Menjadi Dia

Menjadi Dia
Protesan Rachel


__ADS_3

Suara deringan telepon terdengar jelas disela-sela keseriusan dalam rapat dengan tim pemasaran di kantor Nata. Semua pandangan langsung tertuju pada sang empunya ponsel yang tidak lain adalah Nata sendiri. Tidak biasanya bos dari Wijaksono corp ini menyalakan nada deringnya hingga volume maksimal, membuat peserta rapat saling berbisik.


“Mohon maaf, saya jawab sebentar.” Pamitnya, setelah tersenyum kecil saat melihat nama pemanggil yang tampil di layar ponselnya. Nata langsung pergi meninggalkan ruangan.


Ivana yang duduk di tempatnya, ikut tersenyum saat melihat eskpresi senang Nata. Sudah pasti telepon itu dari pujaan hatinya yang sedang ia perjuangkan, Rachel.


“Kita break sepuluh menit.” Ucap Ivana, pada peserta rapat.


Mereka mengangguk setuju dan suasana pun tidak lagi tegang seperti tadi.


Ivana yang penasaran, mengikuti Nata keluar. Diam-diam ia menguping pembicaraan Nata yang mulai ia panggil sebagai tuan bucin


“Iya, bu, ada apa? Apa anak ayah perlu sesuatu?” tanya Nata, yang membuat Ivana menahan tawanya beberapa saat.


Lucu juga tingkah Nata, seperti kerbau yang berhasil dicocok hidungnya oleh Rachel. Menurut saja apapun permintaan Rachel.


“Gak usah ba bi bu segala lah mas. Kesel aku sama mas!” seru Rachel dari sebrang sana. Nata yang kaget pun langsung menjauhkan ponselnya dari kuping setelah mendengar protesan Rachel. Ia ingin meyakinkan apa ini benar-benar Rachel atau bukan.


“Kesel? Kesel kenapa sama aku? Aku bikin salah apa?” Nata balik bertanya dengan perasaan tidak karuan. Rasanya tadi ia melihat Rachel baik-baik saja saat masuk ke kantor manajemen artistnya.


“Kesel lah! Ngapain mas ngajuin kerja sama buat iklan project property mas ke sini? Minta aku lagi yang meranin.” Protes Rachel dengan bibir mengerucut. Ia kesal dengan usaha Nata yang menurutnya sedang mencari-cari kesempatan.


“Iklan?” Nata mematung beberapa saat kemudian menoleh Ivana yang ketahuan mengintip. Kakaknya itu hanya terkekeh geli.


“Tunggu sebentar.” Ucapnya, sambil menekan tombol hold beberapa saat.


“Kenapa?” tanya Ivana dengan ekspresi mengejek.


“Kenapa apanya? Kakak ngirim ajuan kerjasama ke manajemennya Rachel?” Ia menatap sang kakak dengan kesal.


“Hee emh!” Ivana mengangguk santai sambil bersidekap.


“Astaga!!! Kenapa gak bilang dulu sama aku? Aku kan udah bilang, mau ngomongin ini dulu, baik-baik sama Rachel. Aku gak mau dia kecapean gara-gara pekerjaan ini.” Protes Nata.


“Akh kamu sih kelamaan, akunya keburu inisiatif." Ivana mengelak dengan mudah.


"Udah, kamu bilang aja emang pengen kerjasama sama dia buat iklannya. Apa susahnya sih kalau ngaku aja?” Ivana berbicara dengan santai.


“Kaaakkk, gak semudah itu.” Nata mengeram kesal.


"Gak ada yang susah, kamunya aja yang ribet banyak pertimbangan." Ivana tidak mau kalah.


“Mas! Mas kemana sih?” suara Rachel kembali terdengar dan menjadi alarm untuk Nata.

__ADS_1


“Astaga.” Nata mengusap dahinya yang keringat dingin. Dengan terpaksa ia menyambung lagi pembicaraan dengan Rachel, walau belum siap.


“Maaf Chel, tadi aku habis nanya kak Ivana soal iklan itu.” Nata melirik kesal pada sang kakak yang malah terkekeh.


“Si bucin mulai susis. Emang harus di dorong dulu baru mau maju.” Ledek Ivana sambil terkekeh. Nata hanya bisa melotot mendengar ledekan kakaknya.


Ia berusaha mengatur nafasnya agar tenang saat berbicara dengan Rachel.


“Aku emang mau nawarin kerjasama itu sama kamu. Maksud aku,”


“Aku gak mau!” tegas Rachel.


“Hah, gak mau?” Nata sampai melongo mendengar jawaban Rachel. Cepat sekali jawaban Rachel.


“Iya, aku gak mau. Aku kan udah bilang, gak usah peduliin aku. Cukup mas peduliin anak mas aja.” Sahut Rachel dengan kesal.


“Anak kita Chel, kan bikinnya bareng.” Nata menimpali dengan lemah.


“Ya terserah mas lah, istilahnya apa. Yang jelas, jangan bersikap kayak gini sama aku. Mas bikin aku sakit kepala.” Protes Rachel. Walau sebenarnya bukan sakit kepala tapi perasaannya jadi tidak karuan.


“Aku anterin obat ya.” Tawar Nata dengan rasa bersalahnya.


“Issh, gak perlu. Aku cuma gak suka aja mas sok ngurusin dan perhatian sama aku. Takut banget aku gak daoet kerjaan. Aku gak suka sikap mas yang semena-mena!” Rachel menggaris bawahi dua kata terakhirnya.


