Menjadi Dia

Menjadi Dia
31. Memperingati


__ADS_3

Anand menatap Jefri, mencengkram kerah kemeja Jefri dengan tatapan tajam dan aura yang terasa begitu dingin. Melihat hal itu, ayah dan ibu Rindy pun nampak khawatir.


"Kakak boleh marah padaku, tapi jangan pernah berbuat kasar pada istri ku. Aku memang bukan pria baik-baik, tapi aku tidak akan memperlakukan orang yang kucintai dengan kasar. Dan perlu kakak ketahui, soal Dini, aku benar-benar tidak berbohong. Jika kakak ingin mencari istri, lebih baik kakak mencari gadis yang lain,"ucap Anand memperingati Jefri, kemudian melepaskan cengkeramannya di kerah baju Jefri, berlalu meninggalkan Jefri dan duduk di kursi di sebelah brankar Rindy. Tangan kiri Anand menggenggam tangan Rindy sedangkan tangan kanan Anand mengusap kepala Rindy dengan penuh kasih sayang.


Ayah dan ibu Rindy nampak saling menatap. Sebenarnya kedua orang tua Rindy juga penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka terbangun karena keributan yang terjadi di samping rumah mereka dan menemukan anak dan menantu mereka yang nampaknya terlibat cekcok. Bahkan mereka dapat melihat memar di wajah Anand yang menandakan anak dan menantu mereka pasti baru saja berkelahi.


"Ayah dan ibu sebaiknya pulang saja. Biar aku yang menjaga Rindy,"ucap Anand menatap kedua mertuanya.


"Baiklah, jika ada apa-apa hubungi saja kami,"ucap ayah Rindy.


Akhirnya Jefri dan kedua orang tuanya pun pulang. Sedangkan Darlen masih tetap berada di ruangan itu menemani majikannya. Setelah sampai di rumah, ibu Rindy mendudukkan Jefri di ruang tamu.


"Katakan pada ibu! Apa sebenarnya yang terjadi tadi? Kenapa kamu berkelahi dengan Anand? Apa yang membuat kalian berkelahi?"cerocos ibu Rindy menginterogasi putranya, sedangkan ayah Rindy nampak diam menunggu jawaban dari putranya.


"Hanya salah paham, Bu. Dan tanpa sengaja aku membuat Rindy terjatuh,"ucap Jefri yang tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Wajahnya tertunduk merasa bersalah, karena tanpa sengaja hampir mencelakai adiknya dan juga keponakan nya sendiri yang masih dalam perut adiknya.


"Ayah tahu, sejak awal kamu tidak suka pada Anand, karena masa lalunya. Tapi orang bisa berubah, Jef. Ayah tidak tahu, dulu Anand brengseek nya seperti apa, namun yang pasti, Anand tidak pernah menyakiti adikmu,"ujar ayah Rindy.


"Ayah mu benar, Jef. Bagaimana pun masa lalu Anand, yang penting dia tidak pernah menyakiti adikmu. Apa kamu tidak bisa melihat, bagaimana khawatir nya Anand saat Rindy mengeluh sakit? Dari caranya memperlakukan dan menatap Rindy, ibu bisa melihat betapa Anand sangat mencintai Rindy. Dan lagi, walau seburuk apapun dia, kita tidak bisa memungkiri bahwa Anand adalah orang yang telah menolong kita. Jika Anand tidak menolong kita, mungkin kita sudah tinggal di jalanan,"ujar ibu Rindy.


"Anand memperlakukan adikmu dengan baik. Apalagi, sekarang adikmu sedang mengandung anak dari Anand. Apa kamu ingin adikmu menjadi janda dengan perut besar hanya karena kamu tidak menyukai masa lalu Anand? Apa kamu tega keponakan kamu nanti lahir dan hidup dengan orang tua yang terpisah?"tanya ayah Rindy membuat Jefri terdiam, karena semua yang dikatakan oleh kedua orang tuanya adalah benar.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Lalu kenapa kita tidak memberi kesempatan jika mereka ingin memperbaikinya?"imbuh ibu Rindy.


