
“Hey, kok ngelamun.” Ucap seorang wanita yang tiba-tiba menyentuh bahu Calvin.
Saat ini Calvin tengah berada di balkon ruang keluarga seorang diri. Ia tengah memandangi titik merah dari menara sinyal yang berkedip-kedip seolah menghipnotisnya dan membuatnya termenung memikirkan dalam-dalam, banyak hal yang ada di kepalanya.
Sudah sekitar satu jam Calvin termenung sendirian dan memikirkan kejadian yang menimpa Rachel siang ini.
“Mamah belum tidur?” tanya Calvin yang mulai tersadar. Ia meneguk kembali cairan hitam di cangkirnya untuk memfokuskan pikirannya.
“Mamah juga gak bisa tidur. Ngoroknya papah kenceng banget.” Jawab Alya yang tersenyum kecil pada putranya.
Ia duduk di samping Calvin, di atas ayunan yang kemudian bergerak pelan.
“Perlu temen bicara?” tawar Alya sambil menyandarkan tubuhnya dan menatap wajah putranya lekat.
Calvin hanya tersenyum kecil. Mendengar pertanyaan Alya, ia jadi teringat ucapan Rachel siang ini.
“Kakak mungkin punya keluarga yang sempurna tapi itu bukan alasan bagi kakak untuk mengejek kondisi keluargaku. Jadi tolong berhenti mengatakan hal-hal yang tidak perlu.” Tegas Rachel dengan penuh kekesalan.
Rachel benar, keluarganya memang sempurna. Mereka saling menyayangi, melindungi dan saling peduli satu sama lain. Rachel juga benar, kalau kondisi keluarganya yang sempurna bukanlah alasan yang membuat ia merasa punya hak untuk menghakimi keluarga Rachel.
“Apa kamu ketemu seorang gadis?” selidik Alya, yang penasaran dengan senyum Calvin yang belakangan sangat sering ia lihat.
Sayangnya kali ini senyuman itu disertai kecemasan. Kecemasan yang biasa ditunjukkan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
“Ya, aku ketemu dengan seorang gadis yang luar biasa.” Puji Calvin pada sosok gadis yang ada di benaknya.
“Wow! Sudah sejauh mana?” Alya semakin penasaran.
Calvin menggeleng lalu tersenyum. “Hanya sebatas bertemu dan mendukungnya dengan segala cara yang aku punya.” Akunya, dengan tatapan sendu.
“Kenapa? Apa gadis itu tidak melihat ketampanan dan kebaikan putra mamah?” Alya mengusap pipi Calvin dengan lembut.
Calvin menoleh ibunya beberapa saat. Alya bisa melihat, senyuman itu ini berubah menjadi gurat kesedihan.
“Dia udah nikah.” Suara Calvin terdengar berat.
“Oo….” Mulut Alya membulat mendengar ucapan putranya.
“Tau. Hanya saja, saat ini dia membutuhkan bantuanku. Dan aku gak yakin kalau pernikahannya bahagia.”
“Darimana kamu tau? Dia ngeluh sama kamu?” Alya terlihat semakin penasaran.
“Nggak, dia nggak ngeluh sama sekali. Dia bahkan sangat gak suka saat aku mengomentari kondisi rumah tangganya.”
“Kalau gitu, hormati usaha dia yang sedang mempertahankan pernikahannya. Mamah rasa, dia masih sangat muda. Gejolak dalam pernikahan itu selalu ada apalagi di usia muda. Keegoisan dan gengsi satu sama lain masih sangat tinggi. Kamu gak boleh masuk ke lingkaran itu kalau dia gak ngasih kamu celah.”
“Hargai pilihannya. Mamah yakin, dia tahu apa yang sedang dia lakukan.” Saran Alya.
__ADS_1
Calvin mematung beberapa saat lalu mengangguk pelan. Ia membenarkan ucapan Alya bahwa Rachel tidak pernah memberinya celah sedkitpun. Gadis itu bahkan tidak meminta pertolongan. Ia begitu yakin kalau ia bisa bertahan dalam pernikahannya.
“Perlu masukan lain?” tanya Alya yang masih memandangi putranya. Ia tidak mau Calvin melanggar batas yang tidak seharusnya ia masuki.
Calvin menggeleng. Ia melingkarkan tangannya di bahu Alya lalu mengecup pucuk kepala ibunya.
“Mah, mamah punya pengalaman gak sama komunitas yang mengkampanyekan tentang pelecehan terhadap wanita dan anak-anak?” Calvin mulai mengalihkan pembicaraan.
Baginya, ada hal yang lebih penting di banding memikirkan perasaannya.
“Ada. Emang kenapa? Kamu mau masuk?”
“Bukan Calvin mah, tapi temen Calvin. Dia baru merintis usahanya sebagai bintang iklan layanan masyarakat. Dia nanya, apa dia bisa membawakan iklan layanan masyarakat sekaligus mengkampanyekan aksi penolakan terhadap pelecehan.”
“Menurut mamah gimana?”
“Emm… ide yang bagus. Isu semacam ini menurut mamah sangat perlu diangkat karena banyak korban yang mengalami pelecehan dengan berbagai bentuk tapi gak pernah berani lapor. Entah itu karena malu atau takut.”
“Kalau mamah sih ngedukung banget kampanye semacam ini. Kalau temen kamu yakin mau gabung, mamah bisa ketemu dia kapan, kamu janjiin aja. Nanti biar mamah minta juga temen mamah yang psikolog riset dulu bentukan iklannya mau seperti apa. Gimana?” tawar Alya.
“Aku setuju mah. Nanti Calvin bilang dulu sama temen Calvin. Dia pasti seneng banget.” Ucap Calvin seraya mengeratkan pelukannya pada Alya.
Alya hanya mengangguk-angguk kecil. Melihat ekspresi Calvin yang berubah drastis, rasanya ia sangat penasaran untuk segera bertemu dengan “Teman” yang dimaksud putranya.
__ADS_1
****