
Martha masih menikmati waktunya di teras belakang rumahnya seorang diri. Ia tengah memandangi senjayang mulai menghibar dan matahari yang nyaris tenggelam.
Pendengarannya yang masih bagu, menangkap suara kedatangan Barndon dan Rachel. Kalau tidak salah dengar, Brandon langsung di ambil alih oleh susternya dan di ajak mandi. Sementara langkah Rachel terdengar mendekat hendak menemui dirinya.
Entah apa yang akan dilakukan menantu yang tidak pernah ia inginkan itu.
Di tangannya, Rachel membawa sebuah kotak yang berisi tart buatan Eva. Katanya ini buah tangan untuk besannya.
“Sore mah.” Sapa Rachel saat menemui Martha.
Wanita yang sedang melakukan terapi pijat di kursi pijat itu, membuka matanya yang semula terpejam. Hanya sebuah lirikan yang Rachel dapatkan sebelum kemudian Martha kembali memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya dari Rachel.
“Mau apa kamu?” tanyanya sinis.
“Em, maaf mah Rachel ganggu mamah. Ini Rachel bawa titipan dari mamah Eva buat mamah. Mamah suka banget sama orange tart, jadi mamah Eva buatin special buat mamah.” Terang Rachel dengan senyum terkembang.
Wanita itu menelan salivanya kasar, karena bayangan sensasi rasa orange tart itu langsung terasa mengisi mulutnya. Rasa manis segar dipadu dengan tart yang lembut, seolah memberi kenikmatan tersendiri bagi Martha.
Tapi, jika Rachel yang membawanya, ia masih bisa menahan diri untuk tidak memakannya di hadapan Rachel.
“Taruh saja di atas bangku.” Telunjuknya yang lentik menunjuk bangku kecil tempat Brandon biasanya duduk.
“Iya mah. Mau Rachel potongin sekalian mah? Taua mau Rachel buatin teh juga? Green tea mungkin.” Tawar Rachel dengan semangat.
__ADS_1
“Gak usah. Mana mungkin saya memerintah seorang artis.” Martha menoleh Rachel dengan tatapan sinis.
“Kamu artis kan? Makanya semua yang kamu lakuin ini palsu semua. Saya gak pernah ngeliat ketulusan dari semua yang kamu lakukan. Tujuan kamu masuk ke keluarga ini hanya untuk menghancurkan keluarga Wijaksono dari dalam.”
“Ck, iblis!” deciknya, mendelik sebal pada Rachel.
“Ma-maaf mah, Rachel gak pernah berniat seperti itu.” Rachel berusaha menjelaskan.
“Akh, sudahlah. Saya males ngomong sama kamu. Gak usah cari perhatian di depan saya. Termasuk keluarga kamu. Gak usah sok baik sama saya.” Hardik Martha dengan wajah tidak suka.
Ia kembali memalingkan wajahnya dari Rachel.
Rachel menghela nafasnya dalam untuk menenangkan dirinya. Ia merasakan benar kalau setiap ucapan Martha selalu berhasil membuat sudut hatinya terkoyak.
“Kamu pikir saya lumpuh sampe gak bisa motong kue sendiri?!” serunya tidak suka.
“Maaf mah, bukan begitu. Maksud Rachel,”
“Akh, sudah pergi kamu sana! Saya males lama-lama liat muka kamu.” Martha mengibaskan tangannya kasar, menyuruh Rachel pergi.
Rachel hanya bisa menuruti keinginan ibu mertuanya. Ia mengambil bangku kecil dan mendekatkannya pada Martha. Ia menaruh tart itu di atas bangku seperti yang Martha minta. Lalu pergi setelah mengangguk sopan pada Martha.
Baru beberapa langkah di ambilnya, tiba-tiba, “BUK!”
__ADS_1
Martha sengaja menepuk tart itu hingga terjatuh dari bangku. Ia sadar Rachel masih berada di dekatnya dan memang sengaja melakukan hal ini.
“Heh Rachel, beresin kue-nya. Saya gak suka makan sampah!” serunya dengan penuh penekanan.
Rasanya Rachel ingin menangis melihat kue tart buatan Eva dibuang begitu saja oleh Martha hingga jatuh berserakan. Padahal ia melihat jelas kalau Eva membuatnya dengan sepenuh hati.
Rachel tidak berkata apapun. Menahan tangisnya saja sudah cukup sulit untuk Rachel. Tanpa berlama-lama, ia segera mengambil tart yang berhamburan di lantai dan merapikannya. Dengan sedut matanya, Martha melihat Rachel yang sedang berjongkok membersihkan sisa krim kue yang wanginya sangat segar.
Tapi lebih segar lagi karena ia berhasil merendahkan Rachel dan keluarganya. Bibir merahnya sampia melengkungkan senyum penuh kepuasan.
Setelah selesai, Rachelpun pergi. Ia mengangguk sopan meninggalkan ibu mertuanya dan pergi ke dapur.
Di meja dapur, Rachel memandangi tart itu. Rasanya sudah tidak mungkin ada orang yang mau memakan tart yang sudah hancur begini. Tapi, ia tidak bisa membiarkan kue yang di buat ibunya dengan susah payah, berakhir di tong sampah.
Rachel memutuskan untuk mengambil pisau dan piring kecil serta garpu. Dengan tangis tertahan, ia memotong kue itu menjadi bagian kecil dan menaruhnya di atas piring kecil. Rachel sudah tidak memikirkan kebersihan kue yang sengaja di jatuhkan Martha. Ia hanya tidak mau usaha ibunya sia-sia.
Akhirnya, ia menyendok potongan kecil dan menyuapnya perlahan. Saat makanan itu masuk kemulutnya, air matanya menetes begitu saja.
“Makasih mah, kuenya sangat enak.” Ucapnya dengan tersedu-sedu. Sesekali ia memukul dadanya saat rasa sesak menghalangi ia untuk menelan utuh makanannya.
Satu potong kue itu ia habiskan tanpa sisa dan menyimpan sisanya di kulkas. Ia berencana menghabiskannya seorang diri tanpa perlu bantuan siapapun.
****
__ADS_1