
Rachel masih menatap tidak percaya video yang di putar di ponsel Fany. Katanya Managernya mendapatkan video itu dari Adri yang terus menghubunginya karena mencemaskan Rachel.
Video itu adalah video kekerasan yang dilakukan Martha di sekolah Brandon. Di sana terlihat jelas bagaimana Martha memaki Rachel bahkan tidak segan untuk mentoyor kepala Rachel dan mendorongnya hingga jatuh.
Akh, kalau mengingat kejadian itu, hati Rachel rasanya sakit. Bukan hanya memberi trauma fisik, Martha juga memberi trauma mental pada Rachal. Kata-katanya yang kasar benar-benar membuat Rachel sangat malu.
“Dia benar-benar memperlakukan kamu seperti ini, Chel? Dihadapan orang banyak?” tanya Fany dengan nada suara yang meninggi tidak terima.
Rachel tidak menjawab, hanya air matanya saja yang menetes lantas ia memalingkan wajahnya dari Fany.
“Chel, jawab aku. Kamu bener-bener diperlakukan seperti ini?!” Fany tetap berusaha meminta jawaban Rachel. Ia tidak terima Rachel diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita tua sementara Rachel tidak membalasnya.
Terdiamnya Rachel, seolah mengiyakan pertanyaan Fany. Rasa sesak di dada Fany pun mulai terasa. Ia pikir, kehidupan Rachel itu sangat bahagia dan pantas membuatnya iri. Tapi nyatanya, semakin ia mengenal Rachel ia semakin iba pada wanita malang ini.
“Siapa dia, sampai berani memperlakukan kamu seperti ini?” selidik Fany yang merasa belum mendapat jawaban.
Lagi, Rachel tidak menjawab. Hanya bibirnya yang gemetar menahan tangis.
“Fan, cukup. berhenti dulu.” Pinta Calvin yang berusaha menenangkan keadaan. Ia yang menjadi saksi mata saat kejadian itu, sudah cukup merasa sesak melihatnya apalagi Rachel yang mengalaminya secara langsung. Sudah pasti ia trauma.
“Gimana bisa di bilang cukup? Wanita ini memperlakukan Rachel dengan kasar. Dia gak menghormati kamu sama sekali. Sekalipun dia membenci kamu, harusnya dia nggak ngelakuin itu. Dia ini manusia atau apa?” emosi Fany masih menggebu-gebu.
“Beliau mertuaku, tolong jaga ucapan kakak.” Ucap Rachel pada akhirnya.
“Hah, apa?” Fany mendadak tuli saat mendengar kalimat Rachel yang satu itu.
Rachel pun menoleh dan menatap Fany dengan matanya yang basah. “Beliau mertuaku. Tolong jaga ucapan kakak.” Ia mengulang kalimatnya dengan suara bergetar berusaha untuk kuat.
“Chel!” tidak sadar Fany sampai membentak Rachel.
“Fany, kamu diam!” titah Calvin kemudian saat melihat Rachel yang menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
“Astaga!” dengus Fany sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sampai tidak sadar sudah membentak Rachel sampai dua kali, karena terbawa emosi.
Tapi sedetik kemudian ia memeluk Rachel. “Maaf, aku udah bentak kamu.” Ucapnya, lirih.
Rachel hanya mengangguk seraya terisak-isak di pelukan Fany.
“Aku gak sadar terbawa emosi jadi aku kasar sama kamu. Maafin aku ya….” Lagi Fany berujar penuh sesal.
Tangis Rachel semakin menjadi, ia menangis di pelukan Fany saat luka dihatinya seolah kembali terbuka mengingat semua perlakuan Martha terhadapnya.
Alya dan Calvin yang melihat kejadian itu, hanya bisa terdiam, menatap Rachel penuh kecemasan.
Alya baru tahu, kalau alasan Rachel ingin mengkampanyekan perilaku kekerasan terhadap wanita dan anak-anak adalah karena perlakuan tidak adil yang dialaminya. Seperti kebanyakan korban pada umumnya, mereka yang mengalami ini, tidak berani untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada mereka. Hanya bisa diam dan ketidakberdayaan perlahan menyakiti dirinya sendiri.
“Darimana kakak dapet video itu?” tanya Rachel setelah ia mulai tenang. Ia melerai pelukannya dari Fany.
“Dari mas Adri. Dia cemas sama kamu.” Fany mengusap air mata Rachel lebih dulu di banding air matanya.
“Mas Adri minta aku nanya sama kamu, apa alasan kamu sakit juga karena kejadian itu?” ia menangkup kedua sisi wajah Rachel dengan kedua tangannya. Menatap lekat mata yang merah dan basah itu.
“Apa video itu sudah menyebar?” ia bertanya dengan khawatir. Khawatir kalau video itupun sampai ke Ruby dan Eva. Entah seperti apa perasaan mereka nantinya, pasti lebih hancur dan marah dari yang dirasakan Fany.
