
Di teras belakang Rachel dan Ivana tengah menemani Brandon bermain. Berbagai macam mainan terserak di lantai. Di saat yang bersamaan, Ivana juga membaca kontrak kerja Rachel untuk iklan yang akan dibintangi adik iparnya.
“Kontraknya bagus Chel, gak merugikan salah satu pihak.” Itu komentar pertama yang diucapkan Ivana setelah selesai membaca kontrak.
“Kalau iklan layanan masyarakat itu kesannya formal dan biasanya selama program promosi itu masih berlaku di suatu perusahaan, pasti bakalan terus di up. Cuma ya memang royaltinya gak sebesar iklan komersil. Karena pasaran yang mau diambilnya beda.”
“Tapi ini bagus loh, buat batu loncatan. Lagi pula, issue tentang sampah dunia itu sekarang lagi trending, banyak pihak yang lagi melakukan campaign soal isu ini, jadi pasti akan menjadi sorotan banyak pihak. Platform promosinya juga bagus, di situs-situs terkenal kita dan ada satu situs asing.”
“Aku yakin sih ini bakalan sukses kalau pengemasannya bagus.” Urai Ivana dengan detail.
“Iya kak, aku juga pas liat detailnya langsung berasa jadi tim campaign nya, gak cuma sebagai pihak yang di kontrak. Ya aku harap sih, aku bisa ngasih kontribusi lebih buat iklan ini, jadi pesannya bener-bener tersampaikan.” Timpal Rachel penuh harap.
“Itu modal yang bagus Chel, jadi nantinya kamu kerja gak cuma sebatas memenuhi kontrak aja. Ini kan ada situs asing juga, kalau kamu sukses, bisa aja kamu di lirik sama pihak asing. Cuma harus hati-hati, karakter orang berbeda-beda. Bisa aja ada pihak yang cuma mau memanfaatkan.”
“Saran aku sih, selain kamu punya manager, kamu juga harus punya lawyer. Karena semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Mau itu angin sepoi-sepoi ataupun angin ribut.”
“Iya kak, aku juga mikir gitu. Cuma buat masalah lawyer, aku belum ada bayangan apa-apa. Aku kayaknya harus diskusi dulu sama manager aku. Supaya gak salah pilih.”
“Ya, bener itu. Apapun keputusan kamu, bicarakan dulu dengan manager, supaya kalian gak cuma deket secara professional, tapi juga secara personal.”
“Iya kak, makasih sarannya.”
“Sure! Aku bangga sama kamu Chel. Ayo gas, jangan sampe kendor.” Ivana merangkul Rachel dengan hangat. Ia mengusap-usap lengan Rachel untuk menyemangatinya.
Rachel tersenyum mendapat dorongan semangat yang sangat berarti dari Ivana.
"Chel, ngomong-ngomong, kamu kenal sama Calvin gak?" tanya Ivana tiba-tiba.
"Calvin? Yang CEO perusahaan periklanan?" Rachel balik bertanya.
Ivana mengangguk mengiyakan.
"Kenal, cukup kenal. Dia sahabat kak Ruby sejak SMA. Emang kenapa kak?"
Rachel jadi teringat kalau tadi siang ia bertemu Calvin di kantor Nata. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu di kantor suaminya.
"Tadi itu, aku ngundang dia buat ngajak kerjasama bikin iklan cluster yang baru. Orangnya udah dateng tapi sama Nata di suruh nunggu lama banget. Begitu dateng temennya bawa artis, dia langsung mau ketemu. Makanya aku penasaran, apa Nata pernah ketemu Calvin, soalnya Calvin bilang dia kenal sama kamu." Ivana dengan wajah penuh rasa penasarannya.
"Iya, mas Nata pernah ketemu Calvin waktu aku pulang kemaren kak." Aku Rachel.
"Oh pantesan, jadi itu alesannya." Alih-alih marah, Ivana malah tersenyum kecil. Pantas saja Nata uring-uringan saat tahu kalau Ivana mengajak perusahaan Calvin untuk menjadi rekanan.
"Kalau kayak gini, Nata gak profesional. Masa gara-gara Calvin kenal sama kamu, dia gak mau kerjasama sama perusahaannya. Kayak bocah aja."
"Aku sih mendingan kerjasama sama perusahaannya Calvin daripada sama artis banyak gaya si Marsya itu. Kamu inget kan, Marsya yang kemaren ke sini itu. Ikh gedeg banget aku sama perempuan itu. Sok cantik." Gerutu Ivana tidak suka.
Rachel hanya terdiam, sekarang ia paham mengapa Calvin ada di kantor Nata dan mengapa Nata bisa terlihat asyik berbincang dengan orang yang datang bersama Marsya. Rupanya Nata tidak berbohong soal Marsya.
