
Lebih dari enam jam waktu yang dihabiskan Adri dan tim untuk menyelesaikan pembuatan sebuah iklan. Mereka membuat dua versi iklan, satu iklan berdurasi pendek untuk ditayangkan di televisi sebagai comersial break sementara satu iklan lainnya untuk untuk ditayangkan di berbagai akun media social perusahaan yang mengontrak mereka.
Iklan itupun akan di tayangkan sebagai filler di billboard yang sudah ditentukan titik-titiknya dengan ketentuan daerah tersebut ramai dikunjungi orang.
“SUKSES!!!” seru mereka semua sebagai tanda iklan ini selesai di buat. Ini sebuah pencapaian bagi tim Adri karena proses syuting berjalan tanpa kendala berarti.
“Makasih ya semuanyaa, jangan kapok kerjasama sama gue.” Ucap Adri, mengajak tos satu per satu pemain termasuk Rachel.
“Wah, ini bintang utama kita. Kereeen Chel!!!” Adri mencengkram tangan Rachel di udara. Mengguncang-guncangnya dengan penuh kebanggan.
“Makasih mas Adri. Semoga aku bisa ngasih kontribusi baik yaa buat project ini. Maafin kalau masih ada kurang-kurangnya selama proses syuting tadi.” Ungkap Rachel.
“Gak ada yang perlu dimaafin Chel, usaha kamu udah keren banget dan kamu berhasil masuk ke cerita di iklan ini. Itu keren, itu hebat.” Adri mengacungkan kedua jempolnya. Kalau bisa mungkin empat, dengan jempol kakinya. Ia sampai tidak bisa berkata-kata.
“Makasih banyak mas. Ini juga berkat bantuan semua tim yang sabar ngedirect aku.” Ungkap Rachel dengan penuh kesungguhan.
“Terlepas dari directornya yang baik tapi pemain yang bisa mengikuti arahan dan menggoreng materi dengan baik, itu juga penting. Kamu gak salah masuk di indutri ini. Dan aku yakin kamu bisa melejit dengan cepat.”
“Aaminn… semoga ya mas.”
“Iyaa pastinya.” Adri kembali mengacungkan jempolnya pada Rachel.
“Obrolannya seru nih kayaknya.” Calvin tiba-tiba saja bergabung.
“Kak Calvin.” Sambut Rachel yang tersenyum penuh syukur. Ya ia bersyukur karena Calvin lah yang memperkenalkan Rachel dengan dunia ini.
“Loh, kalian berdua saling kenal?” Adri jadi penasaran karena Rachel memanggil bos nya dengan panggilan akrab.
“Iyaa, dia adik sahabat gue.” Aku Calvin sambil tersenyum bangga.
“Gilaaa, kenapa gak bilang bos?!” Adri tampak terkejut. Ia menatap Rachel dan Calvin bergantian.
“Dia minta semua proses rekrut berjalan dengan normal tanpa embel-embel dia kenal gue.” Terang Calvin.
“Hhahaahha… kalian takut di kira nepotisme ya?” tanya Adri.
Rachel dan Calvin hanya terkekeh, ya Rachel takut di kira tidak professional dan masuk ke bidang ini hanya karena ia mengenal sang CEO, Calvin.
“Siapa nih yang nepotisme?” tanya seseorang yang kemudian mendekat. Jangan kaget, kalian benar dia adalah Marsya.
Wanita ini mendapat peran pembantu di iklan pertama Rachel. Hal itu pula yang membuat ia bersikap sinis pada Rachel sejak pertama mereka bertemu di ruang make up. Selama proses syuting sikapnya selalu menyebalkan. Untungnya ada Fany yang setia membela Rachel dan sang director yang fokus mengatur pemeran sesuai script.
“Nah ini Marsya nih. Kalian udah kenalan kan?” tanya Adri pada Rachel.
“Udah lah. Emang siapa yang gak kenal gue?” baru Rachel akan membuka mulutnya, Marsya sudah lebih dulu menjawab.
__ADS_1
“Bagus dong. Kalian cocok loh kalau satu scene kayak tadi. Tapi mungkin lain kali posisi kalian dibikin sejajar, sama-sama memegang fungsi core.” Urai Adri.
“Iya lah. Lo resek banget nempatin gue di belakang anak baru. Blocking aja dia masih perlu belajar.” Merendah dan meninggi di waktu yang bersamaan, memang keahlian Marsya.
“Ya itu gunanya kalian satu project. Berbagilah hal yang penting demi menguatkan chemistry.” Timpal Calvin.
“Nggak, gue gak mau. Gak yakin juga dia mau nerima ilmu dari gue. Ketemu gue aja dia sombong banget gak nyapa, apalagi nerima masukan gue.” Ucap Marsya setengah menyindir.
Ia masih mengingat cara Rachel yang tidak menyapanya saat ia berkunjung ke rumah Nata. Menurutnya menyebalkan sekali.
Rachel hanya tersenyum kecil. Ya mungkin salahnya saat itu ia tidak langsung menyapa Marsya. Tapi apakah harus terus di ungkit?
Jangan lupa Rachel, kata Fany dia sok senior.
“Masa sih, gak yakin gue. Ya tapi, apapun itu, masalah pribadi kalian, kalian selesein di belakang lah. Di sini kalian harus professional. Gue pake lo berdua karena gue yakin tingkat professionalisme kalian berdua bagus. Jadi tolong jangan kecewain gue.” Tegas Adri.
