Menjadi Dia

Menjadi Dia
Menikmati kegalauan


__ADS_3

Berjalan dengan jarak yang cukup jauh sambil menikmati es krim di tangannya, ternyata membuat perasaan Rachel jauh lebih baik. Selama lebih dari satu tahun, ia lebih banyak berdiam diri di rumah. Mengurus rumah tangganya dan tentu saja mengurus Brandon.


Memang tidak menyiksanya namun ada kewajiban yang membuat ia sering lupa memberi hak pada dirinya sendiri. Ia sering tidak sempat memanjakan dirinya sendiri. Waktu dua puluh empat jam terasa begitu pendek dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk dan tidak ada habisnya.


Hari ini, ia seperti keluar dari sangkar emas dengan sebenarnya. Ia bisa melakukan hal apapun yang sebenarnya random.


Makan mie instans di mini market yang ia seruput sampai habis dengan airnya, makan es krim sambil berjalan, duduk di halte menghitung jumlah kendaraan berwarna merah muda yang ia temui, menyebrang jalan bersamaan dengan orang lain dan hal lainnya yang ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya.


Sebelum menikah, Rachel memang seseorang yang random dan spontan tapi ia selalu fokus saat mengerjakan sesuatu. Terkadang kita memang perlu bertingkah gila untuk menunjukkan kenormalan kita.


Itu yang ada dipikirannya saat ini. Dan hal ini juga yang membuat Rachel mulai mengenali lagi dirinya sendiri.


Melihat jam di tangan dan hanya sekitar satu jam lagi sampai ia akan memulai proses syuting. Ia beranjak dari tempat duduknya di sebuah balkon café yang semula ia ongkang-ongkang kaki di sana. Ia sempatkan untuk menyeruput jus kiwi kesukaannya sebelum ia benar-benar pergi dengan menggunakan taksi.


“Astaga! Kamu Rachel?!” tanya Fany saat melihat seorang wanita bermasker dan bertopi masuk ke ruang make up.


“Hehehe… iya kak.” Sahut Rachel sambil menaruh ranselnya di atas bangku panjang. Ia melepas satu per satu benda yang menutupi identitasnya. Masker, topi dan jaket bomber.


“Kamu darimana? Kok tertutup banget gini?” Fany segera mendekat, memperhatikan Rachel dari atas sampai bawah.


“Ini juga, kenapa bawa ransel gede begini?” Fany menepuk ransel milik Rachel.


“Hehehehe … aku mau staycation kak.” Sahutnya asal.


Tapi sungguh, Rachel memang berencana tinggal di hotel untuk beberapa hari sampai ia menemukan cara untuk menjelaskan kondisinya pada Eva dan Ruby. Dua orang itu pasti akan terluka saat tahu Rachel pergi dari rumah suaminya.

__ADS_1


"Sendiri?"


Rachel mengangguk yakin.


“Mau staycation dimana? Mau aku temenin gak?” tanpa di duga Fany tertarik mendengar kata staycation. Lebih tepatnya, khawatir.


“Boleh. Aku sebenarnya belum ada ide. Kakak punya referensi gak?” Rachel balik bertanya.


“Beneran?” Mata Fany membulat tidak percaya mendengar Rachel mengiyakan ajakannya. Tentu saja Rachel mengangguk karena ia pun tidak mau kesepian sendiri di tempat yang asing.


“Okey! Gimana kalau ke Bogor? Banyak tempat yang bagus di sana dan gak jauh dari Jakarta.” Saran Fany.


“Eemm ada rekomendasi tempatnya gak?”


“Wait, aku punya wishlist, kita liat siapa tau ada yang cocok buat kamu.”


Dua wanita itu mulai sibuk dengan ponsel Fany. Fany menunjukkan beberapa referensi tempat wisata yang menarik dan tampak menyenangkan.


“Mau yang ada permainan atau cuma buat tiduran seharian aja?”


“Em, kalau ada aku mau yang ada kegiatan berkudanya. Dulu waktu kuliah aku pernah berkuda sama temenku di jogja dan seru banget. Kayaknya seru kalau di ulang.” Entah darimana asal ide gila itu.


“Okey, kita ke tempat ini. Mau?” tawar Fany menunjukkan sebuah penginapan dengan tempat wisata yang menantang adrenaline salah satunya berkuda.


“Yuk gas!! Gimana kalau kita berangkat sore ini?” Rachel langsung bersemangat.

__ADS_1


“Kamu serius?” mata Fany melotot tidak percaya.


“Serius lah! Kita gak ada agenda lagi kan setelah syuting nanti?”


“Ada, bahas soal tawaran iklan parfum. Tapi kita bisa bahas di sana. Kamu gak keberatan kan?”


“Nggak!”


“Sip kalau gitu. Aku akan minta orang rumah buat packing dan di anter ke sini. Aku juga mau reservasi biar tempatnya ready pas kita nyampe."


"Sekarang kamu siap-siap dulu. Mandi, ganti baju dan nanti make up.” Fany menarik tangan Rachel untuk bangkit.


“Aduuhhh malesnyaa mandii ….” Keluh Rachel sambil tetap beranjak. Ia ingat pada tujuannya untuk hidup mandiri dengan uang yang ia hasilkan sendiri.


“Semangat dong. Kan kita mau staycation.” Fany berusaha menyemangati.


“Iyaak, semangat demi cuan dan mental yang sehat!” Rachel mengangkat tangannya ke udara.


“Semangaaattt!!!” balas Fany.


“Hahahahaha ….” Mereka tertawa bersamaan.


Rachelpun masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sementara Fany masih memandangi arah berlalu Rachel sambil berpikir, tumben Rachel langsung setuju bepergian tanpa sibuk-sibuk meminta izin suaminya terlebih dahulu.


Lalu ransel besar ini, benarkah hanya untuk staycation?

__ADS_1


Apa Rachel baik-baik saja?


****


__ADS_2