Menjadi Dia

Menjadi Dia
Bertekuk lutut


__ADS_3

Rumah sakit, kembali menjadi tempat Rachel mengistirahatkan tubuhnya. Ia masih berada di ruang tindakan, mendapat beberapa treatment untuk mengurangi rasa sakit di perutnya juga serangkaian pemeriksaan yang masih berjalan. Sementara keluarganya berada di luar, menunggu dengan cemas kabar terbaru yang akan mereka dapatkan dari dokter.


Setelah dokter mengabari kalau Rachel sudah siuman, beberapa saat lalu, mereka masih mendengar Rachel kesakitan sambil memegangi perutnya, membuat Eva tidak tega mendengarnya. Hatinya semakin sakit saat ia mengingat Rachel yang terus berkata,


“Tolong saya dok, tolong selamatkan anak saya.” Pinta putrinya yang meringis kesakitan di atas blankar.


Hati ibu mana yang tidak hancur saat tahu kalau Rachel saat ini sedang berbadan dua tapi masih mendapat perlakuan kasar dari besannya.


Bagi Eva, Rachel adalah belahan jiwanya, jantung dan hatinya serta separuh hidupnya. Tapi bagi Martha, putrinya seperti sampah yang diperlakukan sesuka hati hingga tega melakukan tindakan dan perkataan kasar. Tindakan Martha tidak ubahnya seperti pukulan telak yang menghancurkan jantung hatinya.


Lagi, Eva terisak seraya memukul-mukul dadanya yang sesak dan membuatnya sulit bernafas. Sesulit itu hidup yang dialami putrinya selama ini padahal ia sangat berharap agar Rachel semakin bahagia setelah menikah dengan laki-laki yang ia cintai. Nyatanya, dalam pernikahan tidak bisa hanya bermodalkan cinta. Restu orang tua menjadi salah satu syarat agar putrinya hidup bahagia.


“Mah, udah mah. Kita harus kuat buat adek.” Ruby membawa Eva ke dalam pelukannya, membiarkan wanita yang membesarkan ia dan Rachel, menangis sesegukan dalam pelukannya.


“Dada mamah sakit kak, sangat sakit. Rasanya mamah ingin menghancurkan semua orang yang sudah menyakiti anak mamah dan membuatnya jadi seperti ini.” Dengan suara yang tidak terlalu jelas karena bercampur tangis, Eva mengungkapkan perasaannya.


Paham, tentu saja. Ruby bisa memahami sehancur apa hati ibunya saat ini. Ia pun merasakan hal yang sama, sakit dan marah yang datang bersamaan dan menggerogoti hatinya.


Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang selain memeluk Eva dengan erat. Jika ia berreaksi berlebih tentu yang akan lebih kasihan adalah Eva. Kemarahannya yang terlalu besar, bisa mengalahkan tubuhnya yang mulai renta. Maka sebisa mungkin Ruby menahan dirinya agar bisa tenang, di tengah perasaannya yang bergejolak.


“Mah, yang kondisinya paling sulit saat ini adalah adek. Kalau kita tidak bisa tenang, dia akan berlindung sama siapa lagi? Mamah gak mau kan, kalau adek salah mengambil tindakan dan dia menyerah?” bisik Ruby yang berusaha tenang.


Eva hanya mengangguk, seraya mengusap air matanya. Ucapan Ruby membuat ia berpikir kalau mungkin alasan Rachel tidak mau ceritapun karena putrinya tidak yakin apa ibu dan kakaknya bisa sekuat itu menerima kenyataan kalau putrinya disakiti.


“Mamah takut sesuatu yang buruk menimpa adek. Mamah takut kak.” Eva kembali terisak.


“Jeng Eva,….” Alya yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhanpun segera mendekat dan menghampiri Eva.


Ia bisa ikut merasakan kesesakan yang dirasakan oleh ibu dan kakak Rachel.


“Rachel sudah bertahan sejauh ini, percayalah, dia sangat kuat. Tugas kita sekarang adalah menjadi support system-nya supaya dia tegar menghadapi semuanya.” Hibur Alya seraya mengusap-usap lengan Eva untuk menyemangatinya.


