Menjadi Dia

Menjadi Dia
20. Akhirnya Percaya


__ADS_3

"Kamu?"ucap Putra nampak terkejut dengan kedatangan Anand di rumah kontrakan nya,"Mau apa kamu datang ke sini?"tanya Putra yang ekspresi terkejut nya langsung berubah menjadi ekspresi marah dan benci. Tatapan pemuda itu berkilat tajam penuh amarah.


"Boleh, aku masuk?"tanya Rio yang berwujud Anand tenang, walaupun dalam hatinya bergejolak saat melihat ekspresi dan tatapan mata Putra yang seakan ingin mencabik-cabik dirinya.


"Jangan pernah bermimpi untuk menginjakkan kaki mu di rumah ku! Pergi kamu dari sini!"bentak Putra seraya mendorong tubuh Anand, masih berusaha menahan amarah, walaupun ingin rasanya Putra menghajar orang yang sekarang berdiri di depannya itu.


"Aku kemari ingin menawarkan pekerjaan padamu,"ucap Anand.


Putra tertawa tanpa suara saat mendengar apa yang dikatakan Anand, kemudian menatap Anand dengan tatapan sinis,"Memberi pekerjaan padaku? Aku tidak butuh pekerjaan dari mu. Selain aku sudah punya pekerjaan, aku juga tidak sudi berhubungan dengan pembunuh seperti mu. Kamu bisa membeli hukum dengan uangmu dan hidup bebas setelah membunuh orang, tapi kamu tidak akan pernah bisa membeli ku. Enyah kau dari hadapanku!"hardik Putra kembali mendorong Anand.


Putra kemudian membalikkan tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah,"Put!"seru Anand dengan cepat memegang tangan Putra.


"Jangan sentuh aku dengan tangan penuh dosamu itu, brengseek!"hardik Putra langsung menghentakkan tangannya hingga membuat pegangan tangan Anand pada tangannya terlepas, kemudian langsung memukul Anand.


Anand yang mendapat serangan mendadak pun tidak sempat menghindar, dan pukulan Putra pun sukses mendarat di bibirnya hingga sudut bibir Anand berdarah.


"Bajingan! Bedebah! Beraninya kamu membunuh saudara ku!"pekik Putra yang nampak kalap dan tidak bisa menahan emosinya lagi. Putra menyerang Anand membabi buta penuh amarah dan dendam.


"Hentikan, Put!"ucap Anand berusaha menghindari serangan dari Putra. Sedangkan orang-orang yang ada di sekitar tempat itu pun akhirnya mendekat kearah dua pemuda yang sedang berkelahi itu.


"Aku tidak akan mengampuni mu. Hari ini aku akan menghabisi mu, membalaskan dendam saudara ku. Kamu sudah mengambil kekasihnya tapi masih tidak puas dan malah membunuhnya. Dasar bajingan!"teriak Putra penuh emosi masih terus menyerang Anand yang berusaha untuk menghindar. Tak pelak, pukulan Putra pun berhasil menghantam pelipis Anand.


Karena Putra semakin tidak terkendali dan Anand pun sudah kewalahan karena terus menghindar tanpa melawan serangan-serangan dari Putra, akhirnya Anand pun terpaksa melancarkan jurus untuk mengunci pergerakan Putra.


Saat Anand mendapatkan celah, Anand pun langsung menendang lutut putra dari belakang hingga putra jatuh berlutut dengan tangan yang di kunci ke belakang oleh Anand.


Anand kemudian berbisik di telinga Putra,"Apa kamu ingat? Kamu terpeleset di kamar mandi hingga gigimu tanggal dan kamu terpaksa menggantinya dengan gigi palsu? Dan kamu memintaku membungkus kan mie ayam yang banyak mutilasi nya dari warung mang Udin yang dekat dengan minimarket, sebelum aku mengalami kecelakaan,"ujar Anand mencoba memberitahu siapa dirinya.


Putra membulatkan matanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Anand, pasalnya hanya Rio yang tahu tentang semua itu.

__ADS_1


"Dari mana kamu tahu semua itu?"tanya Putra yang pergerakannya masih di kunci oleh Anand.


"Kita bicara di dalam. Apa kamu tidak sadar, kita telah menjadi tontonan gratis di sini?"ujar Anand seraya melepaskan Putra dan langsung berjalan ke dalam rumah kontrakan yang beberapa bulan lalu ditempatinya bersama Putra.


