Menjadi Dia

Menjadi Dia
Umpan Brams


__ADS_3

Kepulangan Rachel dan Nata di sambut hangat oleh Brandon, Ivana dan Brams yang sedang bermain di taman rumah. Brandon langsung berlari menghampiri Rachel saat melihat Rachel turun dari mobil.


“Apa Brandon merindukan mami?” Rachel dan Brandon berpelukan.


“Iya.” Sahut suara lucu anak kecil itu.


“Mami juga kangen sama Brandon.” Rachel mengusap-usap punggung Brandon. Ia memang sangat merindukan anak kecil yang selalu mengisi hari-harinya.


Nata yang melihat kedekatan Rachel dan Brandon hanya tersenyum kecil lantas mengusap pucuk kepala Brandon yang membuat anak itu menoleh Nata dan menengadah.


Nata berjongkok di samping Rachel dan menatap Brandon dengan sungguh. “Terima kasih yaa, udah minjemin mami Acen sama papi.” Ucap Nata.


Brandon tersenyum kecil seraya mengusap wajah Nata membuat laki-laki itu gemas sendiri dan mencium tangan mungil Brandon.


“Brandon semalam nyariin kamu ke kamar Chel, aku bilang mami Acen on the trip. Eh dia langsung paham.” Ucap Ivana dengan penuh haru.


“Benarkah? Anak pintar.” Puji Rachel sambil mengecup pipi Brandon.


Brandon juga mengusap pipi Rachel dengan sayang.


“Gimana liburannya, apa menyenangkan?” tanya Brams yang menatap lekat Rachel.


Nata dan Rachel sama-sama bangkit.


“Iya kak, menyenangkan.” Sahut Rachel dengan takut-takut.


“Syukurlah. Nanti kita double date ya, iya kan sayang?” Brams merangkul Ivana dengan mesra, menunjukkan sekali kalau hubungan mereka sudah baik-baik saja.


“Iya dong. Sesekali nanti kita liburan bersama, pasti seru.” Ungkap Ivana yang menoleh Brams.


Brams tidak menimpali, ia hanya tersenyum lebar lantas mencium bibir Ivana singkat.


“Kebiasaan sih mas. Kan malu sama mereka.” Ivana merajuk manja.


“Hahahaha…” Brams hanya tertawa terbahak-bahak sementara Rachel memilih menundukkan kepalanya.


“Masuklah, Brandon pasti kangen sama kamu.” Ucap Nata saat melihat Rachel yang kikuk.


“Iya mas.” Rachel mengangguk patuh.


“Brandon, ayo kita main di dalam.” Ajak Rachel yang langsung dituruti Brandon.


Mereka masuk ke dalam rumah bersama Ivana yang menyusul. “Aku juga masuk ya, kalian silakan lanjutkan.” Pamit Ivana seraya mengusap lengan Brams.


“Tentu sayang.” Sahut Brams dengan senyum terkembang.


“Gimana liburannya, berhasil cetak gol?” pertanyaan itu langsung disampaikan Brams sesaat setelah Ivana pergi.


“Ya, beberapa kali.” Timpal Nata dengan santai.


“Waw, apa aku akan segera dapet keponakan?” Brams merangkul Pundak Nata dengan akrab.

__ADS_1


“Do’akan saja. Semalam, kami cukup menikmati semuanya.” Aku Nata.


“Hahahaha… kamu hebat. Aku bisa membayangkan, wajah polos Rachel itu pasti sangat lucu saat kilimaks.” Seru Brams dengan semangat.


Nata tidak menimpali, ia hanya menoleh sang kakak ipar dengan tatapan yang entah.


“Eh jangan salah paham, semua wanita termasuk Ivana juga begitu saat mereka puas. Meluknya kenceng banget, suaranya membuat terngiang-ngiang. Bikin gemas, iya kan?” cepat-cepat Brams mengklarifikasi kalimatnya sebelum Nata berpikir yang tidak-tidak.


Nata hanya tersenyum kecil, ia mengakui kalau ekspresi Rachel selalu menggemaskan.


“Kamu udah pulang?” Ada Martha yang menyapa saat Nata masuk ke dalam rumah.


“Iya mah. Mamah mau kemana kok udah rapi aja?” Nata sempatkan untuk mengecup kepala ibunya seperti biasa.


“Mau ada tamu, tuh sodaranya Brams. Katanya dia model terkenal.” Urai Martha dengan senang hati.


“Iya, dia sepupu jauhku.  Yaa orangnya sangat baik, cerdas dan teman berbincang yang menyenangkan.” Brams segera menimpali.


Belum kering bibir Brams, tidak lama terdengar suara deru mesin mobil yang masuk ke halaman rumah mewah itu. Ketiganya kompak menoleh.


“Nah, itu dia orangnya.” Tunjuk Brams saat melihat seorang wanita berambut coklat bergelombang turun dari sebuah mobil sedang mewah.


Wanita itu berjalan dengan anggun bak ratu kecantikan, menunjukkan pesonanya yang memikat. Untuk beberapa saat Nata tercenung. Penampilannya sangat mirip dengan seseorang yang dikenalnya di masa lalu.


“Marsya,… wow, kamu seperti bidadari yang baru turun dari langit.” Sambut Brams sambil merentangkan tangannya.


“Apa kabar mas?” sapa Marsya yang langsung membalas rangkulan Brams.


Martha yang sudah siap dan merapikan penampilannya, segera menyambut Marsya.


