
Anand keluar dari gang menghampiri mobilnya yang di parkir Darlen di pinggir jalan. Darlen nampak keluar dari sebuah warung yang tidak jauh dari mobil itu diparkir, berlari ke arah mobil Anand, saat melihat majikannya itu keluar dari gang.
"Maaf, karena harus menunggu aku lama,"ucap Anand pada Darlen.
"Tidak apa-apa Tu..."Darlen menjeda kata-katanya saat melihat bibir Anand yang tampak pecah dan pelipis Anand yang memar,"Tuan, kenapa Tuan terluka? Tuan dari berkelahi?"tanya Darlen nampak terkejut.
"Ah, ini hanya salah paham saja,"sahut Anand santai kemudian langsung masuk ke dalam mobil.
Darlen pun langsung menyusul Anand masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman,"Tuan, kita akan kemana lagi?"tanya Darlen bersiap mengendarai mobil Anand.
"Kita pulang,"sahut Anand kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
"Baik, Tuan,"sahut Darlen langsung tancap gas mengendarai mobil Anand kembali ke rumah Pramana.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, membelah kemacetan, akhirnya mereka pun sampai di rumah Pramana. Anand langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Anand tidak mendapati Rindy di dalam kamar itu. Anand pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Ceklek"
"Akkhh!"pekik Rindy yang terkejut saat tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar mandi,"Kenapa kamu masuk ke sini?"tanya Rindy memalingkan wajahnya yang memerah karena malu, seraya memegang handuk yang melilit di tubuhnya. Handuk yang hanya menutup tubuhnya dari dada hingga paha.
"Aku tidak tahu, jika kamu sedang mandi, sayang,"ucap Anand seraya mendekati Rindy.
"A.. aku sudah selesai. Aku mau keluar,"ucap Rindy hendak keluar dari kamar mandi itu, untuk menghindari Anand. Tapi Anand malah menghadangnya.
"Anand, aku mau keluar,"ucap Rindy seraya mendorong tubuh Anand ke samping, tapi Anand malah memeluknya,"Anand! Lepaskan!"ucap Rindy seraya mendorong dada Anand, namun tidak bisa membuat Anand melepaskan pelukannya.
"Mandi lagi, yuk!"bisik Anand dengan hembusan napasnya yang terasa hangat di leher Rindy, membuat Rindy bergidik.
"A.. aku sudah mandi,"sahut Rindy kembali mendorong dada Anand.
"Ah, sayang sekali, aku pulang telat beberapa menit dan melewatkan acara mandi bersama mu,"ujar Anand seraya melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Setelah Anand melepaskan pelukannya, Rindy pun bergegas keluar dari kamar mandi. Namun saat tangannya menyentuh kenop pintu, tiba-tiba Anand memanggilnya.
"Sayang, jangan keluar dari kamar dulu, ya! Aku ingin meminta tolong padamu,"ucap Anand seraya menoleh ke arah Rindy yang hampir membuka pintu kamar mandi.
"Iya,"sahut Rindy, lalu membuka pintu itu dan keluar dari kamar mandi. Dengan cepat Rindy mengambil pakaian nya dari dalam lemari dan segera mengenakannya.
Beberapa menit kemudian, Anand keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Memperlihatkan dadanya yang bidang dan perut rata berotot nya yang nampak menggoda.
Rindy yang sedang duduk di tepi ranjang pun memalingkan wajahnya agar tidak melihat pemandangan yang sesungguhnya sangat memanjakan matanya itu. Rindy tidak ingin terpesona melihat tubuh Anand dan ketahuan oleh Anand bahwa dirinya sangat mengagumi tubuh suaminya itu.
Rindy jadi teringat saat Anand tidur karena kelelahan setelah bercinta dengan nya. Waktu itu, Rindy puas menggerayangi dada dan perut suaminya yang berotot. Wajah Rindy jadi memerah saat mengingat perbuatan nakalnya waktu itu.
"Tolong aku!"suara bariton Anand yang menyapa pendengarnya membuat Rindy tersadar dari lamunan nakalnya.
Rindy menatap kotak obat yang disodorkan oleh Anand padanya. Rindy kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah Anand dan terkejut saat melihat bibir dan pelipis Anand yang terlihat memar. Dari tadi, Rindy memang tidak terlalu memperhatikan wajah Anand, sehingga tidak melihat memar di bibir dan pelipis Anand.
"Wa.. wajahmu? Ke.. kenapa dengan wajah mu?"tanya Rindy nampak terkejut.
