Menjadi Dia

Menjadi Dia
6. Anand Berubah


__ADS_3

"Aku serius. Jika papa ingin menyuruh aku untuk bekerja, maka papa harus menempatkan aku diposisi CEO Barata grup,"ucap Anand dengan tenang membuat semua orang tercengang.


"Apa kamu sudah tidak waras?"bentak Pramana penuh emosi.


"Bukankah papa ingin aku bekerja? Jadi, aku memutuskan untuk bekerja di perusahaan ku sendiri. Apa itu salah?"tanya Anand terlihat tenang.


Pramana tertawa tanpa suara,"Itu tidak salah, tapi yang salah adalah posisi yang kamu minta. Apa kamu pikir dengan otak kamu yang pas-pasan itu kamu bisa memimpin Barata grup? Jangan pikir papa tidak tahu, kamu lulus kuliah hanya dengan mengandalkan uang. Tugas dan skripsi yang kamu kumpulkan adalah hasil pekerjaan orang lain yang kamu tukar dengan uang"


"Walaupun kamu sudah lulus S2, papa tidak yakin kamu mampu memimpin Barata grup. Apalagi kamu tidak pernah terjun dalam perusahaan sama sekali. Berbeda dengan Ringgo yang sudah lama belajar dan membantu papa di perusahaan,"ujar Pramana panjang lebar, meremehkan kemampuan Anand, sekaligus membanggakan Ringgo.


"Aku tidak perduli dengan penilaian papa tentang aku. Yang pasti, aku ingin posisi CEO di Barata grup menjadi milikku,"ujar Anand dengan suara yang terdengar tenang, tapi berwibawa.


"Apa kamu pikir ini permainan? Jika kamu menjadi CEO di Barata grup, kamu akan membuat Barata grup gulung tikar,"ujar Pramana merasa kesal.


Anand tersenyum sinis,"Kenapa papa men-judge aku seperti itu? Papa belum melihat kemampuan ku, tapi sudah men-judge aku tidak mampu,"protes Anand tapi dengan nada datar tanpa emosi.


"Tidak perlu papa lihat, papa tidak akan pernah salah menilai orang,"ujar Pramana penuh keyakinan.


"Tapi aku tetap akan mengambil posisi itu,"ucap Rio yang berwujud Anand, tetap terlihat tenang.


Bagaimana pun, Rio harus menjadi CEO di perusahaan itu, agar Rio bisa melindungi harta warisan milik Anand. Jika Rio tidak terjun langsung ke perusahaan, maka akan sulit untuk melindungi aset yang dimiliki oleh Anand. Karena Ringgo telah mengincar posisi CEO. Selama ini Ringgo sudah membantu papa Anand. Rio yakin jika Pramana akan menyerahkan posisi CEO itu pada Ringgo. Dan itu tidak boleh terjadi.


"Papa tidak akan pernah memberikan posisi itu padamu. Kamu boleh bekerja di perusahaan, tapi tidak di posisi CEO,"ucap Pramana tegas. Mana mungkin Pramana memberikan posisi CEO pada Anand yang sama sekali tidak punya pengalaman sama sekali di perusahaan.

__ADS_1


Dari dulu sampai Anand mendapatkan gelar S2, Anand tidak pernah sekalipun membantu Pramana di perusahaan. Anand hanya keluyuran tidak jelas dan berfoya-foya dengan uang yang diberikan oleh Pramana. Sedangkan Ringgo, dari kuliah Ringgo sudah membantu Pramana di perusahaan. Jadi, dari pada memberikan posisi CEO pada Anand, lebih baik Pramana memberikan posisi itu pada Ringgo yang selama ini sudah banyak membantu nya.


"Pa, jangan memaksa Anand untuk bekerja. Bukankah Ringgo juga sudah membantu papa di perusahaan? Berikan saja uang bulanan Anand seperti biasanya,"sela Silvy membela Anand.


Rio dalam wujud Anand tersenyum sinis mendengar kata-kata Silvy yang seolah-olah membela dan menyayangi Anand. Padahal yang sebenarnya, Silvy ingin menghalangi Anand agar tidak masuk ke perusahaan.


"Mama benar, pa. Sudah ada aku yang membantu papa di perusahaan. Papa tidak perlu memaksa kakak untuk bekerja,"imbuh Ringgo yang tidak ingin kesempatan untuk menjadi CEO lenyap karena kehadiran Anand.


"Aku tidak merasa terpaksa. Selama ini aku hanya keluyuran tidak jelas, dan aku sudah bosan. Jadi, setelah keluar dari rumah sakit, aku memang berencana untuk bekerja,"ucap Anand dengan pembawaan yang terlihat tenang.


