
Rumah terlalu sepi saat ini. Tidak banyak aktifitas yang terjadi di rumah ini karena masing-masing sibuk di kamarnya.
Brandon sedang ditemani oleh suster barunya, ia sengaja dibuat berinteraksi lebih banyak dengan susternya agar merasa terbiasa.
Martha ada di kamarnya sedang video call dengan teman-teman sosialitanya sementara Rachel masih di kamarnya. Ia masih memikirkan proses pemeriksaan oleh penyidik juga pertemuannya dengan Tuti yang memberinya kejutan besar dan meringis sedih diwaktu yang bersamaan.
Ia mencatat semua yang terjadi hari ini dalam buku catatannya termasuk soal kabar kehamilan Tuti yang cukup menyita perhatiannya. Ia belum menemukan cara yang tepat untuk menolong Tuti mendapatkan pekerjaan demi menjaga kelangsungan hidup wanita itu dengan bayi dalam kandungannya.
Rasanya menyesakkan menuliskan satu per satu kata yang menggambarkan kondisi Tuti. Wanita iitu pasti sedang sangat kesulitan karena berada pada titik yang direndahkan baik secara mental ataupun keadaan. Rachel bisa membayangkan seperti apa perasaan hancur dan bingung yang dirasakan Tuti saat ini.
Tunggu, mengingat Tuti membuat Rachel jadi sakit perut. Perutnya mendadak tegang dan kepalanya seleyengan. Apa efek trauma memang seperti ini?
Rachel segera mengambil gelas minum di dekat kasurnya lantas meneguknya sedikit demi sedikit hingga tandas.
Perasaannya cukup baik setelah ia menetralisir tubuhnya dengan air mineral. Rasa tegang di perutnya pun sedikit berkurang.
“Rachel, tolong jangan selemah ini. Kamu harus kuat.” Gumam Rachel yang menyemangati dirinya sendiri sambil memegangi perutnya yang tegang.
Rachel sampai membuka reslating celananya karena khawatir terlalu kencang. Beberapa kali ia berusaha mengatur nafasnya agar tubuhnya lebih tenang.
“Tok tok tok!”
Suara ketukan di pintu menyadarkan Rachel yang sedang melakukan inhale dan exhale bergantian. Ia menurunkan bajunya untuk menutupi perutnya lantas beranjak membuka pintu.
Rachel sempatkan untuk melihat jam yang tergantung di dinding. Sudah jam tujuh malam tapi Nata belum juga pulang.
Apa itu Nata? tumben ketuk pintu, pikir Rachel.
Rachel segera membuka pintu dengan senyum terkembang yang berusaha ia tunjukkan.
__ADS_1
“Malem Chel….” Ternyata Ivana yang datang.
“Malem kak. Kakak baru pulang?” Rachel celingukan melihat ke belakang Ivana tapi tidak ada siapapun.
“Iyaaa. Aku mau ngasih tau kalau Nata lembur. Dia ada kerjaan penting dan nitipin ini buat kamu. Kamu belum makan malem kan?” Ivana menyodorkan sebuah keresek pada Rachel.
Bibir Rachel membulat berujar O saat mendengar suaminya lembur dan tidak pulang.
“Belum. Apa ini kak?” dari bentuknya, agak asing.
“Ini sushi. Titipan Nata. Sesuai pesan dia, aku belinya dari tempat favorit kamu. Makan yang banyak ya….” Ucap Ivana dengan senyum terkembang.
Rachel tercenung beberapa saat memandangi keresek yang sekarang berpindah ke tangannya. Lantas ia kembali menatap Ivana, “Makasih kak.” Ucapnya dengan senyum kelu.
“Sama-sama. Aku sengaja nganternya ke kamar kamu, soalnya mamah lagi ada di dapur. Piring sama sendoknya nanti di anterin mba ya.”
“Ya udah, kamu istirahat, pasti capek banget kan hari ini.”
Ivana mengusap-usap lengan Rachel berusaha menguatkan. Dari pengacaranya, ia tahu bagaimana hari ini berjalan dengan berat sampai berhasil dilalui Rachel. Pasti tidaklah mudah. Empat puluh dua pertanyaan itu pasti membuat Rachel lelah dan sedih seperti yang tergambar di wajahnya.
Ya, melihat wajahnya yang sendu walau berusaha tersenyum, membuat Ivana menyempatkan untuk memeluk adik iparnya.
“Terima kasih buat hari ini, Chel.” Bisik Ivana.
“Sama-sama kak.” Timpal Rachel seraya terangguk.
“Okey, selamat malam ya. Mimpi yang indah.” Ucap Ivana sebelum meninggalkan Rachel di depan pintu.
“Kak juga, mimpi yang indah. Sampein kiss aku buat Brandon.” Balasnya sambil melambaikan tangannya pada Ivana yang berjalan santai menuju kamarnya.
__ADS_1
Setelah Ivana pergi, Rachel tersenyum kelu. Bukan pada Ivana tapi pada keresek yang ada di tangannya, yang ia pandangi dengan bingung.
“Permisi nona, saya diminta mengantarkan ini.” Ucap seorang pelayan baru yang membawa alat makan di atas baki.
“Iya, makasih.” Rachel segera mengambil alih dan membawa benda itu masuk.
Dihadapan makanan bernama Sushi ini sekarang Rachel termangu. Ia tidak mengerti, sejak kapan Nata menyimpulkan kalau ia suka sushi. Makanan khas jepang dengan menu ikan mentah ini bukanlah salah satu makanan kesukaannya. Ia juga tidak tahu sejak kapan ia memiliki tempat makan sushi favorit seperti yang dikatakan Nata.
Nata, kenapa dia tidak menghubungi Rachel? Padahal biasanya kalau pulang terlambat saja Nata akan mengiriminya pesan. Tapi kali ini, tidak ada satupun pesan yang masuk ke kotak masuknya apalagi sebuah panggilan.
Menghargai usaha suaminya, Rachel mencoba mencicipi makanan cantik yang ada dihadapannya. Sepotong sushi ia ambil dengan menggunakan sumpit. Beberapa saat ia pandangi sambil menahan nafas lalu ia masukkan ke dalam mulutnya.
Rasanya aneh. Rachel berusaha mengunyahnya tapi entah mengapa bulu kuduknya malah meremang karena mual. Air matanya juga tiba-tiba menetes tanpa bisa ditahan.
“Sama siapa mas ke restoran sushi, aku bahkan belum pernah mencoba makanan ini.” Gumam Rachel, bertanya pada bayangan Nata yang ada dipikirannya.
Sambil sesegukan ia mencoba menelan makanan itu. Tapi bukannya tertelan, makanan ini malah membuatnya mual dan ingin muntah.
“Hemb!” Rachel hampir saja muntah. Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.
“Huweekkk!! Huweekkk!!!” di toilet ia memuntahkan makanan yang ada dimulutnya. Tidak hanya itu, kopi yang tadi ia minum bersama Tuti pun, keluar seluruhnya dari dalam perutnya.
“Akkhh, sakit….” Rachel meringis sambil memegangi perutnya yang kembali terasa tegang. Ia berpegangan pada rak handuk sebagai tempat ia bertumpu.
Susah payah ia memindahkan tubuhnya untuk bersandar pada dinding. Tapi kakinya terlalu lemah sampai akhirnya ia jatuh terduduk di lantai. Rasa senang yang harusnya ia rasakan saat mendapat kiriman makanan dari Nata malah berubah menjadi rasa sedih dan sakit.
Saat ini ia masih menduga-duga, tempat favorit siapa sebenarnya restoran sushi yang di sambangi Ivana?
****
__ADS_1