“Gue sih professional, gak tau nih anak baru.” Marsya menatap Rachel dengan sinis.
“Udah ya, gue mau permisi dulu. Masih ada kerjaan lain yang nunggu gue. Bye!” pamitnya dengan jumawa.
“Iya, bye….” Timpal Adri.
“Jangan di ambil hati Chel, dia emang begitu. Jiwa senioritasnya tinggi apalagi dia di taruh di belakang kamu. Pastilah dia akan selalu mengungkit kesalahan sekecil apapun. Walau sebenernya kesalahan itu gak berpengaruh sama apapun.” Hibur Adri.
“Iya terima kasih mas Adri. Tapi ini pelajaran penting buat aku. Masukan Marsya akan aku perhatikan.” Timpal Rachel dengan legowo.
“Ya, silakan.” Timpal Calvin.
“Hati-hati di jalan mas.” Imbuh Rachel.
Adri mengacungkan jempolnya untuk merespon pesan Rachel.
Setelah kepergian Adri hanya tinggal Rachel berdua dengan Calvin. Mereka terlihat kikuk karena memang tidak dekat seperti Calvin dan Ruby.
“Kak, makasih banyak ya atas bantuannya.” Rachel berusaha mencairkan suasana.
“Terima kasih buat apa? Aku gak ngelakuin apa-apa.” Kilah Calvin.
“Banyak lah yang kakak lakuin. Kakak ngenalin aku ke dunia periklanan, nyemangatin aku dan bikin aku percaya diri juga soal bantuan kemarin. Maaf udah ngerepotin.” Ungkap Rachel tidak enak hati.
Tidak terbayang seperti apa bingungnya Calvin saat Rachel tiba-tiba menitipkan barangnya di tangannya.
“Hahahahha… itu bukan hal besar. Santai aja.” Timpal Calvin dengan santai.
Sejujurnya ia ingin bertanya bagaimana hubungan ia dengan suaminya Rachel sekarang karena Nata terus menabuh genderang perang hingga membuatnya menunggu berjam-jam. Tapi, ia takut Rachel merasa tidak nyaman.
__ADS_1
“Kalau kamu mau berterima kasih, mungkin kita bisa ngopi bareng. Gimana?” tiba-tiba saja ada ide itu melintas di pikiran Calvin.
“Emm…” Rachel melihat jam ditangannya.
“Bentar lagi aku harus ke sekolah keponakanku. Paling lain kali ya kak?” sahut Rachel dengan tidak enak hati. Seharusnya ia memang mentraktir Calvin sebagai ucapan terima kasih.
“Ya santai aja. Kapanpun kamu bisa, kabarin aku. Nomor aku masih nomor yang sama.”
“Iya kak. Terima kasih.” Tanda Rachel.
“Chel, kamu mau pulang jam berapa?” tiba-tiba Fany menghampiri Rachel. Ia membawakan Rachel minuman manis, karena artisnya belum break syuting.
“Sebentar lagi kak. Aku harus jemput keponakanku dulu ke sekolah.”
“Oh kalau gitu bentar, aku beres-beres dulu. Nanti aku anter.” Fany terlihat sibuk.
“Eh gak usah kak. Aku pulang sendiri aja. Kak Fany masih banyak kerjaan jadi lanjutin aja dulu.” Tahan Rachel sebelum wanita itu pergi.
“Beneran? Mau naik apa? Naik bis, terus nyasar?” Fany meledek Rachel dengan ceritanya beberapa waktu lalu.
“Hahahaha… ya enggak lah kak. Aku mau pake taksi online. Kakak jangan khawatir.”
“Kalau mau pulang sekarang, aku juga bisa nganter.” Tawar Calvin tanpa ragu.
Untuk beberapa saat Fany menatap Rachel. “Nah bener, kalau gak ngerepotin aku lebih percaya kamu pulang sama pak bos. Ya?” Fany menatap Rachel dengan sungguh.
“Hah, gak perlu, aku udah biasa ke sana-sini sendiri. Aku,”
“Kamu yang dulu, beda sama kamu yang sekarang. Jangan dibiasain pergi-pergi sendiri apalagi setelah ada project ini. Kamu mau di kejar-kejar orang gak di kenal?” hasut Fany mengingatkan.
Mendengar kata di kejar-kejar, Rachel jadi teringat pada Brams. Rasanya menakutkan kalau ada orang asing yang mengejarnya tanpa ia tahu maksud orang tersebut.
“Fany benar, kamu gak boleh lagi bepergian sendirian itu berbahaya Chel.” Calvin menambahkan.
Rachel tampak berpikir beberapa saat dan perkataan dua orang ini benar adanya.
“Gimana, di anter aku apa sama bos Calvin?” Fany kembali memberikan pilihan.
“Em, kalau gak ngerepotin, aku bareng kak Calvin aja. Kebetulan kami satu arah.” Pilih Rachel.
“Okey, hati-hati di jalan. Kabarin aku kalau udah sampe.” Pesan Fany.
“Iya kak.” Akhirnya Rachel memutuskan.
Calvin tersenyum kecil karena akhirnya ada kesempatan untuk berbicara banyak dengan Rachel.
__ADS_1
****