"Tadi ada sedikit salah paham dengan seorang teman. Tapi sudah terselesaikan, kok. Tolong obati!"pinta Anand penuh harap.
"Auwh! Pelan-pelan sayang!"rintih Anand manja. Pukulan Putra yang lumayan keras membuat bibir Anand pecah dan memar berwarna keunguan.
Tanpa disadari sepasang suami-isteri itu, pintu kamar mereka tidak tertutup rapat hingga Ringgo yang tidak sengaja lewat di depan kamar sepasang suami-isteri itu pun berhenti tepat di depan pintu kamar saat mendengar suara Anand.
"Apa yang mereka lakukan sore-sore begini?"gumam Ringgo lirih.
"Ughh.. sayang!"rintih Anand saat obat yang dioleskan Rindy terasa perih di bibirnya yang pecah.
Ringgo yang masih berdiri di depan pintu Anand pun membulatkan matanya saat mendengar rintihan Anand.
"Apa mereka sedang bercinta? Sore-sore begini?"gumam Ringgo lirih seraya menajamkan pendengarannya.
Sedangkan Rindy merasa kesal karena menurutnya Anand terlalu lebay. Rindy sudah mengoleskan obat itu hati-hati, tapi Anand masih merintis kesakitan.
__ADS_1
"Anand!"pekik Rindy saat Anand tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan mendudukkan Rindy di atas pangkuan Anand.
"Posisi tadi tidak nyaman, sayang. Kalau seperti ini akan lebih nyaman,"ujar Anand tersenyum tipis seraya mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi genit.
"Mereka berganti posisi?"gumam Ringgo yang semakin penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sepasang suami-isteri itu di dalam kamar.
Rindy kembali fokus mengobati bibir Anand, tanpa menyadari jika Anand sedang menatap ke arah dua benda favoritnya yang terlihat belahannya. Dengan nakalnya, Anand meremas benda favoritnya itu.
"Anand!"pekik Rindy yang terkejut dengan perbuatan nakal Anand.
"Auw! Pelan-pelan, sayang! Sakit!"Anand juga ikut memekik, karena saat Rindy terkejut, wanita itu tidak sengaja menekan bibir Anand yang pecah dengan cotton bud.
Rindy mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal dengan kejahilan Anand. Saat seperti ini, Anand masih bersikap genit bahkan jahil.
"Sayang, jangan seperti itu! Bibir mu itu membuat ku.. Auwh! Sakit, sayang! Jangan terlalu ganas seperti ini!"pekik Anand saat Rindy yang kesal dengan sikap Anand kembali menekan bibir Anand yang pecah.
"Apa Rindy begitu ganas? Dari tadi Anand meminta Rindy melakukannya pelan-pelan. Apa karena Rindy ganas, Anand jadi tidak suka main perempuan lagi?"Ringgo semakin penasaran dengan apa yang terjadi di dalam kamar sepasang suami-isteri itu. Sangking penasaran nya, Ringgo berusaha mengintip ke dalam kamar dari celah pintu yang terbuka, hingga...
"Brakk"pintu kamar Anand tiba-tiba terbuka. Ringgo yang terlalu penasaran dengan apa yang terjadi di dalam kamar sepasang suami-isteri itu, tanpa sengaja terhuyung, membuat pintu kamar Anand terbuka lebar.
Anand yang terkejut langsung menoleh ke belakang, karena posisinya yang duduk membelakangi pintu. Sedangkan Rindy nampak menyembulkan kepalanya dari balik tubuh Anand yang lebih besar darinya, melihat apa yang terjadi di pintu.
"Ma.. maaf! A.. aku tidak sengaja!"ucap Ringgo segera menutup pintu kamar Anand dan menjauh dari kamar sepasang suami istri itu,"Mereka melakukan nya dengan posisi duduk?"gumam Ringgo seraya berjalan. Ringgo tidak memperhatikan jika Anand masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Bahkan Rindy masih berpakaian lengkap, namun tidak terlihat oleh Ringgo karena tubuh Rindy tertutup tubuh Anand yang lebih besar dari tubuh Rindy
Sedangkan Anand dan Rindy saling menatap dengan ekspresi terkejut dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi, kemudian malah tertawa bersama. Namun tawa itu langsung terhenti saat Anand kembali merasakan bibirnya yang sakit karena tertawa.
...π"Jangan sampai rasa penasaran mu membuat mu malu."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
To be continued