkejut masing-masing.
“Ya ampunn… emang saya mau jualan?” protes Eva yang tetap tidak bisa menolak kedatangan es krim itu. Ia membiarkan begitu saja dua orang laki-laki membawa masuk mesin es krim.
“Siapa pengirimnya pak?” Ruby menjeda langkah dua laki-laki itu. Ia pikir pasti Calvin karena sahabatnya itu baru bertanya makanan kesukaan Rachel.
“Dari ayah Nata untuk ibu Rachel dan baby-nya.” Ujar laki-laki itu, sambil membaca pesan dari Nata.
Rachel dan Ruby di buat tercengang dengan tingkah Nata. Eva pun ikut menoleh pada Rachel yang mematung kaget.
__ADS_1
Akh, malu sekali rasanya melihat tatapan menyelidik Ruby dan Eva seperti ini. Wajah Rachel sampai bersemu kemerahan.
****
Sampai saat ini, Eva dan Ruby masih memandangi mesin penyimpnan es krim yang ada di ruang tengah. Beberapa lampu terpaksa dipadamkan karena takut listriknya tidak kuat. Mereka masih menunggu Rachel yang sedang bertelepon dengan Nata.
“Mas apa-apaan ngirim es krim sama mesin penyimpanannya segala?” protes Rachel tidak habis pikir.
“Oh, baru nyampe ya? Lambat banget mereka!” timpal Nata dengan santai.
“Massss iihh… mas bikin aku kesel aja. Ini ngapain ngirim es krim sebanyak ini? Mas mau nyuruh aku jualan?” Rachel semakin kesal membayangkan respon santai Nata.
“Duduk dulu, tenang dulu baru liat mesin es krimnya terus kamu pilih es krimnya. Itu aku ngirim aneka rasa karena takut kamu bosen kalau cuma ngirim satu atau dua jenis aja.” Terang Nata dengan tenang.
“Iyaa, tapi masa aku tiap hari makan es krim? Yang ada aku sakit perut nanti.” Protes Rachel. Ia melihat ke mesin es krim dan memang ada banyak rasa.
“Jangan dong … makannya di jeda aja. Itu aku kirim banyak supaya kamu gak perlu ajak anak aku keluar kalau mau es krim. Jadi tinggal ngambil aja.”
Uraian Nata membuat Rachel tidak bisa berkata-kata.
“Kata Brandon, kamu suka yang rasa buah yang ada tiga warna itu. Jadi untuk es krim yang itu sengaja aku kirim lebih banyak di banding ya lain. Aku cobain rasanya juga enak, segar di makan lagi panas gini?”
“Mas makan es krim juga?” Rachel jadi penasaran.
“Nyalain kameranya, kita makan es krim bareng.”
“Gak mau. Makan aja sendiri.” Rachel mendengus kesal.
“Ayolah, aku mau makan es krim sama-sama dengan anakku. Boleh yaa….” Nata sampai memohon.
Rachel tidak lantas menjawab, ia menaruh ponselnya di atas kasur lalu keluar kamar.
“Mamah sama kakak ambillah es krim yang kalian mau. Kata mas Nata biar gak gerah. Jangan aneh, dia kadang emang suka random.” Ujar Rachel pada ibu dan kakaknya. Wajahnya masih merona merah.
“Iya, adek makanlah dulu nanti mamah sama kakak juga ngambil.” Sahut Eva.
“Iya, ambilah, gak perlu sungkan.” Rachel mengambil satu es krim rasa buah dan membawanya ke kamar.
Ia menutup pintu kamarnya dan membuat Eva dan Ruby sama-sama tersenyum.
“Ayo kak, kita ikutan makan es krim. Kita bawa juga ke kamar.” Eva menepuk lengan Ruby sambil tersenyum. Ia membaca dengan jelas semua usaha Nata untuk Rachel.
“Kayaknya ada yang berusaha meluluhkan anak mamah yang keras kepala itu ya mah. Capek aku liat dia ngereog mulu.” Ruby ikut menahan senyumnya.
“Gak apa-apa. Kalau masih ada usaha yang bisa dilakukan untuk membuat utuh, kenapa harus dihancurkan?” Eva mengambil satu es krim rasa coklat.
Ruby ikut mengambil satu es krim rasa strawberry.
“Kadang perlu berjarak, untuk saling memahami perasaan satu sama lain.” Timpal Ruby.
Dua wanita itu hanya saling tersenyum dan sama-sama memandangi pintu kamar Rachel. Entahlah, apa Rachel akan bertahan atau goyah dengan keputusannya, mereka hanya bisa menunggu babak selanjutnya hubungan dua orang yang mulai terlihat saling mencintai.
Di dalam sana, Rachel tengah menikmati es krimnya bersama Nata. Tanpa sadar, banyak hal yang mereka bicarakan. Mereka membahas tentang cara berbicara dengan bayi dalam kandungan hingga pilihan makanan homemade atau fortifikasi. Suasana yang tenang dan nyaman membuat mereka leluasa saling berpendapat.
“Gak usah kaku harus makanan homemade. Dari yang aku baca, makanan fortifikasi pun memiliki kandungan gizi yang lebih seimbang.” Ujar Nata di sebrang sana, berbicara melalui sambungan video.
“Iyaa … asal pengenalan teksturenya sesuai umur. Sekarang malah lagi ngetrend ngasih anak makanan finger food gitu loh mas. Kayak artis Nikita Wili. Itu keren banget.” Timpal Rachel.
“Iyaa, tapi pastikan kita udah konsultasi dengan dokter anak, supaya kita dapet panduan yang jelas.”
"Iya, aku jadi gak sabar liat dia tumbuh besar." Rachel mengusap perutnya dengan lembut. Nata sesenang itu mendengar Rachel banyak berbicara. Tanpa sadar, seseru itu obrolan mereka sekarang. Dua orang yang katanya akan berpisah dan memilih bahagia dengan pilihan hidup masing-masing.
****
__ADS_1