Sedetik kemudian, ia baru teringat kalau ia memberikan paperbag berisi makanan dan cashing ponsel pada Calvin.
"Kak, tadi kakak lama gak ngobrol sama Calvin?" Rachel jadi penasaran dengan nasib barang titipannya.
"Lama lah, orang Nata kan ngejar kamu dulu kan."
__ADS_1
Rachel mengangguk lemah. Ia jadi ingat kesalahpahamannya dengan Nata tadi siang. Setelah kejadian di rooftop, Nata memang mengantarnya hingga mendapatkan taksi di lobby sementara Nata kembali bekerja. Jadi, sudah pasti Calvin menunggu sangat lama.
"Tadi Calvin nitipin paperbag gak kak?" malu-malu Rachel bertanya.
"Iya, ada. Itu juga langsung di ambil sama Nata. Aku minta aja gak boleh. Dia malah sengaja sombong depan Calvin. Udah gitu aku gak tau mereka ngobrol apa. Yang jelas, pas pulang kantor aku liat Nata pake cashing hp gemoy. Hahahahahha... itu dari kamu ya?"
Ivana tertawa terpingkal-pingkal mengingat kelakuan adiknya siang tadi. Ivana melihat jelas kalau Nata seolah ingin menunjukkan kalau semua yang diberikan Rachel adalah miliknya.
"Hehehehe... Iya kak." Rachel jadi tersipu malu. Ia belum melihat ponsel Nata sejak suaminya pulang, entah seperti apa tampilan ponsel Nata memakai cashing couple yang ia beli.
Di tengah obrolan mereka, terdengar suara gaduh dari dapur yang menarik perhatian Rachel dan Ivana.
“Jangan nekad. Kamu bilang kamu butuh kerjaan ini. Kenapa mau pergi sekarang?” suara Tuti terdengar jelas oleh Rachel.
“Ada apa itu kak?” Rachel segera masuk dan memeriksa apa yang terjadi.
“Kayak suara bi Tuti.” Ivana mengekori dari belakang.
Mereka segera menuju dapur, asal suara gaduh itu terdengar.
“Tapi aku mau pulang. Aku gak mau kerja di sini lagi.” Kali ini suara Ima yang terdengar.
“Ada apa ini?” tanya Ivana saat melihat Ima yang menangis sambil membawa tas ransel besar di tangannya. Wajahnya tampak ketakutan terlebih saat Ivana dan Rachel mendekat.
“Ini non, Ima mau pulang katanya. Mau berhenti kerja.” Terang Tuti.
“Kenapa? Kamu dimarahin mamah?” duga Ivana.
“Iyaa, saya tau kamu mau berhenti. Tapi kasih saya alasannya. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat butuh pekerjaan ini? Kenapa sekarang tiba-tiba mau berhenti?” cerca Ivana.
Ima tidak menimpali, ia hanya bisa menangis sesegukan.
“Mba Ima, sini duduk dulu.” Ajak Rachel, yang mendudukkan Ima di kursi yang ada di dapur.
Ragu-ragu Ima duduk di sana. Rachel memperhatikan Ima dengan seksama. Entah mengapa ia merasa kalau Ima bukan gemetar takut pada ia dan Ivana, melainkan hal lain.
“Minum dulu.”
Rachel memberikan segelas air pada Ima untuk menenangkan gadis ini. Ia memperhatikan Ima mulai dari pakaiannya yang robek di bagian bahu, rambutnya yang sedikit berantakan dan isi tas ransel yang terjepit di ujung resleting.
Rachel bisa membayangkan kalau Ima memasukkan barang-barangnya dengan terburu-buru dan gemetaran seperti sekarang.
“Terima kasih non.” Ucap Ima sambil mencengkram gelas kuat-kuat dengan kedua tangannya.
“Sama-sama. Gimana, mba Ima udah mulai tenang?” Rachel kembali bertanya. Ia berusaha tenang walau Ivana terlihat kesal melihat Ima yang meminta izin berhenti.
Ima mengangguk kecil. “Sudah.” Suaranya sudah tidak gemetaran seperti tadi lagi.
“Tuti, kamu temenin dulu Brandon.” Titah Ivana. Ia masih mau membujuk Ima agar tidak berhenti. Karena mencari ART di zaman sekarang sangatlah sulit.
“Baik non.” Tuti pun segera berlalu pergi.
“Kalau udah tenang, mba Ima cerita dong kenapa mau berhenti? Apa ada yang bikin mba Ima gak nyaman?” Rachel bertanya dengan hati-hati.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Ima malah tertunduk dan menangis. “Saya mau pulang non. Saya kangen ibu saya.” Ucapnya terbata-bata.
