
Menjelang pulang dari hotel, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar. Nata yang beranjak lebih dulu dan membuka pintu. Rachel yang sedang berkemas hanya memperhatikan dari arah tempat tidur saat suaminya menerima sebuah papperbag dari orang tersebut.
“Siapa Mas?” tanya Rachel yang penasaran.
“Riki, assistantku.” Sahutnya.
Rachel hanya membulatkan mulutnya berucap O sambil mengangguk. Ia melanjutkan pekerjaannya sementara Nata berjalan menuju sofa dan mulai sibuk dengan benda dari dalam paperbag itu.
“Sini hp kamu.” Pinta Nata.
“Hp?” Rachel menatap Nata tidak mengerti.
“Ponsel, mobile phone, gawai atau apalah namanya.” Cetus Nata dengan cepat. Bagaimana bisa ia menyebutkan semua sinonim dari benda pipih itu.
"Okey, okey." Rachel segera menutup travel bag yang memuat pakaiannya juga Nata. Ia mengambil ponselnya dan memberikannya pada Nata. Ia tidak mau suaminya keburu marah dan bersikap lebih dingin dari ini.
“Ini mas.” Sambil memperhatikan apa yang sedang dilakukan Nata.
Rupanya Nata sedang mengecek sebuah ponsel baru.
“Mas beli hp baru?” Rachel penasaran.
“Hp kamu jelek, perlu di ganti.” Timpal Nata dengan tegas.
“Tapi, hp aku masih bagus mas. Itu hp yang aku beli dari honor gadis sampul di kampus. Ada banyak data juga di dalamnya.” Rachel segera duduk di hadapan Nata. Dengan wajah cemas ia memandangi ponselnya.
“Aku tidak bilang akan menghapus datamu. Apa password email kamu?” Nata menatap Rachel dengan serius.
“Aku ketik aja.” Rachel meminta handphone-nya pada Nata.
“Sebut aja.” Nata enggan memberikan ponsel Rachel.
__ADS_1
“Aku ketik aja. Aku malu soalnya ngomongnya.”
“Sebut.” Paksa Nata.
“Tapi nanti mas typo lagi. Kalo salah tiga kali kan bahaya.” Bujuk Rachel.
“Sebut.” Nata bersikukuh enggan memberikan ponsel Rachel. Menatap Rachel dengan tajam.
“Mas Ihhhh...” Rachel merajuk kesal dengan bibir mengerucut, membuat Nata harus menelan salivanya kasar-kasar karena gemas.
“Sebut.” Lihat, laki-laki ini ketagihan menggoda Rachel.
“Ya udah.” Akhirnya Rachel menyerah. Mana bisa ia menang dari Nata.
“A besar, k kecil, o e. C besar, h a n t i e x. Semuanya huruf kecil.” Ujar Rachel dengan wajah memerah karena malu.
“Alay sekali.” Komentar Nata yang sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak.
Nata tidak bergeming, ia hanya tertawa dalam hati. Rasanya ia ingin mencomot bibir Rachel yang mengerucut gemas.
“Lanjutin sana beres-beresnya.” Titah Nata kemudian.
“Hem, ya udah... tapi data aku jangan ilang ya mas.” Pinta Rachel dengan sungguh.
"Packing saja dengan rapi." Benar kan, Nata sulit di debat.
Akhirnya Rachel menyerah. Ia melanjutkan untuk merapikan barang-barang yang ia bawa pulang. Pakaian kotor ia pisahkan dengan beberapa baju baru yang dibelikan Nata.
"Kita beli apa buat Brandon?" tiba-tiba saja Rachel teringat pada anak kecil itu. Anak kecil yang tampan dan istimewa.
Nata tidak menimpali, ia masih sibuk dengan dua ponsel di tangannya.
__ADS_1
"Apa beli mainan aja?" lagi Rachel bertanya dan Nata hanya terdiam, membuat Rachel megerucutkan bibirnya kesal.
"Kemarilah, rekam face id dulu." Nata memanggil rachel mendekat.
Dengan langkah malas Rachel menghampiri suaminya. Tadi saja ia dipanggil Rachel tidak menyahuti tapi giliran tidak di panggiil, malah bersuara. Nata memang selalu sepihak.
Rachel melakukan perekaman face id, lalu di lanjut dengan Nata. "Kalau kayak gini, kita gak ada privacy dong mas?" cetus Rachel penasaran bertanya.
"Memangnya apa yang kamu sembunyikan? Peternakan buaya?" sinis Nata.
"Iihh mas Nata, mana ada aku punya peternakan buaya. Mas kali yang punya koleksi burung merpati." Timpal Rachel yang menunggu respon Nata. Seperti biasa laki-laki itu hanya terdiam, tidak menimpali. Rachel yang semula tersenyum menggoda akhirnya terpaksa mengatupkan mulutnya masam.
"Nih, cobalah." Nata memberikan benda pipih itu pada Rachel.
"Wah, bagus bangeett... Cashingnya kita kembaran yuk mas? Kan hp nya samaan, cuma beda warna aja." Goda Rachel. Entah mengapa ia ingin sekali membalas suaminya dengan mengerjainya.
"Mana cashback nya?" pinta Nata.
"Cash back apa? Kan mas yang beli bukan aku. Lagian cashback hape biasanya kalo kita beli creadit. Soalnya itu buat mengimbangi bunga cicilan yang kita bayar." Cicit Rachel.
"Tidak perlu mengajariku. Mana cash backnya?" Nata menengadahkan tangannya pada Rachel. Rachel sadar kalau Nata sedang menyindirnya.
"Hehehe itu sih bukan cashback tapi ucapan terima kasih. Mas nagih aku bilang makasih kan? Pake istilah cashback segala." Ledek Rachel sambil sesekali melirik Nata yang hanya terdiam.
Rachel memutuskan untuk mendekat pada Nata. Ia hendak memberi ciuman terima kasih di pipi suaminya. Tapi baru beberapa senti ia mendekat dan nyari mengenai pipi Nata, Nata malah menoleh. Alhasil, yang bertemu adalah bibir Rachel dengan bibir Nata.
Mata Rachel langsung membulat saat bibirnya yang mengecurut menyentuh bibir Nata. Untuk beberapa saat Rachel seperti tersihir oleh netra pekat Nata sampai kemudian ia segera tersadar dan menarik tubuhnya. Sayangnya ia terlambat. Nata sudah lebih dulu menarik tengkuk Rachel dan melanjutkan apa yang tadi dimulai Rachel.
Ia begitu menikmati mengecupi bibir Rachel dan sesekali mel.umatnya. Rachel hanya bisa menerima begitu saja serangan tiba-tiba Nata yang terasa begitu intens dalam dua hari ini.
Ada apa dengan Nata sebenarnya?
__ADS_1
****