
Suara tawa terdengar dari para sosialita wanita lanjut usia yang sedang berkumpul di sebuah café. Ada Martha dan kedua temannya yang sedang menghabiskan waktu di akhir pekan. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu, menatap nanar papan billboard yang menampilkan iklan yang dibintangi oleh Rachel. Wanita yang sudah menjadi menantunya sejak satu tahun lalu.
Meski banyak hal yang berubah dari diri Rachel, entah mengapa tidak ada yang berubah dengan perasaannya. Ia selalu merasa kalau bukan Rachel yang seharusnya menjadi menantunya. Baginya, status sosial ia dan Rachel tetap saja berbeda.
Martha memilih memalingkan wajah dari iklan yang dilihatnya dan memilih meneguk minuman hangat di cangkirnya. Tidak, kopinya sudah dingin karena sedari tadi ia terus melamun.
“Eh kalian liat nih liat, menantuku baru pulang dari jerman. Dia baru selesai kuliah pasca sarjana. Keren kan?” pamer salah satu teman Martha yang merupakan seorang pemilik Yayasan.
“Wah kerennn. Ini menantu yang kata jeng punya klinik sendiri itu?” timpal teman satunya.
“Iya. Aku tuh seneng banget soalnya dia mau bikin satu klinik lagi. Dia kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar di Jakarta. Bangga aku jeng.” Ungkap wanita itu dengan penuh kesungguhan.
“Aduuhhh aku jadi iri. Iyalah pasti bangga, wong dia lahir keluarga yang status sosialnya bagus. Bibit bebet dan bobotnya bagus, jadi pastilah masa depannya cerah.”
“Hahhaha… iya aku gak salah pilih mantu. Udah paling bener waktu itu aku jodohin jadinya masa depan anak dan cucuku terjamin. Cucu-cucuku juga pinter-pinter, nurun dari ibunya. Ahh… masa tuaku bener-bener sempurna jeng.”
“Iyaa, selamat yaaa… kalau mantuku baru lahiran dia udah dapet tawaran kontrak dengan brand baju terkenal. Gak ngerti juga gimana badannya langsung singset padahal baru sebulan lahiran. Terus cucuku yang baru lahir, udah ditawarin iklan. Anakku yang gak setuju, katanya takut dikira exploitasi anak.”
“Padahal kan, ya gak masalah yaa, wong emaknya model terkenal. Udah resiko profesi jadi sorotan, termasuk anaknya. Aku aja udah dua kali masuk ke vlog mantuku. Banyak yang komen kalau aku awet muda.” Satu mertua lainnya tidak ingin kalah dari mertua lainnya. Mereka saling berbagi kebanggan terhadap mantu masing-masing.
Namun tidak begitu dengan Martha. Kejadian semalam, cukup mengguncang jiwanya. Brams yang di tangkap polisi karena tindakan pelecehan dan perlakuan tidak menyenangkan sedangkan Rachel yang hanya wanita biasa-biasa saja. Apa yang bisa Martha banggakan dari dua menantunya itu?
Ia malah takut jika kemudian teman-temannya bertanya tentang keluarganya. Terlebih tentang Brandon.
“Jeng Martha kok diem aja. Lagi gak enak badan apa gimana?” tanya salah satu temannya yang memperhatikan Martha.
Martha tersenyum kecil. “Badanku kurang enak aja, agak greges.” Ungkapnya beralasan.
“Mau pijat gak? Ke tempat anakku yuk!” ajak wanita pemilik spa sekaligus klinik kecantikan.
Martha melihat jam di tangannya, baru jam lima sore. Ia masih enggan untuk pulang.
__ADS_1
“Ayok.” Sahutnya.
“Nah, gitu dong. Ayo kita spa dulu. Aku kasih pelayanan VIP buat kalian, sambil kita ngobrol-ngobrol. Nanti aku kenalin juga sama mantuku satunya. Dia yang punya spa itu. Banyak banget artis yang sering perawatan di sana. Kita foto-foto sama mereka. Okey?” ajak rekan Martha dengan antusias.
