Menjadi Dia

Menjadi Dia
Sang pemilik


__ADS_3

Waktu satu bulan, menjadi waktu yang Rachel gunakan untuk mengikuti sesi konsultasi masalah pernikahannya bersama Nata. Mereka berusaha terbuka satu sama lain dan menunjukkan keinginan yang sama untuk saling memperbaiki diri.


Banyak pencerahan yang mereka dapatkan setelah pertemuan itu. Dari sisi psikolog, ia juga mulai memahami Nata sepenuhnya. Rachel sadar benar, bahwa Nata baru saja melewati lompatan yang besar dalam hidupnya. Keinginanya untuk bangkit dari keterpurukan menjadi salah satu yang menjadi pertimbangan Rachel dalam mengambil keputusan.


Seperti yang dikatakan oleh konsultan pernikahan, bahwa tidak ada rumus baku yang bisa diterapkan untuk menjadi dasar agar mendapatkan sebuah pernikahan berjalan bahagia. Setiap pernikahan itu unik karena pernikahan adalah proses belajar seumur hidup, saling memahami satu sama lain, berusaha mengenali satu sama lain seperti halnya belajar memahami apa yang kita inginkan dalam pernikahan itu.


Setiap pasangan akan menemukan caranya sendiri dalam mencapai kebahagiaan dalam pernikahan. Proses yang terpenting dalam sebuah pernikahan adalah menerima dan menghormati keberadaan pasangan kita. Menyadari bahwa seumur hidup kita, kita akan bersama dengan seseorang yang unik. Memiliki kelebihan dan kekuranganyang harus mereka terima sebagai paket lengkap pribadi tersebut.


Jika bisa menempatkan posisi yang tepat untuk pasangan kita, maka pernikahan bisa sangat bahagia. Begitupun sebaliknya, jika dalam pernikahan kita hanya mengejar ekspektasi masing-masing terhadap pasangannya, maka selamanya dua orang yang bersama itu tidak akan menemukan kebahagiaan.


Kesiapan dan komitmen itu yang rupanya harus dimiliki oleh Nata dan Rachel untuk menjalani pernikahan bahagia.


“Mah, adek nginep di rumah mas Nata.”


Sebaris pesan yang mereka terima dari Rachel, berhasil membuat Eva dan Ruby mengucap syukur yang mendalam. Pesan itu menjadi penanda bahwa Rachel sudah membuat keputusan untuk membuka kembali hatinya untuk Nata.


Hal ini juga yang menjadi jawaban atas kegelisahan Rachel semalam.


“Kalau adek merasa bahagia bersama nak Nata, maka lanjutkan. Tapi jika adek tidak merasa bahagia, adek tentu tau kalau mamah dan kak Ruby masih bisa memberi adek kebahagiaan dengan cara kami sendiri.” Tegas Eva semalam.


Dan pesan Rachel kali ini, membuat Eva menghembuskan nafasnya lega. Putrinya sudah menemukan jawaban yang selama ini ia cari.


“Mau pulang sekarang?” tawar Nata saat melihat Rachel yang sudah selesai menghabiskan minuman dinginnya.


“Iya. Aku gerah, pengen mandi.” Rachel seraya mengipasi wajahnya dengan kertas yang ada di tangannya.


“Okey. Tapi, boleh aku ngajak kamu ke tempat lain dulu, sebelum kita pulang ke rumah mamah Martha?”


“Kemana?” Rachel mentautkan alisnya bingung.


“Kamu akan melihatnya nanti.” Nata mengulurkan tangannya pada sang istri.


Rachel hanya tersenyum kecil lantas menyambut tangan Nata yang terulur padanya. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam mobil setelah meninggalkan kantor pengacara yang mengurus perceraian mereka. Mereka sepakat untuk mencabut ajuan mereka dan melanjutkan semuanya komitmen yang sudah mereka buat bersama.


Perjalanan menuju tempat yang dimaksud Nata pun berlanjut. Rachel melihat ruas jalan yang asing yang mereka lewati.


“Mas, ini kita mau kemana?” Rachel memperhatikan sekitaran jalan yang cukup rindang di salah satu sudut kota Jakarta.


“Sebentar lagi kita sampai. Sabar ya….” Ucap Nata, sekali lalu mengecup tangan Rachel yang belakangan ini selalu ia genggam dengan erat.


“Okey. Tapi jangan tempat yang aneh-aneh ya. Aku udah pengen mandi ini.” Seiring kehamilannya yang semakin besar, Rachel begitu mudah merasa kegerahan.


“Siap!” sahut Nata dengan sigap.


Nata masuk ke sebuah perumahan. Deretan rumah berpagar tinggi terlihat jelas di depan Rachel.


“Wah, rumahnya bagus-bagus. Lingkungannya juga asri, adem.” Rachel menurunkan kaca jendelanya agar bisa merasakan udara segar disekitaran sini.


Nata tersenyum senang melhat ketertarikan Rachel. Ia berbelok masuk ke sebuah rumah yang gerbangnya sudah terbuka.


