
"Apa yang kamu sembunyikan?" Melihat tingkah Rachel, Nata malah penasaran.
"Oh, bukan apa-apa. Cuma pesan orang iseng aja." Sahutnya, berusaha tenang.
“Mas mau aku bikinin minuman hangat?” tawar Rachel sambil beranjak dari tempat tidurnya. Ia berniat menaruh handuk yang sudah mengeringkan rambutnya. Lebih dari itu, ia berusaha menghindar dari Nata.
“Tidak perlu, aku mau tidur.” Timpal Nata, kesal. Baru kali ini ia merasa kalau Rachel sedang berbohong. Padahal dia bukan seseorang yang pandai berbohong.
Nata membaringkan tubuhnya menyamping sambil memperhatikan benda pipih yang sesekali menyala lalu mati lagi. Sebenarnya, Rachel bertukar pesan dengan siapa?
Akh, Nata mendadak gelisah. Apa mungkin laki-laki yang ia temui di rumah Eva yang ikut merayakan ulang tahun Rachel, bahkan memberi istrinya kado?
Jangan sampai! Nata mengambil bantal lainnya dan memelukknya dengan erat. Seperti takut bantal itu lepas dari genggamannya.
“Mas, hari senin aku meeting jam 10 pagi sama manajemen artis.” Suara Rachel terdengar dari arah kamar mandi. Rupanya ia sedang berganti baju.
“Hem. Nanti kamu tanyain soal manager. Dari mereka atau kamu bisa memilih sendiri?” Nata tetap menyahuti walau perhatiannya tetap tertuju pada ponsel milik Rachel.
“Iya mas, nanti aku tanyain.” Rachel sudah keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan gaun malamnya dan rambutnya sudah lebih kering.
Ia membaringkan tubuhnya di tempat semula ia duduk. Ia menoleh Nata dan dengan cepat laki-laki itu pura-pura memejamkan matanya.
“Mas udah tidur?” tanyanya lagi.
“Hem.” Nata menarik selimut hingga ke batas perut. Jantungnya berdebaran karena penasaran dan gelisah. Perasaan macam apa ini?
“Selamat malam mas, mimpi yang indah. Makasih banyak buat hari ini.” Ucap Rachel yang mulai membaringkan tubuhnya.
“Hem.” Lagi sahutan pendek yang didengar Rachel dari mulut Nata.
Melihat Nata sudah tertidur, Rachel mematikan lampu utama. Hanya lampu tidur yang menyala temarang menerangi wajahnya. Rachel memiringkan tubuhnya membelakangi Nata. Ia berusaha menggapai ponselnya.
Namun baru saja ujung jarinya akan menyentuh ponsel, tiba-tiba tangan kokoh Nata menarik tubuhnya menjauh dari ponsel.
“Kenapa masih main hp padahal udah jam tidur?” tanya Nata tanpa membuka matanya. Tangannya melingkar di pinggang Rachel membuat jarak mereka sangat dekat.
“Hah, nggak kok." Rachel benar-benar terhenyak kaget.
Ia merasakan tangan Nata yang melingkari tubuhnya, mengungkung tubuh Rachel dari belakang. Hembusan nafasnya bahkan membuat Rachel bergidik saat meniup tengkuknya. Jangan tanyakan soal jantungnya, tadi sempat berhenti beberapa saat sebelum kemudian berdebar dengan sangat kencang.
Ia urung menyentuh ponselnya dan membiarkannya tergeletak begitu saja.
Rachel terdiam membeku di pelukan Nata. Kulkas dua pintu ini benar-benar membuat Rachel tidak berani bergerak sedikitpun. Tubuhnya benar-benar menempel dengan Rachel.
"Rachel," Suara Nata begitu dalam dan berat. Rambut-rambut halus di tubuh Rachel langsung berdiri dan kupu-kupu di perutnya seperti mengepakkan sayapnya.
"Ya?" takut-takut Rachel menjawab.
"Kamu pernah membenciku?" tanya Nata tiba-tiba. Matanya yang semula terpejam kini terbuka. Ia bisa melihat rambut coklat Rachel yang berkilauan terkena cahaya lampu malam dan sebelah pipinya yang memerah.
