Menjadi Dia

Menjadi Dia
Putusan akhir


__ADS_3

“Chel, mau kemana? Udah sarapan?” tanya sebuah suara yang menjeda langkah Rachel saat sudah melewati ruang keluarga.


Akh, jantung Rachel rasanya pecah seketika saat mendengar suara Ivana. Rachel tidak berani berbalik, melainkan hanya tertunduk di tempatnya tanpa berani menoleh Ivana.


“Hey, kamu mau kemana?” Ivana dan Brandon segera menghampiri Rachel. Ia memutar tubuh Rachel agar menghadapnya.


Rachel tidak menimpali. Ia lebih memilih memeluk Ivana dengan erat dan tangisan yang pecah pula.


Ivana mematung kebingungan, bagaimana bisa ia melihat Rachel yang menangis sesegukan seperti ini dipelukannya?


“Hey, kamu kenapa Chel?” Ivana melerai pelukannya dengan Rachel lantas menatap wajah pucat dan sembab itu dengan perasaan tidak menentu.


“Apa mamah ngasarin kamu lagi? Dia mukul kamu? Sebelah mana?” Ivana segera mengecek tubuh Rachel, memeriksa lengan dan kaki juga pipi Rachel.


“Ngomong sama aku Chel? Apa yang dilakukan mamah sama kamu?!” bentak Ivana yang tidak bisa bersabar menunggu jawaban Rachel.


Rachel tidak menjawab melainkan hanya menggeleng. Susah payah ia mengakhiri tangisnya yang kembali pecah ini. Ivana adalah satu-satunya orang yang begitu menyayangi Rachel di rumah ini. Matanya ikut berkaca-kaca melihat Rachel menangis sesegukan.


“Apa Nata yang kasar sama kamu?” selidik Ivana.


“Dia melakukan sesuatu sama kamu, hem?” cercanya lagi.


Lagi, Rachel menggeleng. Justru karena Nata tidak melakukan apa-apa makanya Rachel memilih pergi.


“A-aku, hanya harus pergi gak. Maafin aku….” Ucap Rachel dengan terbata-bata.


“Pergi kemana? Kenapa?!” tangis Ivana pun pecah. Ia menggenggam tangan Rachel dengan erat.


“Aku mohon, jangan bertanya apapun saat ini kak. Aku hanya harus pergi.” Rachel benar-benar tidak bisa mengangkat wajahnya dihadapan Ivana yang ia buat menangis.


“Maksud kamu, Kamu mau ninggalin aku sama Brandon? Gitu?” suara Ivana terdengar serak dan tersengau-sengau. Ia tidak pernah berpikir kalau Rachel akan meninggalkannya.

__ADS_1


Rachel tidak menjawab, ia hanya berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Brandon.


“Brandon, mami pergi dulu ya sayang.” Suara Rachel terdengar tersendat-sendat. Ia berusaha menghentikan isakannya di depan Brandon.


“Mami sayang sama Brandon, tapi mami harus pergi dulu.” Ia mengusap pipi dan kepala Brandon dengan sayang.


Ia juga mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan agar penglihatannya yang samar tertutup air mata menjadi lebih jelas.


“Brandon harus janji sama mami, kalau Brandon akan menjadi anak yang kuat dan sehat. Makan yang banyak, tidur tepat waktu dan nikmati waktu Brandon saat bersama mami Ivana.”


“Nurut dan patuh sama mami Ivana dan papi Nata ya. Kalau Brandon kangen, Brandon bisa call mami Acen kapanpun, hem?” ia menangkup satu sisi wajah Brandon dan mengusapnya dengan lembut.


Rachel bisa melihat mata Brandon yang menatapnya dengan sendu. Matanya berkaca-kaca dan ini membuatnya hancur.


“Jangan menangis Brandon, mami sedih kalau liat Brandon nangis.” Ucap Rachel seraya memeluk Brandon beberapa saat.


Anak istimewa itu hanya terdiam sambil mengusap lengan Rachel dengan lembut.


Setelah beberapa saat, Rachel melerai pelukannya dari Brandon. Ia menatap wajah polos itu seraya tersenyum.


“Bye, kesayangan mami.” Di kecupnya dahi Brandon dengan sayang.


Brandon tidak menimpali. Ia hanya mengangkat tangannya yang mungil dan menyentuh pipi Rachel. Rachel tersenyum harus merasakan usapan tangan Brandon. Perutnya yang semula sangat kencangpun seperti mulai tenang.


Setelah itu, Rachel kembali berdiri. Ia menatap wajah Ivana yang merah dan basah dengan air mata.


“Makasih banyak ya kak, makasih banyak  karena kakak udah sayang dan peduli banget sama aku.” Rachel menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tangis walau air matanya tetap menetes.


“Kakak adalah wanita yang hebat dan kuat, aku sedang belajar untuk menjadi wanita seperti itu.”


“Sehat dan bahagia selalu, aku sayang sama kakak.” Suara Rachel nyaris tidak terdengar karena menahan tangisnya.

__ADS_1


Ivana tidak menimpali, ia hanya meraih tubuh Rachel untuk kemudian ia peluk dengan erat. Tidak ada kata-kata yang ia ucapkan selaian untaian do’a tulus dari dalam hatinya.


Cukup lama mereka berpelukan dan pelukai itupun terlepas. Rachel tersenyum kecil sebelum ia berbalik dan pergi.


Langkahnya memang berat namun ia tetap berjalan keluar dari rumah ini.


“Chel,” panggil Ivana dengan suara gemetar.


Rachel tidak berbalik melainkan terus melanjutkan langkahnya sambil melambaikan tangannya pada Ivana. Ia tidak mau membiarkan Ivana melihat lagi air matanya yang berurai.


Ivana tercenung beberapa saat di tempatnya, memandangi bahu Rachel yang semakin lama semakin menjauh.


“Apa pilihan ini bisa membuat kamu lebih bahagia?” batin Ivana.


Tidak, ia tidak bisa membiarkan Rachel pergi. Paling tidak, ia harus tahu alasannya.


“Brandon, Brandon stay di sini. Mami mau liat papi Nata, ada yang harus mami selesaikan sama dia. Paham?” ujar Ivana pada Brandon.


Brandon tidak menimpali. Ia hanya beranjak dari tempatnya lalu pergi duduk di kursi keluarga.


“Good boy!” seru Ivana.


Dengan langkah cepat setengah berlari Ivana menuju kamar Nata. Tanpa aba-aba ia membuka pintu dengan kasar. Namun kemudian, yang ia dapati adalah Nata yang sedang terduduk lesu di lantai sambil memegangi kepalanya yang merunduk. Ia bertumpu pada kedua kakinya yang terlipat. Terlihat jelas kehancuran Nata yang entah karena alasan apa.


“Akh sial!” dengus Ivana, merutuki kondisi adiknya. Rasanya ia paham alasan mengapa Rachel pergi.


****


Pilihan seseorang untuk pergi, tidak hanya karena sudah tidak ada cinta. Tapi saat ia sadar bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa ia perjuangkan.


__ADS_1


__ADS_2