
Rachel dihadapkan pada empat puluh dua butir pertanyaan yang baru selesai ia jawab. Posisinya saat ini adalah sebagai saksi dan korban. Hal itu membuat ia harus mengingat kembali kejadian menakutkan yang ia alami beberapa waktu lalu.
Beberapa kali ia dibuat merinding oleh pertanyaan penyidik yang menurutnya sangat menakutkan dan memojokkan. Tapi apa boleh buat, kasusnya saat ini adalah tentang pelecehan dan itu membuatnya ngeri-ngeri sedap saat membicarakannya kembali.
“Hey Rachel! Dia Rachel bukan?!” tanya sebuah suara yang memanggil Rachel dari belakang.
Tentu saja, Rachel mengenal suara laki-laki itu.
Suara laki-laki yang berpakaian seorang tahanan dengan borgol di tangannya dan polisi yang berada di sisi kiri dan kanannya.
"Benar! Dia Rachel-ku." Serunya dengan girang.
Rachel segera memalingkan wajahnya saat Brams mencoba menatap wajah cantiknya. Baru saja ia mengulang ingatannya yang menakutkan, laki-laki ini malah melintas hendak pergi ke ruang pemeriksaan.
“Rachel, jodoh emang gak kemana. Aku di sini aja kita masih ketemu."
"Tapi, kenapa kamu menolakku? Aku sangat menyukaimu!"
"Biar aku beritahu, sia-sia kamu hidup bersama Nata. Kamu gak akan pernah mendapatkan cinta sebesar yang bisa aku berikan sama kamu. Waktumu hanya akan sia-sia mendampingi laki-laki itu. Kamu bahkan belum pernah mendengar dia mengatakan cinta kan?” sambil berjalan Brams terus berbicara pada Rachel.
“DIAM!” seru petugas kepolisian sambil memalingkan wajah Brams.
“Diam apanya?! Dia wanitaku. Dia sangat cantik dan seksi. Mana mungkin aku melepaskan kesempatan untuk menyapanya?!” timpal Brams pada petugas kepolisian.
Dua polisi itu tidak menanggapi, melainkan langsung menarik paksa tubuh Brams untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
“Anda baik-baik saja nona?” tanya pengacara Ivana.
Rachel hanya menghembuskan nafasnya kasar. Tentu saja ia tidak baik-baik aja.
“Hem,” tapi kebohongan itu yang kemudian menjadi jawaban Rachel.
__ADS_1
Keluar dari ruang pemeriksaan, tanpa sengaja ia melihat seorang wanita keluar dari ruangan yang berbeda. Ia juga baru selesai diperiksa oleh penyidik.
Adalah Tuti yang berdiri mematung di mulut pintu sana lalu mengangguk sopan pada mantan nona mudanya.
Rachel tersenyum kecil, berusaha membalas sapaan Tuti. Rupanya kengerian mengingat kembali kejadian itu tidak hanya milik Rachel. Tuti pun dipaksa untuk mengungkapkan semuanya. Rachel masih melihat mata Tuti yang sembab dan merah.
Tentu saja hal yang lebih mengerikan dialami Tuti di banding dirinya. Pantas saja kalau wanita itu merasa lukanya kembali tercabik-cabik.
Alih-alih saling mematung, Rachel mengajak Tuti untuk berbincang di sebuah café. Sudah cukup lama ia tidak berbicara dengan wanita ini.
“Gimana kabar mba Tuti?” Rachel mengawali rasa pedulinya pada wanita yang sedari tadi terus menunduk.
“Sudah lebih baik nona.” Wanita itu memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Rachel.
“Bagaimana kabar nona dan keluarga Wijaksono?” ia balas bertanya.
“Lebih baik aku rasa. Walau kami masih berusaha menyembuhkan beberapa trauma, tapi kami percaya, waktu akan menjadi obat yang manjur untuk menyembuhkan kami.” Aku Rachel apa adanya.
