
Meeting persiapan syuting iklan baru menjadi salah satu hal yang membantu mengalihkan sedikit pikiran Rachel dari masalah rumah tangganya. Bertemu dengan orang-orang baru dan berbincang akrab dengan mereka menjadi hal yang cukup menghibur Rachel. Usahanya untuk tetap terlihat professional walau hatinya sedang hancur, bisa ia lakukan dengan baik. Mungkin karena ia terbiasa untuk tampil seolah baik-baik saja.
Banyak hal yang mereka bicarakan dan membuat wawasan rachel semakin luas dan terbuka. Ada peluang dan rintangan yang akan Rachel hadapi tapi itu bukan sesuatu yang harus membuatnya menyerah. Ia sudah bertekad akan bertahan demi peluang yang mungkin menjadi rejekinya.
“Besok kita mulai syuting, hari ini kita test make up dulu ya.” Itu simpulan yang diberikan Fany pada Rachel.
“Iya kak. Tema make up nya apa kak?” Rachel melihat-lihat buku make up yang biasa mereka gunakan sebagai panduan.
“temanya classy tipe make upnya simple elegan. Gak jauh berbeda dari iklan kamu yang sebelumnya. Cuma buat yang sekarang, mereka pengen kamu pake baju warna merah, sesuai sama produk yang mau dl launcing.”
“Kamu tau Chel, kalau kita bisa mencapai penjualan maksimal setelah iklan ini, ada kemungkinan di periode berikutnya kamu yang akan menjadi BA nya.” Terang Fany dengan semangat.
“Iya kak, aku akan berusaha dengan keras.” Hanya itu yang bisa Rachel janjikan.
Ya, untuk datang rapat saja ia memerlukan usaha keras melawan kondisi tubuhnya yang sedang tidak sehat dan pikiran serta perasaannya yang kacau balau. Mana mungkin ia tidak totalitas melakukan semuanya?
“Good! Kamu emang kebanggan aku.” Fany mengusap punggung Rachel memberi semangat. Rachel hanya tersenyum kecil.
“Okey, ayo kita test make up dulu sama kostum.”
“Iya kak.”
Rachel dan Fany sama-sama menuju ruang make up. Di sana sudah ada seorang make up artis yang menunggu Rachel.
“Wah, modelnya cantik. Kayaknya gue gak akan nemu kesulitan selama kita proses make up.” Ucap laki-laki kemayu yang memandangi wajah cantik Rachel di cermin.
“Kantung mataku tapi keliatan loh kak.” Rachel menyentuh kantung matanya yang memang menghitam.
“Gampang! Nanti malem kamu kompres pake timun sambil kamu maskeran. Di jamin besok langsung segeran lagi. Atau pake make up tipis juga nanti tersamarkan.”
“Ngomong-ngomong, nanti ada zoom muka gak nek?” tanya laki-laki itu pada Fany.
“Ada, tapi cuma beberapa detik aja.” Sahut Fany yang mendekat.
“Kamu jangan kurang tidur yaa, karena kesegaran muka kamu adalah kunci.” Imbuh Fany.
“Siap kak, aku usahain tidur cukup. Tapi kadang kalau ada kerjaan besoknya, aku malah suka gak bisa tidur.”
“Wajar sih. Tapi syutingnya kan kita besok siang, masih cukup waktunya kalau kamu mau maskeran dulu. Iya kan ne?” Fany bertanya pada laki-laki kemayu itu.
“Iya lah cukup. Mau perawatan dulu juga cukup. Nanti gue ajakin anak-anak salon gue biar bantu dia. Asal lo mau aja dirisihin sama berisiknya mereka.”
“Mau dong diberisikin.” Ucap Rachel dan Fany bersamaan.
“Loh, hahahaha… kompak banget kalian. Udah sefrekuensi rupanya.” Puji sang make up artist.