Putra melihat sekeliling, dan benar kata Anand, banyak orang di sekitar tempat itu sedang menyaksikan mereka berkelahi. Putra segera menyusul Anand yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah kontrakan nya.


Saat Putra masuk ke dalam rumah, matanya menelisik ke seluruh ruangan hingga akhirnya melihat Anand yang sedang meminum air dingin dari dalam kulkas kecil yang ada di dapur rumah itu.


"Apa maksud kata-kata mu tadi?"tanya Putra nampak tidak sabar.


Anand duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan. Kemudian menatap Putra,"Duduklah! Aku akan menjelaskan semuanya padamu,"ucap Anand tenang.


Karena penasaran, Putra pun langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Anand,"Katakan!"titah Putra, menampilkan ekspresi yang sulit dibaca.


Rio yang berwujud Anand akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya. Dari dirinya pergi dari rumah itu sampai akhirnya roh nya masuk kedalam tubuh Anand. Awalnya Putra masih tidak percaya dengan semua yang diceritakan oleh Anand yang menurut Putra tidak masuk akal.


"Rasanya aku tidak percaya ada hal semacam ini. Jika kamu tidak mengatakan segala hal tentang aku yang tidak diketahui oleh orang lain selain kamu, aku tidak akan pernah percaya padamu,"ujar Putra menghela napas panjang.


"Jangankan kamu, aku sendiri yang mengalaminya, juga sulit untuk percaya. Awalnya aku malah merasa sedang bermimpi dan berharap segera bangun dari mimpi aneh ini,"sahut Anand ikut menghela napas panjang.


"Jadi kamu sekarang jadi orang kaya mendadak, nih?"ledek Putra.


"Kamu benar. Kamu tahu? Mama Anand memberikan warisan berupa saham. Saat ini setengah dari Barata grup adalah milikku,"ucap Anand dengan wajah serius.


"What? Wah..kamu seperti kejatuhan durian runtuh,"ujar putra takjub.


"Iya, Kamu benar. Bahkan karena roh ku masuk ke dalam tubuh Anand, otomatis Rindy menjadi istri ku,"ucap Anand tersenyum tipis.


"Kamu memang beruntung. Lalu, apa Rindy tahu kalau kamu adalah Rio? Dan bagaimana reaksinya padamu? Dimatanya, kamu kan orang yang sudah membunuh Rio?"tanya Putra nampak serius.

__ADS_1


Anand menghela napas berat, kemudian menggelengkan kepalanya pelan,"Dia tidak tahu dan dia tidak percaya saat aku mengatakan bahwa aku adalah Rio. Karena Anand membayar orang untuk mengawasi Rindy. Anand mengetahui semua hal tentang Rindy dan orang-orang yang ada di sekitar Rindy. Jadi dia tidak percaya saat aku mengatakan bahwa aku adalah Rio,"ujar Anand panjang lebar.


"Lalu bagaimana hubungan kalian?"


"Awalnya Rindy sangat membenci aku seperti kamu yang menganggap aku telah membunuh Rio. Tapi, sedikit demi sedikit, akhirnya aku bisa meluluhkan hati Rindy,"ujar Anand dengan segaris tipis senyuman yang tidak bertahan lama karena bibirnya yang di pukul Putra terasa sakit.


"Sialan! Kuat sekali kamu memukulku. Bibirku sampai pecah,"umpat Anand pada Putra karena bibirnya terasa sakit saat dia tersenyum.


"Sorry! Sengaja!"ujar Putra yang kemudian malah tertawa.


"Jadi bagaimana? Kamu mau tidak, bekerja padaku?"tanya Anand serius.


"Pekerjaan apa dulu yang ingin kamu berikan padaku?"tanya Putra karena Anand belum menjelaskan pekerjaan apa yang ditawarkannya.


"Sekretaris ku. Gajinya lebih besar dari pekerjaan kamu yang sekarang,",ujar Anand.


"Oke, aku bersedia. Pekerjaan sekretaris gajinya lebih menjanjikan dari pada gaji dari pekerjaan ku sekarang,"ujar Putra tertawa kecil.


"Thanks! Setelah kamu mengundurkan diri dari pekerjaan kamu yang sekarang, kamu bisa langsung masuk ke Barata grup,"ujar Anand nampak senang.


Anand merasa lega karena putra percaya padanya. Terlebih lagi putra mau menerima tawaran pekerjaan dari nya. Hal itu membuat Anand semakin senang.


Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya Anand pun pamit pulang. Anand sampai lupa jika dia sudah meninggalkan Darlen di dalam mobil terlalu lama.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2