“Saya, melihat iklan nona dimana-mana. Nona terlihat sangat berbeda di iklan itu. Jujur, hal itu memotivasi saya untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri saya. Nona menghadapi rasa takut nona dengan sangat baik.” Ungkap perempuan itu dengan senyum tipisnya.
“Terima kasih. Aku juga gak nyangka kalau aku bisa melakukannya. Aku sempat gak percaya diri dengan hasilnya. Tapi, melihat orang tua dan kakakku bangga, itu cukup membuatku lega. Paling tidak, kali ini aku tidak perlu menutupi apapun dari mereka. Aku bisa tersenyum dengan sebenarnya.” Urai Rachel yang tersenyum di ujung kalimatnya.
Rachel memandangi sosok Tuti yang sedikit berbeda dengan Tuti yang beberapa hari lalu dilihatnya. Terakhir bertemu adalah saat Tuti pamit pulang, keluar dari rumah itu.
“Saya, hamil nona.” Aku Tuti tiba-tiba.
Deg!
Jantung Rachel serasa mau copot mendengar ucapan Tuti beberapa detik lalu.
“Laki-laki brengsek itu meninggalkan benihnya di Rahim saya.” Suara Tuti terdengar bergetar menahan tangis dan kemarahan di rongga dadanya.
__ADS_1
Rachel tidak lantas menimpali. Ia memilih berpindah ke sebelah Tuti lantas memeluk wanita kurus itu dengan erat. Entah ucapan apa yang harus ia katakan. Ucapan selamat kah?
Tidak, tentu saja tidak.
Rachel bisa merasakan tangan pucat Tuti mencengkram kemejanya untuk berpegangan.
“Saya takut nona, saya takut kalau kelak anak ini akan bertanya siapa ayahnya. Apa saya harus memperkenalkan laki-laki brengsek itu sebagai ayahnya?” kali ini suara Tuti terdengar terbata-bata. Air matanya menetes begitu saja tanpa di minta.
Bulu kuduk Rachel meremang dengan sendirinya, mendengar ucapan Tuti. Rachel tidak bersuara, ia hanya mengusap-usap punggung Tuti dengan lembut. Entah seperti apa ia harus memberi penghiburan pada wanita ini.
“Andai saya memiliki keberanian sebesar keberanian nona, mungkin saya masih bisa menjadi pelayan untuk tuan Brandon dan nona. Maafkan saya nona. Kelemahan saya membuat saya tidak bisa menolong nona dan nyaris membuat nona mengalami hal serupa dengan saya.”
Kali ini Tuti terisak. Ia menangis dipelukan Rachel hingga bahunya bergetar hebat.
Rachel semakin mengeratkan pelukannya. Ia bisa membayangkan bagaimana sulitnya Tuti menghadapi semua ini.
“Saya masih tidak tahu, apa saya bisa membesarkan anak ini? Atau saya akhiri saja sebelum ia melihat siapa ayah dan ibunya yang bodoh ini?” sekali lalu Tuti bertanya, membuat Rachel meringis ngilu.
“Hey, apa yang kamu pikirkan mba?” Rachel melerai pelukannya dari Tuti.
Ia menatap lekat wajah polos yang terkulai itu sambil mengusap air mata yang menganak sungai di wajah pucatnya.
“Anak ini tidak berdosa, kenapa mba harus mengakhiri hidupnya yang baru dimulai?” tanya Rachel yang berusaha tenang dihadapan Tuti.
Tuti menangis tersedu-sedu, tidak bisa berkata-kata saat pertanyaan Rachel seperti tamparan untuknya.
“Kita mungkin berdosa, tapi tidak dengan anak ini. Berikan haknya untuk dia merasa disayangi dan dilindungi. Bukankah itu yang selalu mba Tuti lakukan sebelumnya?” lagi Rachel bertanya.
Tuti tidak menjawab melainkan hanya menangis sesegukan dan kembali memeluk Rachel. Melihat penderitaan Tuti, dada Rachel ikut bergejolak. Tentu tidak mudah bagi Tuti menghadapi semuanya. Semuanya terlalu menyesakkan dan membuatnya nyaris menyerah.
****
__ADS_1