
Lantunan musik pop mengisi rongga telinga Calvin yang sedang berolahraga pagi ini. Ia berlari kecil di atas papan treadmill, mengatur langkah kakinya yang berlari dengan konstan. Peluh sudah membasahi tubuhnya yang atletis dan menembus lapisan baju tipis tanpa lengan yang sedang ia kenakan.
Peluh itu membasahi wajahnya, rambutnya, sekujur tubuhnya bahkan kakinya yang terlihat padat berisi dan berkilauan saat terkena cahaya lampu.
Ia memelankan kecepatan treadmillnya saat ia akan mencapai batas maksimal jarak yang harus di tempuhnya.
Disela kegiatan yang menguras tenaganya ini, pikirannya juga tersita. Ia masih mengingat pesan Ruby kemarin hingga tadi malam. Pesan penuh kekhawatiran tentang Rachel yang ia yakini sedang tidak baik-baik saja.
“Vin, aku gak bisa tidur. Aku inget terus sama Rachel. Aku yakin dia gak baik-baik aja tapi dia selalu menyembunyikannya dari aku. Bisa bantu aku mata-matain dia gak? Apa aku sewa detective aja ya?”
Begitu isi pesan yang di kirim Ruby dan belum Calvin balas. Entahlah, ia masih bingung bagaimana kalimat yang tepat untuk membalas pesan sahabatnya.
Menenangkannyakah? Untuk alasan apa? Agar Rachel tidak merasa merepotkan? Lalu apa gadis itu akan baik-baik saja kalau Calvin ikut menutupi apa yang dilakukan oleh keluarga Nata terhadapnya?
Semua pikiran itu beradu di benak Calvin. Pikirannya buntu tidak menemukan solusi terlebih saat mengingat pesan Rachel untuk tidak mengatakan apapun pada keluarganya.
Siapa yang bisa menjamin kalau tidak ada hal buruk yang terjadi padanya?
__ADS_1
“Akh sial!” dengus Calvin yang menekan tombol down dengan kepalan tangannya untuk membuat mode treadmillnya menjadi lebih lambat. Ia berjalan dengan pelan sambil memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan.
Semakin ia pikirkan, semakin besar rasa khawatir yang mengisi hatinya. Jika mertuanya berani melakukan itu dihadapan orang banyak, mungkin bisa lebih parah perlakuannya pada Rachel saat berada di dalam rumah dan tidak ada yang melihatnya.
Lalu, bisakah ia egois untuk tidak menuruti Rachel saat ini?
“Tring!” suara pesan masuk menjeda suara musik di player ponselnya.
Setelah menghentikan langkah di treadmillnya, Calvin segera turun. Melap keringatnya sambil mengecek pesan yang masuk.
Calvin tidak langsung membalas, ia mematung beberapa saat, memandangi nyala lampu pijar di taman yang baru dimatikan oleh pemiliknya.
Ia berpikir beberapa saat, sebenarnya ia bukan tidak mau direpotkan tapi ia tidak mau membuat keluarga Ruby dan terutama Rachel, merasa sedih. Tapi seperti yang pernah Alya katakan, sebagian besar korban kekerasan memang tidak akan berani mengatakan kalau ia terjebak dalam kondisi yang sulit.
Tugas orang terdekatlah untuk mendekati dan merangkulnya serta meyakinkan kalau korban tidak pernah layak untuk diperlakukan secara tidak adil.
Mengingat kalimat itu, dada Calvin semakin bergemuruh. Benar, mungkin itulah yang dialami Rachel saat ini. Lalu, apa ia bisa tinggal diam begitu saja? Tidak bukan?
__ADS_1
Akhirnya Calvin memutuskan untuk membalas pesan Ruby.
“Hari ini Rachel ada syuting di studio. Lokasinya nanti aku kirim. Kamu bisa menemuinya setelah dia selesai syuting, aku rasa dia akan senang mendapat perhatian itu dari kamu.”
“Dekati dia dengan pelan-pelan karena aku yakin Rachel punya prinsip sendiri dalam pernikahannya.” Balas Calvin sekali lalu menghembuskan nafasnya kasar.
Ada kelegaan tersendiri setelah memberi jalan pada Ruby untuk mencari tahu kondisi adiknya. Mungkin kali ini ia memang harus menggunakan orang terdekat Rachel untuk meyakinkan kalau Rachel tidak harus selalu menerima kekerasan verbal dari mertuanya. Mentalnya perlu di jaga agar tidak semakin hancur.
“Iya Vin, kirim aku lokasinya. Nanti aku mampir ke sana sekalian aku mau nyemangatin dia.”
“Iya nanti aku kirim.” Begitu janji Calvin yang kemudian membagikan lokasi dimana Rachel akan syuting hari ini.
Setelah berkirim pesan dengan Ruby, Calvin terduduk beberapa saat di bangku istirahat. Ia meneguk minumannya untuk mengapus dahaga yang terasa mengeringkan sel-sel di dalam tubuhnya. Ia sudah memantapkan hatinya kalau setelah ini ia akan hadir untuk membantu Rachel. Ia tidak boleh terlambat untuk kedua kalinya.
*****
__ADS_1