“Sssttt… iyaaa boleh….” Rachel mengusap-usap bahu Ima untuk menenangkan wanita muda itu.
“Kamu kalau mau pulang dulu, boleh kok. Tapi nanti balik lagi ke sini. Jangan tiba-tiba berhenti kayak sekarang.” Ucap Ivana yang mulai kesal. Pembawaan Ivana dan Rachel memang berbeda.
“Maaf non, tapi saya gak bisa. Saya mau pulang aja.” Ima tetap bersikukuh.
“Kenapa? Apa ada sikap aku atau mamah yang nyakitin kamu?” Ivana masih belum bisa terima.
Ima menggeleng. Ia terus tertunduk tanpa berani menatap Ivana ataupun Rachel.
“Non Ivana dan non Rachel, orang-orang baik. Saya sangat bersyukur bisa bekerja di sini. Nyonya Martha juga walaupun tegas, masih baik sama saya. Tapi, saya udah gak mau kerja lagi. Saya mau nemenin ibu saya aja di kampung.” Tegas Ima tidak bisa di bantah. Sepertinya keputusannya sudah bulat.
“Astagaa….” Gumam Ivana yang mulai migrain. Setelah ini ia sudah pasti harus bertemu dengan ocehan ibunya dan kata-kata perintah yang diberikan Martha pada Rachel.
Tapi apa boleh buat, Ivana pun tidak bisa menahan orang yang sudah tidak mau bekerja dengannya.
“Ya udah, tunggu sebentar. Saya ambilkan dulu gaji terakhir kamu.” Putus Ivana pada akhirnya. Ia pun pergi ke kamarnya untuk mengambil uang.
Hanya tertinggal Rachel dan Ima yang duduk bersisian di kursi. Rachel masih memperhatikan Ima yang takut-takut menatapnya.
“Mba Ima, mba Ima ada yang mau disampaikan ke aku gak sebelum mba Ima pergi?” tanya Rachel hati-hati. Ia merasa ada yang tidak beres dengan keputusan tiba-tiba Ima.
Ima menggeleng kecil. “Saya cuma mau ngucapin makasih sama non Rachel karena non baik banget sama saya. Terima kasih atas perhatian non sama saya. Saya harap, non akan selalu baik-baik saja. Jaga diri non di rumah ini. Maafin saya kalau saya banyak salah.” Ucap Ima sambil tersedu-sedu.
Rachel tidak menimpali. Ia memilih memeluk Ima dengan erat. Gadis muda ini sudah banyak membantunya menjaga Brandon, ia pasti akan banyak kehilangan.
Tanpa sengaja, sudut mata Rachel melihat jejas kebiruan di punggung Ima. Ia sedikit melonggarkan pelukannya dan mengintip ke dalam sela kerah baju Ima. Rupanya selain jejas kebiruan yang menyerupai lebam, ada juga luka tipis di punggung Ima.
Rachel sangat ingin bertanya tapi ia merasa saat ini kondisinya tidak pas. Rachel melerai pelukannya beberapa saat. Ia menatap Ima yang tertunduk dihadapannya.
“Mba Ima, aku boleh minta hp nya mba Ima gak? Siapa tau nanti kita bisa ketemu di luar? Kita ngobrol-ngobrol dan saling bertukar kabar.” Bujuk Rachel.
“Boleh non.” Sahut Ima. Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya. Layar ponsel itu sedikit retak di ujungnya.
Jemarinya yang mungil menekan-nekan keypad dan mencari nomornya sendiri yang tidak ia ingat.
“Ini nomor saya non.” Ima menunjukkan layar ponselnya pada Rachel. Rachel segera mencatat nomor tersebut.
“Makasih ya mba. Aku harap, kalau nanti aku ngehubungi mba Ima, mba Ima masih mau ngobrol sama aku. Itu nomor aku.” Rachel memanggil singkat nomor Ima melalui ponselnya.
“Iya non, makasih.” Ucap Ima yang kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Melihat tubuh Ima yang gemetaran, Rachel melepas cardigan yang dikenakannya lalu memakaikannya pada Ima.
“Mba Ima jangan sampai kedinginan ya.” Pesannya.
“Terima kasih non.” Lagi, hanya ucapan terima kasih yang Ima katakan.
Dan hingga saat ini, Rachel belum mengetahui pasti alasan Ima berhenti bekerja di rumah ini. Entah kondisi apa yang membuat wajah muda yang ceria ini begitu malu dan ketakutan hingga selalu tertunduk. Mungkin suatu saat Rachel bisa mencari tahu dan berharap setelah keluar dari rumah ini, hidup Ima lebih baik lagi.
*****
__ADS_1