Menjadi Dia

Menjadi Dia
Kedua kutub


__ADS_3

Taman sekolah ini adalah taman tempat biasanya Brandon bermain. Hanya ada Martha dan Rachel di sana. Mereka duduk berdampingan di sebuah bangku panjang. Kolam air mancur yang dikelilingi bunga-bunga menjadi pemandangan menarik untuk meraka.


“Gimana kabar mamah?” tanya Rachel, dengan penuh kecemasan.


Martha tidak menjawab, lidahnya terlalu sulit untuk digerakkan. Hanya bulir air mata yang kemudian menetes tanpa di minta.


Ia masih mengingat, sebulan lalu Rachel seperti membangunkannya dari tidurnya yang terlalu lelap. Suara Rachel yang memanggilnya dengan sepenuh hati, membuat kesadarannya seperti terpanggil.


Ia jadi mengingat bagaimana awal mula Rachel datang ke rumahnya. Tidak Bary ataupun Ivana, selalu saja memuji kebaikan seorang Rachel tapi ia tidak melihat kelebihan apapun dari Rachel selain sosoknya yang terlalu biasa.


Gadis yang saat ini duduk disampingnya, adalah seorang gadis polos yang dibawa Bary dan Ivana masuk ke dalam rumahnya sebagai menantunya. Gadis yang memiliki latar belakang keluarga yang sangat sederhana dan menurutnya tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Rachel.


Tapi entah apa yang dimiliki gadis ini hingga Ivana dan Bary begitu menyayanginya. Setiap pulang kerja, yang pertama ditanyakan Bary adalah Rachel.


“Sudah makan nak? Gimana kabar kamu hari ini?” dua pertanyaan itu seperti pertanyaan wajib yang ditanyakan Bary pada menantunya.


Menanyakan kabar Rachel dirasa lebih sering di banding bertanya kabar istrinya sendiri. Sebesar itukah ketakutan Bary, Rachel tidak kerasan tinggal di rumahnya?


“Ajakin Rachel lah mah, kalau mamah pergi-pergian. Dia anak yang pintar dan mudah bergaul. Mamah jangan menjaga jarak gitu sama Rachel.” Ujar Bary suatu waktu.


“Ngapain aku ngajak-ngajak dia? Orang aku gak kenal sama dia. Inget ya, mas dan Ivana yang bawa dia masuk ke rumah ini, bukan aku.”


“Lagian mas, aku tuh keluar rumah buat ketemu temen-temenku. Mas tau kan, temenku siapa aja? Dengan membawa Rachel, apa yang bisa aku pamerin sama temen-temenku?” Martha mendelik tidak suka pada permintaan suaminya.


“Loh, emangnya punya mantu itu buat dipamerin? Buat dikontesin sama mamah?” Bary balik bertanya.


“Ya, nggak. Tapi maksud aku, apa yang bisa aku banggain di depan temen-temenku kalau mereka nanya latar belakang Rachel? Ibunya tukang kue, dia lulusan S1 ekonomi tapi cuma jadi beban suami, gitu?” Martha berbalik tidak terima.


“Mah! Jaga ucapan mamah!” Bary mulai meradang. Menurutnya ucapan Martha keterlaluan.


“Papah yang jangan ngadi-ngadi!” Martha balas menyalak.

__ADS_1


“Sejak perempuan masuk itu ke rumah ini, mamah jadi gak kerasa di rumah. Setiap saat aku berusaha menahan diri melihat dia yang kalian perlakukan seolah menjadi poros di rumah ini. Inget pah, dia cuma menantu. Kalau Nata gak suka sama dia dan dia dicerai, dia cuma jadi orang lain!”


“Mah! Mamah gak liat kalau Nata berubah sejak ketemu Rachel? Putra kita membaik sikapnya. Dia gak gila kerja lagi.”


“Iya, itu maksud mamah. Rachel merubah anak mamah. Sekarang Nata bahkan berani berbicara tinggi sama mamah cuma demi belain dia.” Mata Martha menyalak tidak terima.


Setiap hari, hal seperti itulah yang menjadi bahan perdebatan antara ia dan Bary. Martha mulai lelah dengan semua permasalahan keluarga mereka. Hingga sesaat sebelum Bary meninggalpun, Rachel lah yang dicari-cari. Entah pesan terakhir apa yang dikatakan suaminya pada menantu yang tidak ia sukai itu.


Hingga suatu hari, Rachel membuat kesalahan. Saat Martha mengadakan arisan pertama kali, Rachel diminta menjamu tamu-tamunya. Rachel yang seharian di dapur tampak kumel. Saat menyodorkan makanan ke teman-temannya, tiba-tiba saja Brandon berlari dan menabrak Rachel.


Minuman di tangan Rachel pun tumpah berantakan dan mengenai baju salah satu teman Martha. Dengan ringan Martha melayangkan tangannya pada Rachel untuk pertama kalinya. Ia memaki Rachel habis-habisan. Setelah Brandon yang sering membuatnya malu, sekarang Rachel yang membuat keluarga ini terlihat rendah dan hina di banding keluarga teman-temannya.