“Rumah siapa ini mas?” Rachel penasaran, melihat pagar yang terbuat dari ukiran kayu seperti rumah-rumah minimalis di eropa.


“Nanti kita liat. Aku akan kenalin sama pemiliknya.” Janji Nata.


“Okey. Pemilik rumahnya pasti orang-orang yang tenang, karena bawaan rumahnya pun sangat menenangkan.” Ungkap Rachel sambil mengangguk saat petugas keamanan rumah menyapanya.


“Silakan tuan dan nyonya.” Ucap laki-laki itu saat Nata menurunkan kaca jendelanya.


“Mas udah sering ke sini?” Rachel penasaran karena sepertinya petugas keamanan tadi tidak asing dengan Nata.

__ADS_1


“Sudah beberapa kali.” Nata menghentikan mobilnya di depan rumah itu.


“Waahh, rumahnya bagus.” Ungkap Rachel saat melihat bangunan rumah yang terkesan minimalis dan rindang. Ada taman kecil di halaman, juga deretan pot bunga yang terawat dan tersusun rapi.


“Turun lah.” Nata membukakan pintu untuk Rachel.


“Okey.” Mereka masuk ke teras rumah, tidak ada siapa-siapa di sana.


“Orangnya gak ada di rumah kali mas.” Rachel celingukan melihat rumah yang sepi seperti tidak ada penghuninya.


“Orangnya ada di dalam.” Dengan berani Nata langsung memutar handle pintu dan mendorong pintu terbuka.


“Eh, jangan. Kita gak sopan main buka pintu aja.” Protes Rachel.


“Gak apa-apa. Kamu mau ketemu pemiliknya kan? Dia udah nungguin di dalam.” Timpal Nata yang tersenyum kecil.


Rachel tidak lagi menimpali, ia hanya menatap Nata dengan bingung tapi tetap saja ikut masuk.


Suasana nyaman dan dingin lansung terasa saat Rachel masuk ke rumah itu. Rumah yang sepi dengan sebuah lemari kaca besar yang menyambut mereka di ruang tamu. Rachel sampai bisa melihat bayangannya sendiri di kaca itu.


“Wah, rumahnya bagus mas.” Ungkap Rachel dengan mata berbinar-binar.


“Kamu suka?” Nata penasaran.


“Suka. Mana pemiliknya? Kok kayaknya mereka gak ada?” Rachel masih celingukan mengintip ke dalam.


Tapi Nata hanya terkekeh. Ia berdiri di belakang Rachel lalu tiba-tiba memeluk istrinya.


“Mereka pemilik rumah ini.” Ucap Nata, memandangi bayangan ia dan Rachel di kaca.


“Apa?” Rachel menatap tidak percaya pada bayangan ia dan Nata.


Nata mengangguk yakin dengan senyum terkembang.


“Mas, jangan becanda deh. Ini gak lucu!” Rachel menepuk lengan suaminya karena kesal.


“Siapa yang becanda, aku serius. Rumah ini akan menjadi rumah kita dan anak-anak kita.” Ucapan Nata begitu meyakinkan.


“Serius?” lagi Rachel bertanya.


Bukannya menjawab, Nata malah tersenyum kecil. Ia juga mengecup kepala Rachel, bahunya beberapa kali dan bibirnya yang mengerucut gemas.


“Aku serius.” Ucap Nata sambil mengeratkan pelukannya.


Rachel ternganga tidak percaya sambil menatap bayangan Nata di cermin. Senyumnya terkembang begitu saja dengan mata yang membulat.


“Kamu pernah bilang, kalau kamu mau rumah dengan gaya minimalis dan memiliki banyak tanaman dan taman yang luas di bagian depan dan belakang. Kamu juga mau rumah yang ada tempat bersantainya di belakang. Dan semuanya ada di rumah ini.”


Nata mengeluarkan kunci cadangan lalu membenamkan kunci itu di tangan Rachel. “Rumah ini milik kamu. Tepat kita memulai hidup kita yang baru sampai kita tua bersama dengan pipi yang kemong, mata yang celong, rambut yang beruban dan kita di panggil kakek nenek atau eyang.” Urai Nata dengan penuh keyakinan.


“Hah? Astaga.” Rachel sampai tidak bisa berkata-kata. Lihat saja senyumnya yang mengembang tanpa bisa ia tahan. Ucapan Nata benar-benar menyentuh hatinya. Kulkas dua pintu itu sekarang bisa berbicara dengan begitu manis.


Ia segera berputar serratus delapan puluh derajat menghadap Nata.


“Muach!” satu kecupan di daratkan Rachel di bibir Nata.


“Makasih mas.” Ucapnya dengan penuh rasa haru.


“Segitu kurang untuk sebuah ucapan terima kasih.” Balas Nata, yang sulit merasa puas.

__ADS_1


Dalam hitungan detik, ia balas mencium Rachel, memagutnya dengan dalam beberapa saat dan melingkarkan tangannya di pinggang Rachel.