__ADS_1
"Benci kenapa?" akh sungguh, Rachel sangat gugup.
"Entahlah. Aku merasa begitu banyak hal menyebalkan yang ada pada diriku dan aku sendiripun membencinya." Nata menggerakkan kepalanya, membuat Rachel bisa merasakan kalau kepala mereka sedang saling bersentuhan. Dan tidak lama, Nata mengecup rambutnya.
Jantung Rachel semakin kempis kembung. Rasanya ia ingin mencubit pipinya sendiri untuk tahu apa ia bermimpi atau tidak.
"Hey, jawab." Nata sedikit mengguncang tubuh Rachel, membuat Rachel sadar kalau ini semua nyata.
"Boleh aku jujur?" Rachel balik bertanya.
"Apa pernah aku menyuruhmu berbohong?" kebiasaan, Nata akan menimpali keraguan Rachel dengan pertanyaan lagi.
Rachel menggeleng pelan. Tentu saja Nata tidak pernah menyuruhnya berbohong.
"Sejujurnya, aku gak pernah benci sama Mas karena mas adalah orang yang aku cintai dan aku hormati." Baru satu kalimat itu yang Rachel ucapkan dan sudah terdengar hembusan nafas lega yang menerpa leher Rachel.
"Hanya seringkali aku tidak cukup memahami Mas. Aku gak tau apa mas menyukaiku atau tidak. Menginginkanku atau tidak. Aku sering kali bingung." Lanjut Rachel dengan sesungguhnya.
"Aku kerap merasa kalau mas mungkin masih tidak merasa kalau aku ada dalam hidup mas. Atau masih harus memaksa diri mas untuk menerima keberadaanku. Itu saja." Tandas Rachel sambil mengeratkan genggamannya pada sprei yang ia reemmas.
"Hem, kamu benar. Aku memang masih memaksa diriku sendiri untuk menerima semua hal yang datang dan pergi dari hidupku. Termasuk kamu. Tapi bukan berarti aku membenci keberadaanmu di hidupku yang sekarang." Kalimat itu lancar terucap begitu saja dari mulut Nata.
Rachel tercenung. Ia memang menjadi hal tidak terduga yang hadir di hidup Nata tapi, hal apa yang pergi dari hidup suaminya dan belum bisa ia terima? Kepergian mendiang papahnya kah?
Akh, pikiran Rachel jadi menduga yang tidak-tidak.
"Kamu udah ngantuk?" Rachel merasa Nata mengeratkan pelukannya. Mungkin karena Rachel hanya terdiam.
Tapi selalu saja bibirnya kelu.
Seseorang pernah berkata pada Rachel, level tertinggi dari sebuah hubungan adalah bukan hanya saat kita bisa menerima keberadaan satu sama lain. Tapi, saat kita mampu mengkomunikasikan dengan baik apa yang ada dipikiran dan perasaan kita, pada pasangan kita.
Kita berani mengiyakan, kita berani menolak dan mungkin sesekali harus berani berargumen karena kita percaya kalau pasangan kita sudah menerima semua hal yang ada di diri kita.
Tapi hal itu belum bisa dilakukan Rachel. Masih banyak hal yang membuatnya takut dan ragu untuk berbicara banyak hal dengan Nata. Ia tidak bisa meyakini, pikiran seperti apa yang bisa di terima Nata atau dibenci olehnya. Ia juga belum bisa menentukan, cara menjelaskan seperti apa yang bisa dipahami oleh Nata.
Hubungan seperti ini, apa bisa berlanjut untuk waktu yang lama?
Rachel ragu dan ia mulai takut.
Mendapati Rachel hanya terdiam, Nata sedikit bangkit. Ia mengintip Rachel yang ternyata belum tidur.
"Kamu mikirin apa?" tanya Nata, setelah tahu Rachel belum tidur.
"Hah? Eng-enggak ada apa-apa mas." Ucapnya gelagapan. Benar bukan, Rachel belum berani mengatakan apapun pada Nata.
