
Ivana masih berdiam diri di depan sebuah jendela besar. Ia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya dan masih memandangi Martha yang tengah terbaring di ruang ICU. Lagi, ia harus bersiap merasakan kehilangan orang tuanya setelah satu tahun lalu ia kehilangan sang ayah.
Seperti dejavu, semua ketegangan saat orang rumah mengabarinya kalau Martha masuk rumah sakit beberapa jam lalu. Ia mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan persis saat mengejar waktu hendak menemui sang ayah yang terkena serangan jantung saat ia sedang berada di luar kota.
Menurut dokter, Martha masih memberikan respon saat tiba ke rumah sakit. Sedikit demi sedikit kesadarannya menurun seiring dengan banyaknya perdarahan di otak besarnya. Beberapa pembuluh darah di otaknya pecah, membuat tim medis kesulitan untuk mengatasi kondisi kesehatan Martha, terlebih usianya yang sudah tidak muda lagi.
“Kami sudah berusaha untuk menghentikan perdarahan di kepalanya. Pasien seharusnya dilakukan tindakan operatif tapi dengan usianya yang sudah lanjut dan kondisi kesehatannya yang memburuk dengan cepat, resiko terbesarnya adalah, pasien bisa meninggal di meja operasi.”
Ivana hanya bisa membekap mulutnya saat tangis didadanya nyaris kembali pecah. Penjelasan dokter beberapa saat lalu seolah menegaskan kalau nyawa Martha mungkin tidak akan tertolong lagi. Hidupnya sepenuhnya bergantung pada alat-alat yang terpasang di tubuhnya. Gambaran di monitor yang terus melandai dan sesekali cepat juga berbunyi nyaring dengan lampu indikator berwarna merah, seolah menambah genting perasaan Ivana.
Kondisi Martha yang kritis, membawa Ivana untuk mengingat semua sikap Martha terhadapnya dan terhadap Brandon yang sering kali membuat Ivana sakit hati. Tapi melihat wanita itu tidak berdaya, apa yang bisa ia lakukan. Ia bahkan tidak bisa membenci wanita yang sudah melahirkannya dan mengurusnya dengan baik.
__ADS_1
Martha dengan wataknya yang keras dan emosional, sering kali tidak terkontrol baik dalam berbicara ataupun bersikap. Banyak orang yang merasa tersakiti oleh ucapan dan perbuatannya. Dan harusnya, ia meminta maaf pada Rachel agar ibunya tidak semakin tersiksa dengan banyak rasa sakit yang ia torehkan pada menantu yang begitu menghormati dan menyayanginya.
Andai Martha mau membuka matanya, melihat bagaimana besarnya usaha Rachel untuk mengambil hati Martha. Rachel memperlakukan Martha layaknya ibu kandungnya sendiri.
Sering kali ia melihat, Rachel yang sengaja bangun pagi hanya untuk menyiapkan air rendaman kaki Martha saat ibunya itu sakit. Rachel yang diam-diam menyiapkan teh hangat untuk ibunya sebelum Martha turun dan sarapan. Rachel yang paling sibuk setiap kali Martha sakit karena Martha sangat suka dipijat oleh Rachel. Rachel sampai terkantuk-kantuk mengurusi Martha semalaman tanpa pernah mengeluh sedikitpun.
Rachel juga yang menyalakan difusser aromatheraphy agar Martha bisa tidur dengan nyenyak dan Rachel yang diam-diam belajar memasak secara online demi bisa memasakkan makanan sehat untuk Martha yang sering mengeluh kebas dan kesemutan di bagian tubuh sebelah kirinya.
“Mamah kenapa benci banget sama Rachel? Apa salah Rachel sama mamah?” gumam Ivana lirih. Ia mengusap kaca lebar itu dengan tangannya yang gemetar dan penuh air mata. Rasanya menyesakkan karena pertanyaannya selama ini masih belum terjawab.
“Gimana mamah?” tanya Nata yang baru tiba.
__ADS_1
Ivana langsung menoleh dan berhambur memeluk Nata.
“Mamah Ta, mamah koma.” Tangis lirih itu jelas terdengar oleh Nata.
Nata sampai tidak bisa berkata-kata. Hanya hembusan nafas menyesakkan yang terdengar dari mulut Nata saat mendengar kenyataan itu. Ia menatap nanar wanita yang berada di dalam ruang ICU dan tidak berdaya. Entah ada berapa alat yang terpasang di tubuhnya.
Ia tidak lagi banyak berbicara, ia hanya bisa menyesalkan karena gagal memenuhi permintaan ayahnya untuk menjaga Rachel dan Martha dengan baik. Dua wanita itu sekarang tengah merasakan sakitnya masing-masing tanpa bisa saling menguatkan. Dan ia berdiri di persimpangan. Tidak pernah bisa tegas pada ibunya karena ia tidak mau menyakiti wanita tua itu dan karena kelalaiannya ia pun membiarkan Rachel tersakiti oleh sikap Martha selama ini.
Tidak ada yang Nata lakukan kemudian, selain memeluk Ivana dengan erat. Ia menyesalkan keadaan ini tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya bisa menunggu keajaiban dan bersiap untuk menghadapi kehilangan berikutnya.
****
__ADS_1