Menjadi Dia

Menjadi Dia
Kegelisahan


__ADS_3

“Pergi kamu! Saya udah gak mau lagi liat kamu dan semua keluarga kamu. Jangan pernah berpikir kalau saya akan memaafkan laki-laki brengsek itu. Dia harus menebus semua kesalahan yang dia buat selama ini.”


Ucapan Ivana itu masih terdengar jelas oleh Nata saat ia berjalan menuju ruang kerjanya. Ruangan yang selalu bisa membuat dirinya merasa lebih baik.


Ia masuk ke dalam ruangan itu, mengabaikan Rachel yang memandanginya dengan bingung.


“Akh sial!” dengus Nata yang bersandar di belakang pintu yang ia tutup rapat sambil mere.mas kepalanya yang berdenyut nyeri. Tidak ada lagi yang ia dengar selain suara-suara bising yang terus berputar dikepalanya seperti benang kusut.


Ia harus selalu berusaha keras untuk mengendalikan dirinya setiap kali bertemu Marsya. Marsya, wanita cantik yang kerap mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya. Terlebih dengan penampilannya yang seperti tadi.


“Kenapa dia harus datang, kenapa?! Kenapa?!!!!” dengus Nata sambil memukul-mukul kepalanya sendiri yang tidak berhenti memutar kenangan masa lalunya yang menyedihkan.


Terlalu banyak kemiripan antara Marsya dengan wanita masa lalunya, Aruni. Wanita yang kerap membuat dadanya sesak, tubuhnya sakit dan pikirannya kosong.


Banyak kemiripan di antara keduanya. Mulai dari helaian rambutnya yang lurus panjang dan hitam pekat, model baju yang ia gunakan, cara menatapnya yang membuat Nata gundah bahkan suaranya yang terus bergengung di telinga Nata.


“ARRGHH!!!!” Nata mengeram tertahan dalam hati sambil menutup kedua telinganya. Ia berharap suara Aruni hilang dari pendengarannya.


“Aku cinta kamu, Mas. Selamanya.” Bayangan wanita itu muncul kembali di benaknya dengan senyum tipis di bibirnya yang pucat pasi dan mata yang merah serta basah.


“NO! NO! NO!!” layaknya Brandon, Nata memukul-mukul kepalanya sendiri untuk menghilangkan pikiran tentang wanita itu. Ia mencengkram bajunya sendiri kuat-kuat, berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


Tatapan Aruni terlalu lekat hingga ia rasa nyaris tidak bisa bernafas dan berpegangan pada daun pintu.


Dengan tergopoh-gopoh, Nata berjalan menuju meja kerjanya. Ia mencari obat untuk mengatasi serangan panik dan depresinya. Ia mengacak seisi laci yang ada di meja kerjanya tapi yang ia temukan hanyalah sebuah foto.


Foto Aruni, wanita yang dulu, selalu ia puja.


Nata jatuh terduduk menatap wajah wanita itu. Wajah yang hampir selama tiga tahun membuatnya tersiksa hingga depresi.


“Kenapa kamu datang lagi hah? KENAPA?!!!” seru Nata dengan mata menyalak merah dan berair.


“BRAK! BRAK! BRAK!” ia memukul meja kerjanya beberapa kali hingga kepalan tangannya merah. Tubuhnya sampai gemetar menahan perasaannya sendiri.


Susah payah ia berusaha melupakan wanita ini tapi Marsya datang dengan segala kemiripan yang diciptakannya.


Ia mengusap air mata itu dengan kasar. mengingat Aruni memang selalu menjadi kesedihan dan penyesalan terbesarnya. Memikirkan wanita ini selalu berhasil membuat Nata jatuh ke titik terrendahnya.


Pada akhirnya, Nata hanya bisa terduduk di tempatnya. Ia bersandar pada meja yang menjadi satu-satunya sandaran yang ia miliki. Ia belum bisa beranjak dari tempatnya. Kakinya terlalu lemah dan tubuhnya terlalu sakit.


Semua ini terlalu menyiksa ya sangat menyiksa. Entah bagaimana cara ia mengakhiri semua penderitaan ini.


Di kamarnya, Rachel masih duduk termenung di depan meja riasnya. Dua orang yang tadi ada dihadapannya, sungguh membuatnya bingung.

__ADS_1


Nata yang pergi begitu saja setelah menolak permintaan Marsya dengan susah payah dan Marsya yang mengusap air matanya, tapi kemudian ia melihat senyuman samar di bibirnya. Senyuman yang entah berarti apa, saat melihat Nata pergi dengan tergesa-gesa dan perubahan sikapnya.


“Ada apa dengan kalian? Apa kalian memiliki cerita masa lalu?” gumam Rachel, bertanya pada bayangan Nata dan Marsya yang menjadi satu dipikirannya.


Rachel mulai penasaran dengan masa lalu dua orang tadi. Setiap kali ada Marsya, Nata selalu kikuk. Untuk mengusir rasa penasarannya, Rachel mengambil ponselnya dan mencari tahu tentang Marsya. Semua hal tentang Marsya paling mudah ia cari tahu karena wanita itu adalah seorang public figure yang suka memposting segala sesuatu tentang dirinya.


Rachel mengecek semua isi akun media social Marsya. Ia mencari dengan teliti setiap postingan Marsya yang mungkin tertaut dengan Nata. Tapi tidak ada satupun. Mereka berdua bahkan tidak berteman di media social.


Lalu gossip, Rachel mencari semua gossip tentang Marsya. Tentang hubungan percintaannya di masa lalu. Banyak laki-laki yang dikabarkan dekat dengan wanita itu. Mulai dari sesama artis, model, politisi, pengusaha hingga orang biasa.


Tapi tidak ada nama atau inisial Nata yang berada di semua akun gossip itu.


“Akh sial, aku gak nemuin apa-apa.” Gumam Rachel dengan penuh sesal. Harusnya ia senang bukan? Tapi mengapa perasaannya semakin tidak menentu.


Ia sudah mencari banyak hal hingga membuat ponselnya panas. Tapi hanya di akun Marsya melainkan juga Nata. Tidak ada hal yang menunjukkan Nata dan Marsya punya hubungan di masa lalu.


Rachel kemudian termenung. Ia memikirkan kembali apa yang dilakukannya beberapa saat lalu.


“Rachel, kenapa kamu gak percaya sama suami sendiri? Kenapa kamu hanya menggunakan prasangka untuk menebak apa yang mungkin ada di antara mereka?” Rachel bertanya pada dirinya sendiri, dirinya yang ia pandangi di depan kaca.


Bagaimana mungkin Rachel tidak menemukan apa-apa padahal beberapa waktu lalu ia dengan jelas mendengar dari mulut Ivana kalau suaminya pernah terpuruk oleh seorang wanita.

__ADS_1


Apakah itu Marsya?


*****


__ADS_2