Menjadi Dia

Menjadi Dia
30. Curiga


__ADS_3

"Darah? Rindy, kenapa kamu berdarah?"tanya ibu Rindy yang membuat semua orang yang ada di tempat itu terkejut.


"Sayang, kamu.."


"Anand, perutku sakit sekali!"keluh Rindy memotong kata-kata Anand.


"Kita bawa Rindy ke rumah sakit,"ucap ayah Rindy langsung bergegas mengambil kunci mobilnya.


"Sayang, bertahan lah!"ucap Anand seraya menggendong Rindy keluar dari rumah.


Ayah Rindy sudah menghidupkan mobilnya, dan ibu Rindy langsung membuka pintu mobil bagian penumpang di belakang kursi kemudi untuk Anand. Anand langsung masuk kedalam mobil dan memangku Rindy, memeluk istrinya dengan penuh kekhawatiran.


Setelah ibu Rindy masuk ke dalam mobil di sebelah kursi kemudi, ayah Rindy pun segera melajukan mobilnya. Sedangkan Jefri yang tadi sempat tertegun dengan apa yang terjadi barusan, setelah sadar langsung menyusul mobil ayahnya.


"Semoga Rindy baik-baik saja. Kenapa aku bodoh sekali? Aku sudah menyakiti adikku sendiri. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu pada Rindy? Argh.. kenapa bisa seperti ini?! Karena emosi, aku tidak bisa mengontrol diri ku sendiri!"rutuk Jefri yang merasa kesal dengan dirinya sendiri, mengendarai motornya di belakang mobil ayahnya.


Sementara di dalam mobil, semua orang nampak cemas mendengar Rindy yang kesakitan,"Anand, sakit sekali,"keluh Rindy masih memegang erat kemeja Anand, wajah Rindy terlihat pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajah nya.


"Sabar, sayang! Katakan! Mana yang sakit?"ujar Anand masih memeluk Rindy yang berada di atas pangkuan nya. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Anand.


"Perutku sakit sekali Anand,"ucap Rindy menahan sakit.


Karena tangan kirinya sedang memeluk Rindy maka Anand mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap perut Rindy dengan penuh kelembutan dan kehangatan.


Sesekali ayah Rindy melirik putrinya dari kaca spion depan yang ada di dalam mobil dengan wajah khawatir. Sedangkan ibu Rindy pun sama, sesekali menoleh ke belakang melihat putrinya yang nampak kesakitan.


Walaupun mereka tegang dan cemas, namun ada setitik kebahagiaan di hati kedua orang tua Rindy, saat melihat perhatian Anand pada Rindy. Dari tatapan mata dan ekspresi khawatir di wajah pria itu, mereka dapat merasakan bahwa menantu mereka itu sangat mencintai putri mereka.


"Bertahan lah, sayang! Kita akan segera sampai di rumah sakit,"ucap Anand masih mengelus perut Rindy dengan lembut.

__ADS_1


"𝘼𝙥𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜?"gumam ayah Rindy dalam hati.


"𝘼𝙠𝙪 𝙘𝙪𝙧𝙞𝙜𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪? 𝘼𝙥𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜?"gumam ibu Rindy yang mempunyai kecurigaan yang sama dengan suaminya.


Begitu sampai di rumah sakit, dokter jaga langsung bertanya apa yang terjadi pada pasien. Anand pun langsung mengatakan jika Rindy jatuh dan tiba-tiba mengalami pendarahan. Mendengar hal itu, dokter pun langsung membawa Rindy ke ruang bersalin.


Anand yang sedang menunggu di depan ruangan tempat Rindy ditangani pun langsung memojokkan Jefri yang mendekat ke tempat itu dan mencengkram kerah baju Jefri.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada istri ku, aku tidak akan pernah memaafkan mu!"ucap Anand dengan tatapan mata tajam pada Jefri.


"Anand, jangan membuat keributan! Ayah tidak ingin kita diusir dari sini,"ujar ayah Rindy melerai dua orang pria muda itu.


"Anand, tenangkan dirimu! Duduklah!"titah ibu Rindy seraya menarik tangan Anand dan membawa Anand untuk duduk di kursi tunggu.


Beberapa menit kemudian, seorang dokter wanita keluar dari ruangan tempat Rindy ditangani.


"Saya ingin bicara dengan suami ibu Rindy,"ujar dokter itu menatap Anand dan Jefri bergantian, seolah bertanya, yang mana suami Rindy.


"Mari ikut ke ruangan saya!"titah dokter itu berjalan lebih dulu dan Anand pun mengekor di belakang dokter itu.Mereka masuk ke sebuah ruangan dan duduk berhadapan. Hanya meja kerja dokter itu yang menjadi sekat diantara kedua orang itu.