Usapan halus ia berikan pada tubuh Rachel yang sudah tidak sekurus dulu. Lekuk tubuhnya jelas teraba dan semakin berisi. Nata sangat suka menyentuh setiap permukaan tubuh Rachel.


Rachel bisa merasakan gairah Nata yang bergelora berusaha menyerangnya. Nata baru melepaskan pagutannya saat merasa rongga dada mereka sesak.


Keduanya terdiam beberapa saat. Mata mereka masih terpejam dengan deru nafas yang belum teratur. Nata menempatkan dahinya di dahi Rachel, membuat tubuh jangkungnya melengkung mengimbangi. Ia begitu menikmati setiap hembusan nafas Rachel yang menerpa wajahnya.


Masih penasaran, Nata memagutnya lagi beberapa saat, memberi gigitan lembut di bibir merah muda itu. Rachel membalasnya sebentar tapi kemudian ia tersenyum.


“Berasa mau malem pertama gak sih mas?” cicitnya dengan senyum terkekeh.


Nata ikut terkekeh mendengar ucapan Rachel. Tentu saja karena waktu lebih dari dua bulan itu sangat lama. Mereka benar-benar mengistirahatkan tubuh, pikiran dan hatinya. Definisi bertemu kembali setelah menjadi sosok yang lebih baik. Dan hari ini seperti hari baru bagi mereka.


“Aku bisa melakukan yang lebih baik di banding malam pertama dua tahun lalu.” Timpal Nata. Ia mengusap lembut bibir Rachel yang selalu terasa manis.


“Dua tahun?” Rachel baik bertanya.


“Iya. Sebentar lagi usia pernikahan kita dua tahun.”


“Mas inget?” Rachel sedikit menarik kepalanya menjauh dari Nata, ingin menatap wajah suaminya.


“Inget dong. Pertemuan pertama kita aja aku inget.”


“Serius?” mata Rachel membola sempurna dengan senyum terkembang.


“Kamu pake jaket almamater kedodoran berwarna kuning.” Nata mengusap kedua bahu Rachel dengan senyum geli membayangkan sosok Rachel empat tahun lalu.


“Ada jam tangan kecil berwarna merah maroon di tangan kiri kamu. Saat kamu bertanya, itu sekitar jam setengah sepuluh pagi.” Kali ini tangan kiri Rachel yang diangkat dan ia pandangi lalu ia kecup.


“Kemeja warna biru muda dan rambut kamu yang dikepang dua membuat kamu terlhat manis.” Ia juga mengusap kepala Rachel dengan sayang.


“Astagaaaa… mas inget ya?” Rachel melotot tidak percaya. Rupanya Nata mengingat detail pertama kali mereka bertemu di seminar kampus.


Mahasiswi tingkat dua yang tidak mengedipkan matanya saat Nata menyampaikan materi kuliah umum untuk pertama kalinya.


“Pertemuan kedua, di aula kampus. Rachel, dua puluh dua tahun, lajang.” Nata berbicara mencontohkan Rachel kala itu.


“Hahahahaha … itu aku malu banget tau mas.” Ungkap Rachel yang tertawa lepas mendengar celoteh Nata sambil pura-pura menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Persis yang Rachel lakukan saat itu.


"Kamu lucu. Dan untuk pertama kalinya aku ingin tertawa, saat itu." Nata mengusap pipi Rachel dengan lembut.


Malu-malu Rachel menatap Nata. Senang dan bangga rasanya karena Nata mengingat moment itu.


“Semua hal tentang kamu aku ingat Chel. Sandal kamu yang hilang saat di perpuspun aku ingat. Wajah kamu yang bingung karena gak tau harus pulang pake alas kaki apa pun, aku ingat.”


“Saat kamu pergi kemarin, aku baru sadar kalau aku memiliki lebih banyak kenangan sama kamu di banding sama dia yang bersamaku selama bertahun-tahun lamanya."


"Aku juga sadar kalau aku pernah sakit saat berpisah dengan Aruni tapi tidak lebih sakit saat sedikit berjarak sama kamu. Maka, tidak ada alasan lagi buat aku untuk menyimpan apapun tentang Aruni baik di dalam kepala terlebih di dalam hatiku.”


“Dan tentang kamu," Nata menyinggung hidung Rachel yang bangir dengan hidungnya yang tinggi besar dan dibenci Rachel.


"Kamu, satu-satunya pengisi jiwaku saat ini dan untuk selamanya."


"Terima kasih untuk kesempatan kedua yang kamu kasih. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik dalam hubungan kita tanpa perlu ada bayangan orang lain lagi.” Tegas Nata sekali lalu mengecup tangan lalu dahi Rachel dengan penuh perasaan.


Rachel hanya bisa tertegun, merasakan desiran kasih yang menelusur aliran darahnya dan membuat jantungnya berdebar tenang dan nyaman. Ini yang ia cari selama ini. Kenyamanan dan ketenangan sata bersama Nata.


****

__ADS_1


__ADS_2