“Makasih jeng Alya, terima kasih banyak.” Ucap Eva lirih.


Alya mengangguk pasti seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Eva.


Di tengah rasa sedih ini, terdengar langkah kaki yang cepat dan tergesa-gesa menghampiri mereka. Calvin yang sedang menyandarkan tubuhnya pun segera berdiri tegak saat melihat kedatangan dua orang yang tidak asing untuknya. Nata dan Ivana, kakak beradik yang melangkah tegas setengah berlari menghampiri mereka.


“Rachel dimana Mah?” tanya Nata dengan tergesa-gesa. Bisa terlihat wajahnya yang kalut dan cemas setelah melihat video yang beredar dan kabar dari Fany.

__ADS_1


Calvin segera memasang badan, menjeda langkah Nata agar tidak mendekat pada Eva dan Ruby,


“Tolong jangan sekarang, kondisinya lagi gak baik.” Calvin menahan dada Nata agar tidak semakin mendekat.


“Minggir! Ini bukan urusan anda!” Nata mendorong tubuh Calvin dengan kuat tapi laki-laki itu tidak bergeming.


“Mah, tolong bicara sama saya mah. Gimana kondisi Rachel?” tanya Nata yang begitu panik.


Eva tidak menjawab, melainkan hanya menangis.


“Rachel baik-baik saja kan? Hah?” kali ini Nata bertanya pada Calvin, menatap laki-laki di hadapannya dengan putus asa.


“Pergi.” Sahut pendek Calvin. Ia sedang malas berdebat dan tidak ingin memancing emosi yang lain terutama Eva.


“Saya tidak bisa pergi! Istri saya di dalam!” seru Nata dengan suara yang bergetar menahan marah dan putus asa.


Tiba-tiba saja Eva bangkit dan menghampiri Nata.


“PLAK!” satu tamparan dilayangkan Eva ke wajah Nata hingga kepala Nata bergeming.


Orang-orang langsung terdiam, memandangi Eva dan Nata bergantian. Mereka masih tidak menyangka kalau Eva akan menampar Nata.


“Istri kamu bilang?” tanya Eva dengan suara bergetar.


“Siapa yang kamu maksud? Rachel kah? PUTRI SAYA KAH?!” suara Eva sambil menunjuk dadanya dengan tegas.Air matanya menetes tanpa bisa di tahan.


Nafasnya tersengau-sengau merasakan sakit yang semakin dalam saat melihat Nata yang masih berdiri tegak dihadapannya sementara putrinya terbaring tidak berdaya di dalam sana.


Nata tidak menimpali, ia hanya bisa menatap Eva beberapa saat kemudian tertunduk lesu. Rasanya ia tidak layak untuk berhadapan dengan Eva.


“Kemana kamu saat putri saya diperlakukan tidak hormat?"


“KEMANA?!!!!!” teriak Eva dihadapan Nata.


"Apa kamu benar-benar mengakui dia sebagai istrimu atau kamu hanya menganggapnya sebagai istri pajangan yang harus selalu patuh pada suami yang bahkan tidak mencintainya?”


Ia memukul-mukul dada Nata dengan kepalan tangannya yang kuat dan Nata membiarkannya begitu saja.


“Kemana saja kamu sampai anak saya dibuat menderita seperti itu?” kali ini Eva bersuara lirih dengan penuh penekanan. Tubuhnya terkulai lemah.

__ADS_1


“Mah,” Ruby segera menghampiri dan memegangi Eva yang lemah nyaris terjatuh. Ia ikut menatap Nata dan Ivana dengan penuh kekecewaan.


Ivana bahkan hanya bisa menangis tersedu-sedu tanpa berani mengangkat wajahnya menatap wajah Eva. Sungguh, dua orang yang selalu dibanggakan Rachel ini benar-benar membuatnya kecewa.


