
"Anand!"sapa seorang wanita cantik tersenyum lebar seraya menepuk pundak Anand dan memegang lengan Anand, tapi langsung ditepis oleh Anand.
Rindy menghentikan gerakan tangannya yang akan menyendok makanannya, menatap wanita yang menyapa Anand. Sedangkan Anand mengernyitkan keningnya menatap wanita yang baru saja menepuk pundaknya dan memegang lengannya.
"𝙎𝙞𝙖𝙡! 𝙈𝙖𝙪 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙪𝙣𝙩𝙞𝙡𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙞? 𝘽𝙖𝙧𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙢𝙖𝙪 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪, 𝙠𝙪𝙣𝙩𝙞𝙡𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪. 𝙎𝙞 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙪𝙨𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪,"gerutu Rio yang berwujud Anand di dalam hati.
"𝙒𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙣𝙖𝙥𝙨𝙪 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙪 𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜,"gumam Rindy dalam hati. Tadinya Rindy sangat bersemangat menikmati hidangan yang sudah mereka pesan. Namun selera makannya langsung hilang saat melihat seorang wanita menepuk pundak dan memegang lengan Anand dengan mesra.
"Kamu benar-benar Anand, 'kan? Kamu tambah tampan saja. Kok, nomor kamu nggak aktif lagi?"cerocos wanita itu yang malah duduk di sebelah Anand. Sedangkan Rindy yang duduk berhadapan dengan Anand hanya diam seraya mengacak-acak makanya.
"Bisa kamu pergi dari sini? Kamu mengganggu acara makan malam ku,"ucap Anand yang terdengar dingin, merasa kesal pada wanita itu, apalagi saat melihat Rindy hanya mengacak-acak makanannya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu tidak ingat dengan malam yang pernah kita habiskan bersama?"ucap wanita itu dengan wajah dan nada suara yang dibuat begitu menggoda, tapi melirik sinis ke arah Rindy.
"Pergi dari sini!"ucap Anand masih dengan suara dingin nya.
"Anand, aku tidak akan pernah melupakan semua yang pernah kita lalui bersama,"ucap wanita itu membuat Rindy menjadi tidak betah berada di tempat itu.
"Diam!"ucap Anand dengan suara rendah tapi penuh penekanan, menahan emosi, memegang erat sendok dan garpu di tangan nya dan menggertakkan giginya.
"Anand..."
"Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan? Pergi dari hadapanku sekarang! Atau kamu ingin aku menghancurkan usaha orang tuamu dan membuat kalian tinggal di jalanan?"ucap Anand memotong kata-kata wanita itu dengan tatapan tajam mengintimidasi dan suara berat yang terdengar begitu dingin. Rahangnya nampak mengeras.
Mendengar peringatan Anand yang nampak serius dan ekspresi Anand yang nampak sangat marah itu, dengan berat hati, wanita itu pun pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Anand menarik napas panjang untuk menurunkan amarah nya, kemudian berusaha untuk tersenyum kepada Rindy,"Sayang, apa kamu ingin memesan yang baru? Atau mungkin ingin mencoba menu yang lain?'tanya Anand lembut dengan seulas senyum di bibirnya. Menatap makanan yang baru dimakan sedikit oleh Rindy dan selebihnya hanya di acak-acak oleh Rindy.
"Tidak usah! Aku ingin pulang. Aku sudah tidak berselera makan lagi,"ucap Rindy datar. Rindy memang sudah kehilangan napsu makannya. Rindy bangkit dari duduknya, kemudian berjalan meninggalkan meja itu.
"Sayang!"Anand mengeluarkan beberapa lembar uang di meja itu kemudian segera menyusul Rindy.
"Sayang!"panggil Anand lagi, langsung memegang tangan Rindy yang berhasil di kejarnya,"Kamu tunggu di sini! Aku akan mengambil mobil,"ucap Anand kemudian bergegas berlari ke parkiran.