Martha hanya tersenyum kecil, tentu ia tidak akan menolaknya.
****
Di sebuah salon kecantikan Martha di sambut dengan baik.
“Wah, terima kasih udah mampir loh tan.” Sambut menantu sahabat Martha yang terlihat cantik walau anaknya sudah tiga.
Martha tersenyum kecil seraya mengangguk. Lagi, kekagumannya muncul saat ia melihat kalau wanita ini adalah wanita yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Dia bahkan memiliki produk cosmetic sendiri yang digandrungi banyak kaum hawa.
“Ini loh nak, temen-temen mamah mau spa, mamah mau yang VIP dong buat mamah sama temen-temen mamah. Bisa?”
“Boleh dong mah. Nanti disiapin dulu sama asistenku ya mah. Mamah duduk dulu. Sekalian aku siapin minum.” Ujar wanita itu. Ia mengangguk sopan sebelum kemudian pergi.
“Makasih loh jeng.”
Di antara perbincangan teman-temannya, Martha hanya terdiam. Lagi, menantu sahabatnya ini memang sangat layak dibanggakan. Salon kecantikannya saja sangat bagus dan berkelas. Banyak selebritis yang mampir.
“Silakan kak, ini totalnya. Semuanya dua ratus tiga puluh delapan juta rupiah.” Ucap seorang kasir yang menarik perhatian Martha.
“Wah gila, sekali nerima pembayaran, bisa beli mobil itu.” Rupanya teman Martha juga menyimak perbincangan dua orang itu.
“Iyaaa, gak kebayang kan sehari berapa yang bisa dikumpulin mantuku? Bisa tembus milyaran loh cuma dari salon kecantikan aja.” Martha semakin dibuat tergiur oleh sahabatnya.
“Tante Martha?” sapa seorang wanita yang tadi bertransaksi di kasir.
Martha langsung menolehnya dan ternyata ia juga mengenalinya.
__ADS_1
“Marsya?” Martha menatap gadis cantik itu tidak percaya.
“Ya ampun tan, apa kabar? Aku gak nyangka loh kita bisa ketemu di sini.” Marsya segera menghampiri dan berpelukan dengan Martha.
“Iyaa, kabar tante baik. Kamu apa kabar?”
“Aku juga baik tan.” Mereka berangkulan dengan akrab.
“Kalian saling kenal?” tanya sahabat Martha.
“Iyaa, kami saling kenal.” Aku Martha dengan bangga.
“Ngomong-ngomong tadi perawatan apa? Kok mantap sekali biayanya.” Satu teman Martha begitu penasaran.
“Oh, itu perawatan bulanan aja tante.”
“Hah, perawatan bulanan sampe hampir seperempat M?” mata wanita itu sampai melotot.
“Iya tante.” Marsya tersenyum kecil.
“Jangan norak! Segitu gak ada apa-apanya buat artis seperti Marsya ini. FTV sama iklannya aja banyak. Itu sih ibarat buat beli bakso doang. Iya kan?” mertua pemilik klinik kecantikan menimpali.
“Iya sih bener juga. Apakagi pake uang sendiri yaa, bukan uang suami.”
“Hehehhe… iya tante. Kebetulan aku juga belum nikah jadi masih membiayai semuanya sendiri.” Entah merendah atau meninggi yang Marsya maksudkan.
“Wah hebat. Kalau tante punya anak laki-laki lajang, pasti tante kenalin. Beruntung banget suami kamu nantinya, punya istri mandiri begini secara finansial.”
Dan obrolan-obrolan itu semakin menambah rasa kagum Martha pada Marsya. Jika ia bandingkan dengan Rachel, tentu menantunya tidak memiliki nilai banding sedikitpun.
****
__ADS_1