“Entahlah, aku gak tau. Tapi video ini bisa cepet menyebar kalau orang-orang sadar, korbannya adalah kamu.” Fany semakin khawatir saja pada Rachel.
“Jangan, jangan sampai menyebar.” Cepat-cepat Rachel menimpali.
Ia menatap Fany dan Calvin dengan sungguh.
“Kenapa kamu takut banget? Kamu di sini sebagai korban, Chel. Orang-orang gak akan memojokkan kamu. Harusnya memang video ini cepat menyebar supaya mertua kamu tau kalau perlakuan dia terhadap kamu itu tidak bisa dibenarkan. Dia pantas mendapat sanki sosial.” Urai Fany dengan penuh keyakinan.
“Nggak, itu gak boleh terjadi kak.” Rachel bersikukuh dengan pilihannya.
__ADS_1
“Chel, aku rasa Fany benar. Mungkin bukan kamu yang harusnya menghukum ibu mertua kamu. Tapi, orang-orang yang melihat video ini. Orang-orang juga akan semakin sadar kalau perlakuan seperti ini tidak dibenarkan.” Calvin ikut menambahkan.
“Nggak kak.” Timpal Rachel dengan cepat.
“Aku minta bantuan kak Calvin untuk menghapus berita ini dimana pun. Aku mohon kak." Rachel menangkup kedua tangannya di depan dada, memohon pada Calvin.
"Apa? Minta di hapus?" Calvin ikut tidak paham.
"Iya. Aku gak bisa membiarkan video ini terus menyebar semakin luas. Aku gak bisa membayangkan kalau video ini sampai menyebar di media sosial. Orang-orang akan memojokkan mamah Martha. Dia,”
“Chel! Kenapa kamu malah mencemaskan wanita itu?” lagi Fany berseru melihat kepanikan Rachel. Ia masih tidak habis pikir dengan sikap Rachel yang malah ketakutan keburukan mertuanya di ketahui banyak orang.
“Kak, please ….” Rachel memohon dengan sungguh pada Fany dan Calvin. Matanya yang merah dan basah, seolah menegaskan kalau ia sungguh-sungguh membutuhkan bantuan Calvin dan Fany.
“Kalau video ini terus menyebar, video ini akan menyimpan rekam jejak buruk dari ibu mertuaku. Bagaimana pun, beliau ibu dari suamiku dan kakak iparku. Mereka pasti malu dan orang-orang akan mencibir suami dan kakak iparku. Masalah pekerjaan merka akan terganggu. Mereka juga terus mencari tahu tentang hal pribadiku.”
“Lebih dari itu, apa yang harus aku jelaskan pada anakku kelak, jika dia bertanya tentang neneknya? Bagaimana kondisi mentalnya nanti jika tahu apa yang dilakukan mamah mertuaku terhadapku.”
“Bisakah kalian mengasihi sedikit saja anak dalam kandungaku ini?” tanya Rachel seraya mengusap perutnya yang masih rata. Ia memohon dengan sungguh pada Fany dan Calvin.
Mendengar ucapan Rachel, jujur Calvin sangat kaget. Ia tidak menyangka kalau Rachel sedang mengandung. Ia juga tidak menyangka kalau alasan Rachel di rawat karena kehamilannya. Pada akhirnya Calvin hanya bisa memandangi wanita yang tertunduk lesu dihadapannya seraya menguap-usap perutnya yang kembali tegang.
Perasaannya berkecambuk dan rasanya ia ingin memeluk Rachel untuk menguatkannya. Beruntung Alya menghampirinya. Ia memeluk Rachel dengan erat.
“Rachel, menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.” Ucap Alya yang ikut menahan tangisnya. Ia bisa merasakan bagaimana sulitnya posisi Rachel saat ini.
Tanpa bisa di tahan, tangis Rachel pun pecah. Ia menangis sesegukan dipelukan Alya. Ia seperti diberi kesempatan untuk menumpahkan perasaannya yang selama ini ia tahan dan di simpan diam-diam.
“Tante mendukung keputusan kamu. Kamu tidak bisa membiarkan anakmu kelak mengetahui keburukan neneknya dari media. Sekalipun perlakuan buruk itu benar-benar dilakukan oleh ibu mertuamu, tapi media tidak cukup bijak untuk dijadikan sumber informasi masalah seperti ini. Rekam jejak digital itu hanya akan berakibat buruk.”
“Tolong bantu Rachel, Vin.” Ucap Alya, bergantian pada Rachel dan Calvin.
__ADS_1
Calvin hanya bisa terdiam, sementara Rachel masih menangis dipelukan Alya. Ia merasa kalau wanita ini begitu memahami perasaannya. Apapun kondisinya kelak, anaknya tidak perlu tahu kalau kondisinya tersiksa karena mertuanya yang kejam.
****