“Aku minta maaf kalau bikin kamu kesel. Tapi tolong jangan marah-marah, aku gak mau perut kamu sakit lagi. Eh maksud aku, anak kita tegang denger ibunya marah.” Nata jadi serba salahnya.


“Ya kalau gak mau bikin kita tegang kayak gini, mas jangan aneh-aneh dong. Pake gak ngomong dulu masalah beginian sama aku. Mas pikir aku ini apa?” Rachel masih kesal.


“Istri aku.” Jawab Nata sambil menunduk penuh sesal.


Ivana semakin ingin tertawa melihat tingkah Nata yang seperti anak kecil sedang di strap. Berdiri tegak menghadap dinding sambil membentur-benturkan kepalanya pelan.


Rachel jadi tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan suaminya. Mau marahpun, tidak punya alasan.


“Ya lain kali jangan gini lagi. Aku kan sebel.” Kalau sudah kalah berdebat, memang seperti itu jawaban Rachel. Nata bisa membayangkan bagaimana menggemaskannya bibir manis Rachel yang kemudian mengerucut dan mata bulatnya yang mendelik kesal.


Astaga, Nata sampai harus mengusap wajahnya karena bayangan wajah Rcahel begitu jelas di pelupuk matanya.


“Aku yang ngomong sama Rachel.” Pinta Ivana pada Nata. Kasian juga melihat adiknya tersudut seperti itu.


“Buat apa?” protes Nata, tidak suka. Ia masih betah berbicara dengan Rachel walaupun hanya omelan.


Tapi bukan Ivana namanya kalau tidak bisa memaksa. Ia merebut benda pipih itu dari tangan Nata.

__ADS_1


“Chel, ini aku.” Sapa Ivana, pada Rachel yang termenung.


“Kak Ivana?” Rachel mulai tersadar.


“Iyaaa …” Ivana menyalakan mode loud speaker agar Nata mendengar obrolannya dengan Rachel.


“Aku minta maaf yaaa, sebenarnya yang ngirim ajuan kerja sama itu adalah aku, tanpa sepengetahuan Nata.” Aku Ivana seraya melirik sang adik.


“Kenapa kak? Kenapa aku, bukan artis yang lain?” Rachel menunjukkan rasa tidak nyamannya.


“Em, sebenernya aku udah dari lama mau ngajuin kerja sama ini sama manajemen artis kamu. Aku juga udah ngobrol sama Calvin jauh-jauh hari dan dia ngerekomendasiin kamu. Tapi karena satu dan lain hal, project pembangunannya baru rampung sekarang. Jadi maaf kalau menurut kamu, aku ngajuin ini di waktu yang gak tepat.” Urai Ivana dengan jelas.


“Iya kak, aku ngerti. Cuma maksudku, saat ini aku kan lagi hamil. Aku gak mungkin ngiklanin produk dalam kondisi seperti ini. Takut gak menarik nantinya dan malah bikin kakak kecewa.” Rachel mengusap perutnya yang mulai terlihat dan sudah tidak rata.


“Justru sebenarnya bagus Chel, penampilan kamu di promo produk kami sebagai bintang iklan saat sedang hamil kayak sekarang, jadi magnet tersendiri. Gini deh, besok kita ketemu dulu yuk. Kita bicarain detailnya gimana. Kalau kamu setuju, aku sangat berterima kasih. Kalau pun nggak, aku menghormati keputusan kamu. Gimana?” Ivana mencoba membuat kesepakatan.


Rachel terdiam beberapa saat seperti sedang berpikir. “Iya kak, besok aku ke sana sama kak Fany.” Putus Rachel pada akhirnya.


“Great! Aku tunggu ya Chel.” Ivana tersenyum girang, ia mendelik jumawa pada sang adik karena berhasil memenangkan persetujuan Rachel.


“Iyaa kak.”


“Kamu mau ngomong lagi sama Nata?” goda Ivana, memberi peluang pada sang adik.


“Em gak usah kak, penjelasan dari kakak udah aku pahami kok. Makasih ya kak.” Tolak Rachel.


“Sip, sama-sama. Sampe ketemu besok yaa, bye Chel….” Ivana menatap Nata dengan puas, puas karena membuat adiknya kembali galau ditolak bicara oleh Rachel.


“Gitu caranya kalau ngomong sama Rachel. Jangan ngang ngong ngang ngong aja! padahal udah aku ajari, masih aja kamu bingung begitu!” cerocos Ivana setelah panggilan terputus. Ia mengembalikan ponsel Nata pada pemiliknya.


“Ya kakak gak ngomong dulu. Aku kan gak ada persiapan.” Nata berkilah. Kecewa sebenarnya karena ia masih ingin berbicara dengan Rachel.


“Ngomong apaan, orang Rachelnya juga masih males ngomong sama kamu. Usaha kamu kurang kenceng tuh. Kurang mepet! Kurang perjuangan! Pokoknya banyak kurangnya! Inget, usaha kamu belum sebanding sama sakitnya Rachel.” Celoteh Ivana.


Nata hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, karena ucapan Ivana memang benar. Ia sampai tidak bisa berkata-kata untuk menimpali sang kakak. Ia sadar benar kalau usahanya memang belum maksimal.


“Aku udah bikin peluang dengan mengundang Rachel ke sini, jadi jangan bikin kesalahan apalagi bikin dia kecewa. Inget itu!” pesan Ivana.


Sekarang Ivana menjadi tutor Nata untuk mendapatkan hati Rachel.


“Iya.” Nata menyahuti dengan sigap. Ia harus berusaha dengan usaha terbaiknya.


*****

__ADS_1


__ADS_2