
Pagi ini, suasana di meja makan cukup hening. Tidak banyak yang dibicarakan di meja makan keluarga Wijaksono. Masing-masing fokus dengan makanan yang ada dihadapannya.
Lain halnya dengan Martha, wanita itu masih memandangi kursi kosong yang beberapa hari lalu masih di tempati Brams. Banyak hal yang ingin ia utarakan setelah semalaman ia memikirkan ucapan Marsya yang menurutnya ada benarnya.
Bagi Martha, ia cukup mengenal Brams. Apa salahnya jika ia mendengar pembelaan dari pihak Brams? Lalu, mengapa ia tidak mencoba melakukan pembelaan?
“Ivana,” akhirnya Marta memilih mengungkapkan pikiran yang berkecambuk di rongga kepalanya.
“Ya,” Ivana yang sedang membantu Brandon makan pun segera menoleh.
“Mamah mau aku ambilkan sesuatu?” tawar Ivana.
Martha tidak menimpali, ia hanya menatap Ivana lekat lalu menggeleng. Ia juga menaruh sendok dan garpunya lalu kedua tangannya tertumpu di atas meja.
“Mamah mau nanya sekali lagi, apa kamu yakin, kalau kamu mau cerai sama Brams dan pengen dia di hukum?” tanya Martha tiba-tiba.
“Hah, gimana maksud mamah?” Ivana balik bertanya. Pendengarannya mendadak kurang kalau sudah membahas tentang Brams. Mungkin karena ia sudah tidak mau tahu.
Martha mencoba menenangkan dirinya. Ia menghela nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum mengulang kalimatnya.
“Iya, maksud mamah apa kamu benar-benar yakin mau cerai sama Brams dan pengen dia di hukum? Kamu gak mau coba ngasih dia kesempatan lagi gitu?” kali ini pertanyaan Martha di buat lebih jelas dan gamblang.
__ADS_1
Ekspresi wajah Ivana langsung berubah. ia tidak mengerti, bagaimana bisa Martha masih mempertanyakan keputusannya.
“Mamah gak salah nanya gitu sama aku?" Ivana balik bertanya.
"Sekarang aku yang nanya sama mamah, apa menurut mamah laki-laki mokondo kayak dia perlu di kasih kesempatan? Mamah rela gitu, aku disakitin sama dia?” nada suara Ivana rendah namun penuh penekanan membuat Rachel dan Nata ikut menyimak. Khawatir Ivana lepas kendali.
“Ya bukan gitu, maksud mamah sebelum kita memutuskan Brams untuk dipolisikan, kita kan cuma ngedengerin pengakuan dari satu pihak.” Martha melirik Rachel dengan sinis.
“Mungkin aja dia cuma ngaku-ngaku buat nutupi usaha dia yang ternyata ke gap pas mau ngegoda suami kamu. Kamu harus ingat, kucing di kasih ikan dan tulang, pasti dua-duanya di makan, jadi gak selalu salah laki-laki kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak. Mungkin aja,”
“Udah mah, cukup!” Ivana langsung memotong. Ucapan Martha kali ini benar-benar menyudutkan Rachel.
“Persis yang mamah bilang, kalau dia kayak kucing. Mau itu ikan atau hanya tulang, kalau di tawarin pasti dimakan. Ya memang begitu Brams. Dia kayak binatang, gak punya otak. Gak bisa milih mana yang harus dia makan dan mana yang gak boleh dia makan.”
"Kondisi aku sama Brandon udah cukup sulit, mamah masih mau nambah beban aku dengan batin tersiksa gara-gara kelakuan mokondo yang kayak kucing itu?" timpal Ivana dengan cerdas.
Nata yang mendengar ucapan kakaknya pun tersenyum dalam hati. Sepertinya ia sudah tidak perlu membela Ivana. Ivana sudah tahu cara melindungi dirinya sendiri.
Tapi Rachel? Lihat, wanita itu tampak gelisah dengan perasaan bersalahnya.
“Mah, mamah gak tau aja kalau laki-laki itu gak cuma ngelecehin satu orang, yaitu istriku. Dia juga ngelecehin banyak wanita. Tuti, Ima, mungkin juga wanita yang mengirimkan tagihan hotel ke perusahaan. Kami udah punya bukti yang cukup, jadi mamah gak perlu khawatir. Dan buang semua keragu-raguan mamah. Kamilah yang harus mamah percayai, bukan laki-laki brengsek itu.” Imbuh Nata.
__ADS_1
Ia mencoba membela sang istri dan memberi Martha perjelasan di waktu yang bersamaan.
“Iya, tapi kamu pernah berpikir gak gimana nasib kakak kamu selanjutnya? Kamu mau kakak kamu jadi janda?”
“Dia akan kesulitan mencari pasangan terlebih kalau orang-orang tahu seperti apa putranya.” Kalimat Martha memelan di beberapa bagian.
“Kenapa mamah jadi bawa-bawa Brandon?” Ivana tidak terima. Kalau sudah menyangkut putranya, Ivana memang lebih sensitive.
Martha tidak bisa menjawab, tatapan Ivana ternyata lebih mengintimidasi dari tatapannya.
“Brandon putraku, putra yang sangat aku sayangi. Mamah gak perlu ngejadiin dia beban karena aku gak akan membebankan Brandon sama mamah. Aku juga gak masalah kalau harus hidup sendiri ngebesarin Brandon. Aku mandiri, bisa cari uang sendiri dan aku yakin Brandon akan tumbuh menjadi anak yang bisa aku banggakan dengan cara dia sendiri.”
“Mamah cukup nikmati masa tua mamah dan jangan mengusik banyak hal entah itu Brandon ataupun Rachel. Seperti halnya aku, yang gak pernah peduli sama sikap mamah yang diam-diam membenci Brandon.” Tegas Ivana.
Pada kalimat ini, mata Ivana berkaca-kaca karena ia tahu kalau ucapannya benar. Ia sangat sadar kalau Martha tidak pernah menyayangi Brandon. Tidak sekalipun Martha peduli pada Brandon walau Brandon sedang sakit.
Menjadi seorang nenek, hanya title saja bagi Martha, tidak pernah benar-benar memenuhi fungsinya. Hal ini lah yang membuat Ivana sedih dan sakit hati.
Maka menurutnya, mulai sekarang tidak ada yang boleh menyudutkan Brandon terlebih itu Martha, neneknya sendiri.
Sementara itu, Martha hanya tercenung. Sepertinya usaha Ia untuk meyakinkan Ivana, jauh dari kata berhasil. Lihat saja Ivana yang menatapnya dingin dan penuh kekesalan.
__ADS_1
Akh, semua orang di rumah ini benar-benar menyudutkannya. Sungguh ia tidak betah berada di rumah ini.
****