“Kalau selama ini kamu tidak mencintai anak saya, kenapa kamu tidak menceraikannya? Kenapa kamu membuat dia tersiksa? Sebegitu rendahkah nilai putri saya dimata kamu?” lagi Eva menampar pelan Nata tapi laki-laki itu tidak menahan apalagi melawan. Baginya, pukulan dan makian ini memang pantas untuk ia terima.


“Kamu tahu Nata, kedatangan kamu saat ini tidak ada artinya. Kamu tidak akan pernah bisa mengobati hati kami terutama hati Rachel yang sudah hancur. Tidak hanya hatinya, ibu kalian bahkan menghancurkan mentalnya hingga dia pingsan.”


“Putriku seorang yang kuat. Dia berjiwa besar dan pemaaf. Dia juga begitu ringan tangan mau membantu siapapun dan akan selalu menyayangi orang yang ada disekitarnya. Dia kebangganku. Dia hidupku. Dia jantung hatiku. Dia duniaku.” Eva menunjuk-nunjuk dadanya dengan tegas.


“Tega kamu menghancurkan dia sampai begini?”


“Tega kamu menghancurkan seorang wanita yang begitu mencintai dan menghormati kamu hingga meninggalkan dunianya yang ceria demi bisa mengabdi sama kamu dan keluarga kamu?”


“Setega itu kamu terhadap putri saya, Nata?!!” suara Eva semakin pelan dan penuh kesakitan.


Nata tidak bisa menjawab. Tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan ia berlutut dihadapan Eva. Ia mengakui dengan penuh kesungguhan bahwa ia sangat jahat terhadap Rachel selama ini. Teramat sangat jahat.


“Maafkan saya mah.” Ucap Nata lemah. Ia tertunduk lesu dan meneteskan air mata tanpa bisa ia tahan. Ia sadar benar semua kesalahannya. Ia sudah menyia-nyiakan Rachel selama ini. Alih-alih mencintai Rachel sepenuh hati, ia malah menjadikan Rachel seperti wanita yang pernah ia cintai.


Terlambatkan jika sekarang ia menyesal?


“Apa yang akan saya dapatkan jika saya memaafkan kamu? Apa Rachel akan membaik?” tanya Eva kemudian.


Nata tidak berani menjawab. Ia hanya bisa tertunduk dihadapan Eva.


Ivana yang berdiri di samping Nata pun ikut bertekuk lutut. Ia menaruh tangannya di bahu Nata dan mencengkramnya kuat. Ia melihat dengan jelas rasa penyesalan Nata. Adiknya bahkan menangis, satu hal yang tidak pernah dilakukan pada Nata sebelumnya.


Ivana menghela nafasnya dalam untuk mengumpulkan keberaniannya sebelum kemudian berbicara. Bagaimanapun, ia harus menjernihkan masalah ini.


“Saya mohon maaf bu Eva. Atas nama adik saya dan tentu saja keluarga saya.” Ucapnya dengan suara bergetar.


“Ibu saya memang sudah melakukan hal yang diluar nalar terhadap Rachel tapi Nata tidak pernah membiarkannya. Nata tidak pernah tidak membela Rachel dihadapan mamah saya. Meskipun demikian, Nata memang tidak mampu bertindak tegas pada ibu kami.”


“Saya mengenal persis seperti apa adik saya. Di antara banyaknya kekurangan, saya sangat yakin kalau saat ini dia memiliki hati yang tulus untuk mencintai Rachel. Saya tidak muluk-muluk dengan meminta bu Eva dan keluarga memaafkan kami, karena kami sadar, kesalahan kami sangat besar terhadap Rachel.”


“Tapi jika berkenan, tolong biarkan Nata menemui Rachel. Sesekali saja, agar dia bisa menemui istri yang selama ini ia cemaskan.“ Urai Ivana dengan penuh harap. Ia ingin membela adiknya sekali ini saja. Ia berharap, Nata benar-benar berubah dan memperbaiki semuanya.


Dan saat ini, Eva tidak memberi jawaban. Ia hanya memalingkan wajahnya dari kakak beradik yang tengah memohon di hadapannya. Entahlah, apa yang akan ia putuskan kemudian.

__ADS_1


****


__ADS_2