“Halo tante, apa kabar? Aku Marsya, adik sepupu mas Brams.” Marsya memperkenalkan diri dengan ramah.


“Halo, wah kamu benar-benar cantik dan berkelas. Tepat seperti yang diceritain Brams.” Puji Martha dengan mata yang membulat karena terpesona.


“Terima kasih tante, tante juga awet muda banget.” Puji wanita itu pada Martha. Tentu saja Martha tersenyum lebar mendapat pujian manis dari Marsya.


“Eh sampai lupa, kenalin ini anak kedua tante. Namanya Nata.” Cepat-cepat Martha memperkenalkan putranya pada Marsya.


“Oh halo, aku Marsya.” Ucap Marysa sambil mengulurkan tangannya pada Nata.


Ia menatap penuh kekaguman pada laki-laki tampan berwajah indo eropa di hadapannya.


“Nata.” Hanya itu saja sahutan Nata tapi membuat Marsya mabuk kepayang. Ia sampai enggan melepaskan tangan Nata yang ia ajak berjabat. Tapi Nata segera melepaskannya.


“Marsya ini seorang model, juga aktris. Iya kan nak?” Martha langsung mempromosikan Marsya pada Nata.


Tapi Nata tidak menimpalinya. Ia masih sangat kaget dengan kemunculan wanita ini.


“Tante bisa aja. Aku baru mulai masuk dunia entertain dua tahun ini, tapi ya lumayan, iklan sama sinetronku udah banyak.” Dengan senang hati Marsya membanggakan dirinya di depan Martha.


“Tuh kan, makanya hebat banget. Mana cantik banget lagi.” Senyum Martha begitu lebar. Sesekali ia melirik Nata untuk memastikan ekspresi putranya tapi sepertinya Nata tenang-tenang saja.

__ADS_1


“Brandon, sini sayang. Bawa ke sini bolanya.” Panggil sebuah suara milik Rachel yang mengejar Brandon ke ruang tamu.


“Brandon mau kemana?” Brams segera menjegalnya. Memegangi kedua lengan Brandon.


“No! no! No!” Brandon mengibas-ngibaskan tangan Brams yang ada di lengannya.


“Rachel! Bawa Brandon masuk!” seru Martha tidak suka. Bagaimana bisa Rachel malah membiarkan Marsya menemui cucunya yang tidak bisa dibanggakan ini?


“I-Iya mah.” Cepat-cepat Rachel mengajak Brandon masuk, sebelum anak laki-laki itu tantrum.


“Buatkan minum untuk tamu saya.” Imbuh Martha tanpa menoleh Rachel.


“Iya mah.” Sahut Rachel. Ia mengangguk sopan pada tamunya. Sekilas ia mengenal wanita yang berpakaian terbuka dan menatapnya dengan sinis. Walau wanita itu tersenyum, tatapannya jelas mengintimidasi.


“Ada tamu Chel?” Ivana yang baru menyusulpun tiba di ruang tamu.


“Iya kak, aku permisi dulu.” Pamit Rachel.


“Iya, biar aku samperin.” Ivana segera menghampiri ke ruang tamu.


“Nah, ini Ivana. Anak pertama tante, istrinya Brams.” Martha langsung memperkenalkan Ivana pada Marsya.


“Oh halo kak. Mas Brams sering banget cerita soal kak Ivana. Katanya sangat baik dan cantik. Ternyata benar.” Dengan akrab Marsya memeluk Ivana, membuat Ivana kaget karena ukuran dada Marsya yang sangat besar.


“Oh hay.” Ivana terlihat begitu kaku.


“Marsya ini anaknya bude Desy.” Terang Brams tanpa di minta.


“Iya.” Ivana tidak terlalu ingat karena keluarga Brams keluarga besar. Ibu Brams saja memiliki enam saudara sekandung dan ayahnya memiliki empat saudara sekandung. Sangat banyak bukan?


“Kalau istrinya mas Nata yang mana? Aku mau ketemu, tante.” Ucap Marsya yang dibuat selembut mungkin.


“Itu yang tadi, Rachel.” Sinis Martha tidak suka.


“Oh ya ampun, itu istri mas Nata. Maaf aku gak nyapa, kirain yang jaga Brandon.” Marsya pura-pura kaget.


Martha tersenyum puas mendengar ucapan gadis ini. Sepertinya gadis ini satu frekuensi dengan dirinya. Pilihan Brams memang tepat, memperkenalkan wanita ini ke keluarga Wijaksono.


“Memangnya ada ya, pengasuh yang manggil majikannya ‘Mah’?” tanya Ivana. Ia langsung tidak terima mendengar kalimat sindiran Marsya barusan.


“Oh maaf kak, aku gak bermaksud begitu.” Marsya kamu berhadapan dengan orang yang salah.


“Nata, masuk kamu. Temenin istri kamu. Kalian kan baru pulang liburan, pasti capek kan.” Sengit Ivana pada Nata.


Kesan pertamanya pada Marsya sudah rusak karena ucapan dan penampilan Marsya yang menurutnya terlalu menggoda.


“Iya.” Seperti diberi jalan, dengan senang hati Nata pun segera pergi.


Marsya tersenyum kelu, mendapat tatapan sinis dari Ivana. Pada bagian ini, Ivana memang mewarisi sifat ibunya.


Bisa sangat sinis.

__ADS_1


****


__ADS_2