Anand masuk ke dalam mobil nya, sambil melihat Rindy. Sedangkan Rindy yang merasa kesal pun tidak mendengarkan apa kata Anand dan malah masuk ke dalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Anand yang melihat itu pun langsung mengejar taksi yang ditumpangi Rindy.
"Shitt! Baru saja Rindy mau bicara dengan aku. Sekarang Rindy malah marah lagi padaku. Awas saja, akan aku buat perhitungan dengan perempuan jal*ng itu,"gerutu Anand sambil mengejar taksi yang ditumpangi oleh Rindy.
Sedangkan Rindy yang berada di dalam taksi nampak menghapus air mata yang tidak bisa dibendungnya. Walaupun Rindy tahu reputasi buruk suaminya sebagai seorang Casanova yang suka bergonta-ganti pasangan, tapi entah mengapa Rindy merasa kecewa saat bertemu dengan wanita yang pernah menghangatkan ranjang suaminya.
Anand melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, kemudian setelah berhasil mendahului taksi yang ditumpangi oleh Rindy, Anand langsung memotong jalan depan taksi yang ditumpangi Rindy, mengadang taksi itu hingga taksi itu mengerem mendadak.
"Neng, nggak apa-apa, 'kan?"tanya sang supir taksi yang juga terkejut karena tiba-tiba dihadang oleh mobil Anand.
"Tidak apa-apa, Pak,"sahut Rindy pada supir taksi paruh baya itu,"Kenapa mengerem mendadak, Pak?"tanya Rindy yang dari tadi melamun.
"Kita dihadang, neng. Lihat itu! Orang yang menghadang kita sedang berjalan kemari,"ucap supir taksi itu seraya menunjuk ke depan.
Rindy terkejut saat melihat Anand berjalan menghampiri taksi yang ditumpangi oleh nya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Anand mengetuk kaca mobil bagian pengemudi dengan tidak sabar. Mau tidak mau, supir itu pun membuka kaca mobilnya, walaupun merasa agak takut karena saat ini mereka berhenti di jalan yang tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi. Supir taksi itu takut jika Anand akan bermaksud jahat.
"Pak, maaf atas tindakan saya. Ini ongkos taksi istri saya. Saya ingin membawa istri saya pulang,"ucap Anand seraya mengulurkan tiga lembar uang berwarna merah kepada supir taksi itu.
Supir taksi itu tidak menjawab pertanyaan Anand, apalagi menerima uang yang diberikan oleh Anand. Pria paruh baya itu malah menoleh ke belakang, ke arah Rindy.
"Sayang, turun lah! Jika kamu tidak mau turun, aku akan menggendong kamu turun dari taksi ini,"ucap Anand bersungguh-sungguh.
Dengan wajah ditekuk, Rindy keluar dari taksi itu, dan bergegas berjalan menuju mobil Anand.
"Maaf, ya, Pak,"ucap Anand seraya meraih tangan supir taksi itu kemudian meletakkan tiga buah lembar kertas berwarna merah di telapak tangan pria paruh baya itu, kemudian bergegas melangkah menuju mobilnya tanpa menunggu jawaban dari sang supir taksi.
"Pasangan muda jaman sekarang, sedikit-sedikit bertengkar. Pas pacaran saja mesra nya nggak ketulungan. Sampai bikin orang yang melihatnya malu. Pas udah nikah, malah kayak anj*ng dan kucing,"gumam sang supir taksi, geleng-geleng kepala seraya mulai melajukan taksinya karena Anand juga sudah melajukan mobilnya.
Sementara itu, Rindy yang berada di dalam mobil Anand nampak memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil dengan wajah yang masih ditekuk. Anand hanya bisa menghela napas panjang dan berusaha bersabar menghadapi ibu hamil di samping nya itu.
Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut ke duanya. Rindy yang merasa kesal, dan Anand yang sibuk merangkai kata yang kira-kira bisa digunakan untuk membujuk istrinya nanti.
Rindy nampak mengernyitkan keningnya saat melihat jalanan yang mereka lalui bukan ke arah rumah kedua orang tuanya ataupun ke rumah mertuanya.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
.
To be continued