Menjadi Dia

Menjadi Dia
25. Dalang Korupsi


__ADS_3

Darlen dan putra masuk ke ruangan Anand bersama-sama, dengan wajah yang nampak serius.


"Ri, kami menemukan siapa yang telah menjebak kamu di klub malam. Tapi kami tidak tahu siapa saja yang berkomplot dengan nya. Lihatlah ini!"ujar Putra seraya menyerahkan sebuah berkas kepada Anand.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Putra, Anand nampak mengernyitkan keningnya setelah membaca berkas yang baru diberikan oleh Putra.


"Aku memang sudah mencurigai bahwa manager keuangan korupsi. Lalu apa hubungannya dengan kejadian di klub malam?"tanya Anand setelah membaca berkas dari Putra yang isinya tentang bukti-bukti tindakan korupsi yang dilakukan oleh manager keuangan.


"Aku rasa dia mengantispasi, mencari jalan keluar karena merasa kasus korupsi yang dilakukannya sudah mulai terendus,"jawab Putra kemudian menatap Darlen,"Jelaskan, Len!"titah Putra.


"Wanita muda yang ada di klub malam itu adalah putri manajer keuangan. Setelah kami selidiki lebih lanjut, manager keuangan sengaja ingin menjerat tuan dengan putrinya agar bisa menjadikan putrinya sebagai tameng agar bisa lolos dari kasus korupsi nya. Jika putrinya bisa tidur dengan anda, dia bisa menggunakan itu untuk mengancam anda untuk meloloskan diri dari tuntutan kasus korupsi yang dilakukannya,"ujar Darlen.


"Plak"Anand membanting berkas yang membuktikan manager keuangan telah melakukan korupsi.


"Menjijikan sekali. Jika tidak ada kalian, hampir saja aku mengkhianati istri ku. Entah bagaimana jadinya hubungan ku dan istri ku jika rencana mereka sampai berhasil,"gumam Anand dengan wajah suram. Anand tidak dapat membayangkan jika sampai dirinya meniduri wanita lain dan diketahui oleh Rindy. Padahal hubungan nya dan Rindy baru menunjukkan perkembangan yang lebih baik.


"Tapi aku rasa masalah ini tidak lah simpel. Aku rasa anak dan ayah ini tidak bekerja sendirian. Ada orang lain yang membantu mereka di klub malam,"ujar Putra menganalisis masalah.


"Maaf, Tuan. Tapi saya curiga dengan Tuan Ringgo dan klien yang anda temui di klub malam itu,"ujar Darlen mengemukakan pendapat.


"Aku sependapat dengan Darlen. Rasanya aneh, ingin berbicara soal bisnis tapi di tempat hiburan malam,"timpal Putra.


"Aku juga merasa seperti itu, rasanya aneh jika bicara soal bisnis di klub malam,"sahut Anand.


"Untung saja kami mengawasi mu, kalau tidak, mungkin Rindy akan menggugat cerai jika kamu ketahuan tidur dengan wanita lain,"ujar Putra.

__ADS_1


"Aku rasa ada yang tidak beres dengan softdrink pemberian klien kita yang aku minum itu. Karena setelah minum softdrink itu, kepalaku terasa sakit dan berhalusinasi melihat Rindy di klub malam itu, bahkan aku merasa pulang bersamanya,"ujar Anand yang sependapat dengan Putra dan Darlen.


"Waktu itu kamu berhalusinasi, kamu hampir saja mengambil ciuman pertama ku. Jika waktu itu aku kehilangan ciuman pertama ku gara-gara kamu, aku pasti akan menghajar mu sampai babak belur,"ujar Putra yang menjadi kesal saat mengingat kejadian waktu itu.


"Ah, sudahlah! Sekarang, sebaiknya kalian bawa manager keuangan itu ke hadapan ku,"titah Anand yang merasa kesal. Jebakan itu membuat Anand tanpa sengaja telah menyakiti Rindy Sebab Anand jadi menggauli istrinya dengan kasar karena pengaruh obat yang mereka berikan untuknya itu.


Tak lama kemudian, Putra telah membawa manager keuangan ke dalam ruangan Anand.


"Ada apa Presdir memanggil saya?"tanya manager keuangan yang bernama Wangsa itu berusaha bersikap tenang. Sejatinya pria paruh baya itu sudah mempunyai firasat yang tidak baik karena tahu dari putrinya jika rencana mereka gagal.


"Katakan! Siapa saja orang yang membantu anda menjebak saya di klub malam?"tanya Anand dengan tatapan dingin dan tajam pada Wangsa.


"Menjebak anda? Apa maksud Presdir?"tanya Wangsa pura-pura tidak mengerti.


"Tidak usah pura-pura tidak tahu. Anda telah melakukan korupsi dan berusaha menjebak saya dengan putri anda. Ini bukti-bukti bahwa anda telah melakukan korupsi,"Anand melempar bukti-bukti korupsi yang dilakukan oleh Wangsa di depan pria paruh baya itu.