"Sebelumnya, saya ingin bertanya. Apa anda tahu jika istri anda sedang mengandung?"tanya dokter itu membuat Anand membulatkan matanya.


Dari ekspresi yang ditampilkan Anand, dokter itu pun dapat menebak jika pria di depannya itu tidak mengetahui tentang kehamilan istrinya.


"Meng.. mengandung? Istri saya sedang mengandung?"tanya Anand memastikan bahwa apa yang didengarnya itu tidak salah.


"Iya. Usia kandungan istri anda sudah hampir menginjak enam Minggu,"jawab dokter itu menginformasikan pada Anand.


"Lalu bagaimana keadaan anak dan istri saya, dok?"tanya Anand dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bahagia, khawatir dan juga takut bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Mereka baik-baik saja. Tapi jika telat sedikit anda membawanya kemari, saya mungkin tidak dapat menyelamatkan bayi anda lagi. Saya sarankan agar anda tidak kasar saat melakukan hubungan suami-istri. Jika anda kasar, itu bisa mengancam janin dalam kandungan istri anda,"ujar dokter itu dengan tatapan tajam. Dari pemeriksaan tadi dokter wanita itu mengetahui, jika pasien yang ditanganinya dari melakukan hubungan suami-istri.


"Saya tidak kasar padanya, dok. Setelah kami berhubungan tadi, dia tidak mengeluhkan apapun. Dia berdarah seperti itu karena jatuh,"ucap Anand jujur.


Namun Anand jadi teringat beberapa hari yang lalu, istrinya mengalami haid. Dan itu terjadi saat Anand melakukan penyatuan dengan kasar. Namun Anand tidak berani mengatakan nya, saat melihat dokter wanita itu menatapnya dengan tatapan garang.


"Karena itu, sebagai seorang suami, anda harus menjaga istri anda baik-baik. Ada nyawa yang berada di dalam perut istri anda,"ucap dokter itu tegas.


"Iya, dok. Saya akan menjaga mereka baik-baik,"sahut Anand patuh, seperti murid yang sedang dimarahi gurunya.


Dokter itu memberi penjelasan tentang apa yang terjadi pada Rindy dan menjelaskan apa saja yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh Anand. Beberapa menit kemudian, Anand pun keluar dari ruangan dokter itu. Dan berjalan menuju sebuah ruang rawat inap, tempat saat ini Rindy berada.


"Tuan!"seru orang yang tidak lain adalah Darlen,"Ini baju, Tuan,"ujar Darlen menyodorkan paper bag pada Anand. Sebelumnya Darlen ditelepon Anand untuk membawakan pakaian ganti untuk Anand, karena pakaian Anand terkena darah Rindy.


"Terimakasih, Len!"ucap Anand menerima paper bag itu, kemudian membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Sedangkan Darlen nampak menunggu Anand yang sedang membersihkan diri. Dalam hati, Darlen bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ada noda darah di pakaian Anand dan mengapa Anand di rumah sakit.


Selesai membersihkan diri, Anand pergi ke ruang rapat Rindy, sedangkan Darlen masih setia mengekori majikannya. Anand dan Darlen masuk ke dalam sebuah ruangan. Dalam ruangan itu ada ayah ibu Rindy dan juga kakak Rindy. Sedangkan Rindy nampak masih terbaring tidak sadarkan diri. Hal itu semakin membuat Darlen penasaran, tapi tidak berani bertanya.


Ayah dan ibu Rindy pun langsung bertanya pada Anand tentang apa yang terjadi. Anand menjelaskan semuanya pada kedua mertuanya tentang apa yang terjadi pada Rindy sama seperti apa yang dijelaskan oleh dokter. Bedanya, Anand tidak mengatakan tentang pembicaraan nya dengan dokter mengenai hubungan suami-istri yang dijelaskan oleh dokter tadi.


Kedua orang tua Rindy dan juga Jefri nampak senang saat mengetahui bahwa Rindy sedang mengandung. Begitu pun dengan Darlen.


Jefri nampak mendekati Anand,"Maaf! Aku tidak bermaksud membuat Rindy terluka. Aku juga sangat menyayangi nya. Tadi itu, karena aku terlalu emosi. Maaf!"ucap Jefri yang secara gentle mengakui kesalahannya.


Anand menatap Jefri, mencengkram kerah kemeja Jefri dengan tatapan tajam dan aura yang terasa begitu dingin. Melihat hal itu, ayah dan ibu Rindy pun nampak khawatir.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2