"Bagus. Minggu depan kamu akan bekerja, papa akan menempatkan kamu di bagian pemasaran,"ucap Pramana memutuskan.


"Sudah aku bilang. Aku tidak mau bekerja, jika papa tidak memberikan posisi CEO padaku,"ucap Anand, keukeh dengan pendiriannya.


"Maaf, pa. Tiga puluh persen saham di Barata grup adalah milik investor, dua puluh persen milik papa dan lima puluh persen nya lagi adalah milik ku. Walaupun papa adalah pendiri Barata grup, tapi aku adalah pemegang saham terbesar di Barata grup. Jadi, aku lah yang lebih berhak menempati posisi CEO dibanding dengan siapapun, termasuk papa,"ucap Anand terdengar arogan, tapi tetap menampilkan ekspresi wajah yang tenang.


"Brak"Pramana menggebrak meja di depannya karena mendengar kata-kata Anand yang seolah-olah merendahkan dirinya yang hanya memiliki sedikit saham di perusahaan nya sendiri. Memang perusahaan itu didirikan oleh Pramana, tapi seluruh modal awalnya adalah milik ibu Anand. Namun karena majunya perusahaan itu, Pramana bisa memiliki dua puluh persen saham di perusahaannya itu.


Sebelum meninggal, ibu Anand telah menulis surat wasiat. Dalam surat wasiat itu menyatakan bahwa seluruh saham yang dimilikinya di Barata grup adalah milik Anand.


"Apa kamu pikir memimpin perusahaan itu mudah? Apalagi bagi orang seperti kamu yang tidak pernah terjun di perusahaan dan lulus kuliah dengan mengandalkan uang,"ucap Pramana terdengar sinis,"Banyak karyawan yang mengais rejeki di Barata grup. Jika Barata grup sampai gulung tikar karena sikap arogansi mu ini, akan banyak orang yang akan menjadi pengangguran karena kehilangan pekerjaan. Apa kamu tidak memikirkan itu?"sergah Pramana penuh emosi.


"Sayang, benar kata papamu. Jika kamu tidak mampu memimpin perusahaan, perusahaan akan bangkrut dan akan berdampak buruk bagi kita dan juga para karyawan,"bujuk Silvy agar Anand mengurungkan niatnya untuk masuk ke perusahaan Barata grup.

__ADS_1


"Benar kata mama dan papa, kak. Tolong pikiran nasib para karyawan, mereka menggantungkan hidup mereka pada Barata grup, kak,"imbuh Ringgo yang tidak ingin posisinya sebagai calon CEO digeser.


"Aku tidak butuh penilaian atau pun pendapat kalian yang intinya meragukan bahkan meremehkan kemampuan ku. Setuju atau tidak setuju, aku akan menempati posisi CEO itu. Sebaiknya papa siapkan posisi itu untuk ku. Minggu depan, aku akan menempati posisi itu. Jika papa tidak mau memberikan posisi itu padaku, maka aku akan menarik seluruh sahamku di Barata grup,"ucap Anand langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu.


"Anand! Kamu tidak bisa melakukan itu!" sergah Pramana.


Anand menghentikan langkahnya, tanpa membalikkan badan nya, kemudian berkata."Kenapa tidak bisa? Saham itu adalah milikku, aku berhak melakukan apapun pada saham itu,"ucap Anand datar, kemudian kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.


"Sial! Apa otak anak itu bermasalah? Kenapa semenjak kecelakaan itu sikap dan tingkah lakunya berubah drastis? Apa dia pikir memimpin perusahaan itu mudah? Dia akan membuat Barata grup gulung tikar," gerutu Pramana yang merasa aneh dengan perubahan sikap Anand yang terlihat tenang, tapi tegas itu.


Dulu Anand selalu bersikap keras kepala, arogan dan pemarah. Namun sekarang bersikap arogan tapi terlihat tenang, tegas dan berwibawa.


Sedangkan Silvy dan Ringgo nampak khawatir jika sampai Anand benar-benar menepati posisi CEO. Itu berarti Ringgo tidak jadi menempati posisi CEO.


"Apa papa benar-benar akan memberikan posisi CEO pada Anand?"tanya Silvy hati-hati.


"Jika aku tidak memberikan nya, aku takut dia akan benar-benar menarik sahamnya dari Barata grup. Kamu tahu sendiri, dia itu sangat keras kepala,"ucap Pramana yang terlihat kusut.


Silvy dan Ringgo pun nampak lesu mendengar apa yang dikatakan oleh Pramana itu. Sedangkan Rindy, sedari tadi hanya diam, karena merasa tidak berhak ikut bicara dalam pembahasan itu.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2