"Ternyata Presdir sudah tahu,"ucap Wangsa tersenyum kecut,"Tidak ada yang berkomplot dengan saya. Saya melakukan nya sendiri,"ucap Wangsa yang terlihat tenang, karena sudah tahu bahwa cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Melarikan diri pun percuma, karena uang hasil dari korupsi sudah hampir habis.


"Saya akan mempertimbangkan masa kerja anda yang sudah lama mengabdi di perusahaan ini, jika anda mengatakan siapa saja yang berkomplot dengan anda untuk korupsi,"ucap Anand dengan nada yang terdengar datar.


"Tidak ada yang berkomplot dengan saya, Presdir. Saya yang merencanakan semuanya sendiri,"ucap Wangsa yang menutupi siapa yang telah berkomplot dengan nya.


Ringgo telah mengancam Wangsa agar tidak membawa namanya saat Wangsa ketahuan melakukan korupsi. Dan Wangsa tahu, Ringgo bisa melakukan apapun pada keluarganya, jika Wangsa sampai menyeret nama Ringgo dalam kasus korupsi itu. Walaupun sebenarnya Ringgo lah yang mengajak Wangsa untuk melakukan korupsi.


"Jika anda tidak mengatakan dengan siapa anda berkomplot, saya tidak akan mempertimbangkan pengabdian anda di Barata grup selama ini,"tegas Anand.

__ADS_1


"Saya tidak berkomplot dengan siapapun, Presdir,"sahut Wangsa keukeh pada pendiriannya.


"𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙍𝙞𝙣𝙜𝙜𝙤 𝙗𝙧𝙚𝙣𝙜𝙨𝙚𝙚𝙠 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞 𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙗𝙪𝙧. 𝙎𝙚𝙖𝙣𝙙𝙖𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙞𝙪𝙧 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙟𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙍𝙞𝙣𝙜𝙜𝙤, 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞,"gumam Wangsa dalam hati.


Dulu Ringgo meyakinkan Wangsa jika Ringgo lah yang akan menggantikan Pramana sebagai CEO di Barata grup dan menjamin bawah tindakan korupsi mereka tidak akan terendus. Bahkan saat Anand yang menggantikan Pramana sebagai CEO, Ringgo meyakinkan Wangsa bawah mereka akan tetap aman.


Ringgo mengatakan bahwa Anand tidak mengerti soal bisnis, dan sama sekali tidak punya pengalaman dalam berbisnis. Bahkan mengatakan jika Anand hanya anak manja yang hanya bisa berfoya-foya dan bermain wanita. Karena itu Wangsa tetap merasa aman saat Anand menjabat sebagai CEO.


Namun siapa sangka jika apa yang dikatakan oleh Ringgo itu tidak benar. Nyatanya Anand malah jauh lebih cerdas dan lebih teliti dari Pramana. Cara kerjanya pun cepat dan nampak sangat berpengalaman. Wangsa yakin, di bawah kepemimpinan Anand, Barata grup akan semakin berjaya.


"Baiklah, jika anda ingin menanggung semua ini sendirian,"ucap Anand kemudian memberi isyarat pada Darlen.


Darlen keluar dari ruangan itu dan tak lama kemudian datang bersama dua orang polisi. Anand menyerahkan bukti-bukti tidak korupsi yang dilakukan oleh Wangsa pada kedua polisi itu, dan Wangsa pun akhirnya di bawa polisi.


"Kenapa dia begitu keukeh melindungi orang-orang yang berkomplot dengan nya?"gumam Anand yang masih bisa didengar oleh Putra dan Darlen.


"Aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa, dalang sebenarnya dalam kasus ini adalah Ringgo,"ujar Putra.


"Maaf, Tuan! Tapi saya juga sependapat dengan Putra,"sahut Darlen. Darlen juga sangat yakin jika Ringgo lah dalang dari kasus korupsi itu. Bahkan Darlen curiga jika yang menjebak dia hingga masuk penjara dulu adalah Ringgo.


Bukan tanpa alasan Darlen mencurigai Ringgo. Dari dulu Ringgo nampak tidak suka dengan kehadiran Darlen yang selalu berusaha untuk menjauhkan Anand dari hal-hal yang berbau negatif seperti ke klub malam, minum minuman keras dan juga bermain wanita.Darlen merasa bahwa Ringgo sengaja menjerumuskan Anand ke hal-hal negatif itu agar Anand malas untuk mengurus perusahaan dan Ringgo bisa menggantikan Pramana sebagai CEO Barata grup.


"Aku juga yakin jika Ringgo lah dalang dari kasus korupsi ini. Tapi kita tidak punya bukti apapun yang bisa membuktikan bahwa Ringgo terlibat dalam kasus ini,"sahut Anand menghela napas panjang.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2