"Kalau kamu ngantuk, tidurlah. Aku gak larang." Nata membaringkan kembali tubuhnya dengan nyaman.
"Iya." Rachel hanya bisa memejamkan matanya walau belum mengantuk. Ia berpengangan erat pada sudut bantal yang di genggamnya.
__ADS_1
Tidak lama, terasa kaki Nata yang mulai menghimpit tubuhnya. Mengusap kakinya dengan kaki Nata. Mata Rachel kembali terbuka dengan jantung yang berloncatan. Tidak hanya itu, ia juga merasakan usapan halus di pangkal pahanya dari paha Nata.
Tangan Nata melonggarkan pelukanya dan mulai bergeriliya menyusup ke dalam gaun tidurnya. Ia mengusap sebelah benda sintal di dada Rachel membuat Rachel mengigit bibirnya pelan saat satu telapak tangan Nata berhasil menangkup penuh seluruh benda sintal miliknya.
Ada remasan lembut yang membuat Rachel merinding.
"Mas," panggil Rachel.
"Hem?" Nata mulai mengecupi leher Rachel, menyesapnya dalam dan sesekali membuat jejak kemerahan miliknya.
Rachel mengendikkan bahunya karena geli. Sedikit menarik tubuhnya menjauh.
"Kalau tidak membenciku, kenapa menghindar?" bisik Nata yang membuat bulu kuduk Rachel semakin meremang.
"Ng-nggak, aku gak menghindar." Tubuh Rachel yang semula tegang, sekarang berusaha untuk rileks.
"Oh ya?" tanya Nata sambil mengecup daun telinga Rachel dan satu tangannya mengusap paha Rachel, membuat gaun tidurnya terangkat ke atas.
"I-Iya." Rachel gemetaran.
Rasanya ia lebih memilih Nata yang diam-diam melakukan semuanya dan tiba-tiba tubuhnya mengejang di banding Nata yang banyak bicara dan membuat perasaannya tidak karuan.
"Katakan kalau ada yang tidak membuatmu nyaman." Kali ini tangan Nata mengusap perut Rachel. Parut Rachel mendadak tegang dan menahan nafas.
Rasanya ia ingin berteriak mendapat semua usapan lembut dari Nata seperti ini.
"Dan ingat, jangan menyimpan nama laki-laki lain di pikiranmu." Imbuh Nata dengan hidung yang menelusur garis leher Rachel.
"Maksud mas apa?" Rachel memberanikan diri menoleh Nata.
"Menurutmu?" tanya laki-laki itu.
Baru Rachel membuka mulutnya untuk menjawab, tiba-tiba saja Nata membungkam mulut Rachel dengan sebuah ciuman. Sekali, dua kali, bukan kecupan melainkan gigitan gemas. Ia sempatkan menatap wajah Rachel yang sudah memerah dan tegang.
"Jangan pernah melihat laki-laki lain dengan tatapan seperti ini." Ucap Nata penuh penekanan.
Satu tangannya tetap mengusap-usap tubuh Rachel hingga ke inti tubuhnya.
Rachel hanya menggeleng, ia tidak berani bersuara, mencoba menahan desahh.an yang hampir keluar dari mulutnya.
Dalam satu gerakan Nata berada tepat di atas tubuhnya. Satu dorongan membuat Rachel merasakan benda asing masuk ke dalam tubuhnya.
Rachel mencengkram lengan Nata dan laki-laki itu tampak menikmati apa yang sedang dilakukannya. Ia menatap lekat wajah Rachel yang menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah serta suara lirihnya yang terdengar, membuat ia semakin semangat menghantamkan tubuhnya ke tubuh Rachel.
Cengkraman Rachel semakin kuat seirama hentakan Nata yang kuat. Dalam beberapa saat semuanya mencapai puncak, Rachel dan Nata sama-sama mengejang dan saling berpelukan tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Di sisa gairahnya Nata mengecupi pipi dan leher Rachel sebelum kemudian tubuhnya ambruk. Ia perlu waktu sejenak untuk beristirahat, melepaskan lelahnya setelah mencapai puncak kenikmatan.
Selamat malam.
__ADS_1
****