“Hahahaha… iyaa udah klik gue sama Rachel. Dia artis yang menyenangkan dan gak neko-neko.” Fany mengusap punggung Rachel dengan sayang.
__ADS_1
Mereka berpandangan lewat kaca. ”Aku yang beruntung bisa punya manager kayak kak Fany.” Rachel mengungkapkan dengan sebenarnya.
“Uuuhhh so sweet….” Ucap Fany yang di buat terharu. Ia merangkul Rachel beberapa saat.
“Udeehh gak usah lebay. Gue test make up dulu nih, nanti gak kelar-kelar.” Protes sang make up artis.
“Ah sirik lo. Sirik tanda tak mampu. Pengen ikutan meluk kan lo, tapi inget kodrat lo tetep lekong. Jadi gak boleh!” Ledek Fany.
Rachel hanya terkekeh mendengar obrolan dua orang di sampingnya. Mirip tom dan jerry.
****
Selesai test make up, Rachel pergi ke toko bunga. Di sana sudah ada Ruby dan Eva yang sedari tadi terus menanyakan keberadaannya. Mereka menunggu dengan cemas kedatangan Rachel yang sangat mereka nanti.
“Syukurlah adek ke sini. Mamah dengar adek gak enak badan?” Eva menyambut Rachel di mulut pintu.
“Iya mah, kayaknya adek salah makan. Jadi agak gak enak perutnya. Tapi sekarang udah lebih baik kok.” Ungkap Rachel.
“Dari tadi mamah ngeliatin pintu terus, takut adek gak jadi dateng.” Ruby ikut menambahkan.
“Maaf udah bikin kakak sama mamah cemas.” Rachel menyandarkan kepalanya bermanja di bahu Eva.
Ia senang keluarganya memberikan perhatian yang sangat besar, namun terkadang hal ini yang membuat Rachel sulit untuk bercerita tentang masalahnya. Ia tidak mau mengubah raut penuh kasih itu menjadi raut wajah gelisah karena mencemaskannya.
“Kok minta maaf, saling mencemaskan antar keluarga itu artinya kita saling peduli. Bukan hal yang harus dimintai maaf tapi disyukuri dan di pupuk.” Terang Eva yang mengusap kepala putrinya dengan sayang.
Matanya sampai berkaca-kaca karena rasa menyeruak didadanya. Banyak hal yang ingin ia ceritakan tapi ia tidak tahu harus memulainya darimana.
Mungkin sebelum bercerita, ia harus mempersiapkan diri terlebih dahulu agar bisa menguasai perasaannya.
“Tumben bilang sayang juga sama kakak. Biasanya sama mamah doang!” goda Ruby sambil menjawil hidung Rachel yang bangir.
“Loh, emang aku gak pernah bilang sayang ya?” Rachel menegakkan tubuhnya menunggu jawaban Ruby.
“Nggak. Paling setahun sekali doang kalau aku ulang tahun.” Ruby pura-pura berdecik sebal.
“Ya ampuuuunnn, aku pikir udah sering. Di rapel sekarang boleh?” Rachel balas menggoda.
“Gak mau, basi.” Ruby memilih menjauh dari Rachel.
“Iihh mana ada bilang sayang itu basi,” Rachel segera menghampiri sang kakak.
“Gak, aku gak mau denger.” Ruby menutup kedua telingannya dengan tangannya.
“Tapi aku maksa.” Rachel menarik tangan Ruby dan sengaja ingin berbicara di dekat telinganya.
“Aku sayang kakak, aku sayang kakak.” Cicitnya berulang.
__ADS_1
“Adek berisikk ikh.” Protes Ruby.
“Aku sayang kakak. Aku sayang kakak.” Rachel tetap memaksa agar Ruby mendengar ucapannya.
“Hahhaha….” Eva tertawa kecil di tempatnya melihat tingkah kedua putrinya yang layaknya anak kecil. Rasanya menyenangkan melihat tingkah manis kakak beradik ini. Ia berharap, keduanya akan saling menyayangi sampai maut memisahkan.