"Hapus rasa benci mu itu! Jangan karena rasa benci mu, kamu menghancurkan rumah tangga adikmu,"ujar ayah Rindy.


"Ya sudah, sebaiknya kita istirahat. Besok ibu akan ke rumah sakit untuk menjaga Rindy. Anand juga butuh istirahat,"ujar ibu Rindy, kemudian mereka pun beranjak untuk beristirahat.

__ADS_1


Jefri membanting tubuhnya di atas ranjang, membuang napas kasar menatap langit-langit kamarnya.


"Hampir saja aku membunuh keponakan ku sendiri. Paman macam apa aku ini? Apakah Rindy benar-benar mencintai si brengseek itu? Dan Dini? Apakah benar, Dini seperti yang dikatakan si brengseek itu? Tapi dia sepertinya sangat serius saat memperingati aku soal Dini. Akan akan menyelidikinya,"gumam Jefri berkali-kali menghela napas panjang.


Di rumah sakit, Rindy nampak mulai membuka matanya.


"Kamu sudah sadar? Bagaimana keadaan kamu? Apa masih sakit?"tanya Anand menatap lekat wajah istrinya.


"Aku merasa sudah lebih baik,"ucap Rindy lemah.


"Sayang, apa kamu tahu kalau kamu sedang mengandung?"tanya Anand membuat Rindy terkejut.


"A.. aku sedang mengandung?"Rindy malah balik bertanya.


"Hem, ada anak kita disini,"ucap Anand dengan seulas senyum di bibirnya seraya mengusap perut Rindy dengan lembut,"Terimakasih! Aku sangat bahagia. Maaf, karena beberapa hari yang lalu aku berbuat kasar padamu,"ucap Anand terlihat tulus. Sedangkan Rindy nampak masih syok dengan apa yang barusan didengar nya dari Anand.


"Istirahat lah! Aku akan menjagamu di sini,"ucap Anand seraya mengecup kening Rindy dengan lembut.


"Len, tolong kamu rahasiakan tentang kehamilan istriku. Aku tidak mau terjadi apapun pada anak dan istri ku,"ucap Anand nampak menatap Darlen serius.


"Iya, Tuan. Saya mengerti,"ucap Darlen


Paginya, ibu Rindy nampak datang bersama ayah Rindy. Mereka hanya melihat Rindy yang sedang duduk bersandar di ranjang. Orang tua Rindy pun bergegas menghampiri putri mereka.


"Bagaimana keadaan mu, Rin?"tanya ibu Rindy seraya menggenggam tangan putri nya.


"Sudah lebih baik, Bu,"sahut Rindy tersenyum tipis.

__ADS_1


"Dimana Anand?"tanya ayah Rindy yang tidak melihat keberadaan menantu nya di ruangan itu.


"Anand masih mandi, yah,"sahut Rindy bertepatan dengan kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu terbuka.


"Anand, ibu bawakan sarapan untuk kamu,"ucap ibu Rindy dengan seulas senyum.


"Terimakasih, Bu. Kebetulan aku belum sarapan,"ucap Anand tersenyum tipis. Akhirnya Anand pun menyantap sarapan yang dibawakan mertuanya. Sedangkan Rindy sarapan dengan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Ayah Rindy pamit ke restoran untuk membantu Jefri, sedangkan ibu Rindy menemani Rindy di rumah sakit.


"Bu, aku harus ke kantor. Apa meeting dengan klien. Setelah selesai, aku akan segera kembali ke sini. Tolong temani Rindy, ya Bu?!"pinta Anand pada ibu mertuanya.


"Iya. Ibu akan menjaga dan menemani Rindy. Kamu tenang saja, fokus saja pada pekerjaan mu,"sahut ibu Rindy.


"Terimakasih, Bu. Kalau begitu, aku pergi dulu, Bu!"pamit Anand.


"Iya, hati-hati!"sahut ibu Rindy.


"Sayang, aku pergi dulu,"pamit Anand pada Rindy kemudian mengecup kening Rindy. Rindy pun mengangguk kecil dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Setelah itu Anand pun keluar dari ruangan itu.


Ibu Rindy nampak senang saat melihat Anand yang memperlakukan putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Apa kamu mencintai Anand?"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2