Sejak hari itu, memaki Rachel seolah menjadi pelampiasan paling menyenangkan untuk menyalurkan emosinya. Ia begitu menyukai setiap kali berhasil membuat Rachel terintimidasi, tertunduk hingga menitikkan air mata. Ia sangat ingin melihat Rachel akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pergi.


Tapi wanita ini terlalu keras kepala. Terlalu keras kepala, hingga saat Martha terjebak dalam lubang hitam dan nyaris pergi untuk selama-lamanya, keras kepalanya Rachel membuat ia terbangun. Ia terlalu keras kepala untuk tetap menerima semua perlakuan kasar dan buruk sambil berkata,


“Rachel gak pernah membenci mamah. Rachel sayang sama mamah seperti Rachel menyayangi mamah Eva.” Ucapan Rachel yang satu itu seperti alarm yang membangunkan alam bawah sadar Martha yang putus asa dan nyaris menyerah.


“Mah, mamah kenapa? Apa ada yang sakit?” Rachel berreaksi dengan cepat saat mendengar isakan Martha.


Martha menggeleng pelan. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan apa-apa padahal banyak hal yang ingin ia katakan pada Rachel.


“Maaf kalau Rachel bikin mamah gak nyaman. Biar Rachel panggilkan kak Ivana atau mas Nata. Mamah tunggu sebentar.” Dengan penuh kesadaran diri Rachel hendak beranjak. Ia tidak mau memancing emosi Martha yang membuat kondisi Martha malah memburuk.


Tapi baru Rachel akan beranjak, tiba-tiba tangan kisut Martha menahannya. Rachel pun urung melanjutkan langkahnya saat melihat Martha menangis sambil menggelengkan kepala seolah meminta Rachel untuk tidak pergi.


“Mamah masih bolehin Rachel di sini?” tanya Rachel dengan ragu.


Wanita tua itu mengangguk.


Rachelpun kembali duduk sambil memandangi tangannya yang digenggam Martha dengan erat. Ini kali pertama Martha memeganginya dengan erat.

__ADS_1


“Mamah jangan nangis, Rachel gak akan kemana-mana kok. Rachel cuma takut, mamah gak nyaman duduk sama Rachel.” Ucap Rachel, seraya menatap lekat wajah Martha yang belum simetris itu.


Dengan sepenuh hati ia mengusap air mata Martha tapi malah membuat Martha semakin menangis. Hanya raungan yang di dengar Rachel tanpa ada satupun kata yang jelas.


Beberapa saat Martha menangis sesegukan di hadapan Rachel sambil memegangi tangan Rachel. Satu tangannya yang masih berfungsi itu, beralih menyentuh satu tangan lainnya yang lemah. Ia melepas satu cincin dari jari manisnya. Lalu membenamkan cincin itu di tangan Rachel.


“Mamah ngasih ini buat Rachel?” tanya Rachel.


Martha hanya mengangguk.


“Makasih mah.” Rachel tidak kuasa menahan air matanya. Entah ini cincin tanda perpisahan atau apa, Rachel tidak memahaminya. Tapi kemudian, dengan tangannya yang gemetar, Martha menyematkan cincin itu di jari manis tangan kanan Rachel.


Ia juga merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel miliknya. Ponsel yang selalu menampilkan halaman pesan baru untuk Martha jika ingin menuliskan sesuatu di sana. Ivana yang memiliki inisiatif ini karena sadar Martha tidak bisa bicara dan hanya satu tangannya yang berfungsi.


Tangan kisut daan gemetar itu menuliskan sesuatu yang kemudian menunjukkannya pada Rachel. Rachel membaca tulisan itu dengan air mata tertahan.


“Pulanglah, temani mamah di rumah.” Tulis Martha.


Rachel masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya. “Mamah minta Rachel pulang ke rumah mamah?” tanya Rachel dengan terbata-bata.


Martha menyahuti dengan mengangguk pelan. Satu satu jawaban sederhana itu membuat Rachel tidak bisa berkata-kata.


“Boleh, Rachel peluk mamah?” suara Rachel nyaris tidak terdengar.


Martha tidak menjawab, ia memilih mencondongkan tubuhnya dan merangkul Rachel. Dua wanita itu kini berangkulan dengan perasaan yang menderu di dada masing-masing.


Saat ini Martha sangat sadar, kalau Rachel benar-benar membawa ketenangan dalam hidupnya. Nyatanya, pilihan Bary itu baik dan benar kalau Rachel akan membawa ketenangan untuk keluarganya. Ada rasa hangat dan damai saat tubuh Martha dan menantunya yang kurus ini, berangkulan. Dalam beberapa saat, mereka menangis bersamaan.


Ralat, tidak hanya mereka. Dua orang dikejauhan sana pun ikut meneteskan air mata melihat dua kutub itu akhirnya bisa saling berangkulan.


Andai saja semua hal ini terjadi sejak dulu, bukankah mereka akan sangat bahagia?

__ADS_1


****


__ADS_2