Membicarakan maut, entah mengapa ia jadi teringat pada mendiang suaminya. Andai saja suaminya mash ada, tentu ia pun akan sangat bahagia melihat kedua putrinya yang selalu ceria dan saling menyayangi. Tapi sayangnya, waktunya tidak banyak hanya untuk sekedar diingat oleh Rachel, putri bungsu mereka.
Melihat keceriaan kedua putrinya, tiba-tiba saja air mata Eva lolos menetes. Ia memalingkan wajahnya agar kedua putrinya yang sedang saling menggoda itu tidak melihat air matanya.
“Adek, ayo makan dulu. Biar perutnya cepet sembuh.” Ucap Eva yang berjalan ke dapur toko dan menyiapkan makanan untuk putrinya.
Rachel menghentikan sejenak candaannya dengan sang kakak lalu menyusul Eva ke dapur. Eva terhenyak saat tiba-tiba saja Rachel memeluknya dari belakang dan menempatkan dagunya di bahu Eva.
“Waahh ada makanan favorit adek. Pasti enak banget.” Ucap Rachel dengan wajah berseri. Selera makannya mendadak terkumpul.
“Iya, mamah masak makanan kesukaan adek. Tapi, sayurnya harus di habisin yaa. Itu obat biar adek gak mual-mual.” Timpal Eva seraya mengusap pipi sang anak dengan lembut.
Rachel mengangguk kecil. “Minta disuapin boleh?” ucap Rachel yang bermanja.
"Disuapin?" Eva menoleh putrinya sejenak.
Rachel terangguk yakin dengan raut muka yang menggemaskan.
“Boleh dong.” Sahut Eva.
“Asyiikk… tapi bentar ya mah, adek masih mamu meluk mamah.”
Rachel masih enggan melepaskan pelukannya. Ia sengaja menyembunyikan wajahnya di belakang tengkuk Eva. Dadanya terasa sangat sesak. Kalau saja ia tidak menahannya, mungkin air matanya sudah menetes dan beranak sungai. Tapi ia sadar kalau ia tidak boleh membuat ibunya cemas.
“Mah, adek lagi gak baik-baik aja dan aduk gak tau harus gimana.” Batinnya yang bergemuruh berucap lirih. Pelukannya semakin erat pada Eva, membuat ibu dua anak itu mengusap lengan putrinya yang terlampau erat memeluknya.
Batin seorang ibu itu kuat, ia tahu putrinya sedang tidak baik-baik saja. Di balik celotehnya yang riang dan senyumnya yang terkembang, Eva tahu, Rachel sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun ia memilih diam, menunggu Rachel yang lebih dahulu menceritakan apa yang sedang ia alami. Sambil memastikan kalau perhatiannya cukup untuk sang putri.
Di belakang sana, Ruby mengabadikan beberapa foto Rachel dengan Eva. Menurutnya ada kejanggalan dalam tingkah laku Rachel. Diantara foto yang berhasil di ambilnya, satu foto ia kirim pada seseorang.
“Menurut kamu, apa dia baik-baik aja?” tanya Ruby pada seseorang yang tidak lain adalah Calvin.
Calvin yang melihat foto kiriman terhenyak kaget. Hubungan darah memang kental itu dibuktikan oleh Ruby dan Rachel. Andai saja ia punya izin dari Rachel, ingin rasanya ia menceritakan semua yang pernah ia lihat.
“Kamu harus percaya dia kuat.” Balasan itu yang akhirnya diberikan Calvin.
Ruby tersenyum kelu membaca pesan balasan dari Calvin. “Artinya kamu setuju kalau Rachel lagi gak baik-baik aja kan Vin?” gumamnya dengan rasa sesak tertahan melihat usaha adiknya